NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Cermin dan Catatan Rahasia

Gedung Asrama Sayap Barat SMA Nusantara sama sekali tidak seperti asrama sekolah pada umumnya. Jika asrama lain biasanya dipenuhi suara tawa renyah dan aroma mie instan yang menggugah selera di malam hari, tempat ini hanya menyuguhkan keheningan yang tebal dan mencekam.

Udara di sini berbau apak dan bau kayu yang sudah melapuk dimakan waktu. Lorong lorongnya terasa sempit dan pengap, dengan lantai ubin berwarna kuning kusam yang penuh retakan. Retakan retakan itu terlihat seperti pembuluh darah manusia yang pecah dan menyebar ke mana mana.

Lintang berjalan di depan dengan langkah yang jauh lebih waspada dan hati hati dari sebelumnya.

"Asrama adalah tempat yang paling berbahaya bagi pikiran manusia," bisik Lintang tanpa menoleh ke belakang. "Di kelas kau mungkin takut pada guru atau hantu koridor. Tapi di sini, musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. Kamar adalah ruang pribadi yang tertutup. Dan di sekolah ini, privasi adalah cara terbaik bagi kegelapan untuk mengisolasi mangsanya agar tidak ada yang bisa menolong."

Mereka mulai menaiki tangga beton yang terlihat tua dan rapuh. Setiap kali kaki mereka menginjak anak tangga, terdengar suara erangan dan bunyi berdecit yang menyakitkan telinga. Arga merasa seolah olah gedung ini sedang bernapas, sebuah napas yang berat, lambat, dan penuh penderitaan.

Sesampainya di lantai tiga, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyerang tubuh Arga. Lampu lampu di lorong ini sama sekali mati total. Tidak ada cahaya lain selain cahaya ungu redup dari senter yang dipegang Arga yang berusaha membelah kegelapan.

"Itu kamarnya," Lintang menunjuk ke arah ujung lorong yang gelap. Kamar nomor 303.

Pintu kamarnya terbuat dari kayu jati tua yang kokoh namun sudah termakan usia. Plat nomor logam yang menempel di sana sudah miring dan berkarat. Arga mendekat perlahan. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh gagang pintu yang terasa sedingin es.

Sebelum ia sempat memutar kuncinya, tiba tiba ia merasakan kebutuhan yang sangat mendesak. Rasa panas yang biasa muncul di sekitar matanya kembali menyerang, kali ini terasa lebih membara dan menyakitkan hingga membuat kepalanya pening luar biasa. Ia butuh air segar untuk membasuh wajahnya.

"Aku ke kamar mandi sebentar ya," pamit Arga singkat sambil menunjuk ke arah toilet umum yang terletak di seberang lorong.

"Jangan lama lama," jawab Lintang. "Dan ingat baik baik Arga. Jangan pernah menatap pantulan dirimu di cermin lebih dari tiga detik."

Arga hanya mengangguk samar dan segera berjalan cepat menuju kamar mandi. Ruangan itu luas namun sangat lembap. Air menetes pelan dari keran yang tidak tertutup rapat, menciptakan irama yang monoton dan membuat suasana semakin mencekam.

Tik... tik... tik...

Arga mendekati wastafel. Ia memutar keran dan membiarkan air dingin membasahi telapak tangannya. Ia lalu membasuh wajahnya berkali kali hingga rasa panas di matanya sedikit mereda. Napasnya mulai terasa lebih lega. Ia menghela napas panjang sambil menunduk menatap lubang pembuangan air yang tampak gelap pekat dan dalam.

Tanpa ia sadari, kepalanya perlahan terangkat kembali. Di depannya, sebuah cermin besar yang sudah berlumuran jamur dan kotoran memantulkan bayangan dirinya.

Satu detik.

Arga melihat wajahnya sendiri yang terlihat pucat, lelah, dan penuh ketakutan.

Dua detik.

Bayangan di dalam kaca itu tiba tiba berubah. Bibir bayangan Arga tidak lagi tertutup rapat seperti aslinya. Bibir itu melengkung lebar membentuk sebuah senyuman menyeramkan yang sama sekali tidak ia lakukan. Mata bayangan itu mulai mengeluarkan cairan hitam kental yang mengalir turun membasahi pipi.

Tiga detik.

Arga mencoba memalingkan wajah dan berbalik badan, namun tubuhnya terasa kaku dan berat seolah dipaku kuat kuat ke lantai. Di dalam pantulan cermin itu, tepat di belakang bayangan dirinya sendiri, muncul sesosok figur misterius. Itu adalah seorang wanita mengenakan gaun putih yang sudah compang camping dan kotor. Kulitnya berwarna abu abu pucat seperti mayat yang sudah lama meninggal. Lehernya miring ke samping dengan sudut yang tidak wajar dan mustahil dilakukan oleh manusia normal.

"Kau... mirip sekali dengannya..." suara wanita itu terdengar parau dan kasar, seperti gesekan amplas kasar yang digosokkan ke atas tulang belulang.

Tiba tiba tangan wanita itu menembus keluar dari permukaan cermin yang seketika melunak dan berubah menjadi seperti air. Jari jari nya panjang, kurus, dan kukunya hitam tajam merayap keluar mencoba menggapai leher Arga. Mata Arga membelalak lebar. Ia ingin berteriak meminta tolong namun suaranya tertahan mati di kerongkongan.

Sreeet!

Cermin itu tiba tiba retak panjang. Bukan karena Arga, tapi karena sosok di dalam sana yang mulai memukul kaca dari arah dalam dengan keras. Wanita itu kini wajahnya berada tepat di depan wajah Arga, hanya terhalang selapis kaca yang sudah pecah pecah. Matanya yang kosong dan hitam pekat menatap lurus menusuk masuk ke dalam jiwa Arga.

"Di mana... jantung... kakakmu?" tanya sosok itu dengan nada lambat dan menekan.

Tiba tiba pintu kamar mandi terbanting terbuka dengan keras. Lintang masuk berlari sambil memegang sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening berwarna perak. Tanpa ragu ia menyiramkan cairan itu tepat ke arah permukaan cermin.

BZZZT!

Suara desisan keras terdengar mendesis seperti daging yang sedang dibakar di atas wajan panas. Sosok wanita di dalam cermin itu menjerit melengking tinggi, suara yang sanggup memecahkan gendang telinga siapa saja yang mendengarnya. Setelah itu sosok itu ditarik kembali dengan paksa masuk ke dalam kegelapan di balik kaca. Cermin itu pun hancur berkeping keping dan jatuh berantakan ke dalam wastafel.

Arga jatuh terduduk di lantai keramik yang dingin, napasnya memburu tak beraturan. "Apa... apa itu tadi?"

"Itu adalah The Reflection Eater," jawab Lintang sambil membantu Arga berdiri dengan kasar. "Dia memakan identitas dan jiwa murid murid lewat pantulan cermin. Sudah kubilang berkali kali jangan menatap lebih dari tiga detik! Kau hampir saja terseret masuk ke dunia di balik kaca itu dan terjebak di sana selamanya."

"Dia... dia bertanya tentang jantung Raka," bisik Arga masih dalam keadaan syok.

Wajah Lintang langsung berubah menjadi sangat serius dan pucat. "Kalau begitu situasinya jauh lebih buruk dari yang kukira. Jika hantu cermin pun sudah mulai mencari bagian bagian tubuh Raka, itu artinya kakakmu tidak hanya dijadikan fondasi sekolah semata. Tubuhnya sedang diterjemahkan dan dibangun ulang oleh sekolah ini."

"Maksudmu?"

"Sekolah ini sedang mencoba menyusun kembali tubuh Raka untuk dijadikan wadah atau waduk bagi sesuatu yang jauh lebih besar dan kuat. Sesuatu yang disebut The Principal's Avatar," jelas Lintang cepat sambil menarik tangan Arga keluar. "Ayo cepat! Kita harus masuk ke kamar 303 sebelum jam satu malam. Jam satu adalah waktunya Pembersihan Koridor dimulai."

Mereka kembali berdiri di depan pintu kamar 303. Kali ini Arga tidak lagi ragu. Ia segera memasukkan kunci peraknya ke dalam lubang kunci. Pintu terbuka dengan suara derit panjang yang menusuk telinga.

Kamar itu berukuran sangat kecil dan sempit. Isinya hanya sebuah tempat tidur, meja belajar, dan lemari pakaian tua. Namun yang langsung menarik perhatian Arga adalah bagian dinding tepat di atas meja belajar. Seluruh permukaan dinding itu penuh tertutup coretan tangan yang menggunakan spidol berwarna merah darah.

Arga mendekat dan menyorotkan cahaya senter ke sana. Ternyata itu bukan coretan sembarangan. Isinya berupa rumus rumus matematika yang rumit, koordinat lokasi di sekitar sekolah, dan sebuah kalimat peringatan yang ditulis berulang ulang ratusan kali:

"JANGAN PERCAYA PADA LONCENG. LONCENG ADALAH KEBOHONGAN."

Di tengah meja, terdapat sebuah buku harian kecil bersampul biru yang sangat Arga kenali. Itu adalah buku harian kesayangan Raka. Dengan tangan gemetar, Arga membuka halaman demi halaman. Awalnya isinya catatan biasa tentang pelajaran sekolah dan kegiatan sehari hari. Namun semakin ke belakang, tulisan kakaknya semakin berantakan, tidak terbaca jelas, dan penuh dengan coretan ketakutan.

Halaman paling belakang hanya berisi satu baris kalimat yang ditulis dengan tekanan pena sangat kuat hingga kertasnya robek:

"Arga, jika kau membaca ini, carilah Jantung itu di bawah laboratorium biologi. Jangan biarkan mereka memasangnya kembali."

Tiba tiba cahaya ungu dari senter Arga meredup perlahan. Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki yang sangat berat dan lambat mendekat.

DUG... DUG... DUG...

Setiap kali kaki itu menginjak lantai, debu di langit langit kamar berjatuhan. Lintang langsung mematikan senternya dan menarik Arga masuk bersembunyi di bawah ranjang.

"Jangan bernapas," bisik Lintang tepat di telinga Arga.

Pintu kamar 303 yang tadinya tertutup rapat, perlahan lahan terbuka sendiri tanpa disentuh siapa siapa. Dari celah sempit kolong tempat tidur, Arga bisa melihat sepasang kaki raksasa yang tidak memakai alas kaki. Kulit kakinya berwarna biru pucat dengan urat urat hitam yang menonjol besar. Makhluk itu berdiri tepat di samping tempat tidur tempat mereka bersembunyi.

Arga menutup mulutnya kuat kuat dengan kedua tangan. Bau busuk yang sangat menyengat menyeruak, bercampur seperti bau bangkai yang sudah berminggu minggu tidak dikubur. Makhluk itu terdiam diam sejenak, lalu perlahan lahan ia mulai berjongkok.

Wajah mengerikan itu mulai masuk ke dalam pandangan Arga. Makhluk itu tidak memiliki bola mata. Di tempat mata seharusnya berada hanya ada dua lubang hitam besar yang terus menerus keluar ulat ulat kecil merayap turun. Ia sedang mengendus endus lantai, mencari aroma tubuh manusia yang bersembunyi.

Tepat saat hidung besar itu hampir menyentuh ujung sepatu Arga, tiba tiba terdengar suara lonceng kecil dari arah luar gedung. Bunyinya sangat merdu dan lembut, berbeda dengan dentuman lonceng sekolah yang menakutkan.

Makhluk itu mendongak cepat. Ia mengeluarkan suara geraman rendah marah, lalu tiba tiba berdiri tegak dan lari keluar kamar dengan kecepatan yang luar biasa cepat.

Lintang segera merangkak keluar dari bawah tempat tidur. Wajahnya pucat pasi. "Itu adalah The Janitor. Penjaga asrama yang tugasnya menyapu bersih siapa saja yang masih terjaga dan berkeliaran di jam jam ini."

Arga berdiri sambil masih memeluk erat buku harian Raka di dadanya. "Dia pergi karena suara lonceng tadi?"

"Itu adalah lonceng penyelamat yang dipasang Reno," jawab Lintang sambil menghela napas lega. "Tapi efeknya hanya bertahan sebentar saja. Sekarang kita sudah tahu tujuan kita selanjutnya. Laboratorium Biologi."

Arga menatap kembali tulisan merah di dinding. Jangan percaya pada lonceng. Ia mulai merasa bingung dan curiga. Apakah Reno benar benar membantunya dengan tulus, atau pemuda itu hanyalah bidak catur lain dalam permainan mematikan di Sekolah Hantu ini?

"Ayo kita berangkat," ujar Arga. Suaranya kini terdengar lebih dingin dan tegas. "Kita harus menemukan Jantung itu sebelum mereka menemukannya lebih dulu."

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!