Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Hidup, Mati dan Janji yang Terampas
Lorong Rumah Sakit Pusat Darmawan. Sebuah mahakarya arsitektur medis yang juga merupakan salah satu aset terbesar keluarga Darmawan. Terasa begitu sunyi dan steril.
Harum karbol yang tajam menusuk hidung. Berpadu dengan dinginnya pendingin ruangan yang seolah membekukan waktu. Di balik pintu kaca tebal ruang Intensive Care Unit (ICU).
Rizki Pratama duduk membeku. Pakaiannya yang rapi kini tampak kusut, matanya merah karena kurang tidur dan gurat kelelahan tercetak jelas di wajah tampannya. Di balik kaca itu, sang raksasa bisnis, Tuan Besar Darmawan, terbaring tak berdaya.
Tubuhnya yang dulu gagah kini dikelilingi oleh selang-selang monitor dan mesin pendukung kehidupan yang berbunyi bip-bip secara monoton. Suara itu adalah satu-satunya tanda bahwa nyawa ayahnya masih tertahan di ambang pintu kematian.
Sudah seminggu sejak kepulangan Rizki dari Desa Sukamulya dan belum sedetik pun ayahnya menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Rizki merasa dunia sedang menghimpitnya.
Di satu sisi, ia harus menghadapi para direksi yang haus kekuasaan dan di sisi lain, ia harus menelan kenyataan bahwa pelindung utamanya sedang sekarat. Sisi lain lagi ia tetap gusar, saat menerima laporan dari Yudha. Bahwa Laras tidak ada sangkut-pautnya dengan garis keturunan Sang Ibunda.
Dalam hati Rizki terus bertanya-tanya, lalu apa maksud wasiat terakhir Sang Ibunda. Sebelum Ibundanya tercinta itu menghembuskan nafas terakhir. Lalu apa iya memang kebetulan saja wajah Laras dan Ibundanya mirip.
Perhatian yang Menjerat
"Rizki... kamu harus makan. Ini sudah jam tujuh malam,” suara lembut Nana memecah kesunyian.
Gadis itu datang membawa sebuah tas bekal bermerek mahal. Ia tampak segar dengan riasan tipis. Kontras dengan Rizki yang berantakan. Nana segera duduk di samping Rizki. Membuka wadah berisi makanan sehat yang disiapkan koki pribadinya.
Rizki menggeleng lemah, matanya tetap terpaku pada sang ayah, "Aku tidak lapar, Na. Taruh saja di sana."
"Tidak bisa!" Nana merengek, suaranya sedikit meninggi namun manja. Ia menyendokkan nasi merah dan lauk ke arah mulut Rizki.
"Kamu sudah melewatkan makan siang. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menjaga Papa? Siapa yang akan melawan orang-orang tua di kantor itu? Ayo, buka mulutmu, Ki..."
Rizki menghela napas, ia merasa tercekik oleh perhatian itu, "Na, aku bisa makan sendiri. Berikan sendoknya padaku."
"Tidak mau!" Nana menarik tangannya menjauh saat Rizki hendak mengambil sendok, "Ini sudah jadi kebiasaan kita sejak kecil, kan? Kalau kamu sedang sedih, aku yang menyuapimu. Jangan keras kepala, Rizki. Aku hanya ingin kamu sehat."
Nana terus merengek, wajahnya dibuat seolah ingin menangis jika keinginannya tidak dituruti. Rizki, dalam kondisi mental yang rapuh, tidak memiliki energi untuk berdebat. Ia merasa kasihan melihat nona kecil. Teman masa kecilnya itu begitu bersikeras. Akhirnya, dengan terpaksa, Rizki membiarkan Nana menyuapinya sesendok demi sesendok.
Nana tersenyum penuh kemenangan. Di dalam hatinya, ia merasa bangga. Baginya, setiap butir nasi yang masuk ke mulut Rizki dari tangannya adalah pengakuan atas kedekatan mereka. Ia merasa dialah satu-satunya wanita yang pantas berada di sisi sang putra mahkota Darmawan.
Tangis di Tengah Keputusasaan
Selesai makan, kesunyian kembali menyergap. Bayangan kematian ayahnya tiba-tiba terasa begitu nyata di benak Rizki. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang tua yang ia miliki meledak menjadi emosi yang tak tertahankan. Air mata yang selama seminggu ini ia tahan di depan para pemegang saham, akhirnya tumpah juga.
Rizki menunduk, bahunya berguncang hebat. Isak tangis yang memilukan keluar dari mulutnya, "Aku tidak mau kehilangan Papa, Na... Aku belum siap..."
Melihat Rizki yang begitu rapuh, Nana segera menarik kepala Rizki ke pelukannya. Ia mengelus rambut Rizki dengan lembut. Membiarkan jas mahalnya basah oleh air mata sang pewaris. Nana memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Rizki. Dalam benaknya yang penuh ambisi asmara, ia menganggap momen ini sebagai titik balik.
Dia akhirnya luluh, batin Nana bersorak. Dia sudah takluk di pelukanku. Dia menerimaku tanpa aku harus mengucap sepatah kata pun. Akhirnya, posisi nyonya Darmawan akan menjadi milikku.
Nana tidak menyadari bahwa bagi Rizki, pelukan itu hannyalah sebuah tempat bersandar dari seorang teman lama, tidak lebih. Jiwa Rizki sedang melayang jauh, teringat pada doa-doa yang ia panjatkan untuk ayahnya dan entah mengapa, bayangan wajah Larasati di tepi sungai kembali melintas sebagai penghibur lara.
Kabar yang Menyentak
Tepat pukul 19.15, ponsel Rizki yang diletakkan di kursi sebelah bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari Yudha, orang kepercayaannya.
Rizki melepaskan diri dari pelukan Nana yang membuat Nana sedikit kecewa. Lalu membaca pesan tersebut dengan mata sembab. Meneliti kata demi kata yang ada di dalamnya.
“Tuan Muda, laporan darurat dari desa. Malam ini, tepat pukul sembilan malam, Larasati akan melangsungkan akad nikah dengan seorang pria bernama Bagaskara. Pernikahan ini dipercepat secara mendadak oleh Pak Tarno tanpa menghiraukan hari baik. Sepertinya ada tekanan dari pihak mempelai pria. Apakah ada perintah lebih lanjut?”
Jantung Rizki seolah berhenti berdetak. Ia menatap jam di dinding rumah sakit. Jam tujuh malam. Hanya tersisa dua jam sebelum gadis yang wajahnya mirip ibundanya itu sah menjadi milik pria lain. Pria yang firasat Rizki katakan adalah seorang bajingan.
"Ada apa, Ki?" tanya Nana, mencoba mengintip layar ponsel Rizki.
Rizki terdiam, tangannya mengepal. Ia ingin segera bangkit, memesan helikopter dan terbang ke Sukamulya untuk menghentikan kegilaan itu. Ia ingin menyelidiki siapa Bagaskara itu sebenarnya. Namun, tepat saat ia hendak berdiri, sebuah suara lemah terdengar dari dalam ruang ICU.
Tiiiit—tiiiit—tiiiiiiit!
Alarm monitor jantung ayahnya berbunyi cepat. namun bukan tanda bahaya. Melalui kaca, Rizki melihat jemari ayahnya bergerak. Kelopak mata Tuan Besar Darmawan perlahan terbuka, menatap nanar ke arah langit-langit ruangan.
"Dokter! Papa sadar! Papa sadar!" teriak Rizki panik sekaligus bahagia.
Petugas medis segera berhamburan masuk. Rizki berdiri mematung di depan kaca. Di satu sisi, ponselnya terus bergetar dengan pesan dari Yudha. Mengingatkan bahwa waktu untuk menyelamatkan Larasati sedang berjalan mundur. Namun di hadapannya, nyawa ayahnya yang baru saja kembali dari ambang maut menuntut seluruh kehadirannya.
Rizki memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya kembali jatuh. Ia merasakan konflik batin yang luar biasa hebat. Bakti kepada ayah adalah hal utama, namun nuraninya berteriak untuk menyelamatkan reinkarnasi ibunya di desa.
"Maafkan aku, Larasati..." bisik Rizki dalam hati, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ayahku membutuhkanku sekarang. Aku tidak bisa pergi."
Rizki menatap ayahnya yang mulai mencoba mengenali wajah putranya di balik kaca. Dengan hati yang hancur, Rizki membuat sebuah keputusan paling pahit dalam hidupnya. Ia mematikan layar ponselnya, memutuskan untuk tidak membalas pesan Yudha.
Kalau memang kita tak jodoh... aku doakan semoga kau bahagia dengan pilihanmu, Nona Manis, batin Rizki.
Sembari memutar tubuhnya untuk menyambut kembalinya sang ayah ke dunia nyata. Rizki tidak tahu bahwa dengan keputusannya untuk tetap tinggal malam itu.
Ia baru saja membiarkan Larasati masuk ke dalam lubang neraka yang diciptakan oleh Bagaskara. Ia tidak tahu bahwa doa bahagia yang ia kirimkan.
Adalah sebuah ironi paling pahit, karena di Sukamulya. Akad nikah itu bukan awal dari kebahagiaan. Melainkan awal dari perbudakan. Takdir seolah sedang mempermainkan mereka berdua. Memberikan hidup pada satu sisi, namun merampas kebebasan di sisi lainnya.