Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 2 - Patuhi Aku
Di dalam kamarnya Aluna berdiri cukup lama tanpa bergerak. Tatapan mama Sarah yang tajam masih melukai hatinya hingga sekarang, tatapan yang membuat Aluna semakin menyadari bahwa ia hanyalah orang asing di rumah ini. Padahal sungguh, Aluna telah sangat menyayangi mama Sarah dan papa Pieter sebagai kedua orang tuanya sendiri.
Tapi sayangnya perasaan tulus Aluna belum mampu menyentuh hati keduanya.
Gaun putih itu masih berada dalam genggaman Aluna, kainnya lembut dan jatuh dengan anggun, begitu indah hingga mata siapa pun yang melihatnya pasti akan terpukau. Namun di mata Aluna, gaun itu bukan sekadar pakaian melainkan sebuah beban yang perlahan menekan dadanya.
Aluna menatap gaun itu tanpa berkedip, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak berani ia ucapkan bahkan pada dirinya sendiri.
Pernikahan.
Kata itu terasa begitu asing dan menakutkan.
Selama ini hidupnya hanya berkutat pada satu hal, yaitu menjadi seperti Jesselyn. Ia tidak pernah diajarkan untuk memiliki keinginan sendiri, apalagi menentukan masa depan. Bahkan untuk hal kecil seperti memilih makanan atau pakaian saja, Aluna tidak memiliki hak.
Lalu bagaimana dengan pernikahan ini? Apa yang harus Aluna lakukan?
“Apakah dia bersedia menerimaku?” ucap Aluna lirih.
Nama itu kembali terngiang di kepalanya, Davion Harold.
Tubuh Aluna sedikit gemetar. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba membuncah di dalam dadanya.
“Apa aku boleh menjadi diriku sendiri dalam pernikahan ini?” gumamnya pelan, hampir seperti sebuah doa yang ia tahu tidak akan pernah dikabulkan.
Namun hanya beberapa detik.
Aluna perlahan menggelengkan kepalanya sendiri. Ekspresi yang awalnya penuh harap minu kembali berubah jadi dingin.
“Tidak, aku tidak boleh berharap.”
Karena Aluna tahu betul , sejak awal ia ada di rumah ini bukan karena dirinya adalah Aluna. Melainkan karena ia harus menggantikan Jesselyn.
Dan seorang pengganti tidak pernah memiliki hak untuk diinginkan.
Dengan gerakan perlahan Aluna akhirnya mengenakan gaun putih itu. Kainnya menyentuh kulitnya yang lembut, Aluna berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya sendiri.
Begitu malam semakin larut, kediaman keluarga Myles tampak lebih riuh dari biasanya. Lampu-lampu besar menyala terang, memantulkan kemewahan di setiap sudut ruangan.
Para pelayan bergerak cepat memastikan tidak ada satu pun yang terlewat dari persiapan malam ini. Bahkan kedua kakak Aluna pun pulang untuk menghadiri pertemuan tersebut.
Satu per satu mobil mewah mulai memasuki halaman rumah, keluarga Harold akhirnya tiba.
Di ruang tengah, Papa Pieter menyambut mereka dengan penuh kehormatan. Senyumnya lebar dan sikapnya hangat, mencerminkan betapa pentingnya pertemuan ini bagi dirinya.
“Selamat datang, Tuan Aston Harold. Kami merasa terhormat bisa menyambut Anda di sini,” ucapnya diiringi senyuman.
Aston Harold menerima penyambutan ini dengan tangan terbuka. Di sampingnya seorang wanita elegan tersenyum anggun, memancarkan kelas dan ketenangan yang sama, yaitu sang istri Ivana Harold.
Namun di antara mereka ada satu sosok yang langsung menarik perhatian semua orang. Seorang pria muda dengan postur tubuh tinggi dan tegap. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, matanya tajam, namun terlihat dingin.
Dialah Davion Harold.
"Ayo kita duduk, pelayan akan memanggil Aluna untuk turun," ucap mama Sarah pula.
Sementara itu di lantai atas, Aluna masih duduk di depan meja riasnya saat pintu kamar akhirnya terbuka, pelayan masuk dan langsung menunduk hormat padanya.
“Nona, keluarga Harold sudah tiba. Anda diminta untuk segera turun,” ucap pelayan itu dengan sopan.
Aluna mengangguk pelan. Terus menunjukkan ketenangan meskipun hatinya telah berantakan. Belum berdiri namun tangan Aluna sudah terasa dingin dan jantungnya berdetak lebih cepat.
Namun seperti yang selalu ia lakukan, Aluna tak boleh kalah dengan rasa takutnya sendiri. Aluna bangkit dan merapikan gaunnya, memastikan tidak ada satu pun lipatan yang salah, lalu menegakkan bahu dan segera keluar dari kamar ini.
Senyum tipis kembali ia bentuk di bibirnya, menciptakan kesan seolah malam ini bukan hanya spesial bagi kedua orang tuanya, tapi juga merupakan malam yang Aluna inginkan.
Langkahnya mulai bergerak menuju tangga besar. Setiap langkah yang Aluna ambil rasanya berat sekali, namun ia tetap berjalan dengan anggun seperti yang telah diajarkan kepadanya.
Saat ia mulai menuruni anak tangga, suara percakapan di ruang tengah perlahan mereda. Satu per satu orang mulai menoleh ke arahnya.
Dan dalam sekejap semua perhatian tertuju padanya.
Gaun putih yang ia kenakan membuatnya tampak begitu bersinar di bawah cahaya lampu. Rambutnya tertata rapi dan wajahnya cantik sekali dan senyumnya begitu menawan. Aluna tampak seperti seorang putri dari negeri dongeng.
Atau lebih tepatnya seperti Jesselyn.
Mama Sarah menatapnya dengan penuh bangga, sorot matanya merasa puas karena berhasil membesarkan Aluna dengan baik. Anak yang dia pungut di panti asuhan beberapa tahun lalu kini benar-benar memerankan Jesselyn dengan sangat baik.
Andai Jesselyn masih bersamanya sekarang, pasti Jesselyn akan tumbuh sempurna seperti Aluna.
Namun di antara semua tatapan itu ada satu tatapan yang terasa berbeda bagi Aluna, semua orang menyambut kedatangannya dengan senyum tapi pria itu terus menatapnya dingin.
Saat kaki Aluna mencapai anak tangga terakhir, tanpa sadar ia mengangkat pandangannya. Dan di saat itulah akhirnya tatapan mereka saling bertemu seperti garis lurus
Seseorang yang sangat Aluna yakini sebagai Davion Harold.
'Ya Tuhan,' batin Aluna lirih.
"Ini adalah putriku satu-satunya, Aluna Myles," ucap papa Pieter tak kalah bangga dengan mama Sarah.
"Cantik sekali, aku dengar Aluna belum lama ini memenangkan piano competition di Paris, dia sangat berbakat," sahut Ivana.
"Benar, cita-cita Aluna memang menjadi seorang pianis yang terkenal," jawab Sarah bohong, karena sebenarnya cita-cita itu adalah milik Jesselyn, bukan Aluna. "Dan sekarang dia sudah mencapainya."
"Cukup, sekarang ayo kita duduk dan membicarakan tentang perikanan," potong Pieter dan membuat semua orang di sana tertawa kecil, termasuk Aluna dan kecuali Davion.
Selama pembicaraan Aluna berulang kali mengangguk setuju, tiap hal yang mama Sarah ucapan Aluna pasti akan langsung mengiyakannya.
Bukannya terlihat sebagai anak yang patuh, Davion justru melihatnya lain. Di matanya gadis bernama Aluna sangat bodoh. Mereka semua tahu bahwa pernikahan ini hanyalah bentuk lain dari kata bisnis. Namun Aluna bersikap seolah semuanya karena cinta.
Dimatanya Aluna telihat seperti gadis bermuka dua.
Setelah pembicaraan keluarga selesai, kini Aluna dan Davion dibiarkan duduk bersama di ruang tengah tersebut, sementara keluarga yang lain mulai berpindah ke meja makan.
Aluna memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Davion yang dingin. Dengan suara gemetar dia bahkan memberanikan diri untuk bicara lebih dulu.
"Dav, kuharap pernikahan kita akan berjalan dengan baik," ucap Aluna.
Davion tersenyum miring, "Tentu saja, pernikahan kita akan berjalan dengan baik selama kamu tetap jadi gadis yang penurut. Patuhi aku seperti kamu mematuhi kedua orang tuamu."
gua yg merasa sama-sama perempuan keknya diperlakukan seperti ini hina bgt, atuhlah tor.. tega bgt buat karakter Luna ky gini ga ada jiwa struggle nya utk memberontak kek.. gua gigit jugaa bi sendal 😭😭🥶🥶🤫🤫
huh.. abidin katro tgl bilang aj aku ketagihan aroma mu syg.. 🤭🤭
Pengen nimpuk kepala Davion deh😡