seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. TAMU TAK DI UNDANG DI GERBANG PESANTREN.
Namun, Raffi justru semakin menjadi-jadi. Ia mulai menyebarkan selebaran foto-foto Ayini saat masih aktif di dunia balap liar—foto yang sama yang dikirimkan kepada Alvaro melalui surat misterius itu.
"Liat nih semua! Calon Bu Nyai kalian ini dulunya ratu jalanan! Dia ini bekas gue! Dia nggak pantes pake jilbab dan tinggal di sini!" teriaknya lagi sambil tertawa sinis.
Di dalam Ndalem, Ayini yang sedang membantu Umi Ayisah memotong sayur mendadak membeku.
Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu pernah ia anggap sebagai pelindung, kini menjadi mimpi buruk yang paling nyata.
Tubuhnya gemetar hebat, pisau di tangannya terjatuh ke lantai dapur.
"Ayini... ada apa, Nak?" tanya Umi Ayisah dengan cemas.
"Itu... itu Raffi, Umi. Dia dateng. Dia mau hancurin Ayini," ucap Ayini dengan suara parau. Air mata mulai mengalir di pipinya.
Rasa malu yang luar biasa menghujam jantungnya. Ia merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
Gus Alvaro, yang baru saja selesai memimpin rapat pengurus, mendengar keributan itu dari kejauhan.
Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah menjadi sekeras batu granit. Ia berjalan menuju gerbang dengan langkah yang lebar dan berwibawa.
Di belakangnya, puluhan santri senior mengikuti, siap melindungi Gus mereka.
Begitu sampai di gerbang, Alvaro berdiri tepat di hadapan Raffi.
Perbedaan aura di antara keduanya sangat mencolok. Raffi yang urakan dan penuh amarah, sementara Alvaro berdiri dengan sorban yang tertata rapi, wajah datar namun mata yang memancarkan kilat kemarahan yang sangat dalam—sisi "singa" yang selama ini ia sembunyikan di balik kelembutannya.
"Hentikan semua ini," ucap Alvaro dengan suara rendah yang menggetarkan udara.
"Wah, ini dia si Gus Kulkas! Gimana rasanya dapet barang bekas gue?" ejek Raffi sambil melangkah maju, mencoba mengintimidasi Alvaro dengan jarak yang sangat dekat.
Alvaro tidak bergeming sedikit pun. "Tutup mulutmu. Jangan kau sebut nama istriku dengan lisanmu yang kotor itu. Pergi dari sini sekarang, atau saya akan bertindak dengan cara yang tidak akan kau sukai."
Raffi tertawa keras, ia menoleh ke arah teman-temannya.
"Liat nih, si suci ini mau marah! Mana Ayini? Suruh dia keluar! Suruh dia jelasin ke semua santri ini siapa sebenernya dia!"
Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan, Ayini muncul. Ia berlari dengan air mata yang membasahi wajahnya. Ia tidak tahan lagi bersembunyi.
"Raffi! Cukup!" teriak Ayini.
"Gue emang nakal dulu, gue emang bar-bar, tapi gue udah berubah! Jangan bawa-bawa pondok ini dalam masalah kita!"
Melihat Ayini, Raffi tersenyum licik.
Ia hendak meraih tangan Ayini, namun sebelum ujung jarinya menyentuh kain gamis Ayini, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.
Itu adalah tangan Gus Alvaro.
"Saya sudah katakan," desis Alvaro, matanya kini menatap langsung ke manik mata Raffi dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jangan. Sentuh. Istri. Saya."
Cengkeraman itu begitu kuat hingga Raffi meringis kesakitan.
Teman-teman Raffi hendak maju, namun para santri senior langsung membentuk barisan barikade yang tak tergoyahkan.
"Kamu pikir saya takut sama kamu karena kamu seorang Gus?" tantang Raffi, meski wajahnya mulai pucat karena menahan sakit di pergelangan tangannya.
"Saya tidak meminta kamu takut pada saya sebagai seorang Gus. Tapi takutlah pada saya sebagai seorang suami yang hak istrinya kamu injak-injak," ucap Alvaro.
Ia melepaskan tangan Raffi dengan sekali sentakan kuat yang membuat pemuda itu terhuyung mundur.
Alvaro kemudian berbalik ke arah Ayini. Di depan ratusan mata santri dan pengurus pondok, Alvaro melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Ia merangkul pundak Ayini dengan sangat protektif, menarik istrinya ke dalam pelukannya untuk menenangkan getaran tubuh Ayini.
"Dengarkan saya semua!" suara Alvaro menggelegar ke seluruh penjuru gerbang.
"Masa lalu adalah milik masa lalu. Allah saja Maha Pengampun, lantas siapa kita yang berani menghakimi hamba-Nya yang ingin berhijrah? Ayini adalah istri saya, separuh agama saya, dan siapa pun yang mencoba menyakitinya, berarti dia sedang berurusan langsung dengan saya dan seluruh keluarga besar Al-Hidayah!"
Suasana menjadi sunyi senyap.
Ayini menangis di dada Alvaro, merasa sangat terlindungi.
Raffi yang merasa kalah jumlah dan kalah wibawa, akhirnya meludah ke tanah dengan kesal.
"Urusan kita belum selesai!" ancam Raffi sebelum ia menyalakan motornya dan pergi meninggalkan debu yang berterbangan.