Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Formasi Petir yang Membeku dan Runtuhnya Sang Penguasa
Istana Penguasa Kota Seribu Tebing terletak di titik tertinggi dinding ngarai utara. Bangunan itu menyerupai benteng raksasa yang dipahat langsung dari batu hitam solid, dikelilingi oleh parit energi yang dialiri aliran listrik biru yang berderak ganas. Ini adalah simbol otoritas absolut Sekte Pedang Petir di batas luar Kunlun.
Siang itu, jalanan menuju benteng sepi tak berpenghuni. Penduduk kota telah menutup rapat pintu dan jendela mereka. Undangan Darah berarti eksekusi publik, dan tidak ada yang ingin terjebak dalam baku hantam antara iblis baru bermantel hitam dan tiran tua penguasa kota.
Langkah sepatu bot Arya berderap teratur di atas jalan batu. Elena berjalan di sisinya, pedangnya masih berada di dalam sarung, namun otot-ototnya menegang waspada.
"Tuan," lapor Elena sambil memindai struktur benteng. "Parit energi itu adalah Formasi Jaring Petir. Ribuan volt Qi elemen petir dialirkan dari pusat inti benteng. Menyentuhnya berarti hangus seketika."
"Arus searah yang tidak memiliki grounding yang stabil," gumam Arya, matanya yang telah dibekali Mata Dewa menembus kilatan listrik itu dan melihat titik-titik simpul energi. "Desain kuno yang mengabaikan efisiensi distribusi beban."
Mereka tiba di jembatan tarik baja yang menjadi satu-satunya akses masuk. Di ujung jembatan, seribu prajurit elit dengan zirah biru gelap berdiri rapat membentuk barikade. Pedang panjang mereka diacungkan ke depan, dialiri percikan petir yang bersumber dari resonansi formasi.
Di atas tembok benteng yang menjulang tinggi, Tuan Besar Gao—Penguasa Kota Seribu Tebing—berdiri dengan tangan bersedekap. Ia mengenakan jubah ungu sutra dan memancarkan tekanan murni dari Ranah Inti Emas Tahap Awal. Udara di sekitarnya terdistorsi oleh panas dan gelombang energi spiritual yang padat.
"Arya Permana!" suara Gao menggelegar, diperkuat oleh teknik amplifikasi Qi hingga terdengar menembus angin kencang ngarai. "Kau benar-benar berani datang mengantarkan nyawamu! Menghancurkan Keluarga Mahendra sama dengan mencuri lumbung emas Sekte Pedang Petir. Hari ini, aku akan mencabut meridianmu, memotong dagingmu seiris demi seiris, dan menggantung kepalamu di gerbang kota sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani menantang otoritas sekte!"
Seribu prajurit di bawah menghentakkan kaki mereka secara serentak, menciptakan gempa kecil. "BUNUH! BUNUH! BUNUH!"
Arya berdiri di tepi parit energi. Wajahnya sedatar cermin es. Ancaman Gao baginya tak lebih dari suara bising mesin pabrik yang rusak dan tidak efisien.
"Kau menempatkan seribu prajuritmu di depanku di ruang yang sempit, Gao," Arya membalas, suaranya tidak diteriakkan, namun gelombang Qi-nya membuat kata-katanya bergema langsung di dalam tengkorak setiap orang di sana. "Ini adalah tindakan taktis yang sangat irasional. Mengumpulkan pasukan lemah dalam formasi rapat di hadapan kekuatan absolut hanya mempermudah proses pembersihan area."
Gao tertawa meremehkan. Matanya menatap Arya dan mengukur kultivasinya. "Puncak Kesempurnaan Pembentuk Fondasi? Ck! Di mata manusia biasa kau mungkin dewa, tapi di hadapan pakar Inti Emas, kau hanyalah kerikil! Pasukan Petir! Maju dan cincang dia!"
Seribu prajurit elit itu berteriak dan menerjang melewati jembatan baja bagaikan air bah berwarna biru. Niat membunuh mereka menyatu, membentuk ilusi pedang raksasa di udara yang mengunci posisi Arya.
Elena hendak mencabut pedang, namun Arya melangkah selangkah ke depan.
"Elena, perhatikan baik-baik. Ini adalah aplikasi nyata dari manipulasi massa dan ruang dalam pertarungan," ucap Arya tenang.
[Ding! Mengaktifkan Fungsi: Medan Gravitasi Tirani. Radius: 50 meter.]
Arya tidak mengangkat tangan, tidak menghunus senjata, dan tidak memancarkan cahaya silau yang mencolok. Ia hanya memusatkan Qi murninya dan mengubah struktur tekanan atmosfer di sekelilingnya secara presisi.
Tiba-tiba, area di atas jembatan tarik itu mengalami anomali fisika. Gravitasi tiga kali lipat Kunlun secara instan melonjak menjadi tiga puluh kali lipat gravitasi bumi secara mendadak!
BUMMMMM!
Seribu prajurit yang sedang berlari itu seolah tertimpa gunung besi tak kasat mata dari langit. Jeritan ngeri terdengar sesaat sebelum berubah menjadi suara tulang yang remuk secara massal.
"AARRGHHH!"
Zirah baja spiritual mereka melesak ke dalam seolah terbuat dari tanah liat basah. Kaki-kaki mereka patah tak kuat menahan beban tubuh yang tiba-tiba berlipat ganda ratusan kali lipat. Darah menyembur dari mata, hidung, dan mulut mereka akibat tekanan pembuluh darah yang pecah secara ekstrem.
Dalam waktu kurang dari dua detik, seribu prajurit elit Sekte Pedang Petir itu hancur rata di atas jembatan baja, berubah menjadi lautan daging dan logam yang terhimpit gravitasi absolut. Darah mengalir membasahi jembatan, menetes deras ke dalam parit energi di bawahnya dan menimbulkan bunyi mendesis keras.
Elena membeku. Napasnya tercekat. Menghancurkan seribu pasukan tanpa menggerakkan satu jari pun? Ini bukan lagi sekadar teknik bela diri; ini adalah peretasan hukum alam semesta!
Di atas tembok benteng, senyum sombong Penguasa Kota Gao membeku, lalu hancur seketika. Matanya melotot menatap pembantaian instan yang mustahil di bawahnya. Kakinya, tanpa sadar, mundur selangkah.
"A-Apa... sihir iblis apa itu?!" seru Gao panik, suaranya bergetar.
"Hanya manipulasi bobot ruang. Sangat dasar," jawab Arya datar.
Dengan langkah santai, ia berjalan melintasi jembatan baja, menginjak tumpukan zirah yang hancur, sepenuhnya kebal terhadap sisa medan gravitasinya sendiri. Matanya mengunci sosok Gao di atas sana.
"Sekarang giliranmu."
Merasakan teror kematian merayap di tengkuknya, Gao meraung histeris. Ia memanggil seluruh energi Inti Emasnya, membakar esensi darahnya untuk mendapatkan kekuatan maksimal. Langit di atas benteng tiba-tiba mendung, memunculkan pusaran awan hitam yang memuntahkan petir-petir menyilaukan.
"Jangan meremehkanku, anjing dunia bawah! Formasi Pedang Penghukum Langit!"
Gao melompat dari tembok benteng, menghunus pedang perak panjangnya dan menerjang ke bawah. Petir dari langit menyambar pedangnya, menciptakan bilah listrik raksasa sepanjang tiga puluh meter. Ia menebas ke bawah dengan kecepatan membelah angin, mengincar kepala Arya.
Serangan Inti Emas Tahap Awal dengan kekuatan penuh. Tekanannya membuat udara di sekitar Arya terbakar dan ruang di sekitarnya sedikit melengkung.
Namun, Arya tidak menghindar. Ia mendongak, matanya yang sedingin es menganalisis struktur energi petir itu.
"Energi Inti Emasmu sangat tidak stabil. Fondasinya dibentuk oleh tumpukan obat-obatan murahan, bukan pemahaman hukum elemen yang murni," komentar Arya secara objektif.
Arya perlahan mengepalkan tangan kanannya. Melibatkan seratus persen kepadatan Qi Pembentuk Fondasi Puncak Kesempurnaan, lengannya dilapisi oleh proyeksi sisik naga energi berwarna putih kebiruan yang sangat padat. Ia melayangkan satu tinju lurus ke atas, menyambut bilah petir raksasa itu secara frontal.
TRANGGG! KABUMMM!
Tinju Arya berbenturan tepat dengan ujung pedang petir. Ledakan cahaya yang membutakan menyapu seluruh area. Suara gemuruhnya memecahkan kaca-kaca bangunan dalam radius dua kilometer dari istana.
Di dalam pusat ledakan itu, Gao membelalakkan matanya dengan horor yang melampaui segala batas kewarasan. Pedang Penghukum Langit-nya—senjata pusaka tingkat tinggi sektenya—retak!
"TIDAAAK!"
KRAK! Pedang perak itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu logam.
Momentum tinju Arya tidak berhenti sedikit pun. Menembus sambaran petir dan serpihan pedang, tinju berlapis sisik naga energi itu meluncur ke depan dan menghantam perut Gao dengan kekuatan setara meteorit kecil.
BUMMM!
Gelombang kejut dari pukulan itu menembus punggung Gao, menciptakan lubang vakum di awan mendung di langit atas sana. Tubuh Penguasa Kota itu terlempar ke belakang, menabrak tembok bentengnya sendiri dengan energi kinetik yang sangat dahsyat hingga tembok tebal itu hancur berantakan dan runtuh menimpanya.
Debu batu hitam mengepul tebal. Suasana yang tadinya bising oleh gelegar petir kini kembali menjadi sunyi senyap.
Arya berjalan perlahan, melewati sisa-sisa reruntuhan tembok. Di sana, Gao terkapar menyedihkan di atas puing-puing, memuntahkan darah yang bercampur dengan kepingan debu keemasan. Inti Emasnya—pusat kekuatan gaib dan umurnya—telah hancur total.
"I-Inti Emasku... kau menghancurkan kultivasiku..." Gao menangis meratap, tubuh besarnya perlahan menyusut menjadi pria tua renta seketika akibat kehilangan energi vital. Ia menatap Arya dengan keputusasaan yang absolut. "K-Kau akan memicu perang! Sekte Pedang Petir... para Tetua Inti Emas... mereka tidak akan membiarkanmu bernapas!"
Arya berdiri menjulang di samping Gao. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan emosi kemarahan atau kebanggaan, hanya ada perhitungan logis untuk langkah selanjutnya.
"Ketika Sekte Pedang Petir menyadari apa yang terjadi di tempat ini, aku sudah menguasai seluruh aliran dana, jalur logistik, dan intelijen di wilayah batas luar ini. Jika mereka mengirim pasukan, aku akan memusnahkan mereka. Jika mereka mencoba bernegosiasi secara finansial, aku akan mengakuisisi mereka," ucap Arya dengan nada datar, bak seorang CEO perusahaan multinasional yang sedang menjelaskan strategi ekspansi bisnis kepada karyawan tingkat rendah.
Arya mengarahkan dua jarinya dengan santai ke dahi Gao.
"Kematianmu hanyalah penanda pergeseran manajemen eksekutif di Kota Seribu Tebing," bisik Arya.
Seberkas sinar Qi putih melesat dari jarinya, menembus tengkorak Gao dan memadamkan sisa nyawanya dalam sekejap mata. Eksekusi yang tanpa rasa sakit dan sangat efisien.
[Ding! Eliminasi Target Utama Selesai. Seluruh aset fisik dan spiritual musuh di wilayah ini kini tidak memiliki pertahanan.]
Arya berbalik dan menatap menara utama Istana Penguasa Kota yang kini kosong tanpa tuan. Ia mengambil komunikator giok dari dalam saku mantelnya dan menyalurkan aliran Qi untuk menghubungi Nona Feng di paviliun.
"Manajer Feng. Istana sudah dikosongkan secara permanen," lapor Arya dengan nada bosan. "Kirim tim akuisisi Paviliun Bintang Jatuh sekarang juga. Ubah plang di gerbang utama, sita perbendaharaan kotanya, dan stabilkan nilai tukar batu spiritual. Tempat ini sekarang resmi menjadi markas pusat operasional Dragon Corp Cabang Kunlun."
Di kejauhan, Nona Feng yang mendengarkan suara tuannya melalui komunikator giok itu jatuh berlutut hingga menempelkan kepalanya ke lantai, tubuhnya bergetar hebat karena kombinasi adrenalin dan rasa hormat yang sudah mencapai tahap fanatik.