NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: GERBANG CAHAYA DAN DARATAN TERAPUNG

Cahaya putih yang menyilaukan perlahan memudar, meninggalkan sensasi dingin yang merambat di sepanjang sumsum tulang Han Jian. Saat penglihatannya kembali jernih, ia tidak lagi merasakan tanah berbatu Gunung Meru di bawah kakinya. Sebaliknya, ia berdiri di atas sebuah platform marmer putih yang melayang di tengah samudera awan yang tak berujung.

Langit di tempat ini tidak berwarna biru, melainkan gradasi ungu dan emas, dengan dua buah rembulan yang terlihat sangat besar meski hari masih terang. Udara di sini begitu berat—bukan karena tekanan atmosfer, tetapi karena kepadatan Qi Purba yang luar biasa. Bagi kultivator biasa dari Benua Awan Biru, satu tarikan napas di sini mungkin akan meledakkan meridian mereka, tetapi bagi Han Jian, setiap sel di dalam Tulang Emas Abadi-nya berdenyut kegirangan.

"Jadi, ini adalah Alam Dewa Tulang," bisik Han Jian.

Di hadapannya, sekitar seratus meter dari platform tempatnya berdiri, menjulang sebuah gerbang megah yang terbuat dari fosil tulang naga purba. Di atas gerbang itu terukir kaligrafi yang memancarkan aura pedang yang tajam: SEKTE TULANG LANGIT.

Namun, jalan menuju gerbang itu tidaklah kosong. Ada sekitar lima puluh pemuda dan pemudi lainnya yang sudah berdiri di sana. Mereka mengenakan pakaian mewah dan memancarkan aura yang kuat. Han Jian menyadari bahwa hampir semua dari mereka sudah berada di tahap Pusaran Bumi tingkat puncak, bahkan ada beberapa yang sudah menyentuh tahap Transformasi Jiwa.

"Lihat, satu lagi 'pendaki' dari dunia bawah," sebuah suara sinis terdengar dari samping.

Seorang pemuda berjubah perak dengan kipas lipat di tangannya berjalan mendekat. Namanya adalah Gong Sun, putra dari salah satu klan bangsawan di Dunia Atas. Ia menatap Han Jian dengan pandangan menghina.

"Pakaian kotor, bau tanah fana, dan... tunggu, aku tidak merasakan fluktuasi Qi di perutnya?" Gong Sun tertawa terbahak-bahak, menarik perhatian calon murid lainnya. "Hei semuanya! Lihat! Ada orang cacat yang entah bagaimana bisa merangkak sampai ke Gunung Meru! Dia tidak punya Dantian!"

Tawa pecah di antara kerumunan. Di Alam Dewa Tulang, kekuatan adalah segalanya, dan Dantian adalah pusat dari kekuatan itu. Seseorang tanpa Dantian di tempat ini dianggap lebih rendah daripada debu.

Han Jian tidak membalas. Ia hanya menatap gerbang sekte dengan tenang. Baginya, ocehan Gong Sun hanyalah kebisingan yang tidak berarti. Namun, ketenangannya justru membuat Gong Sun merasa terhina.

"Kau berani mengabaikanku, ampas?" Gong Sun melambaikan kipasnya. Sebuah bilah angin tajam melesat ke arah wajah Han Jian.

Ting!

Han Jian bahkan tidak mengangkat tangannya. Bilah angin itu menghantam pipinya dan hancur berkeping-keping tanpa meninggalkan goresan sedikit pun. Kulit Han Jian yang didukung oleh struktur tulang emas kini lebih keras dari baja tingkat tinggi manapun.

Suasana seketika menjadi sunyi. Tawa para calon murid terhenti. Mereka tahu bahwa bilah angin Gong Sun, meskipun dilepaskan dengan santai, cukup kuat untuk memotong batu besar.

"Cukup!"

Sebuah suara menggelegar dari arah gerbang sekte. Seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu dan pedang kayu di pinggangnya muncul secara tiba-tiba. Ia adalah Tetua Penguji, Mo Ran.

"Ujian Masuk Sekte Tulang Langit akan segera dimulai," ucap Mo Ran dingin. "Sekte kami tidak menerima sampah, dan kami juga tidak menerima orang-orang yang hanya bisa menggonggong. Di sini, hanya ada satu hukum: Ketahanan Tulang."

Mo Ran melambaikan tangannya, dan sebuah lonceng raksasa yang terbuat dari tulang kuno muncul di tengah platform.

"Ujian pertama: Gema Tulang Purba. Aku akan memukul lonceng ini tiga kali. Gelombang suara yang dihasilkan akan langsung menyerang kerangka kalian. Mereka yang tulangnya retak atau jatuh berlutut, akan langsung dinyatakan gagal dan dilempar kembali ke dunia bawah."

Para calon murid segera memasang posisi meditasi, mengerahkan seluruh Qi mereka untuk melindungi tubuh. Gong Sun melirik Han Jian dengan dendam. "Kita lihat seberapa lama tubuh anehmu itu bertahan tanpa perlindungan Qi, sampah."

Han Jian tetap berdiri tegak. Ia tidak bermeditasi. Ia justru melemaskan otot-ototnya, membiarkan tulang-tulangnya bersiap untuk menyerap frekuensi lonceng tersebut.

DONG!

Pukulan pertama. Gelombang suara transparan terpancar keluar. Seketika, sepuluh calon murid memuntahkan darah dan pingsan. Tekanan itu terasa seperti ribuan palu yang menghantam setiap inci persendian. Gong Sun tampak pucat, tubuhnya bergetar hebat saat ia mati-matian menyalurkan Qi ke kakinya agar tidak jatuh.

Han Jian? Ia merasa tulang-tulangnya berdenging rendah, seolah-olah sedang mendengarkan musik yang akrab. Tulang Emas Abadinya justru menjadi lebih solid saat menerima hantaman suara tersebut.

DONG!!

Pukulan kedua, dua kali lebih kuat. Kali ini, tiga puluh orang tersungkur. Suara tulang retak terdengar di beberapa titik. Bahkan Gong Sun harus bertumpu pada satu lututnya, wajahnya penuh keringat dingin.

Han Jian masih berdiri tegak, tangannya bersedekap. Ia menatap Tetua Mo Ran dengan mata emas yang tenang. Mo Ran sedikit terkejut; ini adalah pertama kalinya ia melihat seorang pendaki dari dunia bawah tetap berdiri tanpa pelindung Qi di pukulan kedua.

"Menarik," gumam Mo Ran. "Mari kita lihat apakah kau bisa menahan ini. Pukulan Ketiga: Kehancuran Fana!"

DOOOOONNNGGGGG!!!

Ledakan suara itu begitu dahsyat hingga platform marmer di bawah mereka retak. Gelombang kejutnya menyapu awan di sekitar platform hingga bersih. Sisanya, kecuali lima orang, semuanya terlempar keluar dari platform, jatuh ke dalam jurang awan yang dalam.

Gong Sun tergeletak telungkup, pingsan dengan telinga mengeluarkan darah.

Hanya ada lima orang yang masih bertahan di platform. Empat di antaranya sedang berlutut dengan napas tersengal-sengal. Dan satu orang... Han Jian, masih berdiri di tempat yang sama, bahkan rambutnya pun tidak berantakan.

Han Jian merasakan sesuatu yang luar biasa. Getaran dari lonceng ketiga tadi justru membantu menstabilkan energi emas yang baru saja ia serap dari Inti Giok Hitam. Proses pemurnian tulangnya justru dipercepat oleh ujian ini.

Tetua Mo Ran berjalan mendekati Han Jian. "Kau... siapa namamu?"

"Han Jian," jawabnya singkat.

"Kau tidak punya Dantian, tapi tulangmu... tulangmu memiliki kualitas yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bahkan murid inti sekte pun mungkin tidak memiliki kepadatan tulang seperti ini," Mo Ran menatap Han Jian dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, tapi juga ada kecurigaan.

"Lulus ujian pertama bukan berarti kau diterima," lanjut Mo Ran. "Ujian kedua akan diadakan di Hutan Kerangka. Di sana, kau tidak hanya akan melawan tekanan suara, tapi kau akan diburu oleh sisa-sisa kesadaran para dewa tulang yang telah gugur. Dan Han Jian... karena kau tidak memiliki Qi, kau akan menjadi target yang sangat menarik bagi mereka."

Han Jian hanya mengangguk kecil. "Aku siap."

Saat Mo Ran membimbing lima orang yang tersisa melewati gerbang naga, Han Jian melihat sebuah patung raksasa di kejauhan. Patung itu adalah seorang pejuang yang memegang tombak, matanya menatap tajam ke arah langit. Di bawah patung itu tertulis nama: Han Shuo - Sang Pengkhianat Langit.

Han Jian mengepalkan tangannya. "Ayah, aku sudah di sini. Aku akan membersihkan namamu dengan tulang-tulang mereka yang telah memfitnahmu."

Petualangan di Dunia Atas telah resmi dimulai, dan Han Jian baru saja memberikan tamparan keras pada kesombongan para jenius Alam Dewa Tulang.

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!