Dimasa lalu..
Lelaki berbaju kokoh merah maroon itu berusaha menarik tangan perempuan yang baru saja melompat dari gedung lantai dua.tatapan pria itu tajam menatap perempuan yang berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Pria itu seharusnya menjaga tatapannya,menjaga diri agar tidak menyentuh wanita yang bukan muhrimnya.tapi ia harus melakukan ini.ini semua darurat.ia tidak bisa begitu saja membiarkan seorang wanita melompat dihadapannya begitu saja.
" Lepaskan saya lebih baik saya mati."
" Sadarlah nona bunuh diri itu perbuatan dosa,anda tidak akan diterima dibumi maupun dilangit.arwah anda akan mengantung diantaranya."
Wanita itu tetap kekeh,ia berusaha melepaskan tangan laki laki itu.keringat menetes didahi pria tampan itu.ia menatap perempuan itu terjatuh dihadapannya.adnan Al Fahri putra dari kiay Husen pemilik pondok pesantren yang sangat dihormati dikota ini.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia menatap perempuan dengan begitu dalam.dan untuk pertama kali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaarumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab2
Pesantren Al Fahri...
Devan berjalan melewati beberapa santri pandangannya lurus tanpa menoleh kesiapapun, sedangkan beberapa santri tertangkap sedang memandangi Devan kagum.
Wajah tampanya begitu memukau,tubuhnya yang atletis menambah daya tarik pria ini.
Devan berjalan masuk kedalam kediaman kiay Adnan.
Dahi ummi Nadya berkerut saat melihat kedatangan putranya.pasalnya sudah lama sekali Devan tidak mengijakan kaki dipesantren.
Ummi Nadya sangat berharap Devan mau mengantikan abinya untuk mengurus pesantren ini.ummi Nadya bahkan ribuan kali menyuruh Devan untuk menimbah ilmu di Mesir agar dia dapat memperdalam ilmu agamanya dan berkali kali pula Devan menolak dengan alasan Devan ingin menjadi pengusaha karna ingin membuka lapangan pekerjaan untuk banyak orang.makanya ia lebih memilih kuliah di universitas purwacita mengambil jurusan bisnis. bukan karna ia tidak suka belajar agama.baginya belajar agama bisa dimana saja.
Ummi Nadya menarik nafasnya dalam ketika mengingat keinginannya yang tidak pernah selaras dengan keinginan putranya.
" Abang akhirnya pulang.kanza kangen Abang."
Kanza adalah adik perempuan Devan anak kedua dari kiay Adnan dan ummi Nadya.
"Abang mau tinggal disinikah sama ummi,Abi dan aku.ingatlah Lo bang.orang tua kandung Abang itu Abi dan ummi bukan bunda lia dan ayah jery."
Bunda lia adalah saudara kandung dari ummi nadya.sejak kecil memang Devan lebih sering tinggal bersama dengan mereka daripada sama ummi dan Abi dipesantren.
Menurutnya ummi selalu menekanya selama ini, selalu menganggap Devan itu tidak seperti Abi yang sholeh.hanya karna Devan tidak mau membantu Abi Adnan mengurus pesantren dan entahlah Devan selalu merasa ummi membencinya.ia merasa ummi Nadya selalu melihatnya sebagai laki laki jahat.ummi Nadya selalu menjaga jarak dengannya.meskipun kata katanya terdengar lembut tapi begitu terlihat tidak menginginkan Devan.
" Abang akan tinggal disini selama beberapa hari saja."
Kata kata Devan membuat kanza menghelai nafasnya berat.ia hanya ingin dekat dengan kakak laki lakinya itu.itu saja yang ia harapkan.tapi Devan selalu menjauh dari keluarga kecil mereka.
Devan duduk mengendarkan pandangannya mencari sosok abinya.namun ia tidak melihat kiay Adnan.
Ummi Nadya berjalan dan menaruh secangkir kopi dimeja didepan Devan.
" Minumlah nak,sudah lama sekali kamu tidak mengunjungi kami." Tutur kata yang lembut layaknya seorang ibu kepada anaknya tapi terdengar seperti dipaksakan.
" Bagaimana kuliah kamu nak."
" Baik ummi."
" Hmm ummi masih berharap kamu mau mengantikan Abi menjadi pemimpin dipesantren ini.!"
" ....."
Rasanya Devan lelah melakukan penolakan lagi kepada ummi.ummi selalu mempertanyakan pertanyaan yang ummi sendiri tahu jawaban Devan akan tetap sama.
" Baiklah ummi hanya bisa berdoa semoga kamu menjadi anak yang Sholeh yang dapat memimpin pesantren ini nak."
"Untuk menjadi Sholeh tidak harus memimpin pesantren dulu ummi." Namun sayangnya itu hanya terucap didalam hati Devan saja.
Helaian nafas ummi Nadya terdengar berat ia sangat tahu satu hal.kalau dia dan putranya ini tidak pernah bisa berkomunikasi dengan baik.
" Ingat ya Devan,jangan macam macam diluaran sana,ingat Jangan sampai kamu mempermainkan hati wanita."
" Devan bukan laki laki seperti itu ummi."ucap Devan pada akhirnya.
" Lalu kenapa kamu tidak mau menikah dengan aysah.aysah itu wanita yang sempurna dan tentunya ia bisa membuatmu semakin dekat dengan agama.sehingga kamu bisa terlindungi dari sifat buruk"
Lagi dan lagi ummi Nadya seperti mengucilkan devan.ia selalu beranggapan Devan laki laki yang bandel, tidak seperti Abi Adnan yang taat akan agama.dan Devan selalu terpojok dia juga tidak tahu harus menjelaskan bagaimana caranya ia beribadah kepada ummi Nadya.bagaimana caranya agar ummi paham Devan adalah sosok laki laki yang taat.hanya saja dia belum bisa memimpin pesantren seperti Abi Adnan.
" Diminum dulu kopinya bang."
Kanza berusaha mencairkan suasana ketika mendengar komunikasi antara ummi Nadya dan Devan yang begitu jelek.
" Ia dek."
" Ummi hanya ingin yang terbaik untuk kamu nak,semoga saja Abi Adnan bisa menjadi panutanmu kamu bisa mencontoh beliau."
" Kemarin aku dengar Devan ikut organisasi untuk membantu korban bencana alam Lo ummi." Ucap Abi Adnan yang tiba tiba keluar dari kamarnya.
" Kamu harus bangga pada putramu ini ummi.dia sampai rela hujan hujan untuk menyelamatkan para korban yang tertimpa bencana banjir."
Abi Adnan berjalan kearah Devan dan mengusap ngusap pungung putranya itu.seolah ia menegaskan betapa baiknya putra mereka karena memiliki jiwa sosial yang begitu tinggi.
" Tetap saja dia tidak seperti Abi."
Abi mengeleng lembut,yang sedikit frustasi melihat istrinya yang begitu mengekang putra mereka.
" Ummi dekat dengan agama,dekat dengan Allah tidak mesti harus menjadi pimpinan pesantren.pimpinan pesantren itu jabatan kultural bukan syarat spritual.dekat dengan agama itu soal hubungan pribadi kamu dengan Allah.iman,ilmu,amal,ahklak dan jalurnya bisa macam macam ummi.dan termasuk Devan membantu para korban bencana alam itu termasuk suatu kebaikan yang sangat disukai Allah."
" Devan kamu masih menjaga sholat kamu kan nak."
" Isya Allah Abi."
" Jangan sholat aja kamu jaga, pandangan kamu juga dijaga jangan sampai kamu menatap wanita sembarangan itu bisa menjerumuskan mu kezina.dan kamu tahu itu dosa besar Devan."
" Dan kamu harus selalu ingat Devan jangan sekali kali kamu menyakiti hati seorang wanita."
" Devan tahu batasanya kok ummi."
Helaian nafas Devan terdengar berat,ummi selalu saja begitu.proktetif kepadanya.selalu saja ia melarang Daffa untuk tidak sembarangan dekat dengan wanita.apalagi sampai mempermainkan wanita.
" Seharusnya ummi mengatakan itu kepada abi.bukan kepada Devan.hampir tiap bertemu dengan Devan ummi selalu mengatakan untuk Devan tidak bermain main dengan perasaan wanita tapi dengan abi.devan tidak pernah mendengar kan ummi mengatakan untuk tidak menyakiti ummi."
" Itu karena ummi tahu Abi kamu bukan lelaki seperti itu."
" Tapi kenapa ummi begitu yakin kalau Devan laki laki yang suka mempermainkan hati wanita.?"
Ummi Nadya mengerjap seakan batu besar menindih dadanya sesak.