NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Zirah Hitam dan Ratu yang Bangkit

​Cahaya fajar menyusup melalui celah tirai baja di ruang tamu, mengukir garis-garis pucat di atas lantai marmer.

​Lampu rotator merah-biru dari mobil polisi sudah lama menghilang dari balik gerbang, namun kilatannya seolah masih membakar retinaku. Suara deru mesin mobil yang membawa suamiku pergi masih berdengung di telingaku, mengejek kelemahanku.

​Aku duduk merosot di lantai foyer, tepat di titik terakhir Bumi berdiri sebelum ia menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol. Tanganku mencengkeram kemeja biru miliknya yang ia tinggalkan di kamar mandi tadi malam. Kemeja itu masih menyisakan aroma sabun dan wangi kasturi khas tubuhnya. Aku membenamkan wajahku ke dalam kain itu, menghirup aromanya dalam-dalam, berharap aroma itu bisa menambal lubang menganga di dadaku.

​Air mataku sudah mengering sejak dua jam yang lalu, menyisakan rasa perih di pelupuk mata dan tenggorokan yang terasa seperti diisi pecahan kaca.

​“Jika malam ini ruang tahanan adalah takdirku, maka aku akan menjalaninya. Aku akan pulang. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi janda untuk kedua kalinya.”

​Kata-kata perpisahan Bumi terus bergaung di kepalaku. Pria bodoh. Pria kampung yang keras kepala. Dia menyerahkan kemerdekaannya, membiarkan dirinya diinjak oleh hukum yang sudah dibeli Rendra, hanya agar namaku dan perusahaanku tidak ikut terseret dalam malam penangkapan itu.

​Terdengar suara langkah kaki pelan menuruni tangga.

​Aku mengangkat wajahku yang berantakan. Hajah Fatimah berjalan ke arahku. Beliau mengenakan mukena putih bersih, baru saja selesai menunaikan salat Subuh. Wajah tuanya terlihat pucat, dan garis-garis kelelahan tergambar jelas di sudut matanya. Garda pasti sudah menceritakan semuanya pada beliau.

​Tubuhku seketika bergetar hebat. Rasa bersalah yang teramat masif—jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kurasakan—menghantamku. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam hingga dahiku nyaris menyentuh lantai marmer yang dingin.

​Aku tidak berani menatap wajah wanita suci itu.

​"Tampar saya, Bu," suaraku keluar berupa bisikan parau yang putus asa. "Pukul saya. Caci maki saya. Tolong... lakukan apa saja. Putra Ibu... pria sebaik Bumi, sekarang berada di dalam sel penjara yang kotor karena saya. Rendra menjebaknya. Ini semua salah saya, Bu. Saya menghancurkan keluarga Ibu."

​Aku memejamkan mata, bersiap menerima amarah seorang ibu yang putranya baru saja dirampas.

​Namun, yang kurasakan bukanlah tamparan. Melainkan sepasang tangan tua yang hangat dan gemetar, meraih kedua bahuku, menarikku bangun dari lantai dingin itu.

​Aku mendongak, mataku membelalak.

​Hajah Fatimah tidak menangis. Tidak ada sorot kebencian di matanya yang teduh. Beliau menarikku ke dalam pelukannya, mendekapku erat ke dadanya. Aroma bedak bayi dan sajadah dari tubuhnya membuat isakanku yang tadinya sudah kering, kembali pecah berantakan.

​"Astaghfirullah, Nak Aruna... jangan bicara seperti itu," bisik Hajah Fatimah, suaranya bergetar namun memancarkan ketegaran yang tidak masuk akal. Beliau mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang. "Ibu menangis saat Garda bercerita tadi, ya. Hati ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya dibawa polisi? Tapi Ibu tidak sedetik pun menyalahkanmu."

​"Tapi Bumi—"

​"Bumi adalah anak laki-laki yang Ibu besarkan dengan tangan Ibu sendiri," potong Hajah Fatimah lembut. Beliau sedikit melonggarkan pelukannya, menangkup kedua pipiku, dan menatap mataku dalam-dalam. "Ibu tahu persis siapa putra Ibu. Dia tidak akan pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dan jika dia memilih untuk menyerahkan diri demi melindungimu, itu berarti dia sedang menjalankan kewajibannya sebagai suamimu."

​"Bu... mereka menjebaknya dengan uang delapan puluh miliar. Rendra punya uang, punya kuasa hukum. Bumi bisa dihukum belasan tahun penjara!" ratapku, rasa panik kembali mencekik leherku.

​Hajah Fatimah tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang menyiratkan kedalaman iman yang belum bisa kujangkau.

​"Rendra mungkin punya uang dan pengacara, Nak. Tapi Rendra tidak memiliki langit dan bumi," ucap beliau tenang. "Bumi ada di dalam penjara manusia, tapi dia berada dalam perlindungan Allah. Jangan pernah meremehkan doa seorang ibu di sepertiga malam, dan jangan pernah meremehkan suamimu."

​Hajah Fatimah menghapus sisa air mata di pipiku dengan ibu jarinya. "Ibu tidak membesarkan seorang pengecut, Aruna. Dan Ibu yakin, Bumi juga tidak menikahi seorang wanita pengecut. Berhentilah menangis di lantai ini. Bangkitlah. Perjuangkan suamimu."

​Kata-kata itu menghantam kesadaranku seperti guyuran air es.

​Bangkitlah. Perjuangkan suamimu.

​Napas ku terhenti sejenak. Aku menatap mata wanita tua di hadapanku ini. Ada kekuatan purba di sana, kekuatan seorang ibu yang menyerahkan putranya pada Tuhan, namun menuntut menantunya untuk bertarung di dunia.

​Aku tidak boleh menjadi janda yang cengeng. Rendra mengharapkanku hancur, mengurung diri di rumah ini sambil meratapi nasib Bumi. Haris mengira tanpa jabatanku di kantor, aku hanyalah wanita lemah yang tidak bergigi.

​Mereka salah besar.

​Aku mengusap wajahku dengan kasar. Rasa mual di perutku menguap. Kakiku yang tadinya lemas seperti jeli kini menemukan kembali pijakannya. Aku berdiri tegak.

​"Ibu benar," bisikku, nadaku berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi getaran putus asa. Yang ada hanyalah baja dingin yang mulai membeku di setiap pembuluh darahku. "Mereka merampas suami saya. Saya akan memastikan mereka menyesali hari di mana mereka dilahirkan."

​Aku memutar tubuhku, berjalan dengan langkah panjang dan lebar menaiki tangga menuju lantai dua.

​Begitu masuk ke dalam kamar tidur utama, pandanganku langsung tertuju pada sisa-sisa "Tembok Bantal" di atas ranjang yang masih berantakan. Tempat di mana beberapa jam lalu, aku merasakan kehangatan pelukan Bumi.

​Aku berjalan mendekati meja kecil di samping ranjang. Laptop kerjaku—senjata utama Bumi semalam—masih tergeletak di sana.

​Bumi tidak sempat membawa apa pun saat polisi mendobrak masuk. Aku membuka layar laptop itu. Sayangnya, layar itu terkunci oleh password enkripsi tingkat tinggi yang baru saja dipasang Bumi. Tentu saja dia menguncinya. Dia tidak ingin polisi yang menyita barang-barang di rumah ini bisa mengakses data itu jika terjadi penggeledahan.

​Aku mendesah frustrasi. Ayo berpikir, Aruna. Bumi adalah pria yang sangat terstruktur. Dia tahu dia mungkin akan ditangkap. Dia tidak akan membiarkanku bertarung dengan tangan kosong.

​Mataku menyapu seluruh ruangan. Ke kamar mandi, ke meja rias, lalu kembali ke ranjang.

​Pandanganku terhenti pada bantal yang tadi malam kupakai. Ada sesuatu yang sedikit menonjol dari balik sarung bantal putih itu.

​Aku bergegas mendekat, menyingkap bantal tersebut.

​Jantungku berdegup kencang. Di sana, tergeletak sebuah flash disk kecil berwarna hitam legam. Di bawah flash disk itu, terdapat secarik kertas sticky note berwarna kuning dengan tulisan tangan Bumi yang rapi namun ditulis dengan tergesa-gesa. Tulisan itu pasti ia buat di detik-detik terakhir saat polisi menggedor gerbang depan.

​Pesan itu berbunyi:

​"Aruna, jika kamu membaca ini, berarti aku sedang dalam perjalanan ke sel tahanan.

Jangan buang waktumu dan sisa uangmu untuk menyewa pengacara hebat demi membela dan membebaskanku. Jika kita bermain bertahan di pengadilan mereka, kita akan kalah.

Gunakan flash disk ini. Buka folder merah. Passwordnya adalah tanggal di mana kamu pertama kali belajar salat Asar di kamar ini bersamaku. Di dalamnya ada senjata yang kamu butuhkan untuk menghancurkan Rendra. Jangan hiraukan aku. Serang kepalanya. - Suamimu."

​Napas ku tertahan. Aku membaca surat itu berulang-ulang. Bumi tidak memikirkan pembebasannya sendiri. Dari balik jeruji besi, pria jenius ini sedang mengatur bidak catur terakhirnya untuk melakukan skakmat pada Sang Raja.

​Aku menggenggam flash disk dan kertas itu erat-erat di depan dadaku.

​"Aku mengerti, Bumi," bisikku pada keheningan kamar. "Aku tidak akan bermain bertahan."

​Aku berjalan menuju walk-in closet (ruang ganti). Zirah ratu yang sesungguhnya kini harus kupakai.

​Aku mengabaikan deretan pakaian kasual atau setelan blus berwarna pastel. Tanganku terulur menarik sebuah setelan pant-suit (setelan jas celana wanita) berwarna merah darah—warna favoritku saat harus memecat jajaran direksi yang membangkang. Setelan ini dipotong tajam, memancarkan dominasi dan agresi yang absolut.

​Aku mandi dengan cepat menggunakan air dingin untuk membangunkan setiap saraf di tubuhku. Aku menata rambutku dengan sanggul ekor kuda yang sangat rapi dan ketat, tidak menyisakan satu helai pun rambut yang jatuh ke wajah. Riasanku tajam; eyeliner hitam pekat yang membingkai mata, dan lipstik merah matte yang tebal menyamarkan bibirku yang pucat.

​Tidak ada jejak air mata. Tidak ada tanda-tanda wanita sakit yang nyaris pingsan semalam. Yang berdiri di depan cermin full-body ini adalah Aruna Wiratmadja yang siap membakar dunia demi suaminya.

​Aku melangkah keluar kamar dan menuruni tangga. Suara langkah stiletto hak runcing berukuran sembilan sentimeter itu berketuk tajam menghantam lantai marmer, menggema ke seluruh penjuru rumah.

​Garda, yang sedang berkoordinasi dengan anak buahnya di ruang tengah, langsung menoleh. Postur mantan tentara itu secara otomatis berdiri lebih tegak saat melihatku menuruni tangga. Ia bisa merasakan perubahan drastis pada auraku.

​"Nyonya Aruna," sapa Garda dengan nada hormat yang dalam.

​"Keluarkan mobil cadangan yang tidak terdaftar atas namaku, Garda. Gunakan pelat nomor palsu tingkat tinggi," perintahku dingin tanpa menoleh padanya, sibuk mengancingkan jas merahku.

​"Baik, Nyonya. Ke mana tujuan kita? Apakah kita menuju Mabes Polri untuk menemui Tuan Bumi?"

​Langkahku terhenti di ambang pintu utama. Aku menoleh ke arah kepala keamananku itu. Senyum sinis perlahan terbit di bibirku.

​"Tidak. Suamiku melarangku mengunjunginya sebelum kepalanya aku bawakan untuknya," jawabku pelan namun sangat tajam. "Kita ke kantor Wiratmadja Tech. Kita akan menemui Haris."

​Garda terkesiap, matanya sedikit melebar. "Nyonya, mohon maaf, tapi itu bunuh diri! Berdasarkan surat edaran dewan direksi semalam, Anda dilarang memasuki gedung! Akses keamanan Anda telah dicabut. Jika Anda memaksa masuk, satuan pengamanan gedung akan mengusir Anda dengan kasar, dan itu akan menjadi skandal memalukan di depan seluruh karyawan!"

​"Garda," aku berjalan mendekatinya, menatap matanya tanpa berkedip. "Gedung itu dinamai dengan nama belakang suamiku yang pertama. Aku yang membangun fondasi anak perusahaannya selama tiga tahun terakhir hingga asetnya bernilai triliunan."

​Aku memajukan wajahku sedikit. "Biar kulihat siapa satpam bayaran Haris yang punya nyali untuk menyentuh tubuhku dan mengusirku dari istanaku sendiri."

​Garda menelan ludah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengerti bahwa Ratu yang sebenarnya telah kembali. "Dimengerti, Nyonya. Pasukan pengawal pribadi siap mendampingi Anda."

​"Hanya kau dan dua orang terbaikmu. Aku tidak butuh pasukan untuk menundukkan seekor anjing peliharaan," kataku final, lalu melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu.

​Pukul sembilan pagi.

​Mobil SUV anti-peluru berwarna hitam legam itu berhenti tepat di pelataran utama lobi Wiratmadja Tech. Kawasan SCBD sedang sibuk-sibuknya. Ribuan karyawan berlalu-lalang di sekitar gedung raksasa berlapis kaca tersebut.

​Garda turun lebih dulu, membuka pintu penumpang untukku.

​Begitu ujung stiletto merahku menyentuh aspal lobi, seluruh aktivitas di sekitar area pintu masuk utama seolah melambat. Karyawan yang sedang berjalan menghentikan langkah mereka. Obrolan terputus. Ratusan pasang mata langsung tertuju padaku.

​Desas-desus tentang pemecatanku sebagai CEO pasti sudah menyebar seperti api liar di grup WhatsApp kantor sejak pagi tadi. Mereka tahu aku 'sakit jiwa', 'medis tidak layak', dan suamiku ditangkap polisi karena menggelapkan uang. Mereka mengira tidak akan pernah melihat wajahku lagi di gedung ini.

​Namun di sinilah aku berdiri. Dibalut jas merah darah, kacamata hitam desainer yang menutupi mataku, dan dagu yang terangkat angkuh membelah udara.

​Aku melangkah masuk melewati pintu kaca berputar. Bunyi ketukan stiletto-ku memecah keheningan lobi yang mendadak mencekam. Karyawan-karyawan secara otomatis membelah jalan, memberikan ruang bagiku untuk lewat layaknya Laut Merah yang terbelah. Ada ketakutan, kekaguman, dan kebingungan di wajah mereka.

​"B-Bu Aruna..." Kepala Sekuriti Lobi, Pak Danang, berlari menghampiriku dengan wajah pucat pasi dan keringat sebesar biji jagung. Di belakangnya, lima orang satpam bertubuh tegap mengikuti dengan ragu-ragu. "Mohon maaf, Ibu. T-tapi kartu akses Ibu sudah dinonaktifkan dari sistem pusat. Surat perintah dari Pak Haris... Ibu tidak diperkenankan naik ke lantai eksekutif."

​Aku menghentikan langkahku, berdiri tepat di tengah lobi raksasa itu. Garda dan dua pengawalku langsung maju, membentuk formasi segitiga untuk melindungiku, namun aku mengangkat tangan, memerintahkan mereka mundur.

​Aku melepas kacamata hitamku dengan gerakan pelan, melipatnya, dan menatap Pak Danang tepat di matanya. Pria itu sudah bekerja di gedung ini selama sepuluh tahun. Aku yang menaikkan gajinya saat istrinya sakit parah tahun lalu.

​"Danang," suaraku tidak berteriak, namun menggema di lobi yang sunyi senyap itu. "Apakah kau mau menggunakan tangan kasarmu untuk menyeret wanita yang membayar biaya rumah sakit istrimu keluar dari gedung ini?"

​Danang menelan ludah dengan susah payah. Bibirnya bergetar. Ia melirik kelima satpam di belakangnya yang juga menundukkan kepala, tidak berani menatapku. Senjata mereka mungkin tongkat pemukul, tapi senjataku adalah wibawa absolut.

​"M-maafkan saya, Bu Aruna," bisik Danang, menundukkan kepalanya dalam-dalam dan melangkah mundur, membuka jalan menuju lift eksekutif.

​Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku kembali berjalan menuju lift khusus yang pintu bajanya mengkilap. Tak ada satu pun yang berani menghentikanku.

​Ting.

​Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Lantai Eksekutif.

​Aku melangkah keluar dari lift dan langsung disambut oleh tatapan horor dari meja resepsionis. Sarah sedang duduk di mejanya, memegang cangkir kopi. Begitu melihatku berjalan menyusuri lorong dengan aura membunuh, cangkir di tangan wanita itu terlepas dan jatuh menodai karpet.

​Aku tidak mempedulikan Sarah. Langkahku lurus menuju pintu ganda kayu jati di ujung lorong. Ruang kerjaku.

​Di depan pintu itu, papan namaku benar-benar sudah tidak ada. Diganti dengan pelat kuningan bertuliskan: Haris Mulyadi - Plt. CEO.

​Rasa jijik menyodok perutku, namun aku tidak memelankan langkah. Tanpa mengetuk, aku menendang pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar dengan bunyi bantingan yang keras menghantam dinding.

​Brak!

​Di dalam ruangan, Haris yang sedang duduk di kursi kebesaranku—bersama dua orang staf direksi kroninya—terlonjak kaget hingga nyaris terjatuh. Wajah pria buncit itu memucat seketika, matanya membelalak lebar melihatku berdiri di ambang pintu seperti malaikat pencabut nyawa.

​"A-Aruna?!" seru Haris panik, berdiri dengan gemetar. "B-bagaimana kau bisa masuk?! Keamanan! Panggil keamanan sekarang!"

​Aku melangkah masuk dengan tenang, membiarkan Garda menutup pintu ganda itu di belakangku dan menguncinya dari dalam. Kini, hanya ada aku, Garda, Haris, dan dua kroninya yang ketakutan di dalam ruangan kedap suara ini.

​Aku berjalan mendekati meja kerjaku yang luas, meletakkan flash disk hitam milik Bumi di atas meja, tepat di depan wajah Haris.

​Aku menopangkan kedua tanganku di atas meja, mencondongkan wajahku mendekati Haris yang kini berkeringat dingin, dan tersenyum—senyum paling mematikan yang pernah kubuat seumur hidupku.

​"Halo, Haris," sapaku lembut, nyaris seperti desisan ular berbisa. "Aku dengar kau sedang mencari sisa delapan puluh miliar milikku yang menguap tadi malam. Mau kuberitahu di mana uang itu berada sekarang, sebelum aku menghancurkan hidupmu berkeping-keping?"

Haris menatap flash disk hitam itu seolah benda tersebut adalah bom waktu yang siap meledak. Ia berusaha menjaga harga dirinya di depan dua kroninya. "Kau sudah tamat, Aruna! Suamimu di penjara, dan RUPSLB akan memecatmu secara tidak hormat jam sepuluh nanti!" bentak Haris dengan suara bergetar. Aku tertawa pelan, tawa dingin yang membuat udara di ruangan itu terasa membeku. "RUPSLB? Oh, Haris yang malang. Rapat itu tidak akan pernah terjadi." Aku menekan tombol power di laptop yang tergeletak di meja, memasukkan flash disk Bumi, dan mengetikkan password tanggal salat Asar itu. Sebuah file video terbuka di layar besar ruangan, menampilkan wajah seseorang yang seketika membuat kaki Haris lemas hingga pria itu jatuh terduduk ke lantai..

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐣𝐠𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐝𝐥𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐥𝐦 𝐦𝐥𝐦 𝐩𝐫𝐭𝐦 😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐢𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐠𝐚𝐤 𝐧𝐠𝐞𝐥𝐞𝐠 𝐚𝐪
𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐞𝐛𝐥𝐦 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐤𝐚𝐩 𝐦𝐮𝐥𝐮𝐭 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐮𝐚𝐫𝐚 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐲𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐤 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐤𝐦𝐫 𝐦𝐫𝐤

𝐭𝐩 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐨𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐥𝐚𝐡𝐢 𝐝𝐢 𝐝𝐩𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐚𝐫, 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢 𝐝𝐩𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐛𝐫𝐭𝐢 𝐩𝐬𝐬 𝐦𝐫𝐤 𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐤𝐮𝐧𝐜𝐢? 😊😊😊

𝐜𝐛 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐛𝐥𝐦 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐠 𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐣𝐚

𝐟𝐨𝐤𝐮𝐬 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭😘😘😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐡 𝐢 𝐬𝐞𝐞 𝐭𝐡𝐨𝐫


𝐡𝐚𝐡𝐚𝐡𝐚𝐡𝐚 𝐨𝐤 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊😊𝐮𝐩 𝐥𝐠𝐢 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!