NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Suara deru mesin motorku berhenti tepat di depan gerbang kosan yang sudah sangat akrab di mataku. Sore itu, langit mulai meredup, menyisakan warna jingga yang terasa kelabu di hatiku. Pandanganku tertuju pada sebuah motor yang sudah terparkir rapi di sana. Hatiku mencelos benar, Mas Dika sudah sampai duluan. Ada rasa lega sekaligus cemas yang mendadak menyerang sistem sarafku. Dengan langkah yang terasa berat, aku melangkah masuk, membuka pintu kamar, dan segera menguncinya dari dalam, seolah ingin mengunci seluruh dunia di luar sana.

"Capek banget ya, Yang?" Sebuah suara bariton yang berat menyambutku. Sebelum aku sempat meletakkan tas, sepasang lengan kekar sudah melingkar erat di pinggangku, memelukku dari belakang. Aroma parfum maskulin bercampur aroma rokok tipis dari tubuhnya menyerbu indra penciumanku.

Aku berbalik, membalas pelukannya dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Di dalam dekapan Mas Dika, aku selalu merasa menemukan dermaga, meski aku tahu dermaga ini mungkin sedang dilanda badai yang hebat. Mas Dika melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya masih bertengger di bahuku. Ia menatapku lekat-lekat, sebuah tatapan penuh arti yang sudah sangat kupahami maknanya. Aku tahu, ia sedang menginginkanku.

"Emmh..." Aku hanya bisa mengerang pelan saat Mas Dika mulai mengecup leherku dengan posesif. Hasratnya selalu meluap setiap kali kami bertemu, seolah-olah setiap pertemuan adalah pertemuan terakhir.

"Mas..." panggilku lirih saat ia mulai membimbing tubuhku menuju kasur tipis di sudut kamar.

"Iya, sayang," jawabnya pelan, suaranya serak tertahan. Tanpa banyak kata, ia melanjutkan aksinya. Di dalam kamar kos yang sempit ini, aku seolah kehilangan daya untuk menolak. Setiap sentuhannya selalu berhasil membakar keraguanku, membuat hasratku memuncak dan ingin meledak saat itu juga. Mungkin, hanya dengan cara inilah aku bisa merasa benar-benar memilikinya, meski aku tahu hubungan ini dibangun di atas fondasi yang sangat rapuh.

"Makasih, sayang," bisiknya lembut setelah semuanya usai. Ia mengecup keningku dengan sayang, sebuah ritual yang tak pernah ia lewatkan. Tak butuh waktu lama bagi Mas Dika untuk jatuh terlelap di sebelahku, kelelahan setelah seharian bekerja dan melampiaskan rindu. Ia memelukku dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggangku seolah tak membiarkanku pergi barang seinci pun.

Aku menatap langit-langit kamar yang kusam. Pikiranku berkelana jauh. Saat aku mencoba menggeser perlahan tangannya yang melingkar di pinggangku, ia justru mempererat pelukannya.

"Mau ke mana? Di sini dulu, temani Mas tidur," gumamnya dengan mata yang masih terpejam.

"Mas, aku mau ke kamar mandi dulu. Mau bersih-bersih, badanku lengket semua," ucapku sembari membalikkan badan, menatap wajah lelahnya yang tampak begitu tenang saat tidur.

"Nanti saja, Yang. Mas tidur sebentar, nanti lanjut main lagi," pintanya manja, menarik tubuhku hingga dadaku menempel sempurna di dadanya. Aku hanya bisa mendengus kesal, namun tak urung aku kembali memejamkan mata, ikut tenggelam dalam keheningan malam yang mulai merayap.

Pukul tujuh malam. Aku tersentak bangun. Kamar sudah gelap gulita. Dengan terburu-buru, aku membangunkan Mas Dika yang masih mendengkur halus.

"Mas, bangun! Sudah jam tujuh. Kamu nggak pulang ke rumah? Nanti Ibu nyariin kamu," ucapku sembari mengguncang bahunya.

"Enggak, Mas malam ini tidur di sini sama kamu. Mas kangen banget, Yang," jawabnya sembari menarikku kembali ke dalam pelukannya.

Aku terdiam, menatap lekat wajahnya di bawah temaram lampu jalan yang masuk melalui celah ventilasi. "Mas..." panggilku pelan.

"Hem? Kenapa? Mau lagi?" godanya dengan senyum nakal yang tersampir di bibirnya.

"Enggak ah, aku mau mandi dulu, Mas!" Aku segera bangkit, mengabaikan tawa kecilnya, dan langsung melesat ke kamar mandi.

Di bawah guyuran air dingin, aku berusaha mencuci semua rasa lelah dan lengket di tubuhku. Namun, saat tanganku mulai menyabun area perut, aku membeku. Di sana, di balik kulit perutku yang kian menegang, aku merasakan gerakan kecil seperti tendangan lembut yang berulang. Aku tersentak, refleks memegang perutku dengan tangan gemetar.

Setiap kali janin ini bergerak, aku selalu diingatkan pada kenyataan pahit yang kusembunyikan. Perutku sudah terlihat membuncit, sesuatu yang selama ini aku tutupi dengan pakaian-pakaian oversize agar rekan kerja dan keluargaku tidak curiga. Ketakutan itu kembali datang menyerang. Bayangan Bapak yang tempramen seolah berdiri di depanku, siap menghakimiku. Beliau sedang merantau di Kota K, dan aku bersyukur akan hal itu, namun aku tahu rahasia ini takkan bisa selamanya terkunci.

Aku teringat betapa dulu aku pernah mencoba berbagai cara gila untuk melenyapkan janin ini karena rasa takut yang luar biasa. Namun, janin ini justru tumbuh semakin kuat dan sehat di dalam sana, seolah ia sedang memberitahuku bahwa ia ingin hidup. Akhirnya, aku menyerah. Aku memilih untuk mempertahankannya. Dan malam ini, aku tahu aku tidak bisa lagi menunda kejujuran kepada pria yang sedang menungguku di luar sana.

Setelah mandi dan berganti pakaian, aku duduk di samping Mas Dika yang sedang menikmati rokoknya. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, menghirup aroma tembakau yang terbakar.

"Mas..." panggilku pelan, suaraku hampir hilang.

"Hem?" Mas Dika meletakkan puntung rokoknya di asbak, lalu menatapku lekat. Tatapannya mendadak berubah sangat serius, seolah ia bisa membaca isi kepalaku. "Kamu hamil, Yang?"

Pertanyaannya yang tiba-tiba membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Lidahku kelu. Aku hanya bisa menunduk, tak berani menatap matanya yang tajam. Air mataku mulai menggenang di pelupuk mata.

Mas Dika mendongakkan wajahku, memaksaku menatapnya. "Kalau iya, kita ngomong bareng-bareng sama Ibu dan Bapak kita, Yang. Mas sudah merasa kalau kamu hamil. Selama ini Mas sering mual, ingin muntah setiap kali makan, Mas juga nggak enak badan terus. Kamu tahu? Mas mendadak suka sekali sama bunga, padahal dulu Mas nggak peduli. Mas juga lihat badan kamu berubah, perut kamu sudah membuncit."

Aku terperangah. Jadi selama ini dia merasakannya? Gejala sympathetic pregnancy itu dialami olehnya?

"Dua bulan terakhir Mas baru menyadari, tapi Mas bingung mau tanya bagaimana sama kamu. Mas juga belum berani bicara sama Ibu, Mas takut Ibu nggak mau menerima kamu. Tapi Mas janji, Mas akan meyakinkan Ibu kalau kamu adalah pilihan terbaik untuk jadi pendamping Mas. Kita yakinkan mereka sama-sama, ya?"

Benteng pertahananku runtuh total. Aku menangis tersedu-sedu di pelukannya. Rasa haru, takut, dan lega bercampur menjadi satu. Dika yang kukira akan melarikan diri, ternyata justru sudah menyiapkan diri untuk memikul beban ini bersamaku. Namun, ketakutanku belum hilang sepenuhnya. Bagaimana dengan keluarga besarku? Bagaimana dengan cacian orang-orang?

"Kamu siap-siap. Motor kamu tinggal di sini saja, Mas antar kamu pulang kerumah, tapi sebelumnya kita ke rumah Mas dulu. Kita ngomong terus terang sama Ibu Mas," ucapnya sembari mengusap lembut rambutku.

"Mas, aku takut... nanti Ibu Mas kaget terus marah..."

"Sssttt..." Dika menempelkan jari telunjuknya di bibirku. "Bismillah, percaya sama Mas."

Dengan tangan yang masih gemetar, aku memakai hijab dan jaket, lalu mengikuti langkah Mas Dika menuju parkiran. Perjalanan menuju rumahnya yang hanya dua puluh menit terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Saat motor berhenti di depan rumahnya, kakiku terasa lumpuh. Aku berdiri mematung di halaman, sementara Mas Dika sudah melangkah masuk lebih dulu. Bibirku terasa seperti habis terkena lem susah sekali untuk sekadar mengucap salam.

"Yang, ayo masuk. Kamu yang tenang, kita bicara sama Bapak Ibu. Mereka sudah menunggu di dalam," ucap Mas Dika yang kembali keluar menjemputku.

Langkahku terasa seberat timah. Di balik pintu kayu itu, aku tahu ada badai yang siap meluluhlantakkan sisa-sisa harga diriku. Mas Dika menggenggam tanganku erat, seolah memberi kekuatan yang ia sendiri pun belum tentu memilikinya. "Bismillah," bisiknya. Tapi bagiku, itu lebih terdengar seperti doa terakhir sebelum eksekusi dimulai.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!