NovelToon NovelToon
Rahasia Si Gadis Cupu

Rahasia Si Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:970
Nilai: 5
Nama Author: Rosemary Mary

Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.

Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.

Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?

Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Setelah memilih beberapa model jam yang sesuai dengan uang yang ia miliki, Cery pun membelinya, hari semakin sore saja, ia bergegas mengayuh kembali sepeda nya untuk pulang ke rumah bi Suni.

Sementara itu, terlihat Della yang berdiri di pinggir jalan tepatnya di depan sebuah mall, ia memegang ponsel nya sambil menenteng paper bag berisi gaun untuk ia gunakan nanti malam di pesta ulang tahun Linus.

"Duh, tu sopir parkir di mana sih? Lagian mama pake acara pergi sama papa, malah nyuruh gue kemana-mana pake sopir, ngeselin banget," ujar Della sambil menggerutu ia juga celingak-celinguk mencari sopir nya yang entah di mana memarkirkan mobil.

Di saat seperti ini, terlihat pula dua orang laki-laki memperhatikan Della, mereka mengunakan masker dan juga topi.

Segera saja dia orang tersebut melajukan motornya ke arah Della dan berusaha merampas paper bag serta ponsel Della.

Della yang kaget berusaha cukup keras mempertahankan ponsel dan paper bag nya, sehingga dia orang laki-laki tersebut turun dari motor.

Suasana mall cukup sepi, scurity nya juga sedang istirahat karena jam makan siang.

"Tolong! Tolong ada rampok!" jerit Della sambil berusaha melawan perampok tersebut.

"Lapas gak Lo? Lepas!" ucap salah satu dari perampok tersebut mengancam Della.

Ada banyak orang berlalu lalang hanya melihat dan tidak berniat menolong Della, karena mereka melihat perampok tersebut membawa pisau kecil.

Cery yang kebetulan melewati mall tersebut melihat kejadian itu, segera saja dia mengenali Della.

"Astaga, Della dalam bahaya!" Cery segera menepikan sepeda nya dan melemparkan sepeda tersebut ke tepian jalan.

Ia melihat ke sekeliling dan akhirnya menemukan sebuah batu besar, cukup untuk ia angkat dan ia lemparkan ke wajah perampok itu.

"Woy! Lari gak kalian atau gak gue lempar pakai ni batu biar bocor kepala! Gue juga udah nelpon polisi biar kalian di tangkap!" jerit Cery sambil melemparkan batu tersebut yang ternyata tepat mengenai kaki si perampok.

Cery yang pintar juga berpura-pura memegang ponsel dan menelpon polisi.

Kedua pencuri itu segera saja lari terbirit-birit, sambil salah satu dari mereka menahan kaki yang berdarah akibat di tiban batu besar dari Cery.

Setelah melihat penculik tersebut pergi, Cery pun buru-buru menghampiri Della. Della terlihat sangat takut dan trauma, ia baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini, namun beda dengan Cery, di ganggu orang-orang jahat adalah makanan sehari-hari nya, namun dia hanya melawan jika mereka benar-benar membahayakan, jika tidak dia memilih pergi.

"Dell, Lo gak apa-apa kan ada yang luka gak?" tanya Cery sambil melihat Della dari kaki sampai kepala.

"Cery, ngapain Lo di sini? Gue gak apa-apa," jawab Della serba salah,ia malu dan juga masih dalam keadaan takut.

Cery tidak menjawab ucapan Della lagi,ia melihat lengan Della yang terluka karena mempertahankan paper bag, ia menarik tangan Della untuk pergi dari pinggir jalan tersebut.

"Lo duduk di sini, jangan kemana-mana," setelah beberapa menit berjalan Cery meminta Della duduk di bawah pohon tepi jalan tempat ia meletakkan sepeda nya.

Della hanya diam sambil menahan sakit di lengan nya, ia juga masih dalam keadaan panik tidak tau harus berbuat apa.

Selang sepuluh menit kemudian, Cery kembali dengan sebotol air mineral dingin dan juga hansplast.

"Sini gue bantu obatin," uajar Cery lagi ia membenarkan kacamata nya, mengambil lengan Della, membuka hansplast dan menempelkan di luka Della.

"Nanti sampai rumah Lo obatin lagi, sekarang gue tempeliin hansplast dulu, nih minum," tidak peduli bahwa orang yang ia selamat kan saat ini adalah seseorang yang telah banyak membuat luka dan mempermalukan nya di sekolah, Cery bersikap sangat peduli dan perhatian kepada Della tanpa mengingat kejahatan Della.

Della yang melihat tingkah Cery merasa sangat heran, dalam hatinya ia berkata, ini Cery tidak sadar atau hilang ingatan, apakah dia tidak punya perasaan membantu orang yang sudah menyakiti nya dengan begitu tulus.

"Lo gak naruh racun di dalam air minum nya kan" tukas Della khawatir kalau Cery diam-diam memasukkan sesuatu ke air untuk balas dendam.

"Ngomong apa sih, Lo lihat sendiri air nya masih belum kebuka, gak perlu khawatir, gue orang nya gak dendam," jelas Cery sambil tersenyum manis.

Lagi-lagi Della merasa ini mimpi, ia bingung sangat bingung, di sekolah Cery terlihat sangat pemalu, gugup dan juga tidak bisa menatap orang, namun di luar ia bicara dengan lancar dan terlihat sangat asik.

Saat Della hendak kembali bicara, sebuah mobil pun berhenti di hadapan mereka.

"Non, non Della gak apa-apa kan? Astaga maaf ya non, tadi saya mau makan karena magh saya kambuh tidak makan dari pagi terpaksa saya meninggalkan non Della di mall saya pikir non Della akan lama belanja nya," ungkap pak sopir tersebut sambil membungkuk meminta maaf kepada Della.

"Gak apa-apa gimana? Saya hampir mati tau gak sih pak di rampok, yaudah pulang!" ujar Della berdiri dari duduknya dan kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.

Sementara itu Cery hanya tersenyum kecil Melia Della yang manja, padahal cuma luka kecil malah bilang mau mati hal ini membuat Cery tersenyum, namun satu hal yang Cery baru lihat, semarah apapun Della, dia tidak pernah mengancam memecat atau menyalahkan sopir nya.

Mobil Della pun segera pergi dari hadapan Cery, Cery pun juga segera kembali mengambil sepeda nya dan mengayuh kembali menuju rumah, hari ini ia sedikit lega bisa menolong Della.

Sementara itu Della merasa malu, dia juga tidak tau harus mengatakan apa kepada Cery yang menolong nya, ia juga masih memegang air minum yang Cery berikan, sesekali ia melihat ke belakang untuk memastikan Cery juga pergi dari tempat tadi.

"Maaf ya non, sekali lagi maaf," ujar sang sopir kembali angkat bicara.

"Udah gak apa-apa, lagian bapak sendiri gak makan diem aja, lain kali bilang pak, aku ini gak mungkin biarin pekerja sampai mati kelaparan," omel Della sambil menggeleng kepala.

Sang sopir yang sudah benar-benar memahami Della, merasa omelan ini hal biasa.

Namun ia melihat Della yang terus menoleh ke belakang mobil, merasa binggung seperti ketinggalan sesuatu.

"Non, maaf, kenapa kok terus lihat ke belakang? Ada sesuatu yang ketinggalan?" tanya pak sopir melepaskan rasa penasaran nya.

"Ah, engak kok," jawab Della singkat.

"Cery, dia kok mau bantu gue ya? Tapi kalau di pikir-pikir dia kelihatan kayak satu orang yang punya dua kepribadian berbeda, padahal jelas-jelas pemberani tapi kok di sekolah kayak semut gak pernah megalwan," pikiran Della saat ini di penuhi dengan bayang-bayang Cery.

Jujur saja, hati Della merasa tersentuh setelah melihat hansplast di lengan nya, tidak menyangka seseorang yang selama ini ia buli dan ia siksa mampu menyelamatkan nya dari bahaya.

Tidak butuh waktu lama, Della pun akhirnya tiba di rumah, jam sudah menujukkan pukul enam lewat empat puluh menit, ia segera masuk ke dalam kamar dan mandi, kedua orang tua Della saat ini sedang tidak ada, mereka melakukan perjalanan bisnis ke Bali dan akan kembali dalam dua Minggu.

Sementara itu di sisi lain.

"Cery? Ada apa ini? Kok kamarnya kayak kapal pecah gini? Apa yang kau cari?" tanya Bu Suni kepada Cery.

Terlihat Cery yang duduk di ranjang nya dengan wajah putus asa.

"Bi, aku dapat undangan pesta ulang tahun teman sekolah, dan aku ternyata sama sekali gak punya gun atau dress, gimana dong," ujar Cery sambil memasang wajah murung.

Bi Suni tersenyum manis setelah mendengar ucapan Cery, ia berpikir kalau gadis itu sedang ada masalah apa, ternyata hanya karena memilih pakaian untuk pergi ke pesta ulang tahun, membuat nya sangat sedih.

"Cery, bukan kah masih ada dress biru muda yang pernah bi Suni hadiah kan saat ulang tahun Cery ke delapan belas tahun sebulan yang lalu? Kenapa gak pakai yang itu aja sayang?" tanya bi Suni menghampiri Cery dan membuka laci lemari pakaian Cery.

Cery sempat melupakan dress itu karena ia menyimpan nya dengan baik di lemari, ia berfikir kalau itu tidak akan berguna karena dia tidak bisa pergi ke pesta manapun.

"Oh iya bi, coba aku lihat," Cery mengambil dress tersebut, dan melihat nya penuh semangat.

"Nah bisa kan?" ujar bi Suni menyesuaikan di tubuh Cery.

Dress itu cukup sederhana, namun bagi Cery itu adalah dress terbaik yang pernah ia gunakan karena di berikan oleh BI Suni.

"Bibi bantu siap-siap ya," ujar Bu Suni lagi.

Cery mengangguk senang, bi Suni pun mulai membantunya untuk bersiap-siap, setelah empat puluh menit berlalu, Cery pun akhirnya selesai berdandan dan akan segera pergi.

"Ini kado nya, sudah bibi bungkus Cery, kau terlihat sangat cantik malam ini sayang," puji bi Suni sambil menyerahkan kotak jam tangan kecil yang sudah ia bungkus dengan kertas kado.

Cery menerima nya sambil mengucapkan terima kasih kepada bi Suni yang sudah membantu nya, ia beberapa kali merapikan kacamata dan juga rambut yang tetap di ikat dua.

"Tunggu taxi nya datang ya,bibi pesan taxi online untuk mengantarkan mu ke sana, mana mungkin sudah cantik gini harus pakai sepeda, lagian tempat nya pasti jauh bahaya," jelas BI Suni.

"Terima kasih banyak bibi," ujar Cery memeluk bi Suni.

Bi Suni membalas pelukan tersebut dengan mengelus punggung Cery, ia berharap semuanya berjalan lancar, dan Cery tidak akan di buli malam ini.

Tepat di saat itu, Taxi yang di pesan bi Suni pun tiba, Cery segera berpamitan dan berangkat menuju rumah Linus, meskipun itu pertama kali nya, namun Cery bisa melihat alamat dari kartu undangan yang diberikan Della.

Rasa gugup mulai menyelimutinya,ini pertama kali ia akan bertemu di rumah Linus si anak orang kaya, meskipun nanti bukan hanya Cery, tetap saja Cery gugup karena ini juga yang pertama kali ia menghadiri pesta.

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!