Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB LIMA
Di sisi lain, Maharani menahan napas panjang, ponselnya menempel di telinga, sementara suara di seberang terus memaksa masuk.
“Syad, cukup! Aku capek,” suaranya terdengar bergetar, meski ia berusaha tetap sabar. “Mending kamu fokus ke film kamu. Syuting, peranmu—itu lebih penting. Jangan hubungi aku lagi.”
Namun suara Risyad meninggi, penuh histeris dan nada putus asa.
“Aku nggak bisa, Maharani! Aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu ngerti nggak?! Kamu itu segalanya buat aku. Aku bahkan nggak bisa tidur, nggak bisa makan, kepikiran kamu terus!”
Maharani menutup mata rapat, jemarinya meremas ponsel begitu kuat sampai buku-bukunya memutih. Kepalanya berdenyut. Lagi, Risyad dan dramanya—selalu tentang dirinya, tentang rasa sakitnya, seolah-olah dunia hanya berputar di sekitarnya. Seolah ia, Maharani, tidak punya hak atas hidupnya sendiri.
“Risyad…” Maharani mengembuskan napas keras, nadanya sudah kehilangan kelembutan. “Kamu bilang nggak bisa hidup tanpa aku, tapi di saat yang sama kamu bisa selingkuh di belakang aku, sama bartender itu.”
Suara di seberang terdiam sepersekian detik, lalu terdengar terbata.
“Itu… itu cuma salah paham, Ran… aku khilaf, aku—”
“Khilaaf?” Maharani memotong cepat, suaranya meninggi, matanya berkilat marah meski ia sendirian di sudut lounge. “Selingkuh itu bukan salah paham, Syad. Itu pilihan! Pilihan yang kamu ambil sadar-sadar. Jangan berani bilang kamu cinta sama aku kalau tindakan kamu malah nyakitin aku.”
Nada suaranya patah tapi tegas, bibirnya bergetar, dadanya naik turun menahan gejolak.
“Aku serius, Syad,” bisiknya keras, menekankan setiap kata. “Enough. Kita selesai. Jangan pernah hubungi aku lagi.”
Klik. Sambungan terputus.
Maharani menurunkan ponsel pelan, lalu menekan keningnya dengan telapak tangan. Napasnya tersengal, perasaan sesak menekan dadanya. Ia mengusap wajah dengan kasar, mencoba menghapus jejak amarah dan getir yang masih melekat.
Kenapa selalu begini? Kenapa dia harus muncul setiap kali aku ingin tenang?
Ia menghela napas panjang, berusaha meredakan degup jantung yang kacau. Tangannya merapikan rambut yang berantakan, menepuk pipinya sendiri pelan agar senyumnya bisa kembali. Dengan sisa tenaga, ia menarik napas dalam-dalam, memaksa diri untuk tenang sebelum melangkah kembali ke meja Rakha—seolah tidak pernah ada badai yang baru saja menghantamnya.
“Maaf ya, Pak,” katanya sembari menarik kursi. “Saya malah ninggalin Bapak sendirian. Padahal saya yang undang Bapak.”
Rakha masih duduk tegap, matanya mengikuti setiap gerakan Maharani dengan ketenangan yang justru membuat perempuan itu gugup. Lalu ia mencondongkan tubuh ke depan, cukup dekat hingga Maharani refleks menegakkan punggungnya.
“No problem,” ucapnya rendah, matanya menusuk lurus. “Diundang minum kopi oleh Maharani Ayudia Soetomo… itu kehormatan tersendiri. Apalagi kamu sempatkan waktumu di tengah kesibukanmu.”
Ada ketenangan dingin dalam suara itu, tapi justru membuat darah Maharani berdesir. Ia tertawa kecil, menutup kegugupannya.
“Saya nggak sesibuk itu kok. Dan… sekali lagi, terima kasih ya, Pak. Kalau waktu itu Bapak nggak ada di basement, mungkin saya masih bengong di sana.”
Rakha hanya mengangguk kecil, tetapi senyum miringnya kembali muncul—senyum yang seolah menyimpan rahasia. “You’re welcome.”
Sejenak hening, hingga Maharani akhirnya bersuara. “Sepertinya saya harus izin pulang, Pak. Malam ini ada jadwal reading untuk series baru saya. Besok syuting di Lembang, Bandung.”
Rakha melirik arlojinya lalu bangkit berdiri. “Kebetulan, saya juga harus pergi. Satu jam lagi saya ada sidang.”
Keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar lounge. Rakha berhenti tepat di depan pintu, lalu menoleh dengan tatapan yang lebih dalam. Ia mengulurkan tangan.
Maharani sempat terdiam. Keningnya berkerut kecil, namun akhirnya ia menyambut uluran itu. Genggaman Rakha mantap, hangat, namun entah mengapa membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Terima kasih untuk traktirannya, Maharani.” Suaranya pelan tapi tegas, matanya menatap tak berkedip. “Senang berkenalan denganmu… sampai ketemu lagi.”
Begitu saja, ia melepaskan genggaman itu, melangkah pergi dengan langkah tegap, meninggalkan aroma maskulin samar yang masih tertinggal di udara.
Maharani menatap punggung lebar pria itu hingga benar-benar menghilang di balik pintu. Jemarinya mengepal, dadanya bergemuruh dengan perasaan yang tak ia mengerti.
“Sampai bertemu lagi’…” gumamnya pelan. “Maksudnya apa, sih?”
Entah mengapa, kata-kata itu menempel di kepalanya, berulang-ulang, hingga membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang pria bernama Rakha Adiwangsa Wiratama.
***
Mobil Alphard hitam melaju mulus menembus gelapnya tol Cipularang. Lampu kota Jakarta sudah jauh tertinggal, berganti dengan gelap pekat malam. Sesekali hanya lampu kendaraan dari arah berlawanan yang melintas, menciptakan kilatan cahaya singkat di kabin mobil. Musik pop mellow mengalun pelan dari speaker, tapi bukannya mencairkan suasana, justru membuat keheningan terasa semakin dalam.
Maharani duduk di kursi tengah, kepalanya bersandar di kaca jendela yang dingin. Tangannya memeluk tas kecil di pangkuan erat-erat, seperti berusaha mencari pegangan. Matanya menatap kosong keluar, tapi pikirannya tidak di luar sana—pikirannya masih terperangkap pada sosok pria yang baru saja ditemuinya. Tatapan tajam itu. Senyum miring itu. Genggaman tangan yang entah kenapa masih terasa di kulitnya.
Tanpa sadar, bibirnya berbisik pelan, nyaris tak terdengar, “Sampai bertemu lagi… maksudnya apa, sih?”
Reza, yang duduk di kursi depan samping sopir, sempat melirik lewat kaca spion tengah. Alisnya naik sedikit, lalu ia berdehem pelan. “Maharani, kamu ngomong sama siapa?”
Maharani tersentak, seakan baru ditarik kembali ke dunia nyata. “Hah? Apa?” ia cepat-cepat mengedipkan mata.
Siska, yang duduk di sampingnya, mencondongkan tubuh dengan senyum penasaran. “Barusan Mbak ngomong sendiri, loh. Aku kira lagi nelpon pakai handsfree.”
Wajah Maharani langsung merona. Ia tertawa kecil, canggung, mencoba menutupinya. “Oh… nggak, kok. Aku cuma… mikirin dialog untuk reading besok. Hehe.”
Reza langsung terkekeh, menggeleng pelan. “Dialog, ya? Hmmm… tapi ekspresinya bukan ekspresi orang lagi latihan dialog, Nani. Itu ekspresi orang lagi kepikiran… seseorang.”
“Bang Rezaaa…” Maharani mendengus, suaranya setengah manja, setengah protes. Pipinya makin panas. “Aku serius, lagi inget dialog. Jangan suka nuduh yang aneh-aneh deh.”
Siska menahan tawa, tapi matanya berbinar-binar penuh rasa ingin tahu. “Tapi wajah Mbak Maharani itu jelas loh, merah banget. Dari tadi melamun, senyum sendiri, terus ngomong sendiri. Ayolah, jujur aja… siapa sih yang bikin Mbak kayak gini?”
Maharani buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Jalanan gelap dengan bayangan pepohonan yang berlarian cepat jadi alasan untuk menghindar. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil.
Dalam hati, ia berbisik lirih—hanya untuk dirinya sendiri. Rakha Wiratama… kenapa kamu muncul tiba-tiba, dan kenapa aku jadi kepikiran terus?
Reza melirik Siska dari depan, lalu keduanya saling lempar pandang penuh arti. Reza mendecak pelan sambil kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Yah, kalau artis papan atas sudah mulai ngomong sendiri kayak gini, tandanya ada rahasia besar yang disembunyiin.”
Siska menimpali dengan nada usil, “Atau jangan-jangan… cinta lokasi?”
“Bukan!” Maharani langsung menimpali cepat. Terlalu cepat. Nadanya meninggi tanpa ia sadari.
Keheningan sejenak menyusul, tapi justru membuat Reza dan Siska makin saling tatap curiga. Senyum mereka sama-sama nakal, sementara Maharani hanya bisa menggigit bibir bawahnya, frustasi karena sikapnya sendiri malah menambah kecurigaan.
Mobil kembali hening, hanya suara mesin dan musik yang mengalun lembut. Tapi di hati Maharani, semuanya jauh dari hening. Sosok pria itu kembali muncul, dingin dan penuh misteri. Dan untuk pertama kalinya, Maharani benci mengakui—ia penasaran.