Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Bayangannya
"Sekarang aku tahu, dinginmu adalah perisai agar kau tak hancur. Kau membangun tembok berduri bukan untuk melukai orang lain, tapi untuk menyembunyikan lukamu sendiri. Mulai hari ini, biarkan aku menjadi bayangan yang merengkuh durimu, tanpa pernah memintamu untuk mekar." (Buku Harian Keyla, Halaman 27)
Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku membuka mata, menatap langit-langit kamarku yang bercat putih bersih, dan menyadari betapa hangatnya selimut tebal yang membalut tubuhku. Udara dari pendingin ruangan terasa sejuk, aroma lavender dari diffuser di sudut kamar menenangkan sarafku.
Dulu, aku menerima semua kenyamanan ini sebagai sesuatu yang wajar. Namun hari ini, setiap detik aku berada di kamar yang nyaman ini, dadaku didera rasa bersalah yang teramat sangat.
Di saat aku tidur nyenyak selama delapan jam, di sudut kota sana, ada seorang pemuda sebaya yang baru memejamkan mata selama dua jam setelah menghabiskan sisa malamnya mencuci setumpuk piring kotor di warung tenda. Di saat aku membuang sisa sarapanku karena bosan dengan menunya, laki-laki itu mungkin sedang menahan lapar demi menyisihkan beberapa lembar uang ribuan untuk menebus adik kecilnya dari panti asuhan.
Fakta tentang Nanda, tentang rentenir, dan tentang mendiang ibunya yang kudengar dari ruang guru kemarin sore, telah memutarbalikkan semestaku.
Aku bangkit dari tempat tidur dan menatap pantulan diriku di cermin. Mata bengkak sisa tangisan semalam masih terlihat jelas, tapi ada sorot ketegasan baru di sana. Aku bukan lagi Keyla yang cengeng karena tak disapa. Aku adalah Keyla yang kini mengerti bahwa mencintai Rendi berarti aku harus menanggalkan segala egoku.
Selesai bersiap, aku meminta Pak Anton, sopirku, untuk berangkat jauh lebih awal hari ini. Aku memintanya untuk mampir ke sebuah minimarket yang berjarak sekitar satu kilometer dari sekolah.
"Non Keyla mau beli apa pagi-pagi begini? Kan di rumah sudah sarapan," tanya Pak Anton heran saat memarkirkan mobil di depan minimarket yang baru saja buka.
"Ada yang kelupaan buat bekal sekolah, Pak," jawabku singkat.
Aku turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam minimarket. Udara dingin menyapaku. Kakiku langsung melangkah menuju lemari pendingin di sudut ruangan. Pandanganku menyapu deretan minuman, hingga mataku tertuju pada deretan susu kotak.
Aku teringat perkataan Pak Budi: Dia menahan lapar dengan hanya minum air putih gratis dari kantin.
Tanganku terulur, mengambil sebuah susu kotak berukuran sedang dengan rasa cokelat, yang kaya akan kalsium dan vitamin. Aku juga mengambil dua potong roti gandum berisi selai kacang yang padat gizi. Saat membayar di kasir, aku menatap barang-barang itu. Ini bukan cokelat impor mahal seperti yang ditawarkan Deandra. Ini hanya susu dan roti seharga belasan ribu rupiah. Sesuatu yang sangat sederhana, namun kuharap bisa memberikan sedikit energi bagi tubuhnya yang selalu kelelahan.
Sesampainya di sekolah, jam baru menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Koridor masih sangat sepi, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang menyapu halaman. Langit pagi masih berwarna kebiruan, diselimuti kabut tipis.
Aku berjalan cepat menuju kelas XII-IPA 1. Jantungku berdebar sangat kencang, persis seperti seorang pencuri yang takut ketahuan. Aku membuka pintu kelas perlahan. Kosong. Belum ada satu pun siswa yang datang. Suasana kelas masih sedikit remang karena lampu belum dinyalakan.
Aku melangkah masuk, membiarkan pintu sedikit terbuka agar aku bisa mendengar jika ada langkah kaki yang mendekat. Aku berjalan lurus menuju barisan ketiga dari kanan, ke meja paling belakang.
Meja Rendi.
Aku berdiri di depan mejanya. Meja kayu itu permukaannya sudah banyak yang terkelupas, penuh coretan tipe-x dari siswa angkatan sebelumnya. Kursinya ditarik asal. Entah mengapa, berdiri di dekat area teritorialnya saja membuat hawa dingin sekaligus hangat merayap di tengkukku.
Dengan tangan sedikit gemetar, aku mengeluarkan sekotak susu cokelat yang permukaannya berembun karena dingin, beserta satu bungkus roti gandum. Aku meletakkannya tepat di tengah-tengah mejanya.
Awalnya, aku berniat menyelipkan secarik sticky note berisi kata-kata penyemangat. Aku sudah menyiapkan kertas itu di sakuku. Namun, tanganku terhenti di udara. Aku teringat bagaimana marahnya ia saat aku memberinya pulpen, bagaimana ia menganggap semua bentuk perhatian sebagai belas kasihan yang menghina harga dirinya.
Jika aku menulis surat tanpa nama, ia akan merasa sedang diawasi. Jika aku menaruh namaku, ia akan langsung membuangnya ke tempat sampah. Rendi benci dikasihani.
Maka, aku memasukkan kembali sticky note itu ke dalam sakuku. Tidak perlu ada pesan. Tidak perlu ada nama. Biarkan ia mengira ini adalah pembagian dari sekolah, atau barang tertinggal milik siapa pun. Yang penting, benda ini masuk ke dalam perutnya.
Aku membersihkan sisa embun dari susu itu yang menetes ke mejanya dengan lengan seragamku, merapikan letak roti itu, lalu bergegas mundur. Aku duduk di bangkuku sendiri, tepat di depannya.
Jantungku masih bertalu-talu. Tanganku terasa dingin. Ada rasa puas yang luar biasa meresap ke dalam hatiku. Mencintainya dalam diam, menjadi bayangannya, ternyata membawa kedamaian yang tak pernah kurasakan saat aku menuntut perhatiannya.
Setengah jam kemudian, kelas mulai ramai. Lidya datang lebih dulu, langsung merebahkan kepalanya di atas meja karena mengantuk. Bella menyusul dengan suara melengkingnya yang membicarakan drama seri yang ia tonton semalam.
Terakhir, Siska masuk dengan langkah anggunnya. Seperti biasa, ia terlihat sempurna. Rambutnya disisir rapi, kacamatanya bersih mengkilat. Saat ia berjalan melewati mejaku untuk menuju bangkunya di depan, langkahnya sedikit melambat. Matanya yang tajam di balik lensa melirik sekilas ke arah meja di belakangku, menatap susu kotak dan roti gandum itu.
Siska terdiam sejenak. Ia lalu menoleh padaku. Sorot matanya langsung memindai ekspresiku.
"Pagi, Key," sapanya lembut, menarik kursi di sampingku dan duduk menghadapku. "Tumben kamu datang pagi banget. Tadi aku lihat mobil papamu udah pergi dari jam enam lewat dua puluh."
"Iya, Sis. Tadi pagi jalanan lancar banget, nggak ada macet, makanya sampai kepagian," jawabku senatural mungkin, mencoba menyembunyikan kegugupan.
Mata Siska melirik lagi ke belakang, lalu kembali menatapku. Senyum simpulnya mengembang. "Oh ya? Terus... kamu tau nggak itu ada susu sama roti di meja Rendi dari siapa? Apa ada anak kelas lain yang diam-diam naksir dia juga?"
Pertanyaan Siska diucapkan dengan nada santai, seolah ia hanya sedang bergosip, tapi aku tahu ada jaring perangkap di dalam kalimatnya. Ia sedang mengujiku.
Aku menelan ludah, memasang raut wajah tidak peduli. "Masa sih? Aku nggak perhatiin, Sis. Mungkin punya anak shift siang kemarin yang ketinggalan."
"Oh, masa sih ada yang ketinggalan makanan utuh begitu?" Siska terkikik pelan, tangannya terulur merapikan letak pita di kerah seragamku. "Aku kira itu dari kamu. Kan kamu suka banget merhatiin dia. Tapi bagus deh kalau bukan. Berarti kamu udah mulai sadar kan, kalau ngasih barang ke cowok yang nggak tau terima kasih itu perbuatan sia-sia."
Aku membalas senyum Siska, meski kali ini senyumku terasa sangat kaku. Siska selalu punya cara untuk menyuntikkan racun di setiap kalimatnya. Ia berusaha menanamkan mindset bahwa Rendi tidak pantas untukku. Dulu, mungkin aku akan goyah. Tapi sekarang, mengetahui beban seberat apa yang Rendi tanggung, manipulasi halus Siska terasa begitu dangkal.
"Iya, Sis. Aku nggak ngasih apa-apa kok," tegasku berbohong demi melindungi rahasiaku.
Tepat saat itu, langkah kaki yang berat dan ritmis terdengar memasuki kelas. Obrolan Bella seketika terhenti. Lidya mengangkat kepalanya. Siska memutar tubuhnya menghadap ke depan.
Rendi datang.
Aku menahan napasku. Kualihkan pandanganku ke buku catatan kosong di depanku, tapi ekor mataku mengunci setiap gerak-geriknya.
Ia berjalan menunduk seperti biasa. Wajahnya sama lelahnya dengan kemarin. Tas ransel usangnya tampak semakin kempes, entah apa isinya. Begitu ia sampai di kursinya dan hendak menurunkan ransel dari bahunya, gerakannya terhenti.
Tubuh tingginya membeku. Matanya yang tajam dan lelah menatap lurus ke atas mejanya.
Susu kotak dan roti gandum itu tergeletak manis di sana.
Dari pantulan kaca jendela kelas di sampingku, aku bisa melihat ekspresinya. Keningnya berkerut dalam. Alisnya bertaut. Mata elangnya langsung menyapu ke seluruh penjuru kelas, mencari tahu siapa yang sedang menjahilinya atau menaruh barang ini di mejanya.
Tatapan itu penuh dengan kecurigaan. Ia menatap ke arah sekelompok anak laki-laki di sudut sana, lalu beralih menatap punggung Lidya dan Bella, dan sempat terhenti sejenak di punggungku. Aku pura-pura sibuk menulis tanggal di sudut buku catatanku, menahan tubuhku agar tidak gemetar.
Setelah memastikan tidak ada satu pun orang di kelas yang memperhatikannya atau menertawakannya, Rendi kembali menunduk menatap makanan itu.
Ia tidak langsung mengambilnya. Ia terdiam cukup lama. Ada pertarungan hebat yang tergambar jelas di rahangnya yang mengeras. Harga dirinya menjerit, menolak untuk menerima pemberian tanpa nama yang mungkin merupakan bentuk belas kasihan. Tapi tubuhnya... tubuhnya yang kekurangan gizi itu mungkin berteriak kelaparan.
Tangannya perlahan terulur. Ia menyentuh pinggiran kotak susu itu dengan ujung jarinya. Masih dingin. Berarti makanan ini baru saja diletakkan, bukan barang sisa hari kemarin.
Aku berdoa dalam hati. Tolong, Rendi. Kumohon jangan dibuang. Makanlah. Jangan siksa dirimu sendiri hari ini.
Perlahan, Rendi mengambil susu dan roti itu. Namun, harapanku agar ia memakannya di tempat harus pupus. Ia tidak membuka sedotannya. Ia tidak merobek bungkus rotinya.
Dengan gerakan cepat dan sembunyi-sembunyi, ia membuka ritsleting tas ranselnya yang berkarat, lalu memasukkan susu dan roti itu ke dalamnya. Ia menutup tasnya, memeluknya di dada, dan kembali membenamkan wajahnya di lipatan lengannya, tertidur.
Aku menghela napas pelan. Kelegaan dan rasa sakit mengalir bersamaan di pembuluh darahku.
Ia tidak membuangnya. Itu adalah sebuah kemenangan kecil. Namun, fakta bahwa ia menyimpannya di dalam tas, membuatku teringat akan sebuah nama: Nanda. Apakah ia kelaparan, namun memilih untuk membawa pulang susu berkalori tinggi itu agar adiknya di panti asuhan bisa meminumnya nanti sore?
Mataku memanas. Aku buru-buru mengedipkannya berkali-kali. Betapa mulianya hati laki-laki di belakangku ini. Dinding esnya ternyata menyembunyikan hati yang lebih hangat dari mentari.
"Kau menyembunyikan makanan itu seperti pencuri yang ketakutan. Bukan takut ketahuan mencuri, melainkan takut harga dirimu tergores karena harus menerima sedekah. Maafkan aku, Rendi. Aku berjanji, tanganku tidak akan pernah menuntut pengakuan atas apa yang kuberikan padamu." (Buku Harian Keyla, Halaman 28)
Jam pelajaran pertama dimulai. Bu Endang masuk untuk mengajar Fisika. Selama dua jam ke depan, suasana kelas hening oleh derit spidol di papan tulis.
Seperti biasa, Rendi hanya diam. Ia sesekali mendongak untuk mencatat, lalu kembali menunduk. Tidak ada energi untuk berinteraksi dengan dunia luar.
Saat jam pelajaran Bu Endang hampir selesai, beliau mengumumkan tugas latihan yang baru saja kami kerjakan harus dikumpulkan secara berantai dari meja belakang ke depan.
"Anak-anak, tolong kumpulkan lembar jawaban kalian, oper dari belakang ke depan, lalu letakkan di meja Ibu," instruksi Bu Endang.
Suara kertas yang berpindah tangan mulai terdengar. Ini adalah rutinitas biasa. Biasanya, jika lembar jawaban dikumpulkan dari belakang, Rendi hanya akan melemparkan kertasnya ke mejaku, atau menyodorkannya secara kasar hingga kertas itu mendarat tepat di sikuku tanpa ia perlu mengeluarkan suara. Dan biasanya, aku akan merespons dengan senyum canggung yang kembali tak terbalas.
Tapi hari ini berbeda. Hari ini, mataku telah terbuka.
Aku merasakan ujung kertas menyentuh punggung lenganku. Rendi menyodorkannya dari belakang.
Alih-alih langsung menariknya dengan terburu-buru atau memaksakan senyum menuntut seperti biasanya, aku memutar tubuhku perlahan setengah badan. Aku tidak menatapnya dengan pandangan memuja seperti gadis yang sedang dimabuk cinta.
Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat tenang, sangat lembut, dan penuh pemahaman.
Aku mengangkat tanganku, mengambil kertasnya dengan gerakan pelan agar jari kami tidak bersentuhan—karena aku tahu ia tidak suka kontak fisik.
"Sini, biar aku kumpulin," ucapku. Suaraku tidak lebih dari sebuah bisikan, seringan embusan kapas, tanpa intonasi riang yang biasa kubuat-buat. Suaraku hanya mengalun lembut, memancarkan kedamaian.
Rendi, yang tadinya menunduk, perlahan mengangkat wajahnya. Ia mungkin terkejut mendengar nada suaraku yang berbeda. Tak ada lagi nada paksaan agar ia menjawab. Tak ada lagi senyum canggung yang mengharapkan balasan.
Mata kami bertemu.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk saat melihat jurang kosong di matanya. Aku membiarkan mataku menjadi telaga yang memantulkan ketenangannya. Aku membiarkan diriku menatap lelah di wajahnya tanpa memberikan tatapan kasihan. Aku hanya menatapnya sebagai sesama manusia yang sedang berbagi ruang.
Satu detik. Dua detik.
Ada kebingungan yang melintas di pupil matanya yang gelap. Keningnya sedikit berkerut, seolah ia mencoba mencari tahu perubahan apa yang terjadi pada diriku. Ia mencari-cari tuntutan di mataku, tapi ia tidak menemukannya. Ia mencari-cari rasa iba yang memuakkan, tapi aku tak membiarkannya melihat itu. Aku telah mengubur rasa iba itu dalam-dalam dan mengubahnya menjadi rasa hormat.
Karena ia tidak menemukan ancaman apa pun di mataku, pertahanannya tanpa sadar sedikit mengendur. Sorot matanya yang tajam layaknya belati, untuk sepersekian detik, berubah menjadi sayu. Gurat kelelahan yang selalu ia tutupi dengan keangkuhan, kini terlihat begitu jelas, seolah ia tanpa sadar melepaskan topengnya di depanku, meski hanya sebentar.
Lalu, ia memutus pandangan kami. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, membuang muka. Namun gerakannya kali ini tidak kasar. Tidak ada raut merendahkan. Hanya sebuah gestur untuk menarik kembali dinding esnya karena ia merasa terlalu lama terekspos.
Aku tersenyum tipis—bukan senyum untuknya, melainkan untuk diriku sendiri. Kutarik kembali tubuhku menghadap depan, menyerahkan kertasnya dan kertasku pada Lidya yang duduk di depanku.
Interaksi itu sangat singkat. Tidak ada percakapan dramatis. Tidak ada sentuhan. Hanya perpindahan lembar kertas dan tatapan dua detik. Namun bagiku, itu adalah kemajuan yang luar biasa.
Aku telah berhasil mengirimkan sinyal padanya. Sinyal bahwa aku tidak akan lagi menyerbunya. Bahwa aku adalah tempat yang aman, sebuah bayangan yang tidak akan menuntut cahayanya.
Saat bel istirahat berbunyi, aku kembali menolak ajakan gengku untuk ke kantin dengan alasan aku membawa bekal.
"Sumpah lo aneh banget akhir-akhir ini, Key. Bekal apaan coba, tadi pagi kan lo nggak bawa tupperware," Lidya memicingkan matanya.
"Ada kok di tas," bohongku lancar. "Kalian duluan aja, nanti aku nyusul kalau udah habis."
Setelah mereka pergi, kelas perlahan kosong. Rendi pun berdiri dari kursinya. Ia mengeluarkan susu dan roti gandum itu dari dalam tasnya. Ia menggenggamnya, lalu berjalan keluar kelas melalui pintu belakang.
Alih-alih diam di kelas, aku bangkit dan mengikutinya diam-diam dari jarak jauh. Aku hanya ingin memastikan ia memakannya.
Rendi berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar, namun ia tidak berbelok ke arah kantin atau lapangan. Ia berjalan menuju ke belakang bangunan sekolah, melewati lorong sepi menuju gudang alat kebersihan yang jarang dilewati orang. Tempat yang sama di mana ia menolak Deandra.
Aku bersembunyi di balik pilar besar, mengintipnya dari kejauhan.
Rendi duduk di atas tumpukan bata merah tua di bawah pohon rindang di belakang gudang. Tempat itu sangat sunyi, tersembunyi dari pandangan siapa pun.
Di sana, dalam kesendiriannya, ia perlahan membuka bungkus roti gandum itu. Tangannya bergerak cepat, seolah ia sudah menahan lapar sedari kemarin. Ia menggigit roti itu, mengunyahnya dengan rahang yang mengeras. Setelah separuh roti habis, ia menusuk kotak susu cokelat itu dan meminumnya perlahan.
Melihatnya makan dengan lahap, air mataku yang sedari tadi kutahan akhirnya menitik satu per satu. Tanganku meremas pilar beton dengan kuat. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadaku, menenggelamkan segala rasa lelah dan sakit hati yang sempat kurasakan berminggu-minggu ini.
Ia memakannya. Ia tidak membawanya pulang, ia memakannya untuk dirinya sendiri. Mungkin susu itu memberikan sedikit kehangatan di perutnya. Mungkin roti gandum itu memberinya sedikit tenaga untuk memikul beban dunianya malam ini. Dan fakta bahwa energi yang kini mengalir di tubuhnya berasal dari sesuatu yang kuberikan secara diam-diam, membuatku merasa begitu dekat dengannya, meski ragaku tak pernah menyentuhnya.
"Aku tidak butuh kau tahu namaku di balik makanan itu. Aku tidak butuh ucapan terima kasihmu. Melihatmu berhenti kelaparan sedetik saja, adalah hadiah terindah yang tak bisa dibeli oleh dunia." (Buku Harian Keyla, Halaman 29)
Aku memundurkan langkahku, membiarkannya menikmati makan siangnya yang damai. Aku berbalik dan berjalan kembali menuju kelas dengan senyum kelegaan yang mengembang di bibirku.
Mulai hari ini, aku tahu persis apa peranku dalam kisah yang menyedihkan ini. Aku akan terus membeli susu dan roti setiap pagi. Aku akan terus meletakkannya di mejanya dalam gelap. Aku akan mengurangi intensitas sapaanku, dan menggantinya dengan tatapan yang tenang agar ia tak merasa terancam.
Aku akan mencintainya dalam diam, tanpa suara, tanpa wujud. Aku akan menjadi bayangannya. Dan semoga, suatu hari nanti, ketika ia menoleh ke arah kegelapan, ia akan menyadari bahwa bayangan inilah yang selama ini berusaha melindunginya dari terik matahari.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik