No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin di Puncak Langit
Di dalam kuil abadi Puncak Langit Terlarang, udara tidak lagi terasa dingin yang menusuk, melainkan hampa. Dinding-dindingnya terbuat dari kristal bening yang memantulkan cahaya bintang, meski saat itu hari masih siang. He Xueyi berjalan di tengah aula besar, langkah kakinya menggema di lantai yang tampak seperti permukaan air yang membeku.
Di ujung aula, sebuah bola cahaya berwarna biru keemasan melayang di atas altar teratai. Itulah dia—Esensi Kehidupan milik He Xueyi yang telah dipisahkan selama seribu tahun.
"Tuan, tunggu!" Bian Zhi menahan bahu He Xueyi saat majikannya itu hendak melangkah maju. "Lihat di bawah altar. Itu adalah Lingkaran Pembalik Waktu. Jika Anda menyentuh esensi itu tanpa persiapan, jiwa Anda yang sekarang bisa tertelan oleh jiwa Anda yang seribu tahun lalu."
He Xueyi berhenti, matanya menyipit mempelajari pola energi di lantai. "Logika yang masuk akal. Jiwa yang sekarang sudah 'tercemar' oleh rasa lapar, haus, dan emosi manusia. Sedangkan esensi di sana adalah kemurnian yang statis. Pertemuan keduanya bisa menyebabkan ledakan esensi."
Tiba-tiba, bola cahaya itu bergetar dan membentuk bayangan seorang wanita. Wajahnya persis seperti He Xueyi, namun matanya memancarkan kesucian yang dingin, tanpa sedikit pun kerutan lelah atau lapar. Itu adalah He Xueyi Sang Putri Bangsawan.
"Siapa kau yang berani mengklaim esensi ini?" suara bayangan itu bergema, sangat merdu namun tanpa nyawa. "Kau berbau tanah, berbau keringat, dan... berbau daging kelinci panggang. Kau terlalu kotor untuk menjadi bagian dariku."
He Xueyi terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil—tawa yang kali ini benar-benar terdengar manusiawi. "Kotor? Secara logika, aku jauh lebih 'nyata' darimu. Kau hanyalah memori yang tersimpan di dalam botol giok. Kau tidak tahu rasanya kedinginan sampai gigimu gemeretak, atau rasanya jantung yang berdebar kencang saat melihat orang yang kau percayai berdiri di belakangmu."
He Xueyi menoleh sedikit ke arah Bian Zhi, lalu kembali menatap bayangannya.
"Kau ingin aku kembali menjadi 'suci'?" He Xueyi melangkah masuk ke dalam lingkaran energi, mengabaikan peringatan Bian Zhi. "Aku menolak. Aku tidak butuh kesucian yang beku. Aku butuh esensi ini hanya untuk memastikan jantungku tetap berdetak, agar aku bisa terus merasakan rasa lapar yang menyebalkan itu setiap pagi."
Bayangan itu murka. Ia melepaskan gelombang energi suci yang sangat kuat untuk mengusir He Xueyi. Namun, He Xueyi tidak melawan dengan sihir. Ia justru membuka pertahanannya sepenuhnya.
"Masuklah," bisik He Xueyi. "Rasakan bagaimana rasanya hidup kembali. Rasakan lelahnya perjalanan ini, dan rasakan hangatnya api unggun yang dibuatkan asistenku. Jika kau masih merasa aku kotor, maka hancurkanlah aku dari dalam."
Bola cahaya itu menerjang masuk ke dada He Xueyi.
BZZZZZTTT!
Seluruh ruangan bersinar putih menyilaukan. He Xueyi berlutut, mencengkeram dadanya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah seluruh pembuluh darahnya dipaksa melebar dalam sekejap. Keringat dingin mengucur di dahinya.
Bian Zhi ingin berlari menolong, tapi tekanan energi di ruangan itu membuatnya terpaku di tempat. Xiao Bo hanya bisa menutup matanya sambil menangis kecil.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, cahaya itu meredup. He Xueyi masih berlutut, napasnya tersengal-sengal. Namun, saat ia mendongak, ada sesuatu yang berbeda. Kulitnya kini benar-benar hangat. Pipinya kemerahan secara alami. Dan saat ia bernapas, dadanya naik turun dengan sangat stabil.
"Tuan?" Bian Zhi mendekat dengan sangat hati-hati.
He Xueyi berdiri dengan perlahan. Ia merapikan jubahnya, lalu menatap tangannya. "Selesai. Esensi itu sudah menyatu. Logikanya sekarang sudah lengkap... aku tidak lagi meminjam nyawa. Nyawa ini milikku sepenuhnya."
Ia kemudian menoleh ke arah Bian Zhi, matanya berkilat penuh tekad. "Dan sekarang, setelah urusan jiwaku selesai, ada satu hal lagi yang mengganggu logikaku. Kenapa Sekte Matahari Merah bisa tahu lokasi tempat ini? Pasti ada pengkhianat di Istana Sembilan Kegelapan yang memberi tahu mereka."
"Jadi, kita kembali ke bawah, Tuan?" tanya Bian Zhi dengan senyum lega.
"Tidak hanya kembali," He Xueyi mengambil lenteranya yang kini bersinar emas murni. "Kita akan melakukan pembersihan besar-besaran. Tidak ada yang boleh mengganggu kedamaian lenteraku, apalagi saat aku baru saja mulai menikmati rasa makanan manusia."
Malam itu, mereka turun dari puncak gunung. He Xueyi bukan lagi mayat hidup yang dingin, tapi seorang wanita dengan kekuatan dewa dan jantung manusia. Petualangan barunya sebagai "Detektif Nyawa" baru saja dimulai.