Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 | Kerja Sama yang Penuh Kecurigaan
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Suasana di ruang guru terasa sedikit kaku saat kepala sekolah mengumumkan nama-nama siswa yang terpilih untuk mewakili sekolah dalam ajang bergengsi Olimpiade Matematika Tingkat Kota.
"Untuk tahun ini, setelah melihat hasil ujian dan rekam jejak akademik, sekolah menunjuk Iris Astridewi dan Siska Maharani untuk bergabung dalam satu tim guna mengikuti kompetisi tersebut," ujar Bu Kepala Sekolah dengan nada tegas namun bangga.
Mendengar pengumuman itu, Iris dan Siska sama-sama menoleh satu sama lain. Iris menatap dengan ragu dan penuh selidik, sementara Siska hanya menatap datar tanpa ekspresi sedikitpun. Bagi Iris, bekerja sama dengan Siska yang kini penuh misteri ini bukanlah hal yang mudah. Namun, sebagai tanggung jawab siswa, ia tidak bisa menolaknya.
Setelah jam sekolah usai, mereka diharuskan mengikuti sesi bimbingan dan persiapan di ruang khusus. Di sanalah ketegangan mulai terasa. Meski keduanya sama-sama jenius dan bisa menyelesaikan soal-soal rumit dengan cepat, interaksi di antara mereka sangat minim dan dingin. Tidak ada obrolan santai, yang ada hanyalah perintah-perintah singkat dan jawaban seperlunya.
"Akan lebih efisien jika kamu mengerjakan bagian A dan aku yang menyelesaikan bagian B," ujar Siska dengan nada datar seolah sedang berbicara dengan benda mati.
"Baiklah. Tapi Siska... kamu yakin tidak ada apa-apa? Rasanya kamu berubah sangat drastis dalam waktu singkat," tanya Iris mencoba memancing pembicaraan, berharap bisa mengetahui sesuatu.
Namun, Siska hanya menatap sekilas tanpa memalingkan wajahnya dari lembar soal. "Aku hanya menyadari potensi diriku, itu saja. Tidak ada yang perlu ditanyakan. Fokuslah pada tugas kita," jawabnya ketus dan dingin.
Jawaban itu justru semakin membuat rasa penasaran dan kecurigaan Iris memuncak. Ia merasa ada dinding tebal yang memisahkan dirinya dengan Siska saat ini.
Saat Iris sedang asyik memikirkan cara untuk menembus pertahanan batin Siska dan mencari tahu kebenaran di balik perubahan itu, tiba-tiba sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya.
"Wah, wah, wah... Sejak kapan dua ratu es ini bisa berkumpul dalam satu tempat? Dingin sekali suasananya sampai-sampai keringat dinginku bercucuran, tahu!"
Ternyata itu adalah Bayu yang diam-diam mengintip dari balik pintu dan kini berjalan mendekati Iris dengan wajah menyeringai jahil.
"Bayu! Kamu itu bisa saja, sih. Aku lagi serius begini kok malah diledek," ujar Iris sambil menghela napas lelah namun sudut bibirnya sedikit terangkat menahan senyum.
Bayu segera duduk di sebelah Iris dan berbisik pelan sambil melirik ke arah Siska yang masih asyik dengan bukunya.
"Serius apa? Memikirkan kenapa Siska tiba-tiba jadi punya mata sinar laser yang bisa membekukan orang? Atau jangan-jangan dia diculik alien juga sama sepertimu, terus otaknya diisi rumus-rumus matematika tingkat tinggi? Hahaha," canda Bayu pelan namun cukup untuk didengar oleh Iris.
"Masa sih? Kamu ini ada-ada saja. Tapi kalau dipikir-pikir... tidak mustahil juga," jawab Iris sambil tertawa kecil membayangkan imajinasi liar Bayu.
"Nah, kan! Jadi jangan terlalu dipikirkan sampai otakmu panas sendiri. Kalau dia memang berubah, biarkan saja. Yang penting kamu tetap jadi Iris yang aku kenal, yang ceria meski kadang bawel," ujar Bayu sambil mengedipkan mata.
Candaan dan ledekan khas Bayu itu ternyata ampuh juga. Rasa penat, curiga, dan tegang yang dirasakan Iris perlahan memudar, digantikan oleh rasa rileks dan terhibur. Setidaknya, meski banyak hal aneh terjadi di sekelilingnya, ia masih punya sahabat yang bisa membuatnya tertawa.
................
Di tempat yang berbeda, di pusat kota Jakarta yang sibuk, Kim baru saja melangkahkan kakinya kembali ke lantai apartemen milik Iris. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari Surabaya, namun di balik tatapan matanya yang tajam, tersirat rasa puas karena berhasil mendapatkan petunjuk baru.
Kim segera duduk di depan deretan komputer di ruang kerja dan mulai mengoperasikan perangkat canggihnya. Ia mengunggah data-data yang berhasil ia kumpulkan selama di Surabaya.
"Ternyata dugaan saya benar. Sosok 'Falcon' tidak beroperasi di lokasi fisik tertentu yang mudah dilacak. Jejak-jejak digital yang ia tinggalkan selalu mengarah ke alamat palsu atau server sementara," gumam Kim sambil menatap layar monitornya.
Jari-jarinya yang lincah dan terlatih mulai bergerak di atas papan ketik, menjalankan berbagai program pemindaian tingkat tinggi.
"Berdasarkan pola aktivitas dan jejak samar yang tertinggal, saya menyimpulkan bahwa dia bersembunyi di dalam komunitas forum gelap atau jaringan tertutup di dunia maya. Tempat di mana orang-orang dengan keahlian khusus berkumpul tanpa diketahui identitas aslinya," ujar Kim seolah sedang melapor pada dirinya sendiri.
Kim kemudian membuka beberapa situs jaringan tersembunyi yang hanya bisa diakses melalui jalur khusus. "Karena dia tidak bisa ditemukan secara langsung di dunia nyata, maka satu-satunya cara untuk mendekatinya adalah melalui jalur yang sama. Saya harus menyusun strategi dan menyiapkan identitas penyamaran yang cukup meyakinkan untuk bisa masuk ke dalam lingkaran itu dan menarik perhatiannya."
Dengan semangat baru, Kim mulai menyusun rencana dan membangun infrastruktur jaringan yang aman untuk memulai pencariannya di dunia maya.
................
Sementara itu, di ruangan kantor pribadinya yang tertutup rapat di gedung Aegis Corporation, Stella sedang duduk bersandar santai di kursi kebesarannya sambil memegang segelas anggur merah. Di depannya, layar hologram menampilkan grafik dan sinyal yang terhubung langsung dengan inang barunya.
"Bagus... Responnya stabil dan koneksinya semakin kuat," gumam Stella pelan.
Tiba-tiba, mata Stella menyala tajam. Ia mengirimkan gelombang sinyal khusus yang hanya bisa ditangkap oleh sistem di dalam tubuh Siska. Pesan itu berjalan secepat kilat menembus jaringan komunikasi jarak jauh.
Di ruang persiapan sekolah, tiba-tiba tubuh Siska menegang seketika. Matanya yang tadinya fokus pada buku, kini menatap kosong ke depan seolah menerima informasi dari dimensi lain. Sebuah suara mekanis dan dingin terdengar jelas di dalam kepalanya.
[Perintah diterima dari Komando Utama.]
[Target Eliminasi: Iris Astridewi.]
[Modus Operandi: Bersih, Diam-diam, Tanpa Kekerasan Fisik yang Mencurigakan. Buat seolah-olah kecelakaan atau sakit mendadak.]
[Konfirmasi: Laksanakan segera.]
Seketika itu juga, sorot mata Siska berubah menjadi jauh lebih dingin dan mematikan. Perlahan, ia menolehkan kepalanya ke arah Iris yang sedang tertawa lepas bersama Bayu. Di dalam benak Siska yang kini dikendalikan oleh sistem itu, Iris bukan lagi teman sekolah atau mantan saingan, melainkan sebuah target yang harus disingkirkan.
"Baik. Perintah diterima. Akan dilaksanakan sesuai rencana," jawab Siska pelan dengan nada suara yang sangat datar dan tanpa emosi, namun cukup terdengar oleh dirinya sendiri.
Pertandingan catur yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan bidak hitam kini mulai bergerak perlahan mendekati bidak putih tanpa terlihat oleh siapapun.
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...