NovelToon NovelToon
NIRWANA BERDARAH

NIRWANA BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No Plagiat 🚫

NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau

“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”

Yi Ling adalah anomali.

Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.

Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.

Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.

Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.

Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.

Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.

Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISA KEHANGATAN DI BALIK DINDING DINGIN

Langkah Yi Ling terhenti di depan sebuah gubuk kayu di pinggiran wilayah klan. Jauh dari kemegahan paviliun murid inti, bangunan itu lebih mirip gudang tua yang dipaksakan menjadi tempat tinggal. Dindingnya kusam, atapnya sedikit miring, dan angin bebas keluar masuk melalui celah papan yang retak. Inilah tempat seorang janda jenderal dibuang—tanpa kehormatan, tanpa perlindungan.

Yi Ling berdiri diam beberapa saat. Napasnya perlahan ia atur. Sisa aura tajam dari Zhui Hai yang tadi meledak di Lembah Hijau kini ia tekan sedalam mungkin. Ia tidak ingin ibunya melihat sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pahami.

“Ling-er? Itu kau?”

Suara lembut itu datang dari dalam. Lemah, tapi hangat.

Yi Ling mendorong pintu kayu itu perlahan.

Di dalam, seorang wanita paruh baya duduk di dekat jendela kecil, tangannya sibuk menjahit jubah abu-abu yang robek. Wajahnya masih menyimpan kecantikan masa lalu, meski garis kelelahan tak bisa disembunyikan. Dialah Lin Hua—ibu yang tetap bertahan meski dunia seolah memilih meninggalkannya.

“Ibu,” jawab Yi Ling singkat.

Untuk sesaat, kekakuan di wajahnya melunak. Tidak banyak, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia masih manusia di depan wanita itu.

Ibu Lin berdiri dan mendekat. Tangannya menyentuh pipi Yi Ling dengan hati-hati, seolah takut anaknya akan menghilang jika disentuh terlalu keras.

“Kau dari Lembah Hijau? Kenapa napasmu berat begini?” matanya turun ke sudut bibir Yi Ling. “Dan ini… darah?”

“Hanya debu. Aku terpeleset saat mendaki,” jawab Yi Ling datar.

Kebohongan itu keluar begitu saja. Ia tahu kebenaran hanya akan melukai ibunya lebih dalam.

Namun, Lin Hua tidak mudah dibohongi.

Matanya beralih ke seruling di pinggang Yi Ling. Bambu itu bergetar halus—aneh, seperti memiliki kehidupan sendiri.

“Medali itu… kau memberikannya pada mereka, bukan?”

Yi Ling terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Benda itu hanya mengundang lalat. Aku tidak butuh warisan klan yang busuk.”

Ibu Lin menarik napas panjang. Matanya berkaca-kaca, namun ia tidak menangis.

“Maafkan Ibu, Nak… jika ayahmu masih ada—”

Yi Ling memotong dengan lembut. Tangannya menggenggam tangan ibunya yang kasar.

“Jangan minta maaf. Klan ini tidak pantas memiliki kita.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan mulai hari ini… mereka tidak akan lagi memilikiku.”

Tubuh Lin Hua sedikit tersentak. “Apa maksudmu?”

“Aku akan pergi.”

Suara Yi Ling tetap tenang, tapi ada sesuatu yang berubah—sebuah ketegasan yang tak bisa ditarik kembali.

“Aku akan mencari cara memperbaiki Dantianku. Bertahan di sini hanya membuat kita perlahan mati.”

Ia menatap lurus ke mata ibunya.

“Aku akan kembali… saat aku cukup kuat untuk meratakan semuanya.”

Ruangan itu sunyi.

Hanya suara jarum yang jatuh ke lantai terdengar pelan.

Lin Hua memejamkan mata. Ia tahu… ini akan terjadi suatu hari nanti.

Ia masuk ke kamar dan kembali dengan sebuah bungkusan kecil—beberapa keping perak dan sebotol obat tua.

“Pergilah,” ucapnya lirih, tapi tegas. “Jangan menoleh ke belakang.”

Ia tersenyum tipis.

“Ayahmu selalu bilang… pedang patah masih bisa ditempa kembali. Tapi jiwa yang menyerah… hilang selamanya.”

Yi Ling menerima bungkusan itu.

Tanpa kata-kata, ia berlutut dan bersujud tiga kali.

Saat ia berdiri, wajah dinginnya kembali menutup semua emosi. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa ragu.

Namun langkahnya sempat terhenti di ambang pintu.

Sesaat saja.

Lalu ia pergi.

Udara di luar terasa lebih dingin.

Yi Ling berjalan melewati gerbang belakang klan tanpa menoleh. Setiap langkah menjauhkan dirinya dari satu-satunya kehangatan yang ia miliki.

“Kenapa lambat sekali, Bocah?”

Suara parau itu kembali muncul di kepalanya.

“Apa dua keping perak di kantongmu itu terlalu berat untuk kaki lemasmu?”

Yi Ling berhenti. Ia menarik Zhui Hai dan menatapnya tajam.

“Kalau kau bisa bicara, setidaknya bicaralah yang berguna.”

Ia mengangkat sedikit seruling itu.

“Atau kau mau aku gunakan untuk mengganjal pintu gudang?”

Hening sejenak.

Lalu—

Seruling itu bergetar hebat.

“Tertawa.”

“Ganjal pintu? Hahaha! Berani sekali kau menghina senjata Ranah Heaven!”

Suara itu penuh ejekan.

“Kalau bukan karena jejak darah ayahmu… aku lebih baik membusuk di lumpur daripada terikat dengan kultivator cacat sepertimu.”

Rahang Yi Ling mengeras. “Ayahku?”

“Jangan tanya hal yang tak sanggup kau pahami,” potong Zhui Hai. “Fokus ke depan.”

Suasana mendadak terasa lebih berat.

“Hutan Kabut Hitam. Di sana ada ‘Akar Pembalik Takdir’. Satu-satunya cara menyambung Dantianmu.”

Yi Ling menarik napas dalam.

“Berapa jauh?”

“Sepuluh mil. Tapi dengan langkah siputmu… mungkin kita sampai saat kau sudah jadi kerangka.”

Yi Ling tidak membalas.

Namun matanya sedikit menyipit.

“Dan satu lagi,” lanjut Zhui Hai pelan.

“Ada penyambut tamu.”

Semak-semak di depan bergetar.

Sebuah sosok muncul perlahan.

Serigala Taring Besi.

Matanya merah. Air liurnya menetes. Tubuhnya besar, dengan otot yang jelas terlihat di balik bulu kasar.

Monster tingkat satu.

Bagi murid klan biasa—mudah.

Bagi Yi Ling saat ini—hukuman mati.

“Nah,” suara Zhui Hai terdengar santai. “Mau tetap bergaya dingin, atau mulai meniup?”

Yi Ling tidak menjawab.

Tangannya sedikit gemetar.

Namun matanya—

Tetap tenang.

Ia mengangkat Zhui Hai ke bibirnya.

“Berhenti mengoceh,” gumamnya pelan.

“Kalau kita mati, kau juga ikut.”

Serigala itu menggeram, lalu melompat.

Angin terbelah.

Tanah terinjak.

Dan di detik yang sama—

Yi Ling meniup.

Tiiiit—

Nada itu tipis.

Hampir tak terdengar.

Namun udara di sekitarnya langsung berubah.

Serigala itu berhenti di udara.

Tubuhnya kaku.

Matanya melebar.

Lalu—

BRAK!

Tubuhnya jatuh ke tanah tanpa suara, seolah seluruh kehidupannya direnggut dalam satu detik.

Yi Ling terhuyung satu langkah ke belakang. Napasnya kacau.

Darah segar mengalir dari bibirnya.

“Terlalu lemah,” cibir Zhui Hai. “Satu nada saja sudah membuatmu seperti ini.”

Yi Ling menyeka darahnya dengan punggung tangan.

“Aku tidak mati.”

“Hampir,” balas Zhui Hai santai. “Kalau kau ingin hidup… cepatlah ke Hutan Kabut Hitam.”

Yi Ling menatap ke depan.

Hutan gelap itu berdiri seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun.

Namun tanpa ragu—

Ia melangkah masuk.

1
Blueria
Sudah bagus kak, hanya saja istilah modern "Mekanis" kurang dapat feel-nya. Awalnya aku cocok aja bacanya, tapi pas ada penulisan kata Mekanis jadi gak dapet aura kuno nya...
Devilgirl: makasih,udah diingatkan nanti author revisi ulang😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!