Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Kukuruyuk.
Kokok ayam dari kejauhan memecah kesunyian fajar di Desa Qingshui. Sinar matahari pagi perlahan menyusup masuk melalui celah jendela kamar Lin Ye, memberikan kehangatan yang membangunkan pemuda itu dari tidur lelapnya. Kasur pegas barunya benar-benar bekerja dengan sangat baik, membuat kualitas tidurnya meningkat drastis.
Lin Ye bangkit berdiri dan meregangkan tubuhnya. Hari ini adalah hari penjemputan barang, dan dia tahu ladangnya telah menyiapkan kejutan besar.
Dia berjalan keluar melalui pintu belakang. Saat matanya memandang ke arah hamparan ladang yang baru diperluas, senyum lebar langsung mengembang di wajahnya.
Aroma manis yang luar biasa pekat namun menyegarkan langsung menyapa penciumannya. Di sebelah kiri ladang, batang-batang jagung menjulang tinggi dengan tongkol-tongkol besar yang menyembul dari sela daun. Kulit jagung itu sedikit terbuka, memperlihatkan bulir-bulir jagung yang bersinar keemasan seolah memantulkan cahaya matahari pagi itu sendiri.
Di petak sebelah kanan, hamparan daun hijau merambat menutupi tanah, dihiasi oleh ratusan buah stroberi berukuran sebesar telur ayam. Warnanya merah pekat dan terlihat sangat berair.
"Bos Lin Ye, selamat pagi," sapa Xiao Lu yang muncul dari balik rimbunnya daun stroberi. Wajah kurcaci kecil itu dipenuhi noda merah cairan stroberi, dan dia terlihat sangat bahagia. "Aku sudah mengawasi ladang ini semalaman penuh bersama paman boneka jerami. Buahnya sudah matang sempurna."
"Kerja yang sangat bagus, Xiao Lu. Ayo kita mulai panen sebelum truk dari kota datang," jawab Lin Ye sambil mengambil dua buah keranjang bambu besar dari dalam gudang.
Lin Ye mulai memetik Stroberi Pemulih satu per satu dengan hati-hati. Saat dia menyentuh buah tersebut, ada sensasi sejuk yang mengalir ke ujung jarinya. Dia tidak tahan untuk tidak mencicipi satu buah.
Saat dia menggigit stroberi itu, rasa manis yang meledak di mulutnya sangat luar biasa, mengalahkan stroberi impor manapun yang pernah dia makan. Seketika, sisa rasa kantuk di matanya hilang sepenuhnya, digantikan oleh ledakan energi dan kesegaran fisik yang instan.
"Pantas saja sistem menamainya Stroberi Pemulih. Efeknya sama persis dengan meminum minuman energi berdosis tinggi, tapi seratus persen alami," batin Lin Ye takjub.
Setelah mengumpulkan lima puluh buah stroberi dan lima puluh bonggol Jagung Emas, Lin Ye meletakkan keranjangnya di teras belakang.
Brummm.
Suara mesin menderu dari arah jalan utama desa. Kali ini, tidak hanya suara truk boks pendingin yang terdengar, melainkan juga suara mesin halus dari sebuah mobil SUV hitam.
Klakson dibunyikan pelan dua kali di depan gerbang.
Lin Ye berjalan ke depan dan membuka gerbang kayunya. Paman Chen turun dari truk pendingin, namun yang membuat Lin Ye mengangkat alisnya adalah sosok yang turun dari SUV hitam tersebut.
Tang Wanjin melangkah keluar dengan anggun. Hari ini dia mengenakan setelan jas wanita berwarna abu-abu muda yang sangat profesional, rambutnya diikat rapi ke belakang, dan wajahnya kembali memancarkan aura seorang direktur utama yang dingin dan penuh perhitungan. Sama sekali tidak ada jejak wanita penyayang kucing yang Lin Ye temui di taman kota kemarin.
"Selamat pagi, Direktur Tang. Saya tidak menyangka Anda akan turun langsung ke desa lagi untuk penjemputan rutin ini," sapa Lin Ye dengan nada formal yang sengaja dia buat-buat untuk menggoda wanita itu.
"Selamat pagi, Lin Ye. Aku datang karena kamu menjanjikan sebuah komoditas baru yang rasanya akan membuat kokiku menangis bahagia. Aku tidak suka membeli kucing dalam karung, jadi aku ingin memeriksanya sendiri sebelum harganya disepakati," jawab Tang Wanjin, langkah sepatunya terdengar tegas saat memasuki pekarangan.
"Anda sangat berhati-hati. Silakan ke halaman belakang, semuanya sudah saya siapkan," Lin Ye mempersilakan tamunya masuk, sementara Paman Chen mengikuti di belakang membawa timbangan.
Saat mereka tiba di teras belakang, langkah Tang Wanjin terhenti seketika. Matanya terpaku pada dua keranjang bambu yang berisi Jagung Emas dan Stroberi Pemulih. Aroma manis yang menguar dari buah merah itu langsung menembus indera penciumannya, membuat perutnya yang belum sempat sarapan berbunyi pelan.
"Ini... stroberi dan jagung manis? Ukurannya sangat tidak wajar, warnanya terlalu cerah," gumam Tang Wanjin, berjalan mendekat dan membungkuk untuk melihat lebih jelas.
"Silakan dicicipi, Direktur. Saya jamin, Anda tidak perlu mencucinya. Sayuran saya tumbuh tanpa setetes pun bahan kimia," tawar Lin Ye sambil menyodorkan sebuah stroberi merah pekat.
Tang Wanjin ragu sejenak, namun aroma memikat itu meruntuhkan pertahanannya. Dia mengambil stroberi itu dan menggigitnya kecil.
Mata Tang Wanjin seketika melebar. Gerakan mengunyahnya terhenti selama dua detik, sebelum dia akhirnya menghabiskan sisa buah itu dengan cepat.
"Luar biasa," bisik Tang Wanjin tanpa sadar.
Dia bisa merasakan sesuatu yang ajaib terjadi di dalam tubuhnya. Rasa penat akibat kurang tidur semalaman karena menyiapkan laporan keuangan mendadak sirna. Kepalanya yang tadinya terasa berat kini menjadi sangat ringan dan jernih.
"Bagaimana rasanya? Apakah cukup untuk membuat koki Anda menangis?" goda Lin Ye yang sedang bersandar di tiang kayu teras.
Tang Wanjin berbalik menatap Lin Ye. Wajah profesionalnya sedikit goyah oleh rasa takjub. "Lin Ye, ini bukan sekadar buah yang enak. Ini adalah mahakarya. Rasa manisnya sangat pas, dan entah mengapa, aku merasa sangat segar setelah memakannya. Ini bisa menjadi menu pencuci mulut paling eksklusif di seluruh provinsi."
"Saya senang Anda menyukainya. Tentu saja, komoditas premium datang dengan harga premium," Lin Ye masuk ke mode negosiasi bisnis. "Saya punya lima puluh stroberi dan lima puluh jagung emas hari ini. Karena kualitas dan efek menyegarkannya yang luar biasa, saya membuka harga seribu yuan per buah untuk stroberi, dan lima ratus yuan untuk jagung."
Paman Chen yang mendengarnya sedikit tersedak. "Seribu yuan untuk satu buah stroberi? Tuan Lin, itu sudah menyamai harga jamur truffle langka."
"Kualitas berbanding lurus dengan harga, Paman Chen. Direktur Anda baru saja merasakan sendiri efeknya," balas Lin Ye santai.
Tang Wanjin terdiam sejenak, otaknya menghitung dengan sangat cepat. Margin keuntungan di hotel bintang limanya sangat besar jika dia bisa menjual ini kepada para konglomerat yang mencari makanan sehat dan eksklusif.
"Seribu yuan untuk stroberi dan lima ratus yuan untuk jagung. Sepakat. Total tujuh puluh lima ribu yuan. Paman Chen, keluarkan uangnya," perintah Tang Wanjin tanpa tawar-menawar lebih lanjut. Dia tahu barang ini sangat langka, menawarnya hanya akan membuat Lin Ye mencari pembeli lain.