NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik

​Malam di Istana Orizon biasanya terasa sunyi dan mencekam, seolah dinding-dinding batunya ikut membeku dalam kaku. Namun, di dalam Paviliun Mawar, suasananya terasa berbeda. Aroma minyak kayu putih—hasil racikan paksa Alesia kepada para tabib—bercampur dengan aroma kayu cendana yang menenangkan.

​Alesia duduk di pinggir ranjang raksasanya, hanya mengenakan gaun tidur sutra tipis tanpa lengan. Tangannya yang lecet-lecet akibat menahan beban Rose di tebing tadi siang terasa berdenyut nyeri.

​"Aduh, perih bener dah. Ini kalau di Depok udah gue kasih air liur biar cepet kering, tapi di sini kaga enak sama sprei emas," gumam Alesia sambil mencoba meniup-niup luka di telapak tangannya.

​TOK TOK TOK.

​Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Raja Magnus melangkah masuk dengan nampan kecil berisi botol-botol porselen dan baskom air hangat. Ia sudah mengganti baju zirahnya dengan jubah tidur panjang berwarna biru tua yang terbuka di bagian dada.

​"Eh, Bang? Ngapain malem-malem ke sini bawa baskom? Mau buka jasa cuci kaki?" celetuk Alesia, mencoba menutupi rasa gugupnya melihat rambut Magnus yang sedikit basah dan acak-acakan.

​Magnus tidak menjawab. Ia menarik kursi kayu ke depan Alesia, lalu duduk tepat di antara kedua kaki Alesia yang menjuntai di pinggir ranjang. Jarak mereka begitu dekat hingga lutut mereka bersentuhan.

​"Berikan tanganmu," perintah Magnus, suaranya rendah dan serak.

​"Kaga usah, Bang. Gue bisa sendiri. Tangan gue doang yang lecet, bukan otak gue," tolak Alesia sambil menyembunyikan tangannya di belakang punggung.

​Magnus menghela napas, matanya menatap Alesia dengan tatapan yang tidak bisa dibantah. "Alessia... jangan membuatku memaksamu. Aku sudah menyuruh Lily dan semua pelayan keluar. Malam ini, biar aku yang mengurusmu."

​Alesia akhirnya menyerah. Ia mengeluarkan tangannya perlahan. Magnus menyambut jemari Alesia dengan tangan besarnya yang kasar namun terasa sangat lembut saat menyentuh kulitnya. Magnus mencelupkan kain bersih ke air hangat, lalu mulai menyeka darah kering di telapak tangan Alesia.

​"Sssshhh... pelan-pelaaan, Bang Magnus! Sakit! Lu kira tangan gue kulit bedug apa?!" pekik Alesia sambil meringis.

​Magnus berhenti sejenak, lalu meniup luka itu dengan sangat lembut. Napas hangat Magnus yang mengenai kulitnya membuat Alesia merinding sampai ke tulang ekor.

​"Maafkan aku," bisik Magnus tanpa melepas pandangannya dari luka itu. "Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi bersama mereka. Aku tahu Rose dan ibuku licik, tapi aku tidak menyangka mereka akan senekat itu."

​Alesia menatap puncak kepala Magnus. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya melihat sang penguasa tertinggi Orizon mau duduk bersimpuh hanya untuk mengobati tangannya.

​"Ya namanya juga uler, Bang. Kalau kaga matok ya melilit. Gue mah udah biasa ngadepin yang begituan di Rawa Belong. Cuma ya itu... gue kaga nyangka ternyata lu beneran bakal belain gue di depan orang banyak," ucap Alesia lebih pelan.

​Magnus mengoleskan salep herbal berwarna hijau ke luka Alesia. Gerakannya sangat telaten, seolah ia sedang memegang barang pecah belah yang paling berharga di dunia.

​"Kenapa kau melakukannya, Alessia?" tanya Magnus tiba-tiba.

​"Melakukan apaan? Ngobatin tangan?"

​"Bukan. Kenapa kau melompat untuk menyelamatkan Rose? Kau tahu dia ingin mencelakaimu. Jika kau membiarkannya jatuh, semua masalahmu selesai. Tidak akan ada lagi yang meracunimu atau mengganggumu."

​Alesia terdiam sejenak, lalu mendengus. "Bang... denger ya. Bapak gue selalu bilang, 'Siti, kalau orang jahat sama kita, itu urusan dia sama Tuhan. Tapi kalau kita jahat balik pas orang itu mau mati, itu namanya kita kaga punya hati.' Gue emang barbar, Bang. Gue hobi banting orang. Tapi gue bukan pembunuh dingin yang tega liat orang mati di depan mata gue."

​Magnus mendongak, matanya mengunci tatapan Alesia. "Itulah masalahnya. Kau terlalu berbeda. Alessia yang dulu mungkin akan ikut jatuh karena ketakutan, tapi kau... kau justru menantang maut demi menyelamatkan musuhmu."

​Magnus memegang kedua tangan Alesia yang sudah dibalut perban putih rapi. Ia tidak melepaskannya. Suasana mendadak menjadi sangat intim. Alesia bisa merasakan jantungnya mulai berdetak dengan irama diskotik yang kencang.

​"Bang... ini perbannya udah kelar kan? Lepasin dong, ntar keringetan," ujar Alesia gugup.

​"Alessia... lihat aku," ucap Magnus mengabaikan protes istrinya. "Selama bertahun-tahun, istana ini terasa seperti penjara bagiku. Aku menikahimu hanya karena tugas, dan aku membiarkanmu menderita karena aku pikir itu adalah harga yang harus kau bayar sebagai Permaisuri. Tapi sekarang..."

​Magnus mengelus pipi Alesia dengan ibu jarinya. "Sejak kau bangun dari kematianmu itu, kau membawa 'badai' ke sini. Kau berisik, kau tidak sopan, kau suka membantah... tapi entah kenapa, aku merasa lebih hidup saat kau memakiku daripada saat semua orang memujaku."

​Alesia menelan ludah. Wajah Magnus semakin mendekat. "Bang... lu... lu lagi kaga mabuk kan? Apa salepnya tadi ada efek samping bikin baper?"

​Magnus tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Alesia ingin pingsan di tempat. "Aku sadar sepenuhnya. Aku jujur padamu. Aku ingin kau tetap di sini. Bukan sebagai mesin ahli waris, bukan sebagai pajangan politik... tapi sebagai istriku. Alessia-ku yang barbar."

​Alesia merasa pipinya panas bukan main. "Aduh Bang... jangan ngomong gitu napa. Gue jadi berasa kayak lagi main drama Korea tapi settingannya kolosal. Gue... gue juga sebenernya mulai ngerasa lu kaga kaku-kaku amat sih. Lu lumayan ganteng kalau lagi kaga cemberut."

​Magnus terkekeh pelan. "Hanya lumayan?"

​"Ya... oke deh, ganteng banget! Puas lu?!" Alesia membuang muka, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merah padam.

​Tiba-tiba, Magnus menarik tangan Alesia dan mengecup perban di telapak tangannya dengan sangat lama dan tulus. "Istirahatlah. Besok, aku akan pastikan Rose dan pengawalnya mendapatkan hukuman yang setimpal. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu."

​Magnus berdiri, hendak melangkah pergi, tapi Alesia menahan ujung jubah tidurnya.

​"Bang..."

​Magnus menoleh. "Ya?"

​"Makasih ya. Buat obatnya... dan buat pengakuannya. Tapi inget ya, gue tetep kaga mau bikin anak kalau sistemnya 'paksa'. Gue mau semuanya pake perasaan, kayak nasi goreng yang dimasak pake cinta," ucap Alesia dengan gaya nyablaknya yang kembali muncul.

​Magnus tertawa renyah, suara yang sangat jarang terdengar di paviliun itu. "Tentu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sampai kau sendiri yang memohon padaku untuk membuatkan 'nasi goreng' itu."

​Magnus mengedipkan sebelah matanya lalu keluar dari kamar, meninggalkan Alesia yang langsung menjatuhkan dirinya ke bantal sambil menjerit tertahan.

​"BUSHEEEETTT! Anak Depok kena gombal Raja! Abah, tolongin Siti! Siti meleyot, Bah!" teriak Alesia sambil guling-guling di kasur, melupakan rasa perih di tangannya.

​Namun, di balik kegembiraan Alesia, di paviliun Ibu Suri, suasana sedang sangat gelap. Ibu Suri Beatrice sedang menatap sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat.

​"Jika Magnus sudah tidak bisa dikendalikan karena wanita itu, maka wanita itu harus benar-benar dilenyapkan... kali ini, tanpa jejak."

1
Ika Fitri Ana
lanjut....👍👍👍
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Pawon Ana
si Siti ini devinisi genius jalanan...,🥰
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Muft Smoker
aduuuuh koq ibu suriii begini amat sifat ny jelek ,, kaya sofa lama Blum di ganti kulit ny ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: /Grin//Proud//Proud/
total 2 replies
Muft Smoker
awaas ekoor ny terbang alessia🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
enk banget kasih nama orang ,, kasihan si naga takut gx terima jenggot ny di samain ma si kael ikan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx bnr ad aja ide nama yg selalu muncul di luar kepala ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
astgaaa permaisuri senjata ny goloook ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,, siap2 jdi kurus anda gustaf🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,, permaisuri gx bisa d tindas lgiiii😏😏😏😏
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
ni nama ny permaisuri jaman emansipasi🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
Muft Smoker
lanjuut kak
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Muft Smoker
raja di panggil abank🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣 ,, catatan baru dlm sejarah ini ,,
Muft Smoker: bnr kak ,, anak abaaah di lawan 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 4 replies
Muft Smoker
kak baru bab awal loo tp udh seruuu liat tingkat alessi yg apa adany ,,
semangat trus ya kak nulis ny
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Muft Smoker
💯 buat lily🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Muft Smoker
duuh korban tabrak lari gerobak gorengan🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣


hai kak ,,
aq mampir ksniii
Muft Smoker: sama2 kak
total 2 replies
Hasnawiyah Ansar
iya bener sekali tebakan anda
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
lucuk, keren, gerrrrr banget /Joyful/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
baru bab satu aja udah kocaggh banget🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih,
stay read kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Pawon Ana
ini krakter anak Betawinya positif thinking ya tipenya....jadi asyik orangnya...🤭✌️
Ariska Kamisa: dia anak bae bae kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ika Fitri Ana
semua ceritanya bagus..simpel tidak berbelit...jadi tidak membosankan cerita2nya....rekomend banget.
Ika Fitri Ana
semangat ..bagus ceritanya..semoga tetap menarik seperti cerita lainnya thor...👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!