"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Hari-hari setelah arisan keluarga besar menjadi babak baru bagi kehidupan di kediaman Satrya. Calista tidak lagi tampak seperti wanita yang hanya menumpang lewat ia benar-benar bertransformasi menjadi representasi kemewahan yang hidup. Penampilannya kian hari kian bersinar, memancarkan aura nyonya besar yang sulit dibantah. Pagi ini saja, ia menuruni tangga dengan gaun midi sutra berwarna zamrud yang memeluk lekuk tubuhnya dengan anggun, ditambah dengan seuntai kalung berlian simpel namun berharga fantastis yang berkilau di leher jenjangnya.
Setiap langkah Calista diiringi denting halus dari gelang-gelang emas putih di pergelangan tangannya. Aksesoris meriah itu bukan sekadar hiasan, melainkan pernyataan posisi. Denis seolah sengaja memanjakan istrinya dengan koleksi perhiasan terbaru, membuat Calista terlihat begitu kontras dengan Puput yang meski sudah memakai pakaian bermerek, entah mengapa terlihat hambar di samping sang kakak ipar. Kilau yang terpancar dari tubuh Calista seolah-olah menyedot seluruh cahaya di ruangan itu, membuat keberadaan Puput semakin tenggelam dalam bayang-bayang.
Puput duduk di meja makan sambil mengaduk sereal dengan wajah masam. Matanya tak lepas menatap jam tangan bertabur kristal milik Calista yang baru saja dibelikan Denis minggu lalu. Rasa iri itu sudah seperti api yang menyulut sekujur tubuhnya. Ia merasa sebagai adik kandung, dialah yang seharusnya lebih "berkilau" di rumah ini, bukan wanita yang asal-usulnya bahkan tidak ia ketahui itu. Baginya, setiap perhiasan baru yang menempel di tubuh Calista adalah penghinaan terhadap hak istimewanya sebagai putri keluarga Satrya.
Begitu Denis muncul dengan setelan jas rapi siap berangkat ke kantor, Puput langsung melancarkan aksinya. Ia bangkit dan mencegat Denis di depan pintu utama, memasang wajah semanis mungkin yang sebenarnya tampak dipaksakan.
"Mas Denis," panggil Puput dengan nada manja. "Mas, boleh minta uang tambahan tidak? Puput ingin beli tas edisi terbatas yang baru keluar. Teman-teman Puput di kampus semua sudah punya, masa adik seorang Denis Satrya ketinggalan zaman?"
Denis menghentikan langkahnya, melirik jam tangannya sejenak tanpa menatap Puput. "Bukannya jatah bulananmu sudah kukirim minggu lalu? Itu jumlah yang cukup untuk membeli tiga tas mahal sekalipun, Puput."
"Tapi Mas, itu kan sudah terpakai untuk perawatan kulit dan sepatu kemarin. Ayolah Mas, cuma sedikit lagi," rayu Puput sambil mencoba meraih lengan kakaknya.
Denis menarik napas panjang. Ia melirik Calista yang berdiri tak jauh dari mereka, sedang merapikan dasi Denis dengan gerakan yang begitu tenang dan elegan. Denis tersenyum tipis, lalu kembali menatap adiknya dengan tatapan dingin. Sejujurnya, Denis mulai lelah dengan sikap konsumtif Puput yang tidak memiliki batas, sementara Calista justru menunjukkan pengelolaan yang jauh lebih bermartabat atas apa yang ia miliki.
"Mulai sekarang, semua urusan keuangan rumah tangga dan pengeluaran pribadi anggota keluarga di rumah ini dikelola oleh Calista. Jika kau butuh uang lebih, mintalah padanya. Jika dia setuju, aku akan memberikannya. Jika tidak, maka tidak," ucap Denis tegas, sebuah keputusan yang menjatuhkan harga diri Puput di depan para pelayan yang sedang lewat.
Puput mematung. Wajahnya memerah padam antara marah dan malu. Ia harus meminta uang pada wanita yang paling ia benci? Wanita yang beberapa hari lalu baru saja menamparnya?
Dengan terpaksa, Puput menoleh pada Calista yang kini menatapnya dengan raut wajah datar, seolah sudah menunggu momen ini. "Cal... maksudku, Kak Calista. Aku butuh dana tambahan. Mas Denis bilang aku harus lewat kamu."
Calista tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan kegiatannya merapikan dasi Denis, memberikan kecupan kecil di pipi suaminya sebagai tanda pelepasan kerja, lalu berbalik menghadapi Puput. Calista sengaja membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik, membiarkan Puput merasakan beban dari permintaannya.
"Berapa yang kau butuhkan?" tanya Calista singkat.
"Dua ratus juta," jawab Puput cepat, berharap Calista akan terintimidasi dengan angka itu.
Calista justru tersenyum kecil, sebuah senyuman yang sangat meremehkan. "Dua ratus juta untuk sebuah tas? Sementara minggu lalu kau baru saja menghabiskan seratus lima puluh juta untuk hal yang tidak jelas? Maaf, Puput, tapi jawabannya adalah tidak. Aku sudah melihat laporan keuanganmu, dan menurutku kau sedang melakukan pemborosan yang tidak perlu."
"Apa?! Kau tidak berhak mengaturku! Ini uang Mas Denis, bukan uangmu!" teriak Puput histeris.
"Sekarang ini adalah uang keluarga Satrya yang dipercayakan padaku," balas Calista dengan nada yang sangat tenang namun penuh otoritas. "Selama kau masih tinggal di bawah atap ini dan menggunakan fasilitas dari suamiku, kau harus mengikuti aturanku. Belajarlah untuk menghargai nilai uang, Puput. Aku tidak akan mengeluarkan sepeser pun untuk kesenangan konyolmu itu. Jika kau ingin gaya hidup seperti itu, carilah sumber danamu sendiri."
Susi yang sejak tadi menguping dari balik pilar, segera menghampiri dan merangkul putrinya yang mulai menangis frustrasi. Susi menatap Calista dengan pandangan yang penuh kebencian. Hatinya mendidih melihat bagaimana orang luar seorang wanita yang statusnya masih mereka pertanyakan bisa memiliki kontrol sebesar itu atas aliran dana keluarga mereka.
"Kau sungguh keterlaluan, Calista. Puput itu adik kandung Denis. Berani-beraninya kau memperlakukannya seperti pengemis di rumahnya sendiri," desis Susi.
Calista hanya memperbaiki posisi anting berliannya di depan cermin besar di lobi. Pantulan dirinya menunjukkan seorang wanita yang tidak bisa lagi digoyahkan oleh gertakan murahan. "Aku tidak memperlakukannya seperti pengemis, Nyonya Susi. Aku hanya sedang mendidiknya agar tidak menjadi parasit yang tidak tahu diri. Jika Mas Denis memercayakan kunci brankas padaku, itu karena dia tahu aku tidak akan membiarkan uangnya terbuang sia-sia untuk orang-orang yang hanya tahu cara menghabiskan tanpa tahu cara menghargai."
Calista kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka, menuju mobil yang sudah menunggunya untuk pergi mengunjungi ibunya di rumah sakit. Kepergiannya yang anggun dengan perhiasan yang berkilau di bawah cahaya matahari pagi seolah menjadi duri yang semakin menusuk hati Susi dan Puput.
Susi dan Puput hanya bisa berdiri mematung di lobi yang megah itu. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena Denis secara terang-terangan memberikan kekuasaan penuh pada Calista. Rasa iri Puput kini telah bermutasi menjadi kebencian yang mendarah daging, sebuah obsesi untuk menghancurkan Calista berkeping-keping.
"Tenang, Puput," bisik Susi sambil mengelus bahu putrinya, namun matanya menatap tajam ke arah mobil Calista yang mulai menjauh. "Wanita itu boleh merasa menang sekarang. Tapi kita akan pastikan, kilau berlian yang dia pakai hari ini akan berubah menjadi belenggu yang menghancurkannya. Kita hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk merampas semuanya kembali."
Di dalam mobil, Calista menatap jalanan dengan pikiran yang fokus. Ia tahu kebencian Susi dan Puput kian memuncak, namun ia tidak peduli. Baginya, menjadi wanita tangguh berarti siap dibenci, asalkan ia tetap memegang kendali atas nasibnya sendiri dan keselamatan orang tuanya. Kilau di tubuhnya hari ini bukan sekadar perhiasan, melainkan tameng bagi perang yang baru saja dimulai. Ia tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak otoritas yang telah ia bangun dengan susah payah.