Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.
Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".
Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memutus Benang Merah
Satu minggu telah berlalu, dan kesunyian di rumah Arlan terasa lebih menyakitkan dibandingkan kebisingan dari proyek pembangunan apa pun yang pernah ia kerjakan. Arlan telah mencoba segalanya—datang ke kampus Ghea hanya untuk mendapati bahwa ia telah mengambil cuti akademik tanpa meninggalkan alamat baru, hingga menghubungi teman-teman terdekat Ghea yang juga merasa bingung seperti dirinya.
Ghea benar-benar telah memutus semua hubungan yang ada antara mereka.
Situasi Mika adalah yang paling menyedihkan. Meja belajarnya yang biasanya penuh tawa kini hanya dipenuhi buku-buku yang mulai berdebu.
Mika duduk di tepi kolam renang, menatap air dengan lesu. "Papa... apakah Kak Ghea marah karena Mika ingin dia jadi mama? Apakah Kak Ghea pergi karena Papa galak?"
Arlan berlutut di samping Mika, hatinya hancur. "Tidak, Sayang. Kak Ghea hanya... sedang menghadapi masalah yang sangat penting. Dia pasti merindukan Mika juga."
"Kalau dia merindukan, kenapa dia tidak menelepon? Papa bohong. Papa tidak sayang sama Mika, Papa juga tidak mencarikan Kak Ghea!"
Mika berlari meninggalkan ruangan sambil menangis, mengabaikan Arlan yang terjebak dalam kesunyian yang memilukan. Arlan sadar, dia tidak bisa membiarkan putrinya terus berada dalam keadaan ini. Mika membutuhkan arahan, dia perlu rutinitas, meski hatinya sendiri menolak gagasan itu.
Dengan berat hati, Arlan memerintahkan asistennya untuk membuka lowongan guru privat baru dengan kriteria yang sangat selektif. Hari ini, tiga kandidat datang untuk wawancara.
Arlan duduk di ruang tamu, wajahnya kaku dan dingin—kembali menjadi "Naga" yang lama, bahkan lebih tidak terduga.
Kandidat pertama adalah seorang wanita paruh baya yang memakai kacamata tebal dan memiliki pengalaman bertahun-tahun.
Arlan memberi tatapan tajam. "Metode apa yang Anda terapkan jika anak saya menangis karena merindukan guru yang lama?"
"Saya akan menerapkan disiplin ketat, Pak. Belajar adalah yang utama..."
"Silakan pergi. Saya mencari seorang guru, bukan penjaga penjara."
Kandidat kedua adalah seorang mahasiswi brilian, tampak sangat cerdas namun terlihat gugup.
Arlan tanpa ekspresi. "Apakah Anda bisa berenang?"
"Hah? Maaf, Pak? Apakah itu persyaratannya?"
Arlan terdiam sejenak, menyadari bahwa pertanyaannya baru saja adalah kenangan dari kolam renang. "Lupakan. Saya rasa Anda tidak sesuai."
Hingga kandidat terakhir pergi, tak ada satupun dari mereka yang memiliki pesona "kekacauan manis" seperti Ghea. Tidak ada yang berani menghadapi dengan suka cita atau menantangnya berlomba di kolam.
Arlan bersandar di kursi, memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. Di atas meja, terdapat berkas lamaran baru yang masih belum ia buka. Namun, matanya justru tertuju pada sebuah pulpen yang tertinggal di sudut meja—pulpen berbentuk kelinci milik Ghea.
"Kamu di mana, Ghea?" bisiknya penuh harap. "Mika sakit, dan saya... saya kehilangan arah."
Saat itu, ponsel Arlan bergetar. Sebuah nomor yang tidak dikenal mengirimkan pesan singkat dengan satu titik koordinat di wilayah pinggiran Jawa Tengah. Jantung Arlan berdetak semakin cepat. Apakah ini merupakan petunjuk, atau hanya harapan semu?
Arlan memandangi layar ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan dari nomor asing masuk, berisi sebuah pengakuan panjang yang membuat tangan Arlan bergetar. Rahangnya mengencang hingga urat-uratnya menonjol.
Ternyata, pergi Ghea bukanlah karena ia acuh, tetapi karena sebuah pengorbanan yang sangat menyakitkan.
Pada malam itu, tak lama setelah SUV hitam milik Arlan pergi dari jalan kecil, sebuah mobil mewah lainnya berhenti di tempat yang sama. Shinta, mantan istri Arlan, keluar dengan emosi dingin yang marah. Ia menuju rumah Ghea, dengan ancaman yang mampu menghancurkan kehidupan gadis tersebut.
Shinta tidak hanya membawa cacian; dirinya membawa rasa takut. Ia mengancam akan merusak nama baik Ghea di universitas dan mengganggu ketenangan orang tua Ghea jika ia tidak segera menjauh dari Arlan dan Mika. Namun, di balik ancaman tersebut, Shinta bersikap cerdik—ia menawarkan tempat tinggal di desa terpencil di Jawa Tengah dan jaminan keuangan untuk keluarga Ghea, asalkan Ghea menghilang selamanya dari kehidupan mereka.
Ghea, yang diliputi rasa bersalah karena dianggap sebagai "perusak" hubungan keluarga orang lain, dan demi melindungi orang tuanya dari tekanan Shinta, akhirnya memilih untuk mundur. Ia pergi dalam gelapnya pagi tanpa sempat memberikan ucapan selamat tinggal, menyimpan luka yang hanya ia tahu.
Di ruang kerjanya, Arlan melempar dokumen ke atas meja hingga berhamburan. Emosi marah dan penyesalan bercampur menjadi satu.
Suara Arlan pelan namun dipenuhi penekanan.
"Jadi ini alasannya kamu tidak berbicara, Ghea? Apa kamu pikir saya akan membiarkan perempuan itu mengontrol hidup kita?"
Ia segera berdiri, mengambil kunci mobil dan jaketnya. Ia tidak peduli berapa waktu yang tersisa. Ia harus pergi menjemput Ghea. Namun, sebelum melangkah keluar, ia melihat Mika yang berdiri di pintu dengan mata penuh air mata.
"Papa... Apa Papa akan menjemput Kak Ghea?"
Arlan berlutut di depan Mika, memegang bahunya dengan lembut.
"Iya, Sayang. Papa akan menjemput Kak Ghea. Tidak ada yang boleh menyuruhnya pergi lagi. Tidak Mama, tidak siapa pun."
Arlan tidak menyia-nyiakan waktu. Ia langsung menghubungi tim keamanannya untuk memeriksa titik koordinat yang diberikan informannya—yang berasal dari salah satu teman Ghea yang merasa kasihan melihat sahabatnya menderita.
Mobil Arlan melaju cepat menembus kegelapan malam menuju Jawa Tengah. Pikirannya berkelana kepada Ghea yang mungkin saat ini tengah termenung di depan rumah barunya, menatap langit malam sambil merindukan Mika... dan mungkin juga merindukan pertengkaran lucu mereka di pinggir kolam.
"Tunggu saya, Ghea," bisiknya sambil menginjak pedal gas lebih dalam. "Kali ini, tak ada kontrak, tak ada rahasia. Saya tidak akan membiarkanmu menghadapi dunia sendirian lagi."
Perjalanan itu akan memakan waktu berjam-jam, tetapi bagi Arlan, setiap detik merupakan usaha untuk merebut kembali kebahagiaan yang hampir terampas darinya.
Tangan Arlan menggenggam kemudi sangat kuat hingga jari-jarinya pucat. Di tengah kesunyian jalan tol yang mulai masuk ke Jawa Tengah, ia menggunakan hands-free dan menekan tombol untuk memanggil satu nama yang saat ini sangat ingin ia kritik: Shinta.
Nada sambung berdering dua kali sebelum suara dingin dan angkuh dari seberang menjawab.
"Bagus sekali kamu menelepon, Arlan. Merindukanku? Atau kamu akhirnya menyadari bahwa Mika lebih butuh ibunya daripada guru privat yang murahan itu?"
Arlan berbicara dengan nada rendah, dingin, dan penuh ancaman. "Dengar ini baik-baik, Shinta. Karena saya hanya akan mengatakannya sekali."
Shinta terdengar tertawa sinis. "Ada apa? Suaramu terdengar sangat emosional. Apa si gadis kecil itu akhirnya pergi setelah mengerti posisinya di mana?"
"Saya tahu semua yang terjadi. Saya tahu tentang ancamanmu, tentang rumah di desa itu, dan tentang cara curang yang kamu gunakan untuk mengusir Ghea. Apa kamu pikir dengan uang dan intimidasi kamu bisa mengontrol hidup saya?"
Shinta suara dan nada tertingginya mulai menunjukkan kepanikan, tetapi ia tetap berusaha bersikap defensif. "Aku melakukan ini untuk kebaikanmu, Arlan! Dia itu tidak sebanding dengan kita. Dia hanya parasit yang memanfaatkan Mika untuk mendekatimu—"
Arlan memotong kalimatnya dengan tegas. "Cukup! Jangan sekali lagi sebut nama Ghea. Kamu tidak memberikannya rumah, Shinta. Kamu sedang membangun penjara untuk dirimu sendiri. Besok pagi, pengacaraku akan mengirimkan dokumen pencabutan hak asuh terbatas yang kamu miliki. Jangan berharap kamu bisa mendekati Mika lagi."
"Kamu gila, Arlan! Kamu akan menghancurkan semuanya demi wanita itu?!"
"Aku tidak menghancurkan apa pun. Aku hanya membersihkan sampah dari hidup anakku. Jika kamu berani menyentuh keluarga Ghea atau mengirim orang untuk mengganggunya lagi, saya pastikan perusahaan ayahmu akan kehilangan kontrak terbesarnya dalam waktu 24 jam."
"Arlan, tunggu—!"
Arlan segera memutuskan sambungan telepon. Ia tidak ingin mendengar permintaan atau alasan dari siapapun. Kemarahannya yang semula menggebu kini berubah menjadi tekad yang jelas.
Ia menatap jam di panel mobil. Pukul 03.15 WIB. Sebentar lagi matahari akan muncul, dan ia bertekad pada dirinya sendiri bahwa saat sinar matahari pertama menyentuh tanah, ia harus sudah berada di depan rumah Ghea.
"Kamu dalam perlindungan sekarang, Ghea," bisiknya pelan ke dalam mobil yang sepi. "Aku akan melindungimu dari siapa saja yang ingin menyakitimu lagi."