NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Yang Chen menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara apek ruangan itu.

Lalu, dia menekuk lututnya. Dia menurunkan tubuhnya perlahan ke dalam neraka cair itu.

Paha... pinggang... perut... dada...

Saat air mencapai dadanya, napasnya tercekat. Rasa panas itu menekan jantungnya, membuatnya berdetak tak beraturan. Empedu Ular mulai bekerja, mengirimkan sensasi dingin yang aneh, seolah-olah kulitnya dibekukan dan dibakar secara bersamaan. Rasa dingin itu mematikan rasa sakit di permukaan kulit, tapi justru memperjelas rasa sakit di bagian dalam—di tulang.

Akhirnya, dia duduk bersila di dasar tong. Air obat itu merendamnya sampai ke leher.

"AAARRGGHH!"

Teriakan itu tidak bisa ditahan lagi. Dia mendongakkan kepalanya, urat-urat lehernya menonjol keluar seperti kabel baja. Matanya membelalak merah, pembuluh darah di bola matanya pecah karena tekanan darah yang melonjak drastis.

Seluruh tubuhnya terasa seperti sedang dihancurkan oleh palu godam tak kasat mata.

Esensi Rumput Tulang Besi meresap masuk melalui pori-pori yang dibuka paksa oleh belerang. Esensi itu mencari kalsium, mencari sumsum. Ia masuk ke dalam tulang rusuknya yang retak, tulang kakinya yang rapuh.

Proses penguatan tulang bukanlah proses yang lembut. Itu adalah proses perusakan mikro dan pembangunan ulang yang instan. Tulang-tulangnya yang keropos dihancurkan pada tingkat mikroskopis, lalu dipadatkan kembali dengan esensi logam dari tanaman itu.

Rasanya seperti tulangnya sedang diamplas.

Yang Chen menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Rasa asin darah di mulutnya menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap sadar.

"Jangan pingsan..." batinnya berteriak. "Jika kau pingsan, kau akan tenggelam dan mati konyol di dalam tong ini."

Dia harus bermeditasi. Dia harus memandu energi liar obat ini. Meskipun dia tidak punya Qi, dia punya Kehendak Jiwa (Soul Will).

Dia memejamkan mata. Dia memvisualisasikan kerangka tubuhnya di dalam kegelapan pikirannya.

Dia membayangkan tulang-tulangnya bersinar putih, lalu perlahan berubah menjadi abu-abu besi.

"Serap..." batinnya. "Jangan lawan rasa sakitnya. Jadikan rasa sakit itu bahan bakar."

Satu menit berlalu. Rasanya seperti satu jam. Lima menit berlalu. Rasanya seperti satu abad.

Tubuh Yang Chen di dalam tong mulai berubah. Kulitnya yang pucat kini berwarna merah padam seperti udang rebus. Keringat mengucur deras dari kepalanya, menetes ke dalam air obat.

Dan kemudian, sesuatu mulai terjadi.

Dari pori-pori kulitnya, mulai keluar cairan hitam lengket. Sedikit demi sedikit.

Itu adalah Impurities (Kotoran). Toksin yang menumpuk di tubuh Zhao Wei selama belasan tahun akibat makanan buruk, obat-obatan murah, dan darah yang mandek akibat pukulan. Kotoran itu berbau busuk, lebih busuk dari air obat itu sendiri.

Cairan hitam itu bercampur dengan air obat, membuat warnanya semakin keruh.

Yang Chen merasakan gatal yang luar biasa di dalam tulangnya. Itu tanda penyembuhan. Retakan di tulang rusuknya mulai menutup. Kepadatan tulangnya meningkat.

Sepuluh menit. Dua puluh menit.

Suhu air mulai turun. Rasa sakit yang membakar perlahan mereda, digantikan oleh rasa kebas yang berat.

Yang Chen membuka matanya.

Matanya merah, lelah, tapi jernih. Sangat jernih.

Dia melihat air di sekelilingnya. Air yang tadinya ungu kemerahan kini telah berubah menjadi abu-abu keruh, penuh dengan lendir hitam yang mengapung. Semua esensi obat telah terserap habis.

"Selesai..."

Suaranya parau.

Dia mencoba menggerakkan tangannya untuk memegang pinggiran tong.

Tangannya terasa berat, tapi... kuat.

Dia mencengkeram bibir tong kayu itu.

Krak!

Kayu tebal itu pecah di bawah cengkeramannya. Bukan retak, tapi pecah. Serpihan kayu terlepas di tangannya.

Yang Chen menatap serpihan kayu itu dengan tatapan kosong, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum lelah.

Kekuatan fisiknya telah meningkat setidaknya tiga kali lipat. Dia belum menjadi kultivator ranah Body Tempering sejati, tapi dia bukan lagi manusia kertas yang bisa diterbangkan angin. Tulangnya kini sekeras kayu oak tua.

Dia mencoba berdiri.

Air kotor menetes dari tubuhnya saat dia bangkit dari tong, memperlihatkan tubuh yang masih kurus tapi kini terlihat lebih... padat. Otot-ototnya terlihat lebih jelas, kulitnya lebih kencang.

Dia melangkah keluar dari tong, kakinya mendarat mantap di lantai kayu. Tidak ada lagi gemetar.

Yang Chen mengambil handuk kasar yang disediakan penginapan, mengeringkan tubuhnya dari lendir hitam berbau busuk itu. Dia harus menggosok kulitnya dengan keras sampai merah untuk menghilangkan lapisan kotoran itu.

Setelah bersih dan kering, dia memakai kembali jubahnya.

Dia merasa lapar lagi. Lapar yang jauh lebih ganas dari sebelumnya. Proses rekonstruksi tulang ini membakar kalori gila-gilaan.

Tapi dia tidak punya makanan. Dan ini sudah tengah malam.

Yang Chen berjalan ke jendela kamar, membukanya sedikit. Angin malam yang dingin masuk, menerpa wajahnya.

Dia menatap bulan yang menggantung di langit Ironforge.

"Langkah pertama: Tulang Besi, selesai," gumamnya. "Langkah kedua: Membuka Dantian."

Untuk membuka Dantian yang hancur, obat biasa tidak akan cukup. Dia butuh sesuatu yang lebih kuat. Sesuatu yang hidup.

Inti Monster.(Monster Core).

Dan untuk mendapatkan itu, dia butuh uang yang jauh lebih banyak daripada 10 keping emas.

Mata Yang Chen beralih menatap ke arah pusat kota, di mana sebuah menara tinggi masih menyala terang benderang.

Rumah Lelang "Golden Dragon".

Sebuah rencana baru mulai terbentuk di benaknya. Dia tidak punya barang untuk dijual, tapi dia punya resep. Resep-resep alkimia kuno yang sudah hilang dari zaman ini. Menjual resep adalah cara tercepat untuk kaya, tapi juga cara tercepat untuk diburu.

"Besok," putusnya. "Besok kita akan bermain api dengan para pedagang kaya."

Yang Chen menutup jendela, lalu menjatuhkan dirinya ke atas kasur jerami yang keras. Dalam hitungan detik, dia tertidur pulas tanpa mimpi, membiarkan tubuh barunya beristirahat total.

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!