Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Malam itu, gedung apartemen mewah di kawasan distrik elit Los Angeles tampak berkilau seperti tumpukan berlian.
Kensington memarkirkan mobilnya tepat di depan lobi, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Tidak ada musik bising, tidak ada arena balap, hanya ada keheningan yang sedikit menyesakkan di antara dirinya dan Audrey.
“Kita hanya akan menemuinya sebentar,” ucap Kensington pelan, tangannya masih menggenggam kemudi. “Bianca adalah bagian dari masa laluku yang harus kau kenal, agar kau tahu aku tidak menyembunyikan apapun lagi.”
Audrey mengangguk. Ia merapikan gaun sederhana yang ia kenakan, mencoba menekan rasa gugupnya. Mereka naik ke lantai paling atas, menuju unit penthouse milik Bianca.
Pintu terbuka, dan Bianca berdiri di sana. Ia tampak sangat cantik dengan gaun tidur sutra berwarna champagne, namun matanya tidak bisa menyembunyikan kilatan yang sulit diartikan saat menatap Audrey.
“Masuklah,” sapa Bianca ramah, terlalu ramah bagi seseorang yang baru saja kehilangan posisi di samping pria yang ia cintai.
Ruang tamu itu beraroma sandalwood dan vanila yang kuat. Mereka duduk di sofa beludru, sementara Bianca menyiapkan minuman. Suasana terasa sangat formal, seolah-olah mereka sedang merundingkan sebuah perjanjian damai.
“Kau sudah menemukan orang yang bisa membuatmu serius, hm?” Bianca memecah kesunyian sambil meletakkan cangkir kopi di depan Kensington dan segelas minuman berwarna amber untuk Audrey.
Kensington mengangguk mantap. Ia meraih tangan Audrey, menggenggamnya erat di depan mata Bianca. “Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, Bianca. Kau paling tahu itu. Bersama Audrey, semuanya terasa... nyata.”
Bianca tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. “Ya, aku bisa melihatnya. Aku mendoakan yang terbaik untukmu, Ken.” Ia kemudian beralih menatap Audrey, tatapannya menajam. “Jaga Kensington untukku. Aku sungguh mencintainya sejak dulu. Kau harus menjaganya dengan baik karena dia... kau tahu sendiri, dia liar.”
Kensington tertawa mendengar ucapan itu, sebuah tawa yang terdengar santai tanpa menyadari duri di baliknya. Ia menatap Audrey dengan tatapan penuh pemujaan. “Tidak akan! Harapanku hanya ingin Audrey bahagia. Aku tidak akan membiarkan sisi liarku menyakitinya lagi.”
Mereka menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit di sana. Makan malam ringan dan percakapan yang tampak normal. Audrey menyesap kopinya yang terasa sedikit lebih pahit dari biasanya, namun ia menganggap itu hanya selera elit Bianca.
Setelah Audrey dan Kensington pergi, pintu apartemen itu tertutup dengan bunyi dentum yang berat. Kesunyian segera menyergap ruangan.
Bianca berdiri mematung di tengah ruangan. Perlahan, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang dipulas make-up sempurna. Wajah ramahnya tadi luruh, berganti dengan raut wajah yang penuh kebencian dan dendam.
“Beraninya kau mengambil Kensington dari Hidupku,” bisik Bianca sinis pada udara kosong. “Kau hanya orang baru dalam kehidupan kami, Audrey. Mari kita lihat, apakah kau sanggup merasakan kepahitan 'kopi' yang kusediakan tadi?”
Ia menatap sisa cangkir di meja. Bianca telah merencanakan ini sejak sore tadi, saat Kensington menghubunginya untuk memperkenalkan "seseorang yang penting". Bianca tidak sudi menjadi penonton dalam kebahagiaan mereka. Ia telah mencampurkan sesuatu ke dalam minuman mereka—sesuatu yang akan memicu naluri paling dasar yang tidak akan bisa dikendalikan oleh akal sehat.
“Kuharap sepuluh menit itu segera berakhir,” gumam Bianca sambil menyeka air matanya. “Dan Kensington akan selesai dengan rasa penasarannya padamu, Audrey. Dia akan kembali menjadi Kensington yang kukenal—pria yang hanya mengejar gairah, bukan cinta suci yang membosankan.”
Di dalam mobil sport mewah miliknya, Kensington merasa ada yang tidak beres. Perjalanan kembali menuju Asrama kampus yang seharusnya hanya memakan waktu Sepuluh menit terasa seperti berjam-jam.
Suasana di dalam kabin mobil mendadak terasa sangat pengap. Kensington melonggarkan kerah kemejanya yang terasa mencekik. Di sampingnya, Audrey tampak gelisah. Wajah gadis itu merona merah, dan napasnya mulai terdengar berat.
“Ken... kenapa AC di mobilmu tidak berfungsi?” tanya Audrey lirih. Ia menarik-narik kerah gaunnya, mencoba mencari udara segar. “Aku merasa sangat gerah. Dadaku terasa panas.”
Kensington memeriksa panel kontrol suhunya. Indikator menunjukkan suhu terendah, namun hawa di dalam mobil itu justru terasa membara. Keringat mulai membasahi pelipis Kensington. Jantungnya berdegup dengan ritme yang abnormal, seolah ada api yang menjalar di dalam aliran darahnya.
“Oh, shit!” maki Kensington tiba-tiba. Ia memukul kemudi dengan frustrasi. Pikirannya melayang kembali ke apartemen Bianca. Kopi itu. Rasa pahit yang aneh itu.
“Kenapa, Ken?” Audrey mulai meracau, tangannya tanpa sadar mengusap lengannya sendiri, mencari sensasi dingin yang tak kunjung datang.
“Bisa-bisanya dia melakukan hal ini padaku?” gumam Kensington dengan rahang mengeras. Ia menyadari Bianca telah menjebaknya. Ini bukan sekadar obat perangsang biasa; ini adalah sesuatu yang jauh lebih kuat, untuk menghancurkan kontrol diri.
“Sial, kita dalam masalah, Audrey,” ucap Kensington, suaranya kini terdengar berat dan serak.
Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Ia tidak bisa membawa Audrey kembali ke asrama dalam kondisi seperti ini. Asrama adalah tempat umum, dan mereka berdua sedang berada di ambang batas kewarasan. Hanya ada satu tempat yang aman dan privat.
Kensington memutar kemudinya dengan tajam, menuju gedung apartemen pribadinya yang—bukan penthouse tempat pesta dekat kampus, melainkan sebuah unit mewah tersembunyi yang hanya ia gunakan saat ingin menyendiri.
Begitu pintu kamar mewah itu terbuka, Audrey tidak lagi bisa menahannya. Suara pintu yang terkunci otomatis seolah menjadi aba-aba bagi hilangnya seluruh pertahanan diri mereka.
“Ken... sakit... panas sekali,” Audrey merintih, ia bersandar pada dada bidang Kensington yang juga sedang membara.
Kensington mencoba bernapas melalui mulut, mencoba mengingatkan dirinya bahwa ia berjanji untuk serius pada Audrey, bahwa ia ingin menjaga kesucian gadis ini. Namun, obat yang diberikan Bianca bekerja lebih cepat dari nuraninya. Aroma tubuh Audrey yang bercampur dengan hawa panas ruangan itu menjadi pemicu yang mematikan.
“Audrey, lihat aku,” bisik Kensington, memegang kedua bahu Audrey dengan tangan yang gemetar. “Jika kita melakukannya malam ini... tidak akan ada jalan kembali. Kau mengerti?”
Audrey tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tengkuk Kensington, membungkam bibir pria itu dengan ciuman yang penuh tuntutan dan keputusasaan. Ia benci dikatakan suci, ia benci dianggap lemah, dan malam ini, di bawah pengaruh zat yang merusak akal, ia Tiba-tiba hanya ingin merasa memiliki Kensington.
Kensington mengerang rendah. Seluruh dinding pertahanan yang ia bangun selama sebulan ini runtuh dalam sekejap. Ia menggendong Audrey menuju ranjang berukuran king size di tengah ruangan yang remang-remang.
Malam itu, di tengah kemewahan kamar yang kedap suara, terjadi sebuah pengorbanan yang tak terelakkan. Bukan pengorbanan nyawa, melainkan pengorbanan prinsip dan masa depan yang selama ini Audrey jaga dengan ketat. Di bawah pengaruh rencana busuk Bianca, Kensington dan Audrey terhanyut dalam gairah yang meluap-luap.
Kensington melakukannya dengan intensitas yang menakutkan—setengah ingin melindungi, setengah ingin menguasai. Ia menyadari bahwa malam ini adalah titik balik. Audrey menyerahkan segalanya, bukan karena sebuah janji di bawah bintang, melainkan karena jebakan gila dari masa lalu Kensington.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur Los Angeles, ruangan itu kembali sunyi. Hanya ada suara napas yang teratur dan aroma keringat serta cinta yang tersisa di udara. Kensington menatap Audrey yang tertidur lelap di pelukannya, jejak air mata masih ada di sudut mata gadis itu.
Kensington mengepalkan tinjunya di bawah selimut. Ia tahu Bianca telah menang dalam satu bab ini—ia telah berhasil membuat Kensington melakukan apa yang ia takuti: merusak Audrey sebelum waktunya. Namun, Kensington bersumpah dalam hati, bahwa harga yang harus dibayar Bianca untuk malam ini akan jauh lebih mahal dari apa yang bisa dibayangkan wanita itu.
Ia telah kehilangan Audrey yang "suci", tapi ia bersumpah tidak akan membiarkan Audrey kehilangan dirinya. Perjalanan baru saja dimulai dari atas ranjang mewah ini.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭