Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Kehebohan yang dibawa Kimberly dan Felix akhirnya menyisakan keheningan yang kontras saat pintu depan penthouse tertutup rapat.
Sisa aroma parfum mahal Kimberly dan tawa riuh mereka masih menggantung tipis di udara, namun di dalam kamar utama, suasananya jauh lebih tenang—dan jauh lebih intim.
Lexington sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos katun hitam yang santai. Ia duduk di atas ranjang king-size mereka, bersandar pada headboard empuk. Di hadapannya, Briella duduk bersila, mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem yang tipis.
Dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti memuja, Lexington menarik pelan gaun tidur itu ke atas, menyingkap perut rata istrinya yang masih halus. Ia merunduk, mendaratkan kecupan hangat di sana, lalu mulai membuat garis-garis bulatan kecil menggunakan ujung jarinya, seolah sedang memetakan harta karun yang paling berharga di dunia.
Lexington mendongak, mengharapkan tawa geli Briella atau desahan manja yang biasa ia dengar. Namun, yang ia temukan adalah keheningan yang mencekam.
Air mata jatuh satu per satu ke atas punggung tangan Lexington yang masih berada di perut Briella.
"Bri? Sayang, ada apa?" Lexington langsung bangkit, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. "Apa perutmu sakit? Apa aku terlalu menekan? Kita ke rumah sakit sekarang jika kau merasa tidak nyaman."
Briella menggeleng pelan, namun tangisnya justru pecah. Ia tersedu-sedu, menatap Lexington dengan pandangan yang penuh luka lama yang tiba-tiba terbuka kembali.
"Kau pernah bilang... kau tidak menginginkanku," bisik Briella di sela isakannya.
Kilas-Balik
Malam itu hujan turun deras di Boston. Lexington muda, yang saat itu baru saja menyelesaikan riset doktoralnya, berdiri di depan meja kerjanya yang penuh dengan cetak biru mesin dan buku-buku teknik setebal bantal.
Di hadapannya, Briella—gadis yang penuh semangat—baru saja menjatuhkan tumpukan file penting ke atas kopi panas Lexington.
"Briella, bisakah kau berhenti menjadi bencana sehari saja?" suara Lexington saat itu sangat dingin, lebih tajam dari mata pisau.
"Aku tidak sengaja, Lex! Aku hanya ingin membawakanmu makan malam," jawab Briella.
Lexington menghela napas panjang, memijat pelipisnya dengan frustrasi. Ia menatap Briella dari atas ke bawah, lalu menggelengkan kepalanya dengan sinis.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika pewaris Valerio lahir dari rahim wanita sepertimu. Mereka akan menjadi ceroboh, tidak teratur, dan mungkin akan merusak segalanya dalam hidup mereka."
"Lex, itu hanya kecelakaan kecil—"
"Tidak, Bri. Kau itu lebih sulit dipahami daripada buku teknik mesin yang paling rumit sekalipun. Dan jujur saja, aku lebih suka menghabiskan malam dengan buku-buku ini daripada harus mengawasi setiap gerak-gerikmu agar tidak menghancurkan Ruangan ini. Bagaimana kalo kau sudah menjadi ibu dari anak-anakku? kau benar-benar tidak bisa menjaga dirimu sendiri."
Kata-kata itu terpatri permanen di hati Briella. Sebuah stempel "tidak layak" yang ia bawa selama bertahun-tahun perpisahan mereka.
Kembali ke Masa Sekarang
Briella menyeka air matanya dengan kasar, namun hormon kehamilan membuatnya merasa jauh lebih rapuh. "Tadi... saat kau mencium perutku, aku tiba-tiba teringat kata-katamu dulu. Kau bilang pewaris Valerio akan hancur jika ibunya adalah aku. Kau bilang aku adalah polusi bagi keteraturanmu. Jadi... apa sekarang kau merasa terbebani karena aku akhirnya mengandung anakmu?"
Lexington terpaku. Ia merasakan jantungnya seperti diremas. Ia tidak menyangka bahwa sampah kata-kata yang ia ucapkan di masa mudanya yang arogan masih menghantui istrinya hingga sedalam ini.
Ia menarik Briella ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat seolah ingin menyatukan kembali kepingan hati istrinya yang dulu ia pecahkan.
"Honey...Dengarkan aku," ucap Lexington, suaranya dalam dan bergetar karena penyesalan. "Pria yang mengatakan hal jahat itu adalah pria bodoh yang tidak tahu apa itu kebahagiaan. Dulu, aku pikir kesempurnaan adalah keteraturan. Aku pikir keberhasilan adalah logika tanpa cacat."
Lexington melepaskan pelukannya sedikit agar bisa menatap mata sembab Briella. "Tapi lima tahun tanpamu mengajariku satu hal, hidup yang teratur tanpa kecerobohanmu adalah hidup yang mati. Aku tidak masalah punya anak yang ceroboh nanti. Aku tidak masalah jika rumah ini berantakan atau jika mereka menjatuhkan semua koleksi kristalku, asalkan ibunya adalah ibu hebat sepertimu, Sayang."
Ia mencium dahi Briella lama. "Kau sungguh hebat. Kau bertahan menghadapiku sejak kau masih sangat muda. Ingat malam pertama kita? Kau baru berumur delapan belas tahun saat itu. Kau bahkan tidak menangis saat aku..."
"Heyyy! Apa-apaan itu, Lex!" Briella tiba-tiba mendorong bahu Lexington, wajahnya memerah padam, menghentikan tangisnya seketika. "Kenapa kau tiba-tiba membahas malam pertama? Itu... itu memalukan!"
Lexington terkekeh, senang melihat rona merah kembali ke wajah istrinya. "Kenapa memalukan? Itu adalah malam di mana aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu. Aku tiba-tiba teringat dirimu yang keesokan harinya tidak bisa berjalan dengan benar karena ulahku, dan kau terus menyalahkanku."
Briella memukul dada Lexington pelan. "Kau memang monster saat itu. Tidak punya perasaan sama sekali!"
"Dan sekarang, monster ini akan menjagamu dan bayi kita dengan nyawanya sendiri," Lexington menangkap tangan Briella dan mencium telapak tangannya. "Karena kau sangat ceroboh, kau harus ekstra hati-hati sekarang. Jangan lari-lari di klinik, jangan memakai high heels yang terlalu runcing, dan jangan mencoba mengambil botol vitamin di rak tinggi sendirian."
Briella merengut. "Kau mulai lagi dengan mode 'Profesor Posesif'-mu."
"Harus," tegas Lexington. "Besok pagi kita ke rumah sakit. Aku sudah menghubungi kenalanku, Dokter Julian. Dia Dr. Kandungan terbaik. Aku ingin memastikan detak jantung kecil di dalam sini sekuat ibunya."
Lexington kembali merunduk, mencium perut Briella sekali lagi dengan durasi yang lebih lama. "Terima kasih, Honey. Terima kasih karena tetap memilihku menjadi ayah dari anak-anakmu, meskipun dulu aku pernah menjadi pria paling brengsek yang pernah kau temui."
Briella mengusap rambut berantakan Lexington, tersenyum kecil di balik sisa air matanya. "Hanya karena kau akan membelikanku semua tas yang Diperlihatkan Mommy tadi, makanya aku memaafkanmu."
"Sepakat," sahut Lexington sambil menarik selimut, membungkus tubuh mereka berdua dalam kehangatan yang menjanjikan masa depan yang baru—yang mungkin sedikit ceroboh, namun penuh dengan cinta yang tak terukur.
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya