Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: MEKARNYA BUNGA DI ATAS PARUT
Dua Tahun Kemudian...
Jakarta masih tetap sama; bising, tergesa-gesa, dan sering kali tak berbelas kasih. Namun bagi Larasati Hardianto, kota ini bukan lagi labirin gelap tempat ia bersembunyi di balik identitas palsu. Pagi ini, di puncak gedung pencakar langit yang kini resmi menyandang nama Hardianto Tower, Larasati berdiri menatap hamparan beton di bawahnya.
Ia mengenakan setelan blazer sutra berwarna putih gading yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang dulu sering ia ikat sederhana kini tertata anggun, membingkai wajahnya yang tampak jauh lebih tenang, meski guratan ketegasan tak bisa disembunyikan dari sepasang matanya. Dua tahun telah berlalu sejak ia memenangkan pertempuran hukum paling berdarah dalam sejarah korporasi tanah air.
"Bu Larasati, tamu dari konsorsium Singapura sudah menunggu di ruang VIP," suara Aditama, yang kini menjabat sebagai Direktur Operasional sekaligus tangan kanannya, memecah keheningan.
Larasati membalikkan badan. Ia tersenyum tipis—sebuah senyum yang kini memiliki wibawa, bukan lagi senyum sandiwara yang dulu ia gunakan untuk memikat Baskara. "Berikan aku waktu lima menit lagi, Adit. Aku hanya sedang menikmati udara pagi yang... terasa lebih bersih."
Aditama melangkah mendekat, menyandarkan punggungnya di bingkai pintu kayu jati yang mahal itu. "Kamu sudah melakukannya, Laras. Hardianto Group kembali ke puncak. Utang-utang lama yang ditinggalkan keluarga Pratama sudah lunas, dan nama ayahmu kini harum sebagai pejuang integritas. Kamu sudah bisa bernapas lega sekarang."
"Bernapas lega ya?" Larasati terkekeh getir. "Secara bisnis, mungkin iya. Tapi secara batin, rasanya seperti ada bagian dari diriku yang tertinggal di masa lalu. Bagian yang bernama Gendis."
Aditama terdiam sejenak. Ia tahu, meskipun Larasati telah mendapatkan kembali hartanya, ada kekosongan yang tak bisa diisi oleh angka-angka di laporan laba rugi. "Baskara... apa kamu pernah mendengar kabarnya?"
Pertanyaan itu membuat jari-jari Larasati yang sedang merapikan bros perak di dadanya sedikit bergetar. "Tidak. Dan aku rasa itu lebih baik. Dia memilih jalannya sendiri, dan aku memilih jalanku. Kami sudah sepakat bahwa luka di antara kami terlalu dalam untuk sekadar diobati dengan kata maaf."
"Dia tidak mengambil sepeser pun dari harta yang tersisa, Laras," Aditama mengingatkan. "Dia benar-benar memulai dari bawah. Terakhir aku dengar, dia menjadi mandor proyek di daerah pinggiran. Dia menjual mobil mewahnya dan hanya menyisakan apartemen kecil untuk Ibu Rahayu."
Larasati memalingkan wajah, kembali menatap jendela. "Cukup, Adit. Mari kita temui tamu kita."
Acara penandatanganan kerja sama itu berlangsung sukses. Namun, sepanjang rapat, pikiran Larasati melayang. Entah kenapa, aroma parfum maskulin salah satu kolega mengingatkannya pada aroma tubuh Baskara saat pria itu pulang kerja dulu—aroma yang dulu selalu membuatnya merasa aman sekaligus bersalah.
Sore harinya, Larasati memutuskan untuk membatalkan semua agenda makan malam. Ia ingin pulang ke tempat di mana semuanya dimulai. Bukan ke rumah mewah yang ia sita, melainkan ke pemakaman umum tempat ayahnya beristirahat.
Ia mengendarai mobilnya sendiri, tanpa supir, tanpa pengawalan. Ia ingin menjadi Larasati yang biasa, anak dari Hardianto yang sedang rindu pada ayahnya.
Sesampainya di pemakaman, matahari sudah mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang di antara barisan nisan. Larasati berjalan perlahan sambil membawa seikat bunga mawar putih dan melati segar. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu tumit tinggi menimbulkan suara berirama di atas jalan setapak yang sunyi.
Namun, saat ia hampir sampai di pusara ayahnya, langkahnya terhenti.
Seorang pria sedang berlutut di sana. Pria itu mengenakan kemeja biru tua yang sudah kusam dengan noda semen di bagian lengannya. Kulitnya tampak lebih gelap dan kasar, terbakar matahari lapangan. Ia sedang mencabuti rumput liar dengan tangannya sendiri, telaten dan penuh rasa hormat.
"Baskara?" bisik Larasati. Suaranya nyaris hilang ditelan angin sore.
Pria itu tersentak. Ia berdiri perlahan, membalikkan badannya. Mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Baskara tampak jauh lebih kurus, namun matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah Larasati lihat sebelumnya. Tidak ada lagi beban rahasia, tidak ada lagi kemarahan yang meluap-luap.
"Larasati..." suara Baskara terdengar berat namun lembut. Ia segera menyeka tangannya yang kotor ke celana jinsnya yang juga penuh debu. "Maaf, aku... aku hanya ingin merapikan makam Tuan Hardianto sebentar."
Larasati melangkah mendekat, meletakkan bunga yang ia bawa di atas nisan. Aroma melati segera menyeruak, bercampur dengan aroma tanah basah. "Kamu sering ke sini?"
Baskara mengangguk kecil. "Setiap minggu. Aku merasa ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk meminta maaf secara jujur. Aku tahu, maafku tidak akan mengubah masa lalu, tapi setidaknya aku ingin ayahmu tahu bahwa aku sedang berusaha menjadi pria yang lebih baik."
Larasati menatap nisan ayahnya, lalu beralih menatap tangan Baskara yang penuh luka kecil dan kapalan—tangan seorang pekerja keras. "Aditama bilang kamu sekarang menjadi mandor proyek."
Baskara tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus. "Hanya kontraktor kecil-kecilan, Laras. Membangun rumah-rumah sederhana untuk orang-orang yang membutuhkannya. Rasanya jauh lebih memuaskan daripada membangun gedung pencakar langit dengan uang yang bukan milik kita."
"Bagaimana kabar Ibu Rahayu?" tanya Larasati, suaranya sedikit melunak.
"Ibu sehat. Beliau sekarang sering mengajar mengaji di masjid dekat apartemen. Beliau... beliau selalu menanyakanmu, Laras. Tapi aku melarangnya untuk menghubungimu. Aku tidak ingin keberadaan kami terus-menerus menjadi pengingat akan luka yang kamu alami."
Larasati merasakan sesuatu yang menyesakkan di dadanya. Rasa benci yang dulu ia pelihara dengan sangat rapi kini seolah mencair, berubah menjadi rasa haru yang pedih. Ia teringat bagaimana Baskara dulu melindunginya dari serangan Maya di rumah sakit, meskipun saat itu ia baru saja membongkar semua kebusukan keluarga pria itu.
"Baskara..." Larasati menatap mata pria itu dalam-dalam. "Aku sudah memaafkanmu. Sebenarnya, aku sudah melakukannya sejak hari itu di kantor polisi."
Baskara tertegun. Matanya berkaca-kaca. "Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri, Laras. Aku membiarkanmu hidup dalam kepalsuan. Aku membiarkanmu menangis sendirian saat aku seharusnya menjadi pelindungmu."
"Kita berdua terjebak dalam siasat, Baskara. Kamu terjebak dalam siasat keluargamu, dan aku terjebak dalam siasat dendamku sendiri," ucap Larasati lembut. Ia memberanikan diri menyentuh lengan Baskara—lengan yang terasa keras dan berotot karena kerja fisik. "Luka itu sudah menjadi parut sekarang. Ia tidak lagi sakit, ia hanya menjadi tanda bahwa kita pernah selamat dari badai."
Baskara meraih tangan Larasati, menggenggamnya dengan jemarinya yang kasar. "Laras, aku tidak punya harta lagi. Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan padamu. Tapi jika kamu bersedia... aku ingin mengajakmu minum kopi sore ini. Bukan kopi di hotel mewah, tapi kopi di kedai pinggir jalan yang biasa aku kunjungi setelah pulang proyek."
Larasati menatap tangan mereka yang bertautan. Kontras antara kulitnya yang halus dan tangan Baskara yang kasar adalah simbol dari dua dunia mereka yang kini telah berubah posisi. Namun, di antara sentuhan itu, ada getaran yang masih sama.
"Aku merindukan kopi yang tidak terlalu manis, Baskara," jawab Larasati dengan senyum yang akhirnya mencapai matanya.
Baskara tertawa kecil, tawa yang terdengar lepas dan jujur. "Aku berjanji, kali ini tidak akan ada rahasia di dalam cangkir kopinya."
Mereka berjalan beriringan meninggalkan area pemakaman. Di belakang mereka, nisan Tuan Hardianto seolah menjadi saksi bisu atas kembalinya dua jiwa yang sempat hancur. Matahari terbenam di ufuk barat, memberikan cahaya jingga yang hangat di jalan setapak.
Di dalam mobil sederhana milik Baskara yang diparkir di luar gerbang, Larasati merasa lebih nyaman daripada saat ia duduk di kursi CEO-nya. Mereka bercerita banyak hal—tentang Maya yang kini berada di panti rehabilitasi, tentang Ibu Rahayu yang merindukan masakan Gendis, dan tentang mimpi-mimpi baru yang lebih sederhana namun lebih nyata.
Larasati menyadari satu hal: dendam mungkin memberinya kemenangan, tapi pengampunan memberinya kehidupan. Siasat manis istri kedua telah benar-benar berakhir, dan kini, ia siap memulai babak baru sebagai seorang wanita yang tidak lagi dibayangi masa lalu.
"Terima kasih sudah datang hari ini, Laras," bisik Baskara saat mereka sampai di depan kedai kopi kecil yang sederhana.
Larasati menatap pria itu, lalu menatap kerumunan orang di pinggir jalan yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Di sini, di tengah kesederhanaan ini, ia menemukan kembali jati dirinya yang hilang.
"Bukan aku yang datang, Baskara. Tapi takdir yang membawa kita kembali ke tempat yang seharusnya," jawab Larasati.