Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Tepat pukul 14.30 WIB, bel panjang berbunyi nyaring, bergema di sepanjang selasar gedung sekolah, menandakan berakhirnya siksaan akademis hari itu. Di kelas 3-A, hiruk-pikuk siswa yang berhamburan keluar perlahan menyepi, menyisakan Kelompok Sableng yang tampak masih betah menduduki singgasana kayu mereka di barisan belakang.
Andra menyandarkan punggungnya dengan kasar, wajahnya tampak kuyu seolah habis bertarung di medan perang. "Aishh... pelajaran Fisika terakhir tadi bener-bener bikin otak gue ngebul. Rumus gerak lurus berubah beraturan itu sukses bikin IQ gue berubah berantakan," keluhnya sambil memijat pelipis.
Vino, yang tampak lebih segar karena diam-diam sempat memejamkan mata di jam terakhir, terkekeh melihat penderitaan sahabatnya. Ia kemudian mencondongkan badan ke tengah lingkaran meja mereka. "Jadi gimana? Tadi Ibu Sari, guru Sejarah kita, sudah ketok palu kan? Kita disuruh buat kelompok penelitian kecil, satu kelompok lima orang. Pas banget tim kita sekarang berlima, nggak kurang nggak lebih."
Mendengar topik itu, Andra yang tadi sempat 'mati suri' mendadak semringah. Matanya berbinar penuh siasat. "Jadi lah, Woy! Itu yang gue harepin dari kemarin. Kan rencana utamanya emang mau menginvasi rumah lo buat main PlayStation (PS). Tugas sejarah itu cuma bumbu pelengkap biar dapet izin nyokap," selorohnya yang disambut tawa kecil dari yang lain.
Anggita, yang sedari tadi sibuk merapikan alat tulisnya ke dalam tas, ikut menimpali. "Gue sih ikut arus aja. Sandi sama Saskia gimana? Aman jadwalnya?"
Sandi melirik jam tangan hitamnya sejenak. "Atur aja. Hari Sabtu kan kita ngerjainnya? Biar nggak ganggu jadwal bantu Nyokap di hari kerja," jawab Sandi tenang, meski pipinya masih sedikit meninggalkan jejak kemerahan sisa "drama" pagi tadi.
"Iya, fiks hari Sabtu," Vino mengonfirmasi dengan semangat. "Biar waktunya panjang, dari pagi sampai sore kita kuasai ruang tamu gue. Nanti gue lapor ke Nyokap kalau 'pasukan sableng' mau datang, biar beliau bisa nyiapin cemilan maut sama makan siang yang enak. Nyokap gue paling seneng kalau rumah rame."
Sandi, Anggita, dan Andra mengangguk setuju dengan kompak, membayangkan hidangan gratis di rumah Vino. Namun, Saskia yang sedari tadi hanya menyimak dengan wajah ragu akhirnya angkat bicara. "Kalau aku... Sabtu kayaknya nggak bisa lama-lama, Teman-teman. Aku sudah janjian sama Nanda dari siang," ucapnya pelan, menyebut nama pacarnya yang berada di sekolah berbeda.
Sandi menoleh ke arah Saskia, menangkap raut wajah serba salah dari gadis itu. "Woles, Sas. Nggak usah dipikirin banget. Yang penting kan paginya lo bisa ikut ngerjain bagian lo di tugas sejarah dulu. Siangnya terserah, lo mau ngedate atau terbang ke bulan sama pacar lo juga silakan," goda Sandi berusaha mencairkan suasana.
Saskia menggelengkan kepala, bibirnya sedikit mengerucut. "Sebenarnya aku ingin main sama kalian sampai sore juga, pengen liat kalian main PS. Tapi aku sudah janji duluan sama dia, nggak enak kalau dibatalin."
Melihat keraguan Saskia, Anggita berdiri dan menghampiri meja tempat Sandi dan Saskia duduk. Ia menepuk bahu Saskia dengan gaya kakak kelas yang mengayomi. "Sudah, jangan lo jadiin beban pikiran. Kita semua di sini ngerti kok, namanya juga orang punya pacar. Bener yang Sandi bilang, intinya kewajiban tugas kelompok beres dulu, abis itu bebas. Mau lo lanjut nongkrong bareng kita atau langsung dijemput pangeran lo, itu urusan belakangan."
Andra pun menyambar dari kursinya, "Betul, Sas. Nggak perlu merasa nggak enak sama kita-kita. Kita ini kelompok sableng, bukan kelompok posesif. Kita paham kok prioritas masing-masing."
Saskia akhirnya mengangguk lega, senyum manisnya kembali terukir. Kehangatan dukungan dari teman-teman barunya ini membuatnya merasa benar-benar diterima.
Sandi kemudian berdiri, menyampirkan tas ranselnya yang terasa ringan. "Berarti fiks ya, Vin. Sabtu kita serbu rumah lo buat ngerjain tugas sejarah dan... ya, sedikit hiburan digital."
"Siap, aman itu! Kendali di tangan gue," sahut Vino mantap sembari bangkit berdiri. "Kalau gitu kita cabut yok. Takut makin sore, Jatinegara kalau sudah jam segini macetnya bisa bikin motor jalan di tempat."
Kelompok Sableng pun melangkah keluar dari kelas yang kini sudah benar-benar sunyi. Di sepanjang koridor sekolah yang mulai remang, suara langkah kaki dan gelak tawa mereka bergema, menandakan bahwa persahabatan lima orang dengan latar belakang berbeda ini sedang menuju babak baru yang lebih seru. Mereka menuju area parkir motor, siap membelah aspal Jakarta Timur menuju rumah masing-masing dengan bayangan rencana hari Sabtu yang menyenangkan.
Deru mesin motor mulai memenuhi area parkir SMP Pejuang Bangsa yang kian melengang. Vino sudah bertengger gagah di atas motornya, siap membelah kemacetan sore. Andra pun sudah memosisikan motornya, dengan Anggita yang sudah duduk manis di jok belakang, menunggu Sandi yang sedang menuntun Ninja hijau kesayangannya keluar dari barisan parkir. Sementara itu, Saskia masih setia "mengintil" di belakang Sandi, tangannya sesekali memegang ujung seragam cowok itu seolah takut ditinggalkan.
Sandi menghidupkan mesin, lalu menoleh ke sekeliling gerbang sekolah yang mulai sepi. "Sas? Nyokap lo mana? Kok belum kelihatan batang hidungnya?" tanya Sandi heran.
Anggita ikut menyahut dari boncengan Andra, "Iya, Sas. Lo dijemput kan? Jangan bilang di hari kedua sekolah ini lo lupa kasih tahu nyokap kalau jadwal pulang kita jam segini?"
Saskia mendadak menunduk dalam, jemarinya semakin erat meremas ujung seragam Sandi. "Aku... aku tadi bilang ke Mama kalau nggak usah jemput pas pulang," bisiknya pelan.
Sandi, Andra, Vino, dan Anggita sontak menoleh serempak dengan mata membelalak. "HAAAAAH?!" teriak mereka koor, saking kagetnya.
"Serius lo, Sas?" tanya Vino tak percaya.
"Kok lo nggak bilang dari tadi sih!" timpal Anggita gemas.
Andra ikut bingung, "Terus lo rencana pulang sama siapa, Sas? Naik angkot? Mana tahu lo rute angkot Jatinegara?"
Sandi hanya bisa menghela napas panjang, mencoba meredam rasa sabarnya yang setipis tisu. Dan... Tuk! Sebuah jitakan mendarat di dahi Saskia, membuat Anggita, Vino, dan Andra seketika terkekeh melihat pemandangan akrab itu.
"Oneng pe'a! Kenapa lo nggak bilang dari tadi kalau nggak dijemput!" omel Sandi gemas.
Saskia mengusap-usap dahinya yang dijitak Sandi dengan wajah memelas. "Aku lupa, San..."
"Jiaaaaahhh!" seru Anggita, Vino, dan Andra barengan lagi.
Sandi menggelengkan kepala, lalu menoleh ke arah Anggita. "Nggi, gue pinjam helm lo deh. Kalau arah ke rumah lo lewat jalan tikus nggak begitu rawan polisi kan? Masalahnya kalau ke arah Pondok Indah jam segini, razia di mana-mana. Tahun lalu saja pas kita ujian praktek lari di Velodrom, gue anterin dia lewat jalur tikus muter-muter biar nggak kena tilang gara-gara dia lupa dateng ke Velodrom bareng temen-temennya dari SMP Bhayangkara."
Anggita langsung melepas helmnya dan memberikannya kepada Saskia. "Nih, Sas, pakai. Lain kali kalau lo emang niat nggak dijemput, minimal bawa helm sendiri biar kita nggak kerepotan bagi-baginya."
Saskia menerima helm itu dengan perasaan tidak enak. "Aku minta maaf ya, Nggi. Aku jadi ngerepotin kalian semua."
Anggita tersenyum tulus, mencoba menenangkan. "Woles saja, Sas. Rumah gue sama Andra satu jalur, nanti gue sama Andra lewat jalan sekunder saja biar aman nggak pakai helm."
Andra menimpali, "Yoi, nanti gue ambil jalur alternatif. Tapi besok-besok kasih tahu ya kalau nggak dijemput, kasihan Sandi. Motor Ninja ini warisan almarhum bokapnya, kalau sampai diangkut polisi gara-gara bonceng nggak pakai helm, bisa nangis setahun dia!"
Sandi terkekeh kecil mendengar gurauan Andra. "Ya nggak sampai setahun juga kali gue nangisnya."
Tawa Kelompok Sableng kembali pecah, sementara Saskia masih menunduk karena merasa bersalah. Vino yang melihat hari semakin sore segera memberi komando. "Sas, sudah jangan dipikirkan lagi. Buruan naik ke motor Sandi. Kalau kelamaan kasihan Sandi nanti pulangnya kemalaman, rumah lo kan paling jauh lintas zona."
Sandi mengangguk dan menepuk jok belakangnya. "Ayo naik."
Saskia mengangguk patuh, menatap Sandi dengan mata bulatnya yang bening. "San, maaf ya. Kamu nggak marah kan?"
Sandi membalas tatapan itu dengan senyum tipis. "Woles, Sas. Sudah biasa."
Setelah semua siap, mereka saling berpamitan. Raungan mesin motor mereka bersahutan meninggalkan gerbang sekolah, membelah hiruk-pikuk sore Jakarta menuju tujuan masing-masing.
Lampu merah di kawasan Lebak Bulus terasa membara, memantulkan sisa panas aspal ke betis Sandi. Deru mesin Ninja 2-tak miliknya yang garing sesekali ia mainkan agar mesin tidak mati saat stasioner. Di belakangnya, Saskia duduk dengan posisi yang sangat rapat, helm milik Anggita tampak sedikit kebesaran di kepalanya yang kecil.
Sandi memecah keheningan di tengah kepulan asap knalpot kendaraan lain. "Lo ngomong apa emang ke Nyokap?" tanya Sandi, suaranya harus bersaing dengan kebisingan jalan raya. "Kok bisa-bisanya beliau izinin lo pulang bareng gue? Padahal dulu waktu lo masih di Bhayangkara yang jaraknya cuma selemparan batu dari rumah, lo dijemput tepat waktu karena Bokap lo khawatir banget sama lo."
Saskia mengeratkan pegangannya pada jaket Sandi. "Aku... aku bilang kalau aku mau ngomong serius sama Sandi," jawabnya lirih.
Sandi mengernyitkan kening di balik kaca helmnya yang bening. "Ngomong apaan emang? Sampe keluarga lo ngasih lampu hijau? Gue tahu protap bokap lo ketat banget kalau urusan keselamatan lo."
"Tadinya emang nggak diizinin, San," Saskia melanjutkan, suaranya sedikit tertelan angin. "Tapi pas Mama bilang yang nganterin itu kamu, Papa langsung luluh. Apalagi Mama kan sudah lihat sendiri gimana kamu kemarin di sekolah. Mereka percaya kalau sama kamu, aku bakal aman."
Sandi terkekeh hambar. "Iya, gue paham kalau soal kepercayaan. Tapi maksud gue, poin penting apa yang lo sampein ke mereka sampe mereka rela ngelepas lo pulang naik motor begini?"
Saskia terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian. "Aku mau nanya langsung ke kamu, San. Kenapa sih kamu selalu keras kepala menolak pemberian orang lain? Kenapa kamu harus sekaku itu?"
Sandi terdiam. Lampu berubah hijau, dan ia mengoper gigi motornya dengan sentakan halus. Ninja hijau itu melesat stabil membelah jalur menuju Pondok Indah yang mulai dihiasi rumah-rumah megah berpagar tinggi.
"Gini ya, Sas," ujar Sandi setelah mereka berada di jalur yang lebih lengang. "Bukannya gue nggak menghargai niat baik orang, atau gue benci kalau ada yang mau ngasih sesuatu ke gue. Gue cuma nggak mau mental gue terbiasa untuk 'berharap'. Apalagi yang lo tawarin itu barang mewah, Sas. Itu bukan level gue."
"Tapi kan, San, aku sama Mama itu kasihnya ikhlas! Nggak ada maksud apa-apa, murni karena kita peduli sama kamu," balas Saskia, nada suaranya mulai meninggi karena gemas dengan logika Sandi.
Sandi mengangguk pelan. "Iya, gue paham lo ikhlas. Tapi tetep aja, Sas. Gue punya harga diri yang harus gue jaga. Gue nggak mau orang lain memandang gue atau Nyokap gue itu rendah, seolah-olah kita ini kaum yang selalu butuh ditopang atau dikasihani. Selama gue sama Nyokap masih punya tenaga buat nyari uang, bahkan kalau harus bayar pakai keringat dan darah sekalipun, gue bakal tetep lakuin itu sendiri. Gue nggak mau hidup dari tangan di bawah, Sas."
Saskia masih belum mau menyerah. "Tapi San, aku sama kamu itu kan sudah kenal lama. Kita deket dari kecil. Masa kamu juga setega itu menolak pemberian teman lamamu ini? Apa aku nggak punya arti spesial sampe kamu harus sedingin itu?"
Sandi menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Saskia Fiana Putri yang Oneng! Dengerin gue ya. Mau lo itu temen deket gue, mau lo itu sahabat terbaik gue, mau lo bahkan jadi 'pacar' gue sekalipun, gue nggak akan pernah memanfaatkan status itu buat keuntungan materi. Gue nggak mau hubungan kita dikotori sama perasaan utang budi. Paham nggak sih lo?"
Kata-kata "pacar gue" meluncur begitu saja dari mulut Sandi, terdengar natural namun menghantam dada Saskia seperti gada besi. Saskia seketika bungkam. Ia membenamkan wajahnya ke punggung kokoh Sandi, menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinga. Mendengar Sandi menyebut kata itu—meskipun hanya dalam sebuah perumpamaan—terasa seperti mimpi yang mustahil namun manis. Di balik punggung Sandi, Saskia merasakan gejolak rasa sakit karena tahu posisi mereka saat ini, namun ada kebahagiaan kecil yang merayap di sela-sela pikirannya.
"Sandi bodoh..." gumam Saskia sangat pelan.
"Apa? Lo ngomong?" Sandi sedikit menoleh, berusaha menangkap suara Saskia. "Jangan pelan-pelan kalau ngomong kenapa sih! Motor gue ini berisik, Sas! Agak keras dikit kalau mau ngomong!"
Saskia tidak menjawab. Ia tetap menempelkan keningnya di punggung Sandi, merasakan hangat tubuh cowok itu meresap ke kulitnya. Sandi melirik spion, mencoba mencari jawaban dari ekspresi Saskia, namun yang ia lihat hanyalah puncak helm Anggita yang menunduk. Ia berasumsi Saskia mungkin tersinggung atau kecewa dengan jawabannya yang terlalu blak-blakan.
"Sas... maaf ya kalau jawaban gue tadi nggak enak didengar atau nggak bikin lo puas. Tapi ya begitulah gue. Itulah kenyataan yang harus lo terima kalau mau temenan sama gue," tambah Sandi dengan nada yang sedikit melembut.
Sebagai jawaban, Saskia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia justru melingkarkan kedua tangannya ke perut Sandi, memeluknya dengan sangat erat, seolah tak ingin ada celah udara di antara mereka. Pelukan itu terasa seperti sebuah pernyataan: aku menerima kamu apa adanya, meski kamu keras kepala.
Sandi merasakan dekapan erat itu dan hanya bisa tersenyum simpul di balik helmnya. Ia merasa pembicaraan berat itu telah selesai dan Saskia sudah memahami prinsipnya. Sandi menambah kecepatan motornya, memacu Ninja hijaunya menyusuri aspal mulus Pondok Indah, membiarkan angin sore menjadi saksi bisu keheningan yang penuh makna di antara mereka berdua.