Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Benar sekali, Dokter! Tadi dua petugas keamanan berpikir ada hantu karena beberapa jam sebelumnya ada mayat yang baru saja masuk ke sana. Ketika kami masuk, kami melihat dia yang sedang mendorong brankar mayat," Supriyanto menunjuk ke arah Abram dengan tatapan penuh kemarahan
Abram segera mengoceh membela diri. "Eh, bukan seperti itu! Saya memang tidak meninggal, Dokter. Saya hanya merasa pusing dan tidak sadarkan diri saja. Ketika saya sadar, saya sudah berada di kamar mayat itu dan tidak tahu kenapa saya ada di sana!"
"Saya rasa dia pasti menggunakan ilmu hitam, Dokter! Dia bisa bangkit dari kematian dan membuat orang terbakar hanya dengan menyentuhnya, itu bukan hal yang normal!" tuduh Supriyanto lagi, tidak mau mendengar penjelasan dari Abram.
"Pak, saya tidak menggunakan ilmu hitam apapun! Saat kalian menyentuh saya dan mengatakan saya hantu, saya merasa terancam dan tiba-tiba ada energi panas yang keluar dari tubuh saya secara tidak sengaja. Itu hanya refleksi untuk melindungi diri saya sendiri!" seru Abram dengan sedikit naik suaranya. "
Dokter Rahmat melihat ke arah Abram dengan mata yang menyempit. Seolah-olah ia sudah menemukan jawaban
"Jadi, kemampuanmu untuk mengetahui kondisi seseorang bukanlah kebetulan ya?" tanya Dokter Rahmat.
Abram terdiam sejenak, matanya menutup sebentar sambil menghela nafas panjang.
"Alamak, aku sudah ketahuan. Apa yang harus kulakukan sekarang?" pikirnya dengan penuh kebingungan.
"Maka dari itu, kamu memang punya kemampuan khusus bukan? Bukan hanya sekadar ilmu atau kebetulan?" tanya Dokter Rahmat lagi untuk memastikan, dengan tatapan yang semakin mendalam.
Abram menatap mata dokter itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya memutuskan untuk mengatakan sebagian kebenaran.
"Sebenarnya... Saya juga tidak tahu darimana saya mendapatkan kemampuan ini. Saya baru menyadari. Tapi saya jamin, ini bukan ilmu hitam seperti yang dituduhkan oleh Petugas keamanan itu. Kemampuan ini sepertinya diberikan untuk membantu orang lain, hanya saja saya masih sangat pemula dan belum bisa mengendalikannya dengan baik."
Petugas keamanan itu masih belum puas dan ingin membantah lagi, namun Dokter Rahmat segera mengangkat tangannya untuk menghentikannya.
"Baiklah pak. Luka di tanganmu tidak terlalu parah dan sudah mendapatkan penanganan yang tepat. Silakan kembali bekerja dan fokus pada tugasmu. Saya ingin berbicara dengan anak muda ini secara pribadi," ujar Dokter Rahmat dengan senyum yang tampak ramah namun menyimpan makna mendalam.
Security itu menatap Abram sejenak dengan tatapan tidak suka, lalu ia pun pergi dari hadapan dokter Rahmat.
Setelah Security pergi dengan wajah masih memerah karena kemarahan, Dokter Rahmat menarik Abram ke sebuah ruangan kecil yang lebih tenang.
"Jadi... kamu benar-benar bisa mengetahui kondisi pasien hanya dengan melihatnya?" tanya dokter Rahmat kepada Abram.
Abram serasa seperti di interogasi.
Abram mengangguk pelan, "Ya... kira-kira begitu, Dokter. Tapi saya sungguh tidak mengerti bagaimana bisa ada hal seperti ini. Tiba-tiba saja, pertama kali melihat orang sakit, gambar tentang kondisi tubuh mereka langsung muncul di kepala saya." kata Abram sambil mengangkat bahu.
Dokter Rahmat mengerutkan kening, jempolnya menyentuh dagunya sambil berpikir mendalam.
Dokter Rahman adalah spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Umum, dan selama puluhan tahun praktiknya, belum pernah menjumpai kasus seperti Abram.
"Jika benar kemampuanmu itu nyata, kamu bisa menjadi aset berharga bagi dunia kedokteran. Banyak pasien yang kondisinya sulit dikenali meskipun dengan alat canggih, kalau kamu bisa melihatnya secara langsung," kata Dokter Rahmat, meskipun ia tidak ingin mempercayainya, tapi apa yang di liga Abram sangat akurat.
"Aku tidak yakin, Dokter. Saya bahkan tidak tahu dari mana kemampuan ini datang. Apakah ada sesuatu yang salah dengan diriku? Atau apakah ini hanya ilusi yang muncul karena terlalu banyak pikiran?" kata Abram menggelengkan kepala dengan cepat
Dokter Rahmat terdiam sejenak, lalu matanya menyala dengan ide baru. "Kalau begitu, mari kita lakukan tes kecil. Saya akan membawamu bertemu dengan beberapa pasien yang kondisinya masih belum jelas diagnosisnya. Kita bisa menguji sejauh mana kemampuanmu itu akurat," kata dokter Rahmat dengan ide cemerlangnya itu.
"Tapi kan... belum tentu aman, Dokter. Bagaimana kalau aku salah menilai dan membuatmu salah keputusan?" Abram mencoba menolak.
Namun sebelum dia bisa melanjutkan kalimatnya, tangan kirinya sudah dipegang erat oleh dokter Rahmat.
"Tidak ada yang salah dengan mencoba. Selain itu, aku akan selalu memverifikasi dengan hasil pemeriksaan medis. Sekarang ayo kita pergi, ada seorang pasien di ruang isolasi yang kondisinya sangat memprihatinkan." Tanpa memberi kesempatan untuk membantah lagi, dokter Rahmat menarik tangannya keluar dari kamar rawat inap.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya