NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Perjalanan pulang terasa seperti iringan jenazah bagi Maya. Di sampingnya, Arlan duduk dengan tegak, satu tangannya mendekap Dion yang sudah kembali terlelap, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Maya dengan cengkeraman yang begitu posesif seolah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Maya akan hancur menjadi debu.

Maya hanya menatap keluar jendela, melihat pepohonan yang berlari cepat dalam kegelapan. Ia tidak menangis lagi. Air matanya telah kering di dermaga tadi, digantikan oleh kekosongan yang amat dalam.

Sesampainya di rumah mewah Dirgantara, suasana jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Arlan tidak membawa Maya kembali ke kamar utama. Ia menuntunnya menuju sebuah sayap bangunan yang baru saja direnovasi, yang pintunya kini menggunakan sistem pengunci biometrik terbaru.

"Dion akan tidur di kamarnya sendiri, dengan pengasuh baru yang sudah kupilihkan," ucap Arlan pelan saat mereka berdiri di depan pintu kamar besar itu. "Dan kau... kau akan bersamaku di sini. Tanpa paspor, tanpa ponsel, dan tanpa Bramasta."

Maya menoleh, menatap Arlan dengan tatapan yang sangat datar. "Kau baru saja membeli raga yang sudah mati, Mas. Apakah itu membuatmu puas?"

Arlan terhenti, rahangnya mengeras. Ia menarik dagu Maya agar menatapnya. "Aku lebih suka memilikimu dalam keadaan hancur daripada melihatmu bahagia dengan pria lain atau hidup bebas tanpa pengawasanku. Kau adalah istriku. Selamanya."

Hari-hari berikutnya, rumah itu benar-benar berubah menjadi sangkar emas yang kedap suara. Arlan tidak lagi pergi ke kantor sampai larut malam. Ia bekerja dari rumah, memastikan setiap langkah Maya berada dalam jangkauan pandangannya.

Setiap kali Maya ingin menemui Dion, Arlan akan selalu ada di sana, berdiri di ambang pintu seperti bayangan yang mengancam. Maya diizinkan mengurus Dion, menyuapinya, dan membacakan dongeng, namun ia tidak pernah dibiarkan berduaan dengan bocah itu lebih dari sepuluh menit.

"Kenapa Mama tidak pernah tersenyum lagi?" tanya Dion suatu sore saat mereka berada di taman belakang yang kini dipagari lebih tinggi.

Maya membelai pipi Dion, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan di hatinya. "Mama hanya sedikit lelah, Sayang."

"Papa Arlan bilang Mama sakit, jadi Mama tidak boleh pergi keluar rumah," lanjut Dion polos.

Maya melirik ke arah balkon lantai dua. Di sana, Arlan berdiri dengan segelas wiski di tangannya, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara pemujaan dan kegilaan.

Namun, Arlan lupa bahwa Maya adalah wanita yang pernah merencanakan pelarian yang hampir sempurna. Di balik kepatuhannya yang terlihat pasrah, Maya mulai mengamati rutinitas baru Arlan. Ia menyadari bahwa meski Arlan mengunci semua pintu fisik, pria itu memiliki satu kelemahan besar ,rasa bersalahnya yang mulai membusuk di dalam dada.

Suatu malam, saat Arlan mencoba mendekatinya di tempat tidur, Maya tidak menghindar. Ia justru menatap Arlan dengan mata yang berkaca-kaca, namun suaranya sangat tenang.

"Mas... jika aku mati di rumah ini karena sesak, apakah kau akan menguburku di halaman belakang agar aku tetap tidak bisa pergi?"

Arlan tersentak. Pertanyaan itu terdengar begitu dingin dan nyata. "Apa yang kau bicarakan, Maya? Aku memberimu segalanya!"

"Kau memberiku segalanya, kecuali udara," bisik Maya. "Lihat dirimu, Arlan. Kau tidak sedang mencintaiku. Kau sedang membalas dendam pada dunia karena kehilangan adikmu, dan kau menjadikan aku sebagai korbannya. Jika kau terus melakukan ini, kau tidak akan mendapatkan cintaku kembali. Kau hanya akan mendapatkan mayat yang mengenakan gaun mahal."

Arlan terdiam membeku. Untuk pertama kalinya, ia melihat bayangan dirinya di mata Maya ,seorang pria yang menyedihkan yang begitu takut kehilangan hingga ia menghancurkan apa yang ia genggam.

Malam itu, Arlan tidak menyentuh Maya. Ia keluar dari kamar dan mengunci pintu dari luar, namun ia duduk di depan pintu itu sepanjang malam, mendengarkan isak tangis tertahan Maya yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada teriakan kemarahan.

Perang ini belum berakhir. Maya tahu, sangkarnya kini memang lebih kuat, tapi ia juga tahu bahwa tidak ada penjara yang bisa menahan seseorang yang sudah tidak lagi takut untuk kehilangan nyawanya sendiri. Ia hanya butuh satu celah lagi, satu momen di mana obsesi Arlan berubah menjadi kelalaian. Dan saat itu tiba, ia tidak akan lari ke dermaga. Ia akan menghancurkan sangkar itu dari dalam.

Pagi harinya, pintu kamar terbuka bukan oleh sistem biometrik, melainkan oleh tangan Arlan yang tampak gemetar. Matanya cekung, sisa dari malam panjang yang ia habiskan di lantai koridor. Ia melihat Maya yang sudah duduk rapi di tepi ranjang, wajahnya pucat namun sorot matanya setajam belati.

"Aku akan pergi ke kantor," ucap Arlan parau. "Ada rapat pemegang saham yang tidak bisa kutunda. Kau... kau bisa bersama Dion seharian ini."

Maya tidak menjawab. Ia hanya menatap Arlan seolah pria itu adalah udara kosong. Arlan berhenti di ambang pintu, sejenak berharap Maya akan memintanya untuk tetap tinggal atau sekadar memandangnya, namun yang ia dapatkan hanyalah keheningan yang menyesakkan.

Begitu suara deru mobil Arlan menjauh, Maya segera beranjak. Ia tahu ini bukan sekadar keberuntungan; ini adalah umpan. Arlan mungkin sengaja melonggarkan pengawasan untuk melihat apakah ia akan lari lagi. Namun, Maya tidak bodoh. Ia tidak akan lari melalui pintu depan.

Ia menghabiskan waktu bersama Dion, namun pikirannya bekerja secepat mesin. Mencari celah untuk kembali pergi dari rumah ini.

" Mama...Dion mau es krim." Suara lembut membuyarkan lamunan Maya yang sedang menyusun rencana pelarian lagi.

Maya menatap Dion yang juga sedang menatap nya ." Tunggu di sini ,mama ambil es krimnya dulu,ya tapi makan es krimnya sedikit saja ya ."

Di kantor Arlan yang baru saja menerima sebuah file penyebab kecelakaan adiknya itu dari seorang detektif swasta yang di sewanya kini membuahkan hasil. Dulu Arlan yang menuduh Maya lah yang dengan sengaja membuat adiknya mengalami kecelakaan, hingga membuatnya menaruh dendam pada istrinya itu. Cinta nya pada sang istri kini berubah menjadi sebuah kebencian hingga ingin membuat wanita itu terus berada dalam genggamannya,tapi entah mengapa beberapa hari ini ia merasa ada yang salah . Dan akhirnya memutuskan untuk kembali menyelidiki penyebab kecelakaan adiknya itu .

Arlan menatap layar komputer dengan napas yang tertahan. Video rekaman dari dashcam sebuah mobil yang melintas di lokasi kejadian bertahun-tahun lalu kini terpampang nyata di depannya. Matanya membelalak, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga memutih.

Dalam rekaman itu, terlihat jelas mobil adik Arlan melaju dengan stabil. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam lain bukan mobil Maya sengaja memacu kecepatan dan menyenggol bagian belakang mobil adiknya hingga terpelanting hebat. Mobil Maya baru muncul beberapa detik kemudian, mengerem mendadak dalam upaya putus asa untuk menghindar, namun justru ia yang dituduh sebagai penyebab utama karena posisinya yang paling dekat saat polisi tiba.

Dan yang membuat jantung Arlan seolah berhenti detak adalah sosok wanita yang keluar dari mobil hitam itu sesaat sebelum melarikan diri: Sarah.

"Bajingan..." desis Arlan, suaranya bergetar hebat antara amarah dan kehancuran.

Selama ini, ia telah memelihara ular di dalam rumahnya. Ia telah membela pembunuh adiknya sendiri, sementara ia menyiksa, menghina, dan mengurung wanita yang paling mencintainya. Segala tuduhan "pencitraan" yang dilontarkan Sarah tentang Maya kini berputar di kepalanya seperti kaset rusak, mempermalukan setiap sel di tubuhnya.

Arlan merutuki dirinya sendiri,namun rahangnya kembali mengeras memikirkan sesuatu,jika ia memberitahu Maya jika dirinya sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Arlan yakin Maya akan semakin memperlebar jarak di antara mereka bahkan besar kemungkinan Maya akan meninggalkan dirinya selamanya. Untuk itu Arlan telah memilih keputusan nya sendiri berpura-pura tidak tahu kejadian yang sebenarnya.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!