Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Pintu kamar mandi tertutup rapat. Suara kliknya masih terasa menggema di kepala Fania, seolah menegaskan bahwa ia kini benar-benar sendirian setidaknya secara fisik. Ia masih bersandar di balik pintu, punggungnya menempel pada permukaan dingin itu.
Matanya terpejam, napasnya belum sepenuhnya teratur. Ada sesuatu yang memenuhi dadanya. Padat dan menekan, namun tak memiliki bentuk yang jelas.
Atau mungkin ia sengaja tidak memberinya bentuk. Beberapa detik berlalu, hanya keheningan. Namun bukan hening yang menenangkan.
Lebih seperti ruang kosong yang justru membuat pikirannya semakin berisik. Perlahan, ia mendorong tubuhnya menjauh dari pintu. Langkahnya pelan dan hampir ragu.
Seolah setiap gerakan membutuhkan tenaga lebih. Ia berjalan ke arah ranjang. Duduk dan terdiam. Tangannya terlipat di pangkuan. Jari-jarinya saling menggenggam tanpa sadar.
Pikirannya kembali ke sana, ke halaman belakang, ke percakapan itu, ke wanita itu, dan pertanyaan Ronald.
“Kau cemburu?” Fania mendengus pelan. Hampir seperti menolak.
“Tak mungkin,” gumamnya, cepat dan refleks.
Namun begitu kata-kata itu keluar, ia sendiri merasakannya. Terasa kosong dan tidak meyakinkan. Seolah hanya sekadar jawaban yang ingin ia percayai.
Klik
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Fania menoleh, diam beberapa detik. Seolah berharap suara itu tidak nyata. Namun tidak, ia melihat Ronald.
Pria itu berdiri di sana. Seperti biasa terlihat tenang dan terkontrol. Namun kali ini tatapannya berbeda, lebih dalam. Lebih lama, seolah tidak hanya melihat. Tapi mencoba memahami.
“Ada apa?” tanya Fania. Nada suaranya kembali datar, telah terlatih. Seolah semua yang terjadi tadi tidak meninggalkan apa-apa.
Ronald tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Beberapa detik seolah menimbang. Apakah ia akan mendorong. Atau menahan diri.
“Aku ingin istirahat" ujarnya akhirnya. Alasan sederhana dan masuk akal. Namun jelas bukan itu saja. Fania menggeser tubuhnya, memberi jalan. Tanpa komentar.
Ronald mendekat, langkahnya pelan. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak ragu, Fania kembali duduk di ranjang. Membelakanginya dengan sengaja. Bukan karena tidak peduli justru sebaliknya. Karena terlalu sadar.
Ronald naik ke atas ranjang. Mengambil beberapa pakaian. Gerakannya rapi dan efisien. Namun setelah itu ia Ia tidak langsung berbaring. Ia terduduk dalam keterdiaman.
Seolah memberi waktu atau mencari waktu. Lalu menoleh. Menatap Fania yang duduk diam.
“Fan.” Panggilan itu terdengar lebih lembut dari biasanya. Lebih hati-hati. Fania tidak menoleh.
“Iya?” jawabannya tetap dingin.
Seperti tembok. Ronald semakin mendekat. Beberapa centi saja. Tidak terlalu dekat. Namun cukup untuk terasa kehadirannya.
“Kau berubah sejak tadi.” Kalimat itu diucapkan tenang. Tanpa nada menuduh, tanpa emosi berlebihan. Namun jelas langsung.
Fania tersenyum kecil. Senyum yang tidak terlihat oleh Ronald.
“Aku hanya lelah, aku sudah mengatakannya.”
Jawaban yang sama, untuk ketiga kalinya.
Seolah itu satu-satunya hal yang aman untuk dipegang. Ronald menghela napas pelan dan pendek.
“Aku tak menanyakan hal itu." Kalimat itu sederhana.
Namun membongkar semuanya. Fania terdiam beberapa detik. Hening di antara mereka terasa lebih padat. Lalu ia menoleh, berbalik dan menghadap Ronald.
“Aku juga tak memiliki jawaban lain.” Nada suaranya tetap tenang.
Namun ada ketegangan yang jelas terasa di bawahnya. Seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Ronald menatapnya lama. Mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. Namun Fania menahan, seperti biasa menjaga dan tidak memberi celah.
“Fan,” ulangnya.
Kali ini lebih pelan, lebih dalam. Seolah ia tidak lagi sekadar bertanya. Namun mencoba menjangkau.
“Kalau ada yang mengganggu mu ...”
“Tak ada.” Fania memotong dengan cepat. Terlalu cepat. Seolah takut kalimat itu selesai.
Seolah jika Ronald menyelesaikannya, sesuatu akan terbuka.
Hening beberapa detik.
Ronald menatapnya, lebih tajam sekarang. Bukan marah namun lebih fokus.
“Kau yakin?.” Pertanyaan itu sederhana. Namun berat.
Fania mengangguk tanpa ragu. “Iya.”
Namun matanya tidak sepenuhnya sejalan.
Ada jeda, ada ketidaksinkronan. Dan Ronald melihatnya. Ia tahu, ia sangat tahu. Namun ia tidak memaksa. Tidak seperti mungkin yang akan ia lakukan dulu. Ia hanya mengangguk kecil.
“Baiklah.” Sederhana dan pendek.
Namun justru itu yang membuat sesuatu di dalam diri Fania terasa jatuh. Bukan karena lega justru sebaliknya. Karena ia dibiarkan.
Ronald berbalik, merebahkan tubuhnya. Tidak ada tambahan kata. Tidak ada tekanan dan sebelum memejamkan mata ia berujar tanpa menoleh.
“Kalau kau berubah pikiran, aku masih di sini.” Kalimat itu pelan namun jelas. Tidak menuntut dan idak memaksa. Hanya tersedia.
Lalu ia membiarkan matanya tertutup. Hening kembali memenuhi kamar. Lebih berat dari sebelumnya.
Fania terdiam di tempatnya. Diam dan tidak bergerak. Kalimat itu masih terngiang.
“Aku masih di sini.”
Ia menelan ludah pelan, tangannya mengepal sedikit. Merasa kesal, namun bukan pada Ronald. Melainkan pada dirinya sendiri.
“Aku kenapa” gumamnya lagi. Lebih pelan dan lebih lelah. Ia mulai berpikir kemana-mana, tanpa arah. Seolah berharap jawaban muncul begitu saja.
Namun tidak. Ia melangkahkan kakinya di depan cermin. Menatap bayangannya sendiri. Wajah yang terlihat tenang. Namun matanya tidak sepenuhnya.
“Hanya karena itu?” bisiknya. Seolah mempertanyakan logikanya sendiri.
“Hanya karena dia berbicara dengan wanita itu?” Ia menggeleng pelan. “Tak masuk akal.”
Itu bukan dirinya. Bukan tipe dirinya.
Namun dadanya masih terasa tidak nyaman. Dan itu tidak bisa dibantah, tidak bisa ditolak.
Fania memejamkan mata, beberapa detik. Menarik napas, mengembuskan nya pelan.
Lalu membuka mata kembali. Ekspresinya kembali datar, terkontrol dan rapi. Seperti tidak terjadi apa-apa.
“Sudah, cukup.” Ia memutuskan. Menutup semuanya dan menyimpannya. Seperti yang selalu ia lakukan.
Malam semakin larut, Fania kembali berbaring di ranjang. Memunggungi sisi lain yang diisi suaminya. Lampu sudah dimatikan. Ruangan gelap, namun matanya masih terbuka. Menatap kosong ke depan.
Waktu berjalan, pelan dan berat. Hingga akhirnya suara pelan dari sebelahnya membuatnya refleks memejamkan mata, atau tepatnya pura-pura.
Namun Ronald tidak langsung mendekat.
Ia terdiam dalam posisinya berbaringnya beberapa saat, sembari menatap Fania. Ada sesuatu dalam tatapannya. Ada sesuatu yang berbeda.
Beberapa menit berlalu. Fania masih belum tertidur. Ia tahu Ronald sedang menatapnya.
Ia bisa merasakannya, kehadirannya dan kehangatannya.
Namun ia tetap diam, tidak bergerak, tidak pula bersuara. Seolah jika ia bergerak semuanya akan berubah. Hingga perlahan ia merasakan sesuatu.
Gerakan kecil hampir tak terasa. Namun nyata. Ronald mendekat pelan, sangat pelan. Seolah takut mengganggu. Atau mungkin takut ditolak.
Tangannya terulur, menyentuh rambut Fania dengan lembut dan hati-hati. Seperti sesuatu yang berharga.
Fania menahan napas, tubuhnya tetap diam.
Namun di dalam, semuanya bergerak. Lalu kecupan hangat mendarat di keningnya dengan singkat. Namun penuh arti.
Tidak dramatis dan tidak pula berlebihan. Namun cukup.
“Good night, Sayang.” Bisikan itu sangat pelan.
Hampir seperti rahasia. Fania memejamkan matanya lebih erat. Menahan sesuatu yang hampir keluar. Perasaan itu yang selama ini ia tolak.
Ronald kembali menjauh kembali ke posisinya. Seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun malam itu jarak di antara mereka tidak lagi terasa sepenuhnya kosong.
Ada sesuatu yang mengisi, secara halus namun nyata. Dan untuk pertama kalinya Fania tidak yakin apakah ia benar-benar ingin menjaganya tetap sejauh ini. Matanya Ronald masih begitu perhatian padanya.
NEXT .......