BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah membeli rumah baru, Kemuning sibuk pindahan dan belanja beberapa barang yang diperlukan.
“Loh, Mbak Kemuning?!” Artasatya terkejut ketika melihat Kemuning sedang memberi arahan kepada pengirim barang yang menurunkan sofa dari truk kontainer.
“Eh, Arya. Sedang apa di sini?” tanya Kemuning yang tidak kalah terkejutnya.
“Aku tinggal di rumah ini,” jawab Aryasatya sambil menunjuk rumah besar dan halamannya luas, yang ada di samping rumah baru Kemuning.
Mata Kemuning terbelalak karena baru tahu. Sebelumnya Arkatama tidak pernah memberi tahu hal itu.
“Sekarang Mbak tinggal di rumah ini,” ucap Kemuning menunjuk rumahnya.
“Wah, kita jadi tetanggaan, dong!” Aryasatya tersenyum lebar.
“Iya.” Kemuning mengangguk.
“Pantas saja Kak Arka sekarang kelihatan ceria dan suka ngomel-ngomel jika aku berantakin rumah,” batin Aryasatya tersenyum tengil.
Kemuning mengadakan acara syukuran di rumah baru, dengan mengundang para tetangga. Ada juga beberapa kerabat jauhnya yang datang.
“Waduh, ternyata Mbak Kemuning ... janda, toh!” ucap seorang wanita paruh baya.
“Mbak Kemuning cantik begini masih bisa diselingkuhi. Apalagi aku yang wajah pas-pasan begini, enggak glowing,” kata wanita yang lebih muda, dengan lirih.
“Perselingkuhan itu bukan karena kita tidak cantik atau tidak menarik. Tapi, karena pasangan kita saja yang tidak setia dan adanya pelakor tidak punya nurani,“ balas Kemuning.
Beberapa wanita membenarkan. Karena banyak pria yang setia pada istrinya yang memiliki wajah biasa saja, tidak glowing atau bermake-up.
Sejak bertetanggaan dengan Arkatama, Kemuning jadi sering bertemu dengannya. Sehari saja bisa bertemu beberapa kali. Entah itu pagi-pagi ketika menyapu halaman atau saat pulang kerja.
Sore itu, Kemuning mendatangi rumah Arkatama dengan membawa satu mangkok sayur garang asem. Kebetulan dia memasak cukup banyak.
“Mbak Kemuning ... ada apa?” tanya Arkatama tersenyum lebar ketika membuka pintu.
“Ini aku masak banyak, Mas,” jawab Kemuning sambil menyodorkan mangkuknya.
“Asyik, kita makan enak lagi malam ini!” seru Aryasatya yang muncul di belakang Arkatama. “Mbak sering-sering kirim makanan, ya! Aku bosan sama masakan Kak Arya yang sekarang suka 'asin' rasanya.”
“Apaan, sih, kamu!" Arkatama melotot pada adiknya.
“Ya, itu ... karena Kakak ingin kawin!” balas Aryasatya yang langsung kabur sambil membawa mangkuk berisi sayur olahan dari daging ayam itu.
Kemuning tertawa kecil melihat kelakukan Aryasatya. Pemuda itu memang ceria orangnya.
Sejak saat itu, Kemuning jadi sering berbagi menu makan malam dengan tetangga samping rumahnya. Dia tidak merasa terbebani. Justru merasa senang karena mereka menyukai masakannya.
Suatu sore, Kemuning duduk di kursi teras depan rumah. Tangannya memegang secangkir teh hangat yang sejak tadi tidak diminumnya. Pandangannya kosong, menatap langit sore yang dihiasi oleh lembayung.
“Mbak, ini ada martabak,” kata Arkatama datang membawa sebuah kresek.
“Wah, terima kasih, Mas," balas Kemuning dengan mata berbinar karena itu martabak spesial kesukaannya.
Keduanya pun duduk sambil ngobrol ngalor-kidul. Sebelumnya Kemuning sudah menduga kalau Arkatama merupakan murid berprestasi. Namun, yang tidak dia sangka, pria itu masuk sekolah diusia lima tahun. Selain itu, saat SD sampai SMA ikut kelas akselerasi, jadi cepat lulus sekolah.
“Ayahku seorang dosen, sangat suka menekan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Jadi, mau enggak mau hari-hariku diisi dengan banyak belajar dan membaca,” kata Arkatama lirih, lalu menghela napas.
Kemuning merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria itu. Ketika bercerita, pancaran matanya meredup dan nada bicaranya tidak seceria sebelumnya.
“Kalau aku punya cita-cita jadi dokter, karena ingin bisa menyembuhkan kakek yang sakit jantung. Tapi, gagal saat ujian masuk universitas. Jadinya, aku kuliah ambil jurusan keperawatan. Tapi, sekarang malah jadi tukang jualan daging ayam,” kata Kemuning diiringi tawa kecil.
“Itu karena basic keluarga kamu kan pedagang. Eh, juragan,” balas Arkatama, tertawa kecil.
“Ayah Mas ... seorang dosen. Lalu, ibu Mas ... seorang pebisnis kuliner. Lalu, kenapa Mas jadi pengacara?” canda Kemuning, sebenarnya ada rasa penasaran juga.
Arkatama menatap lekat Kemuning. Hal itu malah membuat jantung sang wanita berdebar-debar.
“Karena aku ingin membantu orang-orang tak bersalah mendapatkan keadilan,” balas Arkatama dengan suara lembut, tetapi tegas.
“Pantas saja Mas Arka begitu gigih ketika menjadi pengacara aku kemarin,” batin Kemuning.
“Selain itu ... aku ingin orang-orang yang dianggap lemah dan tidak bisa apa-apa, berubah menjadi lebih kuat dan percaya diri demi hidupnya di kemudian hari. Aku suka orang yang bisa bangkit setelah hal buruk menimpanya di masa lalu. Ya, seperti Mbak Kemuning,” lanjut Arkatama.
Kemuning diam berpikir. Dia baru sadar, sekarang bisa merasakan perubahan dirinya. Perubahan dalam dirinya tidak terjadi dalam semalam. Ia tidak tiba-tiba menjadi kuat, namun selama proses panjang yang ia lalui. Di tengah semua kekacauan itu, ada satu sosok yang tanpa disadari ikut mengisi ruang kosong dalam hatinya, yaitu Arkatama.
Pria itu tidak pernah datang dengan janji manis. Tidak pernah menawarkan harapan kosong. Ia selalu ada setiap kali Kemuning hampir goyah dan lemah. Arkatama selalu berdiri di sisinya, memberikan penjelasan dengan sabar, mendengarkan tanpa menghakimi, dan membantu tanpa pernah membuatnya merasa kecil.
“Mas Arka…” suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
Arkatama yang sedang merapikan dokumen menoleh. “Iya, Mbak?”
Kemuning terdiam sejenak, seperti sedang menyusun kata-kata yang sulit diucapkan. “Terima kasih. Kalau waktu itu aku enggak ketemu Mas, mungkin aku enggak akan mendapatkan keadilan. Dan mereka pastinya bahagia dengan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.”
Arkatama tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kemuning dengan tenang, memberi ruang agar wanita itu melanjutkan.
“Orang-orang juga akan menyalahkan aku dan menghina aku, karena aku mandul.”
Suara Kemuning tidak lagi bergetar seperti dulu. Justru itulah yang membuatnya terasa lebih menyakitkan, karena luka itu masih ada, hanya saja sudah dipendam lebih dalam.
Arkatama menghela napas pelan, lalu duduk di kursi seberangnya. “Mbak Kemuning yang menyelamatkan diri Mbak sendiri,” ucapnya pelan. “Aku cuma bantu sedikit.”
Kemuning tersenyum tipis. Senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengerti.
“Mas selalu bilang begitu,” katanya. “Padahal yang paling banyak bantu aku ya Mas.”
Arkatama tidak membalas. Ia hanya mengalihkan pandangan sejenak, seolah berusaha menjaga sesuatu agar tidak keluar terlalu jauh.
Ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka. Perasaan itu tumbuh diam-diam, di sela percakapan sederhana, dalam perhatian kecil yang sering terlewatkan. Dan Arkatama menyadari itu.
Pria itu melihat bagaimana cara Kemuning mulai menatapnya lebih lama dari biasanya. Bagaimana suaranya terdengar sedikit berbeda saat memanggil namanya. Bagaimana kehadirannya mulai berarti lebih dari sekadar seorang pengacara. Namun, ia memilih diam. Bukan karena tidak berani, tetapi karena ia tahu hati Kemuning baru saja sembuh dari luka yang dalam. Ia tidak ingin menjadi alasan bagi luka baru.
“Eh, sudah mulai gelap. Saking asiknya bicara sama Mbak, jadi lupa waktu,“ kata Arkatama sambil berdiri.
“Punya teman yang bisa diajak ngomong nyambung itu memang menyenangkan,” balas Kemuning yang juga ikut berdiri.
Kemuning menggenggam ujung bajunya. Ada dorongan kecil dalam hatinya untuk mengatakan lebih. Untuk menahan pria itu lebih lama, namun ia tidak melakukannya.
“Mbak Kemuning,” panggil Arkatama.
“Iya?”
“Kalau suatu hari nanti Mbak butuh teman, maka aku akan selalu ada.”
Kemuning terdiam. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ia mengangguk pelan, “Iya, Mas.”
Arkatama tersenyum, lalu pergi ke rumahnya. Sementara Kemuning, masih berdiri di teras.
Setelah sekian lama, ini untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, Kemuning tidak merasa kosong. Di dalam hatinya yang dulu penuh luka dan dendam, kini mulai tumbuh sesuatu yang lain.
“Sadar Kemuning! Ingat siapa dirimu dan siapa Mas Arka,” batin Kemuning menatap pria itu memasuki rumahnya.
***
Karya ini merupakan misi dari editor. Biasanya, dipilih salah satu yang retensinya paling tinggi dan performanya paling bagus. Jika, tidak terpilih, maka karyanya harus dihapus. Kalau kalian suka dengan versi cerita yang aku buat, jangan lupa kasih like, ya, tiap bab nya. Untuk perhatiannya aku ucapkan terima kasih.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus