NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan tak terduga

Arka membawa Cantika ke sebuah gubuk kosong tak jauh dari tempat Cantika tidak sadarkan diri , gubuk untuk istirahat pemilik sawah yang kini sepi. Gubuk itu teduh di bawah pohon kelapa yang rindang, meski angin sore masih membawa hawa panas. Ia membaringkan gadis itu dengan hati-hati di atas bale-bale kayu yang reyot, beralaskan tikar pandan usang yang sudah robek di beberapa bagian.

Dari mobilnya, Arka mengambil botol air mineral dingin. Ia membasahi sapu tangan sutra hitamnya yang mahal, lalu menepuk-nepuk pelan dahi Cantika. Keringat mengalir deras di wajah Arka sendiri. Kemeja putihnya yang tadinya rapi kini kusut dan lengket di tubuhnya.

“Ya ampun, ini kenapa sih? Aku lagi buru-buru sekali. Janji dengan Pak Dirman jam setengah enam tepat. Kalau telat, deal proyek bandara itu bisa melayang! Sial, kenapa mobilku malah berhenti di tengah jalan gara-gara cewek pingsan ini,” gumam Arka sambil menggenggam botol air yang sudah setengah kosong. Matanya tetap tertuju pada wajah Cantika. Pipinya cekung, bibirnya kering dan pecah-pecah, serta keringat bercampur debu menempel di dahinya.

“Kasihan juga … kelihatannya dia kurus sekali, seperti tidak makan berhari-hari. Keripiknya hancur semua, bakulnya remuk. Hidup susah ya di desa seperti ini.”

Hati hitamnya kembali berteriak. (“Tinggalkan saja! Panggil orang desa, suruh mereka yang urus. Kamu kan tidak kenal dia. Janji bisnis itu jutaan, bukan main-main!”)

Namun, hati malaikatnya menolak keras. (“Jangan, Arka. Dia masih muda. Kalau dibiarkan begini, bisa bahaya. Bahkan ia bisa mati kelelahan di sini. Kamu lihat sendiri tadi, tidak ada orang yang menolongnya.”)

Arka mendesah panjang, frustrasi bercampur bingung. Ia melirik lagi jam tangannya. Waktu terus berlalu. Dengan cepat, ia merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan ponsel mewah berlapis emas. Jarinya menari cepat di layar, mengetik pesan untuk asistennya.

"Rina, tolong hubungi Pak Bastian. Bilang aku terlambat sekitar 30 menit. Ada urusan mendadak di jalan. Jangan kasih detail, ya. Dan siapkan semua dokumen proyek di meja rapat," tulisnya singkat.

Setelah mengirim pesan, Arka meletakkan ponsel di samping tikar pandan. Ia kembali membasahi sapu tangan sutranya dengan air mineral yang masih dingin. Kain mahal seharga ratusan ribu rupiah itu sekarang dipakai untuk mengompres dahi seorang gadis desa yang bahkan namanya pun ia tidak tahu.

“Nona … bangun dong. Jangan bikin aku tambah pusing,” katanya pelan. Suaranya berat, tapi ada nada kasihan yang tak bisa disembunyikan. Ia menepuk-nepuk lembut pipi Cantika, lalu mengusap keringat di lehernya dengan hati-hati. Tubuh gadis itu hangat, denyut nadinya lemah, dan napasnya pendek-pendek. “Kamu pingsan tepat di depan mobilku, tahu tidak? Aku lagi buru-buru, tapi malah harus angkat kamu ke sini. Gubuk ini bekas apa sih? bau apa sih? Bau oli bekas campur keringat.”

Arka bangkit sebentar dan berjalan mondar-mandir di dalam gubuk kecil itu. Lantai tanahnya berdebu, dinding bambunya bolong-bolong di sana-sini, membiarkan angin sore masuk membawa aroma tanah basah setelah hujan kemarin sore.

Suasana sepi. Hanya suara jangkrik yang mulai bersahutan dan daun kelapa yang bergesekan pelan terdengar.

Ia mengacak-acak rambutnya yang tadinya rapi, merasa bingung kenapa nasibnya jadi seperti ini hari ini. “Aku Arka Pramudya, CEO perusahaan konstruksi terbesar di kota. Bisnis bandara, jalan tol, mall, semuanya lancar. Tapi hari ini? Harus repot urus cewek yang tidak dikenal. Kenapa aku tidak bisa cuek saja seperti biasanya? Hati hitamku bilang tinggalkan, tapi … lihat mukanya. Kelihatan capek sekali. Keripiknya pasti hasil keringat sendiri. Kasihan.”

Arka kembali berjongkok di samping bale-bale kayu. Kali ini, ia mengangkat sedikit kepala Cantika dan menyodorkan botol air ke bibirnya yang kering. “Minum sedikit, Nona. Ayo … buka mulutnya. Kalau tidak bangun juga, aku panggil ambulans. Tapi rumah sakit di daerah ini pasti jauh, dan aku tidak mau telat lebih dari satu jam.”

Air menetes pelan ke bibir Cantika. Gadis itu masih tak bergerak, hanya dada naik-turun pelan. Arka mengusap wajahnya sendiri lagi, gerutuan kesalnya semakin keras. “Ini gila. Aku bisa saja tinggalkan kamu di jalan tadi. Biar warga yang urus. Tapi aku malah bawa ke sini, angkat kamu kayak putri tidur. Padahal aku bukan pangeran. Aku pengusaha. Janji dengan Pak Bastian dan pak Dirman untuk tender proyek 50 miliar rupiah! Kalau gagal gara-gara ini, aku bakal marah banget sama diri sendiri.”

Di balik semua gerutuan dan keluhan itu, rasa kasihan Arka semakin kuat. Ia ingat betapa ringannya tubuh Cantika tadi saat diangkat. Seperti boneka kain yang sudah aus. Tulang rusuknya terasa menonjol, dan kulitnya kasar karena terpapar matahari setiap hari.

“Kamu pasti jualan keripik setiap hari di bawah terik matahari seperti ini. Bakulnya besar, tapi isinya cuma remah-remah sekarang. Aku bingung, kenapa nasib orang kok beda-beda ya? Aku lahir dengan sendok perak di mulut, mobil Ferrari, rumah di perumahan elit. Sedangkan kamu? Di gubuk seperti ini.”

Arka melirik keluar gubuk. Mobil mewahnya masih terparkir di pinggir jalan, mengkilap kontras dengan debu desa yang kuning kecokelatan. Pohon kelapa bergoyang pelan ditiup angin sore, daunnya yang lebar memberikan sedikit keteduhan. Di kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan anak-anak desa yang bermain di sawah. Suasana desa yang tenang ini begitu berbeda dengan hiruk-pikuk kota tempat Arka biasa hidup.

Ia duduk di tepi bale-bale, memandang Cantika dengan lebih saksama. Wajah gadis itu polos, meski pucat karena kelelahan. Rambutnya yang hitam panjang agak acak-acakan, terikat asal dengan karet gelang. Baju kaosnya sudah pudar warnanya, dan celana pendeknya penuh tambalan. Tangan Cantika kasar, penuh luka kecil akibat menggoreng keripik setiap hari.

“Berapa umurmu, kira -kira ya? Dua puluh tahun? apa dua puluh dua? Masih muda, tapi sudah harus berjuang seperti ini,” gumam Arka pelan. Ia mengambil sapu tangan lagi dan membersihkan debu di pipi Cantika. “Kalau aku tidak lewat tadi, mungkin kamu tergeletak di aspal panas sampai malam. Warga daerah ini … ada yang peduli, tapi kebanyakan hanya menonton. Mungkin mereka juga sibuk dengan hidup masing-masing.”

Waktu terus berlalu. Sudah hampir jam lima sore. Arka kembali melirik ponselnya. Tidak ada balasan dari Rina. Mungkin asistennya sedang sibuk mengatur semuanya. Arka bangkit lagi, berjalan ke pintu gubuk, dan menghirup udara sore yang mulai sejuk. Aroma tanah basah bercampur bau dedaunan segar membuatnya sedikit tenang.

Tiba-tiba, jari Cantika bergerak pelan. Kelopak matanya berkedip-kedip. Arka langsung kembali berjongkok di sampingnya.

“Nona? Kamu sudah sadar?” tanyanya cepat, suaranya penuh harap.

Cantika mengerang pelan. Kepalanya terasa pusing, pandangannya masih kabur. Ia mencoba bangun, tapi tubuhnya terlalu lemah. “Di … di mana saya,kenapa saya disini ?” bisiknya dengan suara serak.

“Kamu pingsan di jalan tadi. Aku angkat kamu ke gubuk ini. Minum dulu,” kata Arka sambil menyodorkan botol air.

Cantika menatap Arka dengan mata lebar. Pria di depannya tampan, berpakaian mahal, dan bau parfumnya samar-samar tercium. Kontras sekali dengan lingkungan gubuk reyot ini. “Terima kasih … Tapi, siapa Tuan?” tanyanya pelan sambil menerima botol air dan minum sedikit.

“Aku Arka. Arka Pramudya. Kamu namanya siapa?” tanya Arka sambil tersenyum tipis untuk pertama kalinya.

“Cantika … Cantika putri ,” jawabnya lemah. “Keripik saya … hancur semua ya?”

Arka mengangguk pelan. “Iya, sayang sekali. Tapi yang penting kamu selamat dulu. Kamu sudah berapa lama jualan di jalan? Kelihatan sekali kamu kelelahan.”

Cantika menunduk. “Setiap hari sejak pagi. Ibu saya sakit, ayah sudah tidak ada. Harus bayar obat dan biaya hidup. Maaf merepotkan Tuan”

Arka menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa. Aku yang kebetulan lewat. Sekarang istirahat dulu. Kalau sudah agak kuat, aku antar kamu pulang. Rumahmu di mana?”

Cantika menyebutkan alamat gubuknya yang tak jauh dari sana. Arka mendengarkan sambil terus memantau kondisinya. Dalam hati, ia merasa aneh. Biasanya ia cuek terhadap orang asing, tapi hari ini ada sesuatu pada gadis ini yang membuatnya tidak bisa pergi begitu saja.

Sementara itu, matahari sore mulai condong ke barat. Cahayanya yang keemasan menyusup lewat celah dinding bambu, menerangi wajah Cantika yang mulai sedikit berwarna. Arka merasa waktu janji bisnisnya semakin mendesak, tapi ia memutuskan untuk menunggu sebentar lagi.

“Minum lagi. Makan sesuatu juga kalau ada. Aku bisa belikan makanan di warung dekat sini,” tawarnya tulus.

Cantika menggeleng pelan. “Tidak usah, Pak. Saya sudah biasa begini.”

“Tapi hari ini tidak boleh biasa,” balas Arka tegas tapi lembut. “Kamu hampir pingsan di jalan. Itu bahaya.”

Percakapan kecil itu berlanjut pelan. Arka menceritakan sedikit tentang dirinya, tentang pekerjaannya yang sibuk, tanpa bermaksud pamer. Cantika mendengarkan dengan mata berbinar, meski masih lemah. Bagi gadis desa seperti dia, bertemu pria seperti Arka terasa seperti mimpi.

Di luar gubuk, angin sore semakin sejuk. Daun kelapa berdesir, jangkrik semakin ramai. Arka melirik jam tangannya sekali lagi. Ia tahu ia akan telat lebih dari 30 menit, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh perhitungan, ia tidak terlalu peduli.

Hati hitamnya masih protes pelan, tapi hati malaikatnya menang hari ini. Dan entah kenapa, Arka merasa itu keputusan yang tepat.

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!