Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Tara membuka matanya perlahan, mengerjap karena cahaya lampu yang menyilaukan. Sesaat ia kembali memejamkan mata, lalu menyesuaikan cahaya yang mulai membuka pandangannya.
“Bangun, Ra?”
Tara memegangi kepalanya yang sedikit nyeri lalu menoleh perlahan ke samping. Devan duduk di kursi, sebelah ranjang, menatap dengan senyuman manisnya.
Tara mencoba untuk duduk. Kepalanya masih sakit, namun ia berusaha susah payah duduk bersandar di kepala ranjang. Devan tak membantu sedikitpun. Ia tak beranjak dari tempat duduknya.
“Dev?” Tara berkata lirih.
Barulah Devan berdiri, menyodorkan segelas air putih ke hadapan Tara. “Nih.”
Tara menerimanya dengan gemetar. Kepalanya benar-benar pusing. Ia meneguknya perlahan sampai tandas.
Devan kembali duduk, memperhatikan, menunggu Tara sadar dari obat bius yang ia gunakan untuk membuat Tara pingsan siang tadi.
Tara menoleh, melihat Devan. Mencerna kejadian sebelum ia terbangun di tempat asing ini. Matanya menelisik tubuh Devan dari atas kepala sampai kaki.
“Kamu … baik-baik aja?”
Devan menyeringai.
“Kamu … katanya kamu kecelakaan.”
Devan mengedikkan bahunya. “Lihat aku baik-baik, Ra. Apa ada tanda-tanda kalau aku baru aja kecelakaan?”
Tara masih menatap Devan. Memindai lagi tubuh Devan dari atas hingga bawah lalu sebaliknya. Kepalanya tak lagi terasa sakit seperti ia bangun tadi.
“Kamu bohongin aku, Dev?” Tara bertanya lirih.
“Terpaksa. Kalau nggak gitu, kamu nggak akan datang ke sini. Ternyata kamu masih mencintaiku, ya, Ra? Terus kenapa kamu mau nikah sama David?”
Tara menghela napas. Ia sekarang mengerti mengapa Devan berbohong lalu ia berada di tempat yang entah dimana ini.
“Aku khawatir setengah mati sama kamu. Tapi kamu tega bohongin aku dengan kecelakaan itu. Dan bisa-bisanya kamu ngomong kalau aku masih cinta sama kamu. Ku kira kamu emang udah nggak waras, Dev.”
Devan tersenyum. “Dan aku kayak gini itu karena kamu, Tara.”
Tara menggeleng,” Kamu kayak gini karena kamu gila. Jangan nyalahin aku.”
“Ya baiklah kalau kamu bilang aku gila. Aku emang udah gila. Menculik calon pengantin wanita dari calon pengantin pria. Oh maaf. Ralat. Bukan menculik. Tapi kamu yang datang sendiri ke sini.”
Tara mendesah pelan. Ia tak terkejut dengan sikap Devan satu ini. Ia sudah cukup tahu bagaimana pria tak normal satu ini begitu impulsif melakukan hal yang ia mau tanpa peduli perasaan orang lain.
“Kamu lapar?” Devan bertanya saat mendengar perut Tara berbunyi.
Tara mendelikkan mata,” Aku ke sini siang tadi. Belum makan. Dan sekarang jam berapa, hah? Masih bisa nanya aku lapar atau enggak,” sinisnya.
Devan tertawa tanpa suara. “Baiklah. Aku beliin kamu makanan online. Mau makan apa?”
“Aku mau kamu yang beli makan sendiri. Nggak mau online. Aku mau makan ayam bakar kaki lima dekat lapangan basket itu.”
Devan menatap Tara,” Kamu mau cari celah buat kabur?”
“Aku lapar. Nggak ada kekuatan buat kabur. Lagipula tanpa kabur pun, aku tahu kalau hidupku akan terjamin sama kamu di tempat ini. Cepat sana!”
Devan menghela napas. Ia berdiri, lalu melangkah keluar kamar. Tara bisa mendengar Devan menutup pintu kamar. Tak lama kemudian, ia juga mendengar pintu utama dikunci dari luar dan deru mesin motor Devan.
Tara menarik napas panjang. Ia mengamati sekeliling kamar lalu mencoba turun dari ranjang. Pusingnya masih ada, tapi Tara ingin tahu seluk beluk rumah ini.
Di kamarnya, hanya ada ranjang dan nakas kecil. Ada jendela yang dipasangi teralis ukir dari besi. Tara jelas tak bisa keluar dari sana.
Langkah Tara menuju pintu. Membukanya dan langsung terlihat ruang tamu dengan sofa dan meja kecil. Terlihat bersih. Matanya mengamati sofa, mencari tas atau ponselnya.
Ia kembali melangkah ke dapur yang langsung berbatasan dengan kamar mandi. Dapurnya juga bersih. Tapi tak ada peralatan memasak. Kemungkinan Devan jarang memasak di rumah ini.
Setelah berkeliling di dalam rumah, Tara duduk di sofa. Ia terkunci di rumah kecil ini. Tanpa ponsel. Tapi ada televisi yang tertempel di dinding. Remote tv ada di atas meja. Tara tak berniat menonton televisi.
Tara tahu saat ini David dan Haris pasti kebingungan mencarinya. Ia sendiri tak tahu ini rumah siapa. Jika rumah Devan, mengapa ia tak pernah tahu selama menjadi istrinya Devan dulu?
Tara tak bisa berbuat apapun. Kalaupun ia nekat kabur, ia tahu bahwa Devan akan kembali mengincarnya. Satu-satunya cara adalah mengikuti keinginan mantan suami tidak normalnya itu.
Setengah jam kemudian, pintu utama dibuka dari luar. Tara yang masih duduk di sofa menoleh. Devan menutup kembali pintu dan menguncinya. Ia taruh kunci di dalam saku celananya lalu ikut duduk di sofa bersama Tara.
“Makan dulu, Ra.”
Tara tak menjawab dan langsung membuka bungkusan. Perutnya sangat lapar. Setelah makan, barulah ia akan mencari cara agar Devan melepaskannya.
“Haris nggak akan nemuin kamu di sini. Apalagi David. Kamu akan tetap di sini sampai pernikahanmu itu tiba. Aku bisa bayangkan David menahan malu saat kamu nggak datang ke pernikahan kalian. Ia akan membencimu dan kembali menyakitimu seperti dulu.” Devan berkata santai setelah selesai makan dan meneguk air putih di gelas.
Tara tersenyum lirih,” Oh ya? Kamu percaya kah sama surat undangan itu?”
Devan mengernyit,” Maksudmu?”
“Bagaimana kalau surat undangan itu dicetak cuma satu doang dan sengaja ku kirim ke kamu seorang?”
Devan menatap bingung. Apa maksud Tara?
Tara terkekeh pelan. “Kamu percaya kalau aku bakal nikah minggu depan sama David? Ya Tuhan, Dev. Kamu tertipu. Sama dengan kamu bohongin aku tadi siang, maka aku lebih dulu sudah membohongimu.”
Dahi Devan berkerut. Matanya menatap tajam Tara yang tertawa puas di tempatnya. Dibohongi?
“Kamu mau nahan aku selama apapun di sini, nggak akan ngaruh sama pernikahanku dan David. Iya, benar. Aku mau nikah sama David. Tapi tanggalnya belum kami tetapkan. Surat itu palsu, Dev. Dan kamu tertipu.”
Devan terdiam. Tubuhnya mematung.
Tara memajukan tubuhnya, menatap tajam langsung ke mata Devan. “Aku sudah menduga kalau ini bakal terjadi. Aku sangat mengenalmu, Dev. Sejak kita ketemu di kafe dan kamu keberatan dengan hubunganku dan David, aku tahu kalau kamu nggak akan biarin aku hidup bahagia dengannya. Dan dugaanku benar, kan?”
Devan mengeraskan rahangnya. Ia tertipu mentah-mentah.
“Kenapa? Mau marah? Kamu lupa, Dev. Aku bukan lagi Tara yang lemah sama wajah tampan juga kekayaanmu. Aku nggak keberatan tinggal di sini selama kamu memberi aku kenyamanan. Tapi, kamu lupa satu hal lagi. Kamu akan berhadapan dengan Abang. Dan aku nggak akan peduli lagi sekalipun wajah kamu remuk sama dia.”
Devan memukul meja kecil itu hingga sedikit bergetar. Tatapannya menusuk ke dalam hati Tara.
Tara bergeming. Bersandar santai, melipat tangan di depan dada dan balas menatap Devan.
“Terlambat kalau kamu ingin aku kembali ke kamu, Dev. Tapi dengan kamu terus begini, itu akan memudahkan aku buat menanam bibit benci dalam hatiku untukmu.”
Bersambung…