Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
BREAKING NEWS!
ADRIANNE HANA GO PUBLIC WITH REIGA REISHARD!
Judul itu kini ada di mana-mana. Entah media online, entah offline, baik itu di televisi nasional maupun swasta. Bahkan hingga obrolan antar tetangga, teman kantor, atau ledekan di grup whatsapp. Berita ini sudah bertahan beberapa hari secara nasional. Bahkan foto Hana yang dulu di-take down kini diunggah kembali oleh Spatch! di websitenya. Kaum media berlomba-lomba menjadi si paling eksklusif. Meski faktanya, Hana sendiri belum melakukan klarifikasi langsung.
"Ini anaknya Sara kan, Mas?" tanya Sheila yang siang itu ada janji makan siang dengan Rahardian di sebuah restoran Omakase di Plaza Indonesia.
Rahardian ingin mencoba restoran langganan Hana dan Denis. Restoran calon menantunya.
"Hmm. Kamu kenal kan?"
Mereka menonton video Hana dan Reiga melalui iPad Sheila.
"Kenal. Tapi belum pernah ngobrol."
"Coba deh ngobrol. Hana anaknya sopan dan seru," ujar Rahardian sambil tersenyum.
itu. Sheila memandangi wajah mantan suaminya
"Apa tetap akan seru kalau dia tahu black record aku di keluarga Reishard?" ucap Sheila sudah menaruh iPad-nya di atas meja.
Wajahnya sendu. Ah, jika bisa memutar ulang waktu. Sheila ingin menghapus kesalahan itu. Dia tidak akan meninggalkan dua pria yang seharusnya dibelanya setengah mati. Namun berkat kebodohannya, yang terjadi malah sebaliknya.
"Putusnya Reiga dan Cyila bukan salah kamu, Sheil. Mereka memang nggak jodoh saja," ujar Rahardian membaca pikiran mantan istrinya.
Sheila mengangkat kepalanya.
"Kalau bukan salah aku, terus salah siapa?"
tanya Sheila dengan suara tercekat lalu raut yang tegang.
Rahardian diam. Bagaimana menjelaskannya ya? Kalau dia dan Reiga tahu dari pikiran Cyila bahwa gadis itu tidak secinta itu sama Reiga.
Sheila menghela napas.
"Kamu kenapa sih, Mas? Masih mau makan sama perempuan nggak tahu diri kayak aku!?"
Kini Sheila terdengar emosional.
Rahardian diam.
Ia meraih tangan Sheila di atas meja. "Ya. Karena aku sayang kamu, Sheila Reishard," jawab Rahardian dengan sorot matanya yang belum pernah berubah sejak pertama kali melihat Sheila di perpustakaan Universitas Indonesia puluhan tahun yang lalu.
Sheila tercengang. "Hati kamu tuh terbuat dari apa sih, Mas? Aku udah segitu bajingannya sama kamu. Kamu masih aja sayang sama perempuan nggak tahu diri kayak aku,"gumam Sheila.
Kadang, memang ada cinta yang seperti itu. Meski berulang kali mati setelah menenggak racunnya. Tahu pasti akan terluka. Namun hati tetap tertaut begitu mudahnya.
"Kamu tuh harusnya benci aku, bukan cinta sama aku, Mas!" seru Sheila yang selalu berdoa Rahardian mendapatkan cinta sejati.
Rahardian terkekeh.
"Kalau aku bisa, udah aku lakukan dari dulu, Sheil," ucapnya santai.
Sejujurnya, Rahardian ingin kembali dengan Sheila. Tidak diam-diam makan siang seperti ini. Hanya saja, ia tahu, Reiga belum benar-benar memaafkan Mama-nya. Hati anak semata wayang mereka belum selapang itu. Dan Rahardian ingin menghormati keputusan Reiga. Korban utama perceraian Sheila dan dirinya.
"Ya coba! Ini malah jemput aku ke Bali cuma buat temenin kamu makan omakase," gemas Sheila.
Rahardian terkekeh.
"Terus kenapa kamu mau?"
"Ya karena aku cin..."
Sheila diam sendiri. Kedua mata Rahardian yang kini memenjaranya. Apa sih!? Udah telat banget buat cinta-cintaan begini di usia mereka yang sudah tidak lagi muda. Tapi masalahnya si cinta datang terlambat pada hati bebalnya Sheila.
"Cinta kan sama aku?" goda Rahardian.
Sheila mencibir.
Ia memang cinta Rahardian. Saat cinta pertama yang digadang-gadang menjadi kebahagiaannya ternyata hanya menjadikannya ladang uang. Meninggalkannya bagai kertas lecek yang usang. Rahardian adalah orang pertama dan satu-satunya yang mengulurkan tangan kearahnya.
"Tapi tetap aja kamu harusnya ...."
"Aaaa..." Rahardian malah menyuapi Sheila sepotong sushi yang tidak bisa ditolaknya.
Kedua mata Sheila memicing. Bibir Rahardian menyunggingkan senyum.
"Kapan-kapan kita ajak Hana makan bareng.
Biar kamu bisa menilai sendiri, Hana itu gimana orangnya," ujar Rahardian.
"Boleh sama Reiga?"
"Ya diam-diam... keep this as our secret," jawab Rahardian sambil memejamkan mata kanannya.
Sheila takjub dengan sikap iseng Rahardian yang mendarah daging itu. Tidak berubah sejak mereka kenal pertama kali.
"Nanti Reiga makin benci sama aku."
Sheila tidak ingin itu terjadi.
"Justru Hana adalah kunci terbukanya pintu maaf Reiga buat kamu, Sheil," sanggah Rahardian.
Entahlah, itu benar atau tidak, penglihatan masa depan tidak bisa dijadikan pegangan. Bapak satu anak itu sudah sering ditipu dan terpaku.
Akibat paling fatal adalah kehilangan Sheila, hancurnya keluarga kecil mereka, dan mati rasanya Reiga.
Namun kalimat Rahardian barusan membuat hati Sheila mulai jatuh harap. Dulu ia berharap Cyila adalah kunci tersebut dan ternyata Sheila salah. "Kok bisa bilang begitu?"
Rahardian tersenyum.
"Ada deh," jawab Rahardian dengan muka iseng.
Sheila mendesis sebal.
"Tapi menurut aku, sosok Chrisye romantis banget sih. Aku rasa semua perempuan berharap dibikinin lagu deh," tukas Hana menimpali Luna dalam podcast yang didatanginya dalam rangka promosi film biopik yang dibintanginya itu.
"Kalau Reiga, bentuk romantisnya gimana, Han?" celetuk Merin, rekan Luna yang didapuk untuk mewawancarai Hana.
Mereka bertiga langsung riuh.
"Loh kok! Jadi ke sana?? Tapi gue pengen tahu juga sih, Han. Reiga Reishard tuh romantisnya gimana? Secara kita semua tahunya dia tuh cool as fuck ya," tukas Luna.
Mereka tertawa mendengar kalimat cool as fuck dari mulut Luna.
"Cool as fuck nggak tuh," ujar Merin.
"Kasih tahu nggak ya?" sahut Hana dengan jahil.
Luna menyipitkan mata. "Ini gue malas banget deh kalau Hana udah begini. Dia anaknya jahil, Mer," ujar Luna kearah Merin.
Hana tertawa.
"Ternyata seorang Adrianne Hana yang punya goddess look begitu jahil ya," timpal Merin.
"Lu cerita deh, Han. Daripada gue tebalikin nih meja," sewot Luna berlagak marah.
Hana dan Merin tertawa. Lalu, Hana perlahan mengatur dirinya agar berhenti tertawa.
"Hal paling romantis yang pernah dilakukan Reiga? Hmm, nggak tahu ya ini romantis atau enggak buat kalian..." Hana membuka ceritanya. "Reiga kan sering keluar negri buat urus bisnisnya ya. Waktu itu dia lagi di New York. And something happened dan gue berharap banget bisa peluk dia lah gitu ya ..."
"Cieeeee ..." sahut Merin dan Luna kompak meledek Hana.
Senyum Hana terbentuk sempurna.
"Dia pulang!?" tebak Luna dengan muka tidak percaya.
Hana mengangguk.
Baik Luna dan Merin takjub. "Serius, Han? Dia pulang??? Buset! Bucin banget tuh orang."
"Sumpah gue nggak minta dia pulang. Ya, gue cukup tahu diri dan realistis sih ya. Tapi dia beneran pulang. Hanya untuk 2 jam, and first thing he did, ya peluk gue," Hana sendiri masih sering tidak percaya kalau Reiga melakukan hal di luar nalar seperti itu demi dirinya.
"Kebaikan apa yang sudah anda perbuat!?" takjub Merin.
"Asli sih, Si Reiga sinting juga ya," tukas Luna.
"Gue juga merasa 'ih gila ya nih cowok sinting juga'," ujar Hana yang disambut tawa Luna dan Merin.
Mereka tertawa bersama.
"Capek loh, New York - Jakarta. Nggak kebayang gue sih," ujar Luna.
"You're so damn lucky," ujar Merin sambil geleng-geleng kepala.
"Udah Han, langsung lu nikahin cowok kayak gitu!" ujar Luna.
Mereka kembali tertawa.
TUNG!
Pak Reiga
Jun, Hana udah selesai podcast?
Juni langsung mengetik balasan untuk bos barunya itu. Iya. Bos baru-nya. Malam sebelum Reiga kembali ke New York, maksud dibalik Reiga mengajaknya bicara malam itu adalah perekrutan Juni secara resmi sebagai 'cctv'-nya Reiga. Jadi kalau ada yang tidak Hana laporkan padanya secara sengaja. Maka Reiga akan tetap tahu.
Juni
Belum, Pak.
Jawaban Juni itu disertai sebuah foto yang mana menampakkan Hana tengah duduk berhadapan dengan Merin dan Luna.
Pak Reiga
Everything's good kan, Jun?
Juni menimbang. Perlu tidak melaporkan Hana yang sempat bicara berdua dengan Arnold di sela potong tumpeng di hari pertama syuting film kemarin.
Juni
Semuanya baik dan terkendali sih, Pak.
Cuma kemarin Hana sempat ngobrol sebentar sama Arnold.
Nggak ada yang serius juga kok, Pak.
Ada saya juga di sana.
Rahang Reiga menegang membaca balasan Juni. Dia jadi semakin tidak sabar menelepon Hana. Sementara Juni mendadak tidak enak lantaran Reiga tidak memberikan balasan.
"Mampus nih gue! Pak Reiga kayaknya marah deh," paniknya.
Hana melepas heels miliknya. Lalu, rebahan di atas kasur. Hari ini sungguh melelahkan. Satu podcast, dua photoshoot, dan syuting film untuk tiga adegan. Untungnya, semua adegan itu satu kali take.
Handphone-nya berdering. Hana meraih clucth yang tadi dilemparnya. Mas Ayang. Wajahnya langsung sumringah.
"Hello, sunsh..."
"Kok nggak cerita sama aku kalau kemarin ngobrol berdua sama Arnold?" potong Reiga sampai tidak mengizinkan Hana menyelesaikan kalimat pembuka dulu.
"Hmm, Juni nih ya?" tebak Hana.
"Ya siapa lagi? Nggak mungkin kan Adrianne Hana yang kasih tahu aku," ucap Reiga.
"Sinis banget, Pak. Jadi gemes kan," ledek Hana.
Reiga tak menimpali ledekan itu. Hana sadar diri. Ini jelas sesuatu yang serius bagi Reiga.
"Arnold cuma mau bilang terima kasih karena aku udah menyelamatkan dia dari kiamat," jawab Hana jujur.
Tidak kurang. Tidak lebih.
"Serius?"
"Bukannya kamu ahli mendeteksi kebohongan ya, Rei," jawab Hana.
Reiga tertawa mendengarnya.
"Kenapa nggak cerita?"
"Masih harus dibahas nih?"
"Maaf ya, Han. Kamu pasti sekarang ill-feel banget sama Reiga Rahardian Reishard yang ternyata nggak ada keren-kerennya ini. Pacar ngobrol sama mantan gebetan aja bisa jadi masalah," ucap Reiga.
Karena dulu ia sering bertengkar dengan Cyila atas topik yang sama. Pernah ditinggalkan membuat Reiga kadang cemas sendiri.
Hana mengganti telepon itu menjadi sebuah sambungan video call yang langsung diterima Reiga. Pria itu muncul di layar sudah dengan jas berwarna navy, kemeja putih yang kancing atasnya dibuka, tanpa dasi. Siap kerja. Di New York sekarang memang jam 9 pagi.
"Kesayangan aku ganteng banget," ucap Hana dengan mata berbinar, jahil.
Reiga langsung tersenyum lebar.
"Apa sih?? Mau ganti topik ya," ujar Reiga.
"Aku nggak ill-feel, Rei," tandas Hana.
"Aku malah gemes sama kamu," tambah Hana.
Reiga memandangi Hana.
Keraguannya ini berasal dari apa yang dilihatnya semalam. Hana yang tersenyum lebar dalam pelukan Arnold pada sebuah pesta pernikahan sehabis ijab qabul.
Ya.
Pernikahan Hana dan Arnold.
Bagaimana perasaan Reiga?
Tentu sudah pasti gundah gulana! Tak karuan.
Karena itu bawaannya panas saja.
"Kamu udah sarapan?" tanya Hana.
"Belum."
"Kenapa?"
Haruskah Reiga bilang pada Hana kalau ia melihat rasa sayang dalam diri Arnold untuk Hana yang perlahan tumbuh? Sanggupkah Reiga berjudi akan reaksi Hana atas pemberitahuan itu nantinya?
Does she will stay?
Or absolutely leave?
Memikirkannya saja sudah membuat Reiga takut.
"Mau dengar hal menyebalkan nggak?" Reiga malah bertanya balik.
"Apa?" tanya Hana seraya memiringkan tubuhnya.
"Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama Arnold," jawab Reiga dengan airmuka yang serius.
Bukannya kontra, ekspresi Hana malah bak habis mendengar pernyataan cinta.
"Aku senang kamu nggak suka," balas Hana.
"Sayang, aku serius," ujar Reiga.
"Aku juga serius senang, Gantengku," balas Hana.
"Kamu jahil banget ih sekarang," keluh Reiga.
Hana terkekeh. Ia memandangi wajah Reiga.
Membiarkan kangen itu menjalar dalam hatinya.
"Aku bahkan belum mulai jahil," ucap Hana cengengesan.
"Tuh kan! Aku ngambek ya," ujar Reiga.
Hana memasang wajah sangsi.
"Emangnya kamu punya saraf ngambek, Rei?"
Tawa Reiga pecah.
"Resek banget kamu, asli!" ujarnya.
Ah, keraguan itu sungguh terasa konyol baginya sekarang.
Mereka saling memandang dalam khidmat satu sama lain.
"Aku cinta kamu," ucap mereka bersamaan lalu hening dan tertawa bersama kemudian.
"Kompak amat," tukas Reiga.
"Jodoh kali ya kita," sahut Hana.
"Jadiin apa nih?" timpal Reiga.
Dan mereka kembali tertawa bersama.
"Rei," panggil Hana.
"Apa, Sunshine?"
"Let's kissing when you're home," jawab Hana tanpa malu-malu.
"Oh udah pastilah! Sambil pangku kamu ya," balas Reiga membuat kedua pipi Hana memerah.
"Dasar pervert!" seru Hana meledek Reiga.
"Biar pervert juga kamu cinta kan," balas Reiga.
"Iya, cinta banget," aku Hana tanpa malu.
Pengakuan yang membuat Reiga terpana. Raut wajah Hana berubah teduh seperti biasanya.
"He's nothing for me now," ucap Hana membicarakan Arnold.
Reiga tertegun. Senyum di bibir Hana. "Bukan Arnold, pria yang aku gandeng di bandara, di depan wartawan. Yang akhirnya jadi headline utama berita, even sampai detik ini. Bukan Arnold yang aku ceritakan dengan bangga di setiap momen di mana aku ditanyakan sesayang apa pacar aku sama aku...."
"Itu kamu, Reishard. Cuma kamu. The one and only," lanjut Hana.
Perasaan hangat macam apa ini yang tengah memeluk Reiga? Sungguh ia terharu dengan ucapan tulus Hana yang tidak dibuat-buat itu.
"Jadi kamu nggak perlu cemas hanya karena aku ngobrol sama dia. Well, dia seriusan cuma tanya kenapa aku bantuin dia buat mengubah keputusan kamu. Aku bilang aja, karena nggak mau hidup dalam rasa bersalah. Ya, emang itu juga sih alasannya,"
Hana mengakhiri penjelasan panjangnya dengan tawa.
"Kenapa aku nggak cerita? Nggak ada alasan khusus sih. Kebiasaan jelek aku emang gitu, ketika nggak peduli sesuatu, ya jadi merasa itu nggak penting buat diingat-ingat juga," tambah Hana jujur.
Reiga terdiam.
Itu semua memang hal yang sama yang tercetus di kepala Hana. Tidak kurang. Tidak lebih.
Kejadiannya pun terlihat jelas di mata Reiga. Dan apa yang diceritakan Hana memang versi original-nya.
"I love you, Reishard. And it's definitely only you. Pacar pertama aku. Ciuman pertama aku. I love you," ucap Hana sok centil lalu membentuk hati dengan dua tangannya.
Wajah Reiga dibuatnya memerah. Reiga sukses salah tingkah. Tidak kuat dengan buncahan kebahagiaan sederhana yang selalu diberikan Hana padanya dalam dosis tinggi.
"Pengen cepat-cepat pangku kamu jadinya," goda Reiga.
"Heh!"
Hana terkekeh.
Lalu teringat sesuatu. "Tadi aku ketemu sama Papa kamu di mall," ujar Hana.
"Tumben Papa nge-mall," sahut Reiga. "Terus? Kamu ngumpet?" ledek Reiga.
Hana heran mendengarnya.
"Kenapa aku harus ngumpet? Aneh! Aku samperin terus salim. Tahu nggak Om Raha lagi sama siapa?"
Terbayanglah wajah perempuan yang belum sempat dikenalkan Rahardian pada Hana lantaran Papa-nya Reiga itu ada urusan penting dan mendadak. Reiga terhenyak akan wajah yang muncul di kepala Hana.
"Mama," gumamnya.
Hana terhenyak.
"Itu Mama kamu?" tanya Hana memastikan tidak salah dengar.
Hana memang bukan tanpa maksud memunculkan wajah perempuan seusia ibunya dalam kepalanya tadi. Ia sengaja agar Reiga memberitahunya.
"Iya."
Reiga sekarang mulai mempertanyakan mengapa Papa-nya bisa kepergok Hana di mall bersama Mama-nya.
"They look like a lover at that time," ucap Hana hati-hati karena rahang Reiga terlihat sudah menegang.
"Nggak mungkin."
"Kenapa nggak? Aku beneran lihat ..."
"Stop, Han!" seru Reiga yang untuk pertama kalinya menaikkan suaranya pada Hana.
Gadis itu sampai terpekur diam. Dan Reiga menyadari kebodohannya barusan.
"Hana, Sayang... Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud bentak kamu. Aku cuma..." Reiga tidak bisa meneruskan ucapannya. "Aku minta maaf. Aku salah," mohon Reiga.
Hana menghela napas.
Rasa penasarannya muncul berkat reaksi Reiga.
Reiga jelas menghentikan ucapannya sampai bersuara tinggi karena tidak ingin melihat adegan kemesraan itu. Pria itu sengaja mendistraksi pikiran Hana.
"Segitu nggak sukanya dengar Papa kamu jalan bareng Mama kamu, Rei?"
"Hmm," Reiga sulit berbohong dan berdalih jika di depan Hana.
"Kenapa?"
Si manusia kenapa ini mulai menyodorkan Reiga dengan pertanyaannya.
"Aku nggak mau mereka bersama lagi."
"Karena?"
"Pertama, kenangan yang ditinggalkan terlalu menyakitkan, Han. Dan kedua, selingkuh itu penyakit kambuhan, Hana," jawab Reiga terdengar dingin.
"Semua orang bisa berubah, Rei. Semua orang berhak akan kesempatan kedua," Hana tidak tahan untuk tidak mengatakan isi kepalanya.
Walau seyogyanya dia sadar, tidak seharusnya Hana sok menggurui Reiga.
"Kalau aku yang jadi Mama, dan kamu di posisi aku, will you give me a chance and forgive all the shit things i've done before?"
Reiga terdengar marah. Hana bisa melihatnya.
"Iya. Maaf. Harusnya aku nggak sok tahu dan ikut campur," pelan Hana menyesali ucapannya.
Situasi terasa tidak enak sekarang. Sekarang ia berharap bisa mengucapkan kalimat, "Bukan itu maksud aku, Sayang," pada Hana. Sayangnya, Reiga tidak mampu. Karena dari sini, Reiga bisa melihat, bahwa ada dalam sudut kecil dalam diri Hana yang berharap bisa merekonsiliasi hubungan Ibu-Anak yang telah hancur itu.
Reiga mungkin bisa mengacuhkan saran Papa-nya dan Dimas. Tapi, jika itu Hana yang memintanya, maka Reiga tidak akan pernah bisa menolaknya. Karena itu ia memilih membiarkan Hana dengan pemikira bahwa jni adalah topik yang sangat amat tidak disukai Reiga.
Mungkin Reiga berhasil menutup mulut Hana saat ini. Namun ia lupa kalau perempuan yang dipacarinya itu tidak bisa dihentikan kalau sudah punya mau. Termasuk keinginan membuat Reiga tidak lagi anti cinta sejati. Dan kini Hana tahu inti sebabnya.
Hubungan Reiga dan Mama-nya.