NovelToon NovelToon
DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:587
Nilai: 5
Nama Author: Nanda Amalia

Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Batasnya Mulai Retak

Acara hari itu tidak sebesar gala sebelumnya, tapi justru lebih berbahaya untuk Elora karena sifatnya yang lebih intim—sebuah press gathering eksklusif, hanya beberapa artis, investor, dan media tertentu yang diundang. Tidak ada panggung besar, tidak ada sorotan berlebihan, tapi justru di tempat seperti inilah percakapan paling jujur dan paling berbahaya biasanya terjadi. Dan Elora sudah bisa merasakan sejak awal bahwa Arshaka tidak dalam mode “normal” hari ini.

Elora sedang berbicara dengan salah satu produser film ketika semuanya mulai terasa berubah. Awalnya percakapan itu biasa saja, tentang proyek baru, tentang kemungkinan kerja sama, tentang masa depan kariernya yang mulai dibuka kembali setelah skandal mereda sedikit. Tapi pria itu terlalu nyaman berbicara dengan Elora. Terlalu sering tersenyum, terlalu sering mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat dari batas yang seharusnya.

Elora tidak terlalu memedulikan itu pada awalnya.

Sampai ia menyadari satu hal.

Ruangan di belakang mereka menjadi lebih sunyi.

Bukan karena acara berhenti.

Tapi karena seseorang sudah berhenti bergerak.

Arshaka berdiri tidak jauh.

Seperti biasa.

Diam.

Tapi kali ini berbeda.

Tatapannya tidak lagi sekadar tenang atau observatif seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang lebih tajam di sana, sesuatu yang tidak ia keluarkan ke publik biasanya. Tangannya berada di dalam saku jasnya, tapi rahangnya sedikit mengeras, dan itu satu-satunya tanda kecil yang menunjukkan bahwa ia tidak sedang dalam keadaan netral.

Elora belum menyadarinya sepenuhnya.

Sampai produser itu tertawa kecil, lalu berkata,

“Kalau kamu free nanti, kita bisa lanjut diskusi ini lebih privat.”

Kalimat sederhana.

Tapi cukup.

Arshaka bergerak.

Bukan dengan cepat.

Tidak dramatis.

Tapi sangat pasti.

Dalam beberapa langkah saja, ia sudah berada di sisi Elora. Tidak menyentuh, tidak langsung memotong percakapan, tapi cukup dekat untuk mengubah suasana tanpa perlu berkata apa pun. Dan Elora langsung merasakannya—perubahan di udara di antara mereka, seperti tekanan yang tiba-tiba naik tanpa suara.

“Diskusinya selesai di sini,” suara Arshaka terdengar datar.

Tidak kasar.

Tapi final.

Produser itu tertawa kecil, mencoba tetap santai. “Oh, aku tidak bermaksud mengganggu—”

Arshaka menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya di acara publik, Elora melihat ekspresi itu dengan jelas.

Bukan dingin.

Bukan profesional.

Tapi terlalu terfokus.

“Dia tidak tersedia untuk percakapan lanjutan,” kata Arshaka pelan.

Kalimatnya sederhana.

Tapi cara ia mengatakannya membuat tidak ada ruang untuk dibantah.

Elora langsung menoleh ke Arshaka.

“Kamu ngapain?” suaranya pelan, tapi tegang.

Arshaka tidak menatapnya langsung. “Menyelesaikan.”

“Menyelesaikan apa?”

Arshaka baru menoleh sekarang.

Dan jarak di antara mereka terasa lebih sempit dari sebelumnya.

“Aku sudah cukup melihat cara orang mendekati kamu malam ini.”

Elora mengerutkan kening. “Itu cuma kerja.”

“Tidak semuanya kerja.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tapi berat.

Elora tertawa kecil, tapi kali ini ada ketegangan di dalamnya. “Kamu mulai lagi.”

Arshaka tidak menjawab langsung.

Tapi tangannya bergerak sedikit—hampir tidak terlihat—ke arah punggung Elora, bukan memegang, tapi cukup untuk mengarahkan posisi tubuhnya menjauh dari orang-orang di sekitar mereka.

Gerakan kecil.

Tapi jelas.

“Kamu nggak bisa terus melakukan ini,” kata Elora pelan.

Arshaka menatapnya lama.

Lebih lama dari biasanya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, suaranya keluar lebih rendah dari sebelumnya.

“Aku tidak suka cara mereka melihatmu.”

Elora membeku sesaat.

“Arshaka…”

Tapi pria itu tidak berhenti.

Lebih pelan.

Lebih dalam.

“Dan aku tidak akan membiarkan itu jadi kebiasaan.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Tapi kali ini bukan hening yang netral.

Ini hening yang penuh sesuatu yang terlalu besar untuk disebutkan langsung.

Elora menatapnya cukup lama.

Lalu akhirnya berkata pelan,

“Kamu sadar nggak sih… kamu nggak lagi cuma ‘menjaga’?”

Arshaka tidak langsung menjawab.

Tapi kali ini, ia tidak menghindar.

Tidak juga mundur.

Dan itu yang membuat Elora mulai merasa sesuatu di dalam dirinya ikut berubah.

Acara masih berlangsung di sekitar mereka.

Tapi Elora tidak benar-benar mendengarnya lagi.

Karena untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Arshaka sebagai seseorang yang hanya berada di dalam kesepakatan yang mereka buat.

Tapi seseorang yang mulai bertindak seolah keberadaan orang lain di dekat Elora adalah sesuatu yang perlu

“diatur”.

Dan yang paling berbahaya dari semuanya—

Arshaka tidak terlihat berniat berhenti.

Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌

See you di bab selanjutnya...

1
T28J
hadiir kk 👍
T28J
aw.. aw.. aw👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!