Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tiran yang Turun Gunung
Napas Kirana tertahan di tenggorokan saat deru napas Adyatma yang masih terasa panas menyapu lekuk lehernya. Ancaman pria itu bukanlah sekadar gertakan kosong. Cengkeraman tangan Adyatma di pinggangnya mengunci tubuh Kirana bak borgol baja, sementara sepasang mata obsidian gelap itu menatapnya dengan intensitas yang bisa membuat wanita mana pun luluh lantak—atau mati ketakutan.
"Satu-satunya cara agar kontrak pernikahan kita berakhir... adalah jika kau atau aku, mati."
Kalimat itu menggantung di udara yang berbau ozone, berat dan mencekam. Namun, alih-alih gemetar atau memohon ampun, Kirana justru mengangkat wajahnya. Ia menatap balik tiran di hadapannya dengan sepasang mata yang tak kalah tajam. Di kehidupan sebelumnya, ia telah merasakan dinginnya kematian akibat pengkhianatan. Kini, kematian demi sebuah pembalasan dendam terdengar seperti harga yang sangat murah.
Sebuah senyum tipis, nyaris seperti seringai, mengembang di bibir merah Kirana. Tangannya yang sejak tadi menahan dada bidang Adyatma kini perlahan bergerak naik, mengusap rahang keras pria itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang terlalu berani bagi siapa pun yang mengenal sosok 'Dewa Kematian Bisnis' ini.
"Kalau begitu, Suamiku," bisik Kirana, suaranya mengalun pelan namun penuh racun yang memikat, "pastikan kau tidak mati sebelum aku selesai meratakan musuh-musuhku dengan tanah."
Keheningan kembali menyelimuti penthouse yang hancur itu selama beberapa detik. Urat-urat biru di tubuh Adyatma telah sepenuhnya memudar, digantikan oleh kulit pria dewasa yang kokoh dan penuh bekas luka samar. Aura naga yang mengerikan itu telah tertidur, ditenangkan oleh aroma magis Sandalwood yang memancar dari tubuh Kirana.
Tiba-tiba, dada Adyatma bergemuruh. Pria itu tertawa. Bukan tawa renyah, melainkan tawa berat dan serak yang menggema dari dasar dadanya, tawa dari seorang predator sejati yang baru saja menemukan mangsa paling menarik dalam hidupnya.
Ia melepaskan pinggang Kirana dengan gerakan tiba-tiba, membuat wanita itu harus melangkah mundur untuk menyeimbangkan diri. Adyatma berbalik, melangkah melewati serpihan kaca tanpa alas kaki, sama sekali tidak memedulikan pecahan tajam yang menggores telapak kakinya.
"Reno!" suara Adyatma menggelegar ke arah pintu yang sedari tadi terbuka.
Hanya dalam hitungan detik, seorang pria berkacamata dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi muncul dari balik pintu, menunduk hormat dengan ekspresi sedatar papan. Ia adalah asisten pribadi sekaligus tangan kanan Adyatma yang paling setia. Pandangan Reno sekilas menangkap sosok Kirana, dan meski kilat keterkejutan melintas di balik kacamatanya, ia segera menunduk kembali.
"Ya, Tuan Surya," jawab Reno cepat.
"Siapkan pakaian gantiku. Panggil tim kebersihan untuk membereskan kekacauan ini. Dan yang paling penting..." Adyatma menoleh ke arah Kirana, tatapannya menyapu wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki merahnya. "Siapkan draf perjanjian pernikahan dengan hak penuh aset dan kekebalan hukum untuk Nona Kirana Larasati. Siapkan juga pencatatan sipil. Aku ingin akta pernikahan itu terbit dan sah di mata hukum negara dalam waktu kurang dari satu jam."
Mata Reno melebar, namun ia mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Semuanya akan siap dalam tiga puluh menit."
Asisten itu menghilang secepat ia datang. Adyatma melangkah ke arah sebuah lemari pakaian yang menempel di dinding yang masih utuh, menarik kemeja hitam sutra dan mengenakannya dengan gerakan maskulin yang efisien. Sambil mengancingkan kemejanya, ia menatap Kirana yang masih berdiri tegak di tengah ruangan.
"Kutukanku telah stabil untuk sementara waktu berkat aromamu," ucap Adyatma dengan nada bisnisnya yang dingin dan kalkulatif. Sosok monster yang meronta kesakitan tadi telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh sang CEO tiran yang menguasai perekonomian Asia Tenggara. "Karena kita sudah mencapai kesepakatan, apa langkah pertamamu, Istriku? Siapa nyawa pertama yang ingin kau hancurkan hari ini?"
Kirana melirik jam tangan berhias berlian di pergelangan tangannya. Pukul 09:45 pagi.
Di ballroom Hotel Kempinski, konferensi pers pertunangannya dijadwalkan mulai pukul sepuluh tepat. Keluarganya pasti sedang dilanda kepanikan luar biasa sekarang karena sang bintang utama melarikan diri. Mereka pasti sedang menyusun kebohongan di depan para wartawan untuk menyelamatkan muka perusahaan.
"Aku harus menghentikan sebuah lelucon konyol," jawab Kirana dingin. Matanya menyipit saat membayangkan wajah Bagas. "Hari ini, keluargaku mengundang seluruh media bisnis nasional untuk mengumumkan pertunanganku dengan seorang lintah darat. Aku butuh tumpangan ke Hotel Kempinski sekarang juga, dan mungkin... sedikit bantuan dari kekuatan Surya Corp untuk membungkam mulut mereka selamanya."
Adyatma selesai mengancingkan mansetnya. Ia menatap Kirana, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk seringai arogan.
"Hanya itu? Kau merendahkan nilaiku, Kirana," cemooh Adyatma pelan. Pria itu melangkah mendekat, auranya memancarkan dominasi yang tak terbantahkan. "Jika kau meminjam namaku, kau tidak bermain di kelas 'membungkam' mulut. Kau bermain di kelas 'menghancurkan' hidup mereka."
Adyatma mengulurkan lengannya. "Mari, Nyonya Surya. Mari kita tunjukkan pada serangga-serangga itu apa yang terjadi jika mereka berani menyentuh milik Sang Naga."
Di tempat lain, suasana di Grand Ballroom Hotel Kempinski terasa sangat mencekik bagi keluarga Herman.
Ruangan mewah berkapasitas seribu orang itu telah dipenuhi oleh lautan wartawan, fotografer, dan jajaran direksi pemegang saham Nusantara Group. Kilat lampu kamera (flash) menyambar-nyambar seperti badai kilat, menyorot ke arah panggung utama yang dihiasi bunga-bunga mawar putih impor.
Namun, kursi utama di tengah panggung itu masih kosong melompong.
Herman duduk di salah satu kursi dengan wajah merah padam. Keringat dingin terus mengucur di pelipisnya meski pendingin ruangan bersuhu enam belas derajat. Di sebelahnya, Sari meremas tas Hermès-nya hingga kulit tas itu nyaris robek, berusaha mempertahankan senyum palsunya di depan kamera.
Bagas berdiri di sudut belakang panggung, terus-menerus melihat jam tangannya dengan panik. Ia menggigit kuku jarinya, kebiasaan buruk yang selalu muncul saat ia tertekan. Riana berdiri di dekatnya, wajahnya sepucat mayat. Tamparan Kirana tadi pagi bukan hanya meninggalkan bekas fisik, tapi juga meruntuhkan rasa amannya.
"Di mana dia?!" desis Herman pada asistennya. "Kalian tidak bisa melacak GPS ponselnya?!"
"Maaf, Pak Herman. Ponsel Nona Kirana sengaja ditinggalkan di kamarnya. Para penjaga keamanan rumah juga mengatakan Nona mengendarai mobilnya sendiri dan menerobos gerbang," lapor asisten itu dengan suara bergetar ketakutan.
Herman memejamkan matanya, menahan amarah yang rasanya bisa meledakkan pembuluh darah di otaknya. Berita hilangnya ahli waris Nusantara Group di hari pertunangannya akan membuat saham perusahaan anjlok tajam hari ini juga.
Seorang reporter senior dari stasiun TV berita ekonomi bangkit berdiri, menyodorkan mikrofonnya. "Pak Herman, ini sudah lewat lima belas menit dari jadwal. Apakah rumor yang beredar di kalangan staf benar bahwa Nona Kirana menolak pertunangan ini karena ada masalah internal di manajemen yang melibatkan Saudara Bagas?"
Pertanyaan tajam itu memicu keributan.
Para wartawan lain mulai melontarkan pertanyaan yang sama berbahayanya.
Herman berdiri, memaksakan tawa yang sangat canggung. "Haha, tolong tenang, rekan-rekan media. Itu hanya rumor tidak berdasar. Putri saya, Kirana, sedang dalam perjalanan. Ada sedikit masalah gaun dan kemacetan ibu kota yang..."
BRAAAK!
Pintu kayu jati ganda raksasa di bagian belakang ballroom itu tiba-tiba ditendang terbuka dengan kekuatan brutal, menghasilkan suara dentuman yang menghentikan detak jantung semua orang di ruangan itu.
Keheningan yang mematikan seketika menyergap ballroom. Ratusan kepala menoleh serentak ke arah pintu.
Di sana, berdiri Kirana Larasati.
Ia tidak mengenakan gaun putih suci yang disiapkan keluarganya. Ia mengenakan gaun merah marun yang menyala, berdiri tegak dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura seorang dewi perang yang siap membantai musuhnya. Kilatan lampu kamera otomatis terarah padanya, membidik sosoknya yang memukau namun mengintimidasi.
Namun, bukan Kirana yang membuat napas seluruh orang di ruangan itu tercekat. Bukan Kirana yang membuat ayah kandungnya seketika kehilangan warna di wajahnya, atau membuat Bagas mundur selangkah dengan kaki gemetar.
Melainkan sosok pria menjulang yang berdiri tepat di belakang Kirana.
Pria itu mengenakan kemeja sutra hitam pekat, celana bahan senada, dan mantel panjang berkerah yang disampirkan di pundaknya. Wajahnya dipahat dengan ketampanan yang sangat dingin, sepasang mata obsidian-nya menatap seluruh orang di ruangan itu layaknya sekumpulan semut yang siap ia injak. Di belakang pria itu, berbaris dua belas pengawal elit berseragam hitam dengan senjata api menyembul dari balik jas mereka.
Itu adalah Adyatma Surya. Sang Dewa Kematian. Tiran dari Surya Corp.
"A-Adyatma Surya?!" bisik salah satu direktur senior Nusantara Group, suaranya parau karena ketakutan yang instingtif. "Apa yang dilakukan monster itu di sini?!"
Seluruh wartawan yang awalnya cerewet kini membeku. Tidak ada yang berani menekan tombol shutter kamera.
Mengambil foto Adyatma Surya tanpa izin sama saja dengan menandatangani surat kematian karir mereka, atau bahkan nyawa mereka.
Herman merasa kakinya berubah menjadi jeli. Ia memegang ujung meja agar tidak pingsan. Mengapa putri sulungnya yang selalu ia anggap lemah dan penurut bisa datang bersama makhluk paling berbahaya di Asia Tenggara?
Dengan langkah anggun dan terukur, Kirana berjalan membelah kerumunan. Para wartawan dan jajaran direksi otomatis membelah jalan untuknya, mundur ketakutan saat aura dingin Adyatma menyapu mereka seiring langkah pria itu yang mengekor tepat di belakang Kirana.
Setibanya di depan panggung, Kirana tidak repot-repot menaiki tangga. Ia menatap ayah, ibu tiri, dan Bagas dari bawah dengan sorot mata merendahkan.
"Maafkan keterlambatanku, semuanya," ucap Kirana, suaranya memantul jelas di ballroom yang sunyi senyap itu melalui mikrofon yang disodorkan seorang wartawan yang gemetar. "Aku harus mengurus dokumen yang sangat penting pagi ini."
Bagas memaksakan diri maju, suaranya bergetar hebat. "R-Rana... Sayang... syukurlah kau datang. Ayo naik ke panggung. Kita jelaskan pada mereka..."
"Jangan memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu, Bagas," potong Kirana tajam, menghentikan langkah pria itu seketika. "Aku tidak datang ke sini untuk bertunangan denganmu."
Bisik-bisik kaget mulai terdengar di antara wartawan, namun langsung mati saat Adyatma melirik tajam ke arah mereka.
Kirana menatap seluruh kamera yang menyala. "Kepada seluruh jajaran direksi Nusantara Group dan media nasional yang hadir, saya, Kirana Larasati, secara resmi membatalkan seluruh rencana pertunangan konyol ini. Saya tidak akan pernah sudi menikahi Saudara Bagas Pramoedya. Pria ini bukan saja tidak memiliki kapasitas untuk memimpin, tetapi ia juga telah menyalahgunakan wewenangnya dan menggelapkan dana operasional perusahaan selama dua tahun terakhir."
Seketika, ruangan itu meledak dalam keributan tertahan. Bagas membelalak ngeri, wajahnya seputih kertas. "I-itu fitnah! Rana, kau gila! Ayah, katakan sesuatu!"
Herman yang panik mencoba mengambil alih. "Matikan kamera! Matikan! Kirana, hentikan omong kosong ini! Kau sedang tidak sehat! Siapa yang mengizinkanmu mencoreng nama baik keluarga dan perusahaan kita sendiri?!"
"Perusahaan kita?" Kirana mendengus remeh. Ia merogoh tas kecilnya dan melemparkan sebuah map kulit hitam tebal tepat ke wajah Herman. Map itu berisi dokumen dengan segel lilin merah dari notaris tingkat tinggi. "Bacalah dengan saksama, Ayah."
Herman menangkap map itu dengan tangan gemetar. Saat matanya membaca baris demi baris dokumen tersebut, matanya nyaris keluar dari sarangnya. Itu bukan draf pertunangan.
Itu adalah Akta Pernikahan yang telah disahkan oleh negara.
Nama Pihak Pertama: Adyatma Surya.
Nama Pihak Kedua: Kirana Larasati.
Dan di bawahnya, terlampir surat kuasa perpindahan hak milik. Berdasarkan wasiat kakeknya, karena Kirana telah resmi menikah, maka 60% saham mutlak Nusantara Group yang selama ini ditahan oleh perwalian ayahnya, kini resmi dan secara hukum jatuh ke tangan Kirana Larasati sepenuhnya.
"T-tidak mungkin..." Herman bergumam lemah, kertas itu merosot dari tangannya.
"Kau... kau menikah dengan..."
Kirana tersenyum, sebuah senyuman kejam yang membuat Riana di sudut panggung menangis ketakutan tanpa suara. Kirana berbalik sedikit, menyandarkan punggungnya ke dada bidang Adyatma yang berdiri menjulang di belakangnya.
Tangan besar dan kuat Adyatma dengan protektif melingkari pinggang Kirana, sebuah klaim kepemilikan yang terlihat jelas oleh seluruh mata di ruangan tersebut.
"Rekan-rekan media," suara Kirana mengalun jernih dan penuh kemenangan. "Izinkan saya memperkenalkan alasan keterlambatan saya. Pagi ini, saya telah resmi mendaftarkan pernikahan saya. Suami saya, Tuan Adyatma Surya, dan saya... akan segera mengambil alih kendali penuh atas Nusantara Group mulai besok pagi."
Adyatma Surya menatap kerumunan yang membatu itu, lalu dengan suara berat yang menggetarkan lantai, ia menjatuhkan vonisnya.
"Dan sebagai hadiah pernikahan untuk istriku," ucap Adyatma dingin, menatap lurus ke arah Bagas yang kini telah jatuh berlutut di atas panggung, "Surya Corp secara resmi mendeklarasikan Saudara Bagas Pramoedya dan seluruh pihak yang melindunginya sebagai musuh bisnis. Siapa pun yang berani mempekerjakan, mendanai, atau membantunya keluar dari penjara akibat kasus penggelapan ini... akan berhadapan langsung denganku."
Kiamat baru saja turun di Hotel Kempinski. Dan Kirana, sang ratu pembalas dendam, berdiri anggun di atas puing-puing kehancuran musuhnya.
*** [Bersambung ke Bab 3...]