NovelToon NovelToon
CEO Galak Takluk Pada Pewaris Kecilnya

CEO Galak Takluk Pada Pewaris Kecilnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:29.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

"Musnahkan benih itu!"
Satu perintah dingin dari Adrian Winston menghancurkan segalanya. Perselingkuhan istrinya adalah luka yang tak termaafkan. Ia tidak hanya menjatuhkan talak tiga, tapi juga bersumpah untuk menghapus setiap jejak darah dagingnya dari muka bumi. Adrian ingin masa lalunya mati.
Namun, di sudut kota yang berbeda, Elena melakukan kegilaan. Terjepit antara paksaan kakeknya untuk memiliki pewaris dan kebenciannya pada pernikahan, ia mencuri sampel berharga dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri, benih yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Lima tahun kemudian, Adrian adalah raja bisnis tak berhati. Sampai suatu hari di kantor polisi, seorang bocah mungil menarik ujung jas mahalnya.
"Paman... Papa Achi yang bangkit dali kubul ya? Tapi napa pakai baju kelja? Bukan kain putih? Badannya napa ndak gendut juga? Opelaci dali mana?”
Adrian membeku. Bocah itu memiliki mata yang sama persis dengannya, namun dengan mulut setajam silet yang terus mengoceh tentang wajah dan badannya.
Siapa sebenarnya bocah cadel yang berani menyebutnya sebagai Papa ini? Dan kemana Ibunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. OEEEKKK!

Sifat Adrian yang dulu lembut dan pemaaf telah terkubur bersama lemak-lemak di tubuhnya. 

Kini, ia adalah sosok monster di dunia bisnis, dingin, kejam, dan memiliki kebencian mendalam terhadap wanita. Baginya, wanita hanyalah makhluk manipulatif yang menggunakan air mata sebagai senjata.

Beberapa kali Bianca melihat sosok pria gagah di sampul majalah bisnis atau di papan iklan raksasa saat ia sedang berjalan mencari pekerjaan serabutan. Ia hanya bisa melongo.

"Lihat pria ini, Elena," ujar Bianca suatu hari sambil menunjuk papan iklan. 

"Gagah sekali, ya? Pasti hatinya sedingin es mambo. Tidak mungkin pria sesempurna ini mau menoleh pada wanita malang seperti kita. Jauh berbeda dengan mantan suamiku yang bulat itu."

Bianca tampaknya sama sekali tidak mengenali pria itu adalah Adrian. Transformasi Adrian terlalu ekstrem. Rahang yang dulu tenggelam kini begitu tajam, dan tatapan matanya yang dulu hangat kini sangat mengintimidasi.

Satu malam yang sunyi di rumah itu mendadak pecah oleh jeritan Elena.

"Kak! Kak Bianca! Sakiiit...!"

Bianca yang sedang tidur di sofa langsung meloncat berdiri. Ia melihat Elena memegangi perutnya yang besar, sementara cairan bening mulai membasahi lantai.

"Air ketuban?! Ya Tuhan, Elena! Sekarang?!" Bianca panik luar biasa. Ia berlari ke sana kemari seperti ayam kehilangan induknya, mencari kunci rumah dan tas bayi. "Bi Ina! Siapkan taksi! Sekarang!"

Di dalam taksi menuju rumah sakit, Elena mencengkram tangan Bianca dengan sangat kuat. Wajahnya bersimbah peluh dan air mata. "Kak... aku takut. Bagaimana kalau aku tidak selamat? Bagaimana kalau bayi-bayiku..."

"Diam kau!" bentak Bianca, meski suaranya gemetar. "Kau jangan berani-berani bicara soal mati! Aku sudah bersusah payah mencarikan mu susu mahal, jadi kau harus bertahan hidup untuk menyusui mereka!"

Sesampainya di rumah sakit, saat brankar Elena didorong menuju ruang persalinan, Elena menahan lengan Bianca. Tatapannya sayu namun penuh kesungguhan.

"Kak... dengerin aku. Kalau terjadi sesuatu padaku... tolong, jadilah Ibu untuk mereka. Beri mereka kasih sayang yang tidak pernah kita dapatkan dari Kakek..."

Bianca membelalakkan matanya. Ia melepaskan tangan Elena dengan kasar. "Apa-apaan kau ini?! Enak saja! Kau yang berbuat dengan gigolo itu, kenapa aku yang harus jadi ibunya? Aku ini belum pernah melahirkan, aku tidak tahu cara mengurus bayi!"

"Kak, tolong..."

"Tidak! Aku menolak!" Bianca berteriak di depan pintu ruang operasi. 

"Kau dengar ya, Elena? Kalau kau berani mati di dalam sana, aku akan masuk dan mencekikmu sendiri! Kau harus selamat! Kau harus rawat anak-anakmu! Aku hanya mau jadi bibi sosialita yang memanjakan mereka, bukan jadi ibu yang mengganti popok mereka!"

Pintu ruang operasi tertutup. Bianca jatuh terduduk di kursi tunggu, menangkup wajahnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Beberapa jam kemudian, suara tangis bayi yang melengking memecah keheningan koridor rumah sakit. Tidak hanya satu, tapi dua suara tangisan yang saling bersahutan.

OEEEEKKK!

OWEEEKKK!

Seorang perawat keluar dengan senyum tipis. "Selamat, bayinya kembar laki-laki dan perempuan. Ibu dan kedua bayinya selamat."

Bianca langsung berdiri, napasnya lega luar biasa. "Dengar itu, Bi Ina? Anak-anak gigolo itu sudah lahir!" teriaknya riang membuat para suster melongo.

Namun, saat Bianca melihat dua bayi mungil itu dibungkus kain bedung, ia terpaku. Bayi laki-laki itu memiliki bentuk hidung yang sangat familiar, dan bayi perempuan itu memiliki sepasang mata yang sangat tajam.

"Kenapa... kenapa mereka tidak mirip gigolo?" gumam Bianca bingung.

"Mereka malah terlihat seperti... ah, sudahlah. Mungkin gigolo itu memang tampan sebelum mati."

Tanpa Bianca sadari, di gedung pencakar langit tak jauh dari rumah sakit itu, Adrian Winston sedang berdiri menatap jendela. Ia merasakan dadanya berdenyut aneh, seolah ada sesuatu yang baru saja terlahir di dunia ini yang memiliki ikatan batin dengannya. Namun, ia segera menepis perasaan itu dengan kemarahan yang kembali meluap.

"Willy," panggil Adrian dingin.

"Pastikan besok perusahaan Kalvin kehilangan investor utamanya. Aku ingin dia merangkak di kakiku."

Dua dunia yang berbeda kini telah terhubung oleh dua nyawa kecil. Adrian yang penuh dendam, dan dua bayi yang membawa darahnya dari rahim adik mantan istrinya.

Pertarungan bisnis antara Adrian dan Kalvin kini memasuki level yang sangat personal. Kalvin, dengan segala kelicikannya, menggunakan metode kotor. Mulai dari sabotase data hingga menyuap orang dalam hanya untuk merebut proyek "Cyber-Core", sebuah inovasi robotik asisten medis yang tengah dikembangkan Winston IT.

"Bos, Kalvin baru saja merilis prototipe yang sangat mirip dengan milik kita. Dia mencuri skemanya!" lapor Willy dengan wajah memerah.

Adrian hanya duduk tenang di kursi kebesarannya, memutar sebuah pulpen perak. "Biarkan saja. Berikan seluruh hak paten proyek itu padanya. Aku menyerah."

Willy terbelalak. "Tapi Bos—"

"Lakukan saja, Willy."

Kalvin merayakan kemenangannya dengan sombong, merasa telah menumbangkan Adrian.

“Hahaha…. Mampus juga kau, Adrian!”

Namun, kegembiraan itu hanya bertahan satu malam. Esoknya, dunia IT gempar. Adrian Winston mengumumkan peluncuran “Project Aethelgard" sebuah kecerdasan buatan berbasis Neural-Link yang jauh lebih canggih daripada robot medis manapun. Ternyata, proyek yang direbut Kalvin hanyalah "umpan" yang sengaja dilepaskan Adrian untuk menguras modal Kalvin pada teknologi yang sebenarnya sudah usang di mata Adrian.

“Arghhhh brengsek kau, Adrian!”

Kalvin hanya bisa menahan geram di kantornya, menyadari ia baru saja menghabiskan triliunan untuk teknologi sampah, sementara Adrian kini berada di puncak rantai makanan industri teknologi dunia.

***

LIMA TAHUN KEMUDIAN.

Di sebuah rumah kontrakan kecil, Elena dan Bianca sedang berjuang dengan realitas yang berbeda. Si sulung kecil, Arsen Charlotte duduk tenang di pojok ruangan dengan laptop bekas milik Bianca yang telah dimodifikasi ulang. Matanya yang tajam menatap barisan kode, wajahnya yang dingin adalah cermin sempurna dari Adrian Winston.

"Abang Aceng! Jangan main komputer terus! Bantu Bibi ikat adikmu ini!" teriak Bianca yang sedang kewalahan di dapur.

Arsyi adalah kebalikan dari kakaknya. Ia berlarian di ruang tamu, memakai ember di kepala sebagai helm dan memukul-mukul panci.

Achi lobot! Bibi Bingka na montel!

Nguuung! Nguuung!

"Achi! Berhenti berisik atau Bibi jual kamu ke pasar! Bibi tukar cumi-cumi, mau?” ancam Bianca sambil mengacungkan sutil. Arsyi hanya menjulurkan lidah, nakal dan rewel luar biasa, mewarisi sifat berapi-api dari Bianca.

Elena keluar dari kamar dengan wajah lelah, mengusap kepala Arsen. "Abang, jangan terlalu keras belajar ya."

“Ya, Bunda.” Arsen mengangguk singkat, sebuah gestur yang sangat formal untuk anak seusianya.

***

1
tia
bab ini bikin perut kaku ngakak 🤣🤣🤣🤣
Lisa Halik
bodoh sekali bianca..😄arshy kamu kok ada ada saja
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 goooddd
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 pait dong
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Abinaya Albab
ayah bulat 😂😂😂😂😂 semoga Adrian dengar 😂😂😂😂😂
A R
telolll dongg 🤣🤣
Budi Rahayu
alchy aku padamu ... aku cuka .... aku cuka .... 🫶💖😘
Budi Rahayu
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Abinaya Albab
mukanya mirip pas Adrian masih gendut 🤭 tp imut 😘
PengGeng EN SifHa
Ni anak bener² kebanyakan MAKAN MERCON DEHHHHH🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Rian Moontero
mampiiirrr😍
tia
bilang saja kalo cemburu,,gk usah ngomong mengada Ngada adrian 🤣
mimief
bodo amet..kata elena🤣
mimief
bukan dr kc ijo a
chi...dari tanah sengketa🤣🤣
suryanti1989
ceritanya lucu,bagus dan luar biasa,i like it
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ririen handayani
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tau aja mokondo
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Raisha
bener banget🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!