NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Lensa yang Membakar

Lensa yang Membakar

​"Gini ya, Rum. Cowok itu makhluk visual. Tapi kalau visual lo disajiin tiap hari di depan muka dia dalam kondisi 'haus', dia bakal bosen," Bella berceramah sambil menyesap boba sisa kemarin. "Lo harus keliatan high class, mahal, dan yang paling penting... sedang dipuja cowok lain secara profesional."

​"Maksud lo?" tanyaku sambil mengoleskan krim anti-iritasi di pinggangku yang lecet gara-gara korset semalam.

​"Kita sewa kak Satria," sahut Tiara semangat. "Dia alumni DKV yang ganteng banget, fotografer spesialis model majalah dewasa tapi kita suruh fotoin lo dengan tema high fashion yang elegan tapi... hot. Kita bikin sesi fotonya di ruang tamu rumah lo pas Mas Gavin pulang kerja!"

​Aku sempat ragu. "Mbak Siska gimana? Dia kan lagi pemulihan di rumah."

​"Mbak Siska kan jam empat sore biasanya tidur siang karena pengaruh obat. Nah, itu jamnya Mas Gavin balik buat cek Mbak Siska kan? Di situ kita beraksi!" Bella menyeringai licik.

​Pukul 16.30 - Ruang Tamu Arum

​Ruang tamu sudah disulap jadi studio dadakan. Ada lighting besar, kain putih, dan Kak Satria—yang beneran ganteng dan cool—sudah siap dengan kameranya. Aku memakai gaun tidur berbahan sutra tipis warna champagne yang tertutup outer transparan. Sangat elegan, tapi setiap aku bergerak, lekuk tubuh hasil "kerja keras" minyak bulus (yang syukurlah baunya sudah hilang) terlihat sangat nyata.

​"Oke, Arum. Lebih berani dikit. Tatap kameranya seolah kamera ini adalah cowok yang paling lo benci tapi lo pengen," instruksi Kak Satria.

​Aku berpose di atas sofa. Rambutku dibuat sedikit berantakan (messy look). Kak Satria mendekat, memperbaiki posisi rambutku di pundak dengan jemarinya yang lentur.

​"Nah, gitu. Tahan ya..."

​Cekrek! Cekrek!

​Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Sosok Gavin masuk dengan kemeja yang sudah dilepas kancing atasnya, membawa tas kerja dan wajah lelahnya yang khas. Langkahnya langsung terhenti.

​Matanya tertuju pada Kak Satria yang posisinya sangat dekat denganku, lalu beralih padaku yang sedang berpose menantang di atas sofa dengan pakaian yang... yah, minim.

​"Apa-apaan ini?" suara Gavin berat dan dingin, memenuhi ruangan.

​"Eh, Mas Gavin. Kenalkan, ini Kak Satria. Arum lagi bikin portofolio buat masuk agensi model, Mas," jawab Bella santai, padahal aku tahu dia lagi nahan napas.

​"Agensi model?" Gavin mendekat. Auranya mendadak gelap, menutupi keceriaan studio dadakan kami. Dia menatap Satria dengan tatapan 'mati-lo'. "Siapa yang mengizinkan orang luar masuk dan memotret di rumah ini?"

​"Aku yang izinkan, Mas. Ini kan rumah papa juga," sahutku berani, sambil sengaja memposisikan kakiku agar terlihat jenjang. "Kak Satria hebat lho, dia bilang aku punya potensi besar jadi model pakaian dalam atau swimsuit."

​Gavin mengepalkan tangannya. Aku bisa melihat otot rahangnya berkedut hebat. Tapi, dia tetap pada mode "Dinding Es"-nya.

​"Siska sedang tidur di atas. Suara shutter kamera dan lampu ini mengganggu," ucap Gavin tanpa menoleh padaku. Dia menatap Satria. "Keluar. Sekarang. Sebelum aku panggil sekuriti kompleks."

​"Tapi Mas, ini belum selesai—"

​"SEKARANG!" bentak Gavin.

​Satria yang nyalinya ciut langsung buru-buru membereskan alatnya. Bella dan Tiara pun ikut kabur lewat pintu belakang setelah memberikan kode "Semangat, Rum!" lewat jempol mereka.

​Kini tinggal aku dan Gavin. Suasana mendadak sunyi, hanya ada deru napas kami yang tidak beraturan.

​"Mas kenapa sih? Aku cuma mau punya karir sendiri!" aku berdiri, berjalan mendekatinya dengan gaun sutra yang menjuntai.

​Gavin meletakkan tasnya di meja dengan kasar. Dia membalikkan badan, menatapku dengan mata yang memerah. "Model? Kamu mau membiarkan ribuan pria menatap tubuhmu hanya dengan selembar kain? Kamu mau pria seperti fotografer tadi menyentuh kulitmu hanya untuk 'mengarahkan gaya'?"

​"Kenapa nggak boleh? Toh Mas juga nggak peduli kan?" aku menantangnya, berdiri tepat di depan dadanya. "Mas asyik sama Mbak Siska, asyik sama Clarissa. Aku juga butuh pengakuan, Mas. Kak Satria bilang aku... sempurna."

​Gavin tertawa rendah, tawa yang terdengar sangat berbahaya. Dia maju satu langkah, mengurungku di antara meja dan tubuh besarnya. Dia tidak menyentuhku, tapi panas tubuhnya merambat ke kulitku.

​"Sempurna?" bisik Gavin tepat di depan bibirku. "Dia belum melihat apa-apa, Arum. Dia hanya melihat kulitmu melalui lensa. Dia tidak tahu betapa berisiknya napasmu kalau aku ada di dekatmu."

​"Kalau gitu, buktikan," tantangku, suaranya parau karena gengsi dan gairah yang bercampur.

​Gavin menatap bibirku selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Jantungku berpacu gila-gilaan. Aku sudah siap dia akan melumat bibirku sekarang juga—

​Tiba-tiba, suara bel kamar Mbak Siska berbunyi dari lantai atas. Ting! Ting! Tanda Mbak Siska butuh sesuatu.

​Gavin langsung menarik diri seolah tersengat listrik. Dia merapikan kemejanya, wajahnya kembali dingin dalam hitungan detik.

​"Masuk kamar dan ganti baju sialan itu. Jangan biarkan aku melihatmu seperti ini lagi saat aku keluar dari kamar Siska," ucapnya tanpa perasaan.

​Dia berjalan menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Sedikit pun tidak.

​Aku jatuh terduduk di sofa, memukul bantal dengan geram. "Hampir! Dikit lagi! Argh, Mbak Siska timingnya kenapa pas banget sih!"

​Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah DM masuk dari akun anonim (yang aku yakin itu Gavin).

​"Fotografer itu mengambil fotomu dari sudut yang salah. Kamu tidak cocok jadi model. Kamu hanya cocok jadi milik satu orang yang tahu cara memperlakukanmu. Dan orang itu bukan dia."

​Aku tersenyum puas meski kesal. "Kena lo, Mas Kulkas!"

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!