NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Jarak yang Terkikis di Ruang Baca

Lonceng tanda istirahat siang berdentang, memecah konsentrasi para siswa dan menggantikannya dengan sorak-sorai tertahan. Dalam sekejap, ruang kelas dua belas berdengung oleh keriuhan. Sebagian besar siswa bergegas merapikan buku, bersiap menyerbu kantin yang pasti akan segera disesaki lautan seragam putih abu-abu.

Seno bangkit dari bangkunya, meregangkan otot sejenak sebelum menoleh ke arah meja Jenawa. "Nasi rames Bi Asih atau mie ayam depan gerbang hari ini, Wa? Perutku sudah tak bisa diajak berkompromi."

Namun, di luar kebiasaan, Jenawa tak langsung beranjak. Pemuda itu justru merapikan alat tulisnya dengan sangat perlahan, lalu menyampirkan jaket almamater ke bahunya.

"Kalian duluan saja ke kantin," jawab Jenawa santai. "Aku ada urusan sebentar yang tak bisa ditinggalkan."

Seno mengerutkan kening, menatap kawan karibnya itu dengan penuh selidik. "Urusan apa yang lebih penting dari mengisi perut di jam istirahat? Jangan bilang kau mau mencari perhitungan lagi dengan anak-anak Pelita sendirian?"

"Pikiranku tidak sekerdil itu untuk mengorbankan jam istirahat demi sebuah pertikaian tak berguna, Seno," Jenawa tertawa pelan, menepuk bahu kawannya. "Ada sebuah janji yang harus kutepati. Percayalah, ini tidak ada sangkut pautnya dengan jalanan."

Meninggalkan Seno yang masih terpaku dalam kebingungan, Jenawa melangkah keluar kelas. Tungkainya bergerak pasti menyusuri lorong lantai dua, menuruni tangga utama, dan berbelok menuju sayap barat sekolah. Tujuannya hanya satu: perpustakaan.

Udara di dalam perpustakaan seketika terasa kontras dengan suhu pelataran sekolah yang terik. Aroma kertas usang dan kayu jati tua menyambut indra penciumannya. Kehadiran Jenawa di ambang pintu sempat membuat Bu Tari, sang pustakawati, membetulkan letak kacamatanya dengan raut curiga. Bukan hal yang lumrah melihat sang panglima SMA Bangsa menjejakkan kaki di tempat yang menuntut ketenangan mutlak ini.

Jenawa hanya mengangguk sopan pada Bu Tari, lalu mengedarkan pandangannya menyusuri deretan rak tinggi. Di sudut ruangan, tepat di dekat jendela besar yang menghadap ke taman samping, ia menemukan presensi itu.

Sinaca Tina duduk dengan keanggunan yang tak pernah luntur. Seragamnya rapi tanpa cela, dan rambut hitamnya dibiarkan tergerai menutupi separuh bahunya, membingkai wajahnya yang tengah tertunduk menekuni lembaran buku sastra.

Dengan langkah perlahan yang nyaris tak bersuara, Jenawa menghampiri meja tersebut dan menarik kursi di seberang Sinaca.

Mendengar decit pelan kaki kursi, Sinaca mengangkat wajahnya. Tidak ada gurat keterkejutan di sana, hanya sepasang mata cokelat yang menatap tenang, namun menyiratkan sebuah pengakuan bahwa ia memang menanti kedatangan pemuda ini.

"Kau datang tepat waktu," ucap Sinaca dengan volume suara yang sangat pelan, menjaga agar tak mengusik keheningan perpustakaan.

Jenawa menyandarkan punggungnya, melipat kedua lengan di atas meja, dan menatap gadis itu lekat-lekat. "Aku sudah berjanji, bukan? Dan seorang laki-laki diukur dari kemampuannya memegang kata-kata."

Sinaca menutup bukunya perlahan, membalas tatapan Jenawa. "Kukira hiruk-pikuk kantin bersama kawan-kawanmu akan jauh lebih menggoda dibandingkan duduk diam di kelilingi kebisuan ini."

"Hiruk-pikuk itu memekakkan telinga," bisik Jenawa, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Sesekali, aku butuh ketenangan. Dan entah mengapa, ketenangan itu rasanya selalu kutemukan setiap kali aku berada di dekatmu."

Pernyataan lugas yang meluncur tanpa keraguan itu membuat Sinaca terkesiap halus. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat. Ia menundukkan pandangan sejenak, mencoba menyembunyikan rona tipis yang perlahan menjalar ke pipinya. Kemampuan Jenawa dalam bertutur kata jujur selalu berhasil melucuti pertahanannya.

Untuk mengalihkan salah tingkahnya, Sinaca meraih sebuah buku bersampul tebal dari tumpukan di sampingnya, lalu menyodorkannya ke hadapan Jenawa.

"Jika kau memang berniat menghabiskan waktu di sini, maka manfaatkanlah dengan baik. Bacalah ini," titah Sinaca, suaranya kembali berusaha terdengar tegas. "Itu adalah sebuah roman sejarah. Akan jauh lebih bermanfaat bagi pikiranmu dibandingkan hanya duduk dan menatap orang lain tanpa henti."

Jenawa terkekeh pelan. Ia menerima buku tersebut, mengusap sampulnya yang sedikit berdebu, lalu kembali menatap Sinaca dengan sorot mata jenaka.

"Apakah kau merasa terganggu karena aku menatapmu, Sinaca?" godanya dengan suara yang ditekan serendah mungkin.

"Aku merasa risi," koreksi Sinaca cepat, meski matanya tak berani membalas tatapan Jenawa terlalu lama. "Tataplah aksara-aksara di dalam buku itu. Mereka lebih membutuhkan perhatianmu."

"Aksara di buku ini menceritakan masa lalu," balas Jenawa seraya membuka halaman pertama secara acak. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, sementara matanya kembali beralih dari buku menuju wajah gadis di seberangnya. "Sedangkan saat menatapmu, aku merasa sedang melihat masa depan."

Sinaca nyaris tersedak napasnya sendiri. Ia membelalakkan mata, menatap Jenawa dengan campuran rasa tak percaya dan geli. "Sejak kapan kau pandai menyusun kalimat picisan seperti ini, Jenawa? Apakah aspal jalanan yang mengajarkannya?"

"Tidak," jawab Jenawa santai, senyumnya kian lebar. "Aku hanya menyuarakan apa yang terlintas di kepalaku. Aku tidak tahu bagaimana merayu layaknya pujangga, Sinaca. Aku hanya tahu bagaimana berkata jujur."

Ruang baca itu kembali dikuasai keheningan, namun kali ini udaranya terasa jauh lebih hangat. Sinaca tak lagi membalas ucapan pemuda itu. Ia kembali membuka bukunya, namun fokusnya telah lama buyar. Di seberang meja, Jenawa akhirnya menuruti permintaannya, mulai membalik halaman buku yang disodorkan kepadanya, meski sesekali ekor matanya masih mencuri pandang ke arah gadis itu.

Siang itu, di antara deretan rak buku jati dan aroma kertas usang, dua semesta yang amat bertolak belakang mulai menemukan ritme yang sama. Tanpa pertengkaran, tanpa debu jalanan, hanya ada dua insan yang diam-diam menikmati kehadiran satu sama lain, membiarkan waktu mengikis jarak di antara mereka perlahan-lahan.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!