NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Pohon

Dulu mereka sering bermain di rumah pohon yang dibangun bersama. Itu adalah tempat spesial bagi mereka. Namun, hingga tahun ke tiga, Adden sudah muak menunggu seseorang yang tak kunjung kembali. Akhirnya, dia membakar habis tempat itu hingga rata dengan tanah, menyisakan abu. Sama seperti perasaannya terhadap Melody yang sudah hangus tak bersisa.

Adden penasaran bagaimana gadis itu bisa membuat tato sekeren itu. Pasti hasil kerja profesional, tapi mengingat usianya yang belum delapan belas tahun, Adden yakin Melody pasti memanfaatkan orang lain. Mungkin dia tidur dengan si pembuat tato itu.

Hanya dengan membayangkan Melody membuka kaki untuk orang lain, tangannya langsung mengepal kuat. Dia juga melihat plester penutup luka di lengan gadis itu, membuatnya bertanya-tanya bagaimana Melody bisa terluka. Seharusnya tidak ada satu hal pun dari gadis itu yang mengganggu pikirannya, tapi nyatanya iya.

Sepertinya semua perasaan yang selama ini dia pendam, mulai muncul lagi. Jujur saja, Adden butuh pelampiasan. Sudah lama rasanya.

"Aku jalan kaki aja. Kamu gak perlu nunggu aku sepulang sekolah untuk pulang sama sama ke rumahmu," ucap Melody pelan.

"Jaraknya lima kilometer, Melody. Aku gak punya waktu buat main drama. Masuk!" perintah Messy dengan tegas.

Melihat mereka berdampingan, jelas sekali mereka berdarah sama. Rambut mereka sama-sama pirang gelap, persis seperti ayahnya. Bedanya, kulit Melody lebih gelap kecokelatan, sementara kulit Messy lebih pucat.

Adden memperhatikan Jojo dan adiknya, Giggi, berjalan melewati BMW miliknya setelah keluar dari gedung sekolah.

"Ya Ampun, itu dia ya?" tanya Giggi penasaran.

"Iya," jawab Jojo dari belakang, membuat Melody menoleh.

Mata mereka bertemu, lalu pandangannya beralih ke mobil Adden, seakan langsung mengenalinya. Adden memang suka mobil yang keren, mirip Batmobile. BMW M8 convertible ini sudah cukup mendekati, apalagi kacanya gelap.

Melody pasti belum melihat Lamborghini yang Papanya berikan untuk ulang tahun ke-18.

"Messy, dia cantik banget!" Giggi langsung mendekat. "Hai, aku Giggi. Kakakku Jojo," sapanya ramah dengan senyum lebar.

Adden memutar matanya malas. Kadang Giggi memang agak polos, atau mungkin dia pura-pura tidak tahu demi kebaikan Messy. Giggi itu tipe cewek baik-baik, masih kelas sebelas. Jadi mungkin dia tidak tahu keributan yang terjadi saat jam makan siang tadi. Dia bahkan melihat baju Melody tapi tidak bertanya kenapa memakai seragam cowok.

Melody menatap Giggi sebentar, lalu menoleh ke Jojo. Matanya kembali menatap Adden, yang tanpa sadar menjulurkan lidah menyentuh gigi depan.

Sepertinya Melody sadar Giggi bukan ancaman, jadi dia membalas senyum. Senyum yang membuat jantung Adden berdegup kencang.

Sialan.

Dia memang cantik. Giginya putih rapi terpampang di antara bibir merahnya, membuat darah Adden langsung berdesir ke bawah.

Adden melihat tatapan Jojo ke Melody dan sadar gadis itu juga memberikan efek yang sama ke temannya.

"Melody mau pulang. Dia harus segera sampai di rumah," potong Adden cepat, "Dia..."

Melody mengabaikannya dan langsung berbicara dengan Giggi. "Namaku Melody."

"Melody," ulang Giggi. "Cocok banget. Bagus."

"Makasih," jawabnya sedikit tersenyum.

Giggi tersenyum lebar seakan baru mendapatkan teman baru. Padahal Adden dan yang lainnya justru sedang berusaha menghindari gadis itu sejauh mungkin.

"Aku mau pulang dulu ya. Nanti kita ketemu lagi. Senang kenalan sama kamu, Giggi. Ternyata gak semua orang di sini sombong dan angkuh."

Giggi menatap kakaknya lalu kembali ke Melody. "Kalau ada yang ganggu kamu, bilang aku ya."

Dia menoleh tajam ke arah Messy. "Gak nyangka kamu biarin orang lain seenaknya sama adekmu sendiri. Kamu ada apa sih? Kamu kan tahu kelakuan Adden dan gengnya gimana."

"Dia bukan adek aku, Giggi. Aku aja hampir gak kenal dia," sanggah Messy.

"Terserah deh." Giggi kembali ke Melody. "Kita harus jalan bareng suatu hari nanti. Abaikan saja cowok-cowok itu. Emosi mereka gak stabil. Masalah hormon kali."

Melody menatap Adden dan menjawab, "Iya, kelihatan kok. Kayaknya akhirnya mereka mulai 'beraksi' juga ya."

Jojo tertawa kecil.

Dia pasti tahu kalau Melody sedang menyindir Adden habis-habisan. Adden harus memperbaiki situasi ini demi Messy. Insiden susu tadi siang memang salahnya, meskipun bukan dia yang langsung melakukannya.

Mereka pun beranjak pergi.

"Masuk ke dalam," perintahnya tegas sambil masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Melihat gadis itu masih berdiri diam di sana, emosinya mulai memuncak.

Adden menurunkan kaca jendela dan menatap Messy. "Aku yang urus ini. Aku yang antar dia"

Messy menggeleng panik. "Aku butuh dia pulang, atau Papa aku bakal bunuh aku, Adden."

"Aku bilang aku yang urus! Memang ini salah aku juga," jawabnya pada Messy. Ia lalu mencondongkan tubuh sedikit dan menatap Melody dengan alis terangkat. "Masuk sana, Melody."

Gadis itu berjalan enggan mendekat, membuka pintu, dan duduk di sampingnya. Tangan Adden mencengkeram setir lebih kuat saat melihat rok gadis itu tersingkap sedikit ke atas, memperlihatkan pahanya. Sensasi itu menggelitik kesadarannya, membuatnya harus menahan diri.

Begitu duduk, Melody langsung bicara tanpa basa-basi. "Oke, bilang aja apa yang mau kamu omongin, terus anter aku ke rumah mereka."

Adden memundurkan mobilnya, tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar saat mereka keluar dari area parkir. Tiba-tiba ia berniat membelikan jaket baru untuk gadis itu menggantikan yang rusak. Biarlah sekolah yang menagih biaya seragam ke dirinya.

Cara ini paling menguntungkan semua pihak. Melody dapat baju baru, Messy selamat dari omelan ayahnya, dan ia pun merasa lebih tenang.

"Mau ke mana sih? Rumah Messy ke arah sana, lho." Melody menunjuk ke arah berlawanan dengan ibu jarinya. Lengan gadis itu penuh dengan tato yang memiliki cerita. Cerita mereka. Bunga favorit yang pernah ia berikan dulu.

Adden melirik sekilas. "Aku ada tawaran. Kamu jangan cerita kalau jaket dan seragam kamu rusak, aku beliin yang baru buat kamu, dan biaya seragam biar sekolah yang tagih ke aku."

Melody tertawa.

Tawa itu terdengar indah, tapi Adden berusaha tetap terlihat datar. Padahal dalam hati, ia mengakui segalanya tentang gadis ini terlihat begitu menarik. Sialnya, ia benar-benar butuh pelampiasan akhir-akhir ini karena terlalu sibuk membantu ayahnya mengurus bisnis.

"Apa yang lucu?" tanyanya ketus.

"Aku cuma heran sama teman kamu itu. Kayaknya dia gak berani ngaku ke Papanya kalau dia emang brengsek, ya? Suka nyebar gosip tentang aku dan suruh teman-temannya bully aku pas hari pertama sekolah. Dasar orang yang gak bisa selesain masalah sendiri," celetuk Melody sinis. "Aku gak percaya sama kalian, anak orang kaya. Pikirannya cuma duit doang, ya? Kalau salah, apa-apa diselesaikan pake uang dan ancaman?"

Lubang hidung Adden mengembang menahan amarah saat ia memarkirkan mobil di area mall. Setelah berhenti, ia menoleh dan menatap Melody lekat-lekat. Matanya tanpa sadar menelusuri tubuh gadis itu yang terbalut kaos polo. Saat pandangan mereka bertemu, Adden sadar ia ketahuan sedang mengamatinya.

"Udah puas ngeliatinnya?" tantang Melody.

Adden mendengus kasar. "Please, aku udah bilang apa pendapat aku tentang kamu ... dan menarik itu gak termasuk."

"Berarti kamu cowok mesum ya? Bukan cuma suka mengintimidasi, tapi juga suka bully, mengancam, dan mungkin suka nyebar fitnah juga," balas Melody tajam.

"Jangan kegeeran deh kamu. Aku sama sekali gak mesum. Aku gak perlu ancam kamu buat apa-apa. Menurut aku tawaran aku itu untung banget buat kamu. Kamu dapet jaket bagus gratis, daripada pake baju compang-camping kayak gitu."

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!