Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rujak mangga kedondong
Pagi itu Karin ijin pada Aldo untuk tidak masuk kantor, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dia berharap hari itu tidak bertemu dengan Rhea kakaknya, dia tidak ingin Rhea ataupun keluarganya tahu kalau dia pergi ke rumah sakit.
Karin menggunakan master untuk menyamarkan diri agar tidak ketahuan jika harus berpapasan dengan Rhea, dia bahkan berjalan dengan cepat menuju poli obgyn. Sebenarnya Karin bisa memilih rumah sakit lain, dengan begitu dia tidak perlu khawatir akan ketahuan. Namun saat itu rumah sakit terdekat dari apartemennya adalah rumah sakit tempat Rhea bertugas.
Sampai di bagian obgyn dia mencari tempat duduk berkumpul dengan para pasien lainnya, hal tersebut bisa membuatnya tidak akan terlalu terlihat. Karin menunggu antrian, beberapa kali dia terlihat meremat tangannya tanda gelisah.
“Atas nama ibu Karin?” panggil seorang perawat.
“I-iya, sus. Saya Karin,”
“Mari, ibu Karin. Silahkan masuk!”
Karin mengangguk, dia mengekori perawat tersebut masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Karin duduk di kursi berhadapan dengan dokter, baru menatap dokter membuat hati dan pikirannya makin berkecamuk.
“Ada yang bisa di bantu?” seorang dokter obgyn berusia tiga puluh lima tahun dengan ramah bertanya pada Karin.
Karin lantas mengeluarkan box dari dalam tasnya, dia menunjukkan pada dokter beberapa test pack dengan hasil garis dua. “Dokter umum menyarankan saya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke obgyn,”
Dokter mengangguk. “Tolong bantu bu Karin naik bed pasien, sus!”
“Mari bu Karin!” perawat membantu Karin naik keatas bed, dia melakukan apa yang dokter instruksikan.
Dokter mulai menggerak-gerakkan probe yang sudah di beri gel dingin diatas perut Karin. “Selamat bu Karin, sebentar lagi anda menjadi ibu. Lihat titik kecil di sana! Kantongnya sudah ada,” ucap dokter tersebut.
“Sa-saya beneran hamil, dok?” tanya Karin diangguki dokter.
Tanpa di sadari ke dua sudut matanya berair, Karin meneteskan air mata. Hati dan pikirannya yang tadi berkecamuk makin menjadi dengan segala pikiran negatifnya.
“Ibu pasti terharu sekaligus bahagia,” perawat memberikan tisu pada Karin yang membalas hanya dengan senyuman tipis, bagaimana mungkin dia merasa haru dan bahagia dengan keadaannya yang sekarang? Dia hamil dan tidak tahu di mana ayah dari bayi yang saat ini dia kandung.
“Kondisi janinnya bagus, untuk saat ini semua normal. Usianya delapan minggu,” dokter memberikan buku kehamilan pada Karin. “Sejauh ini ada mual atau kesusahan makan?” lanjut dokter bertanya dan di gelengi Karin.
“Tidak ada, dok. Masih aman,” Entah tidak merasakan ngidam atau memang belum merasakannya, Karin tidak tahu dan belum mengerti bagaimana rasanya.
Selesai pemeriksaan dia bergegas mengambil vitamin yang di resepkan dokter di tempat farmasi, dia kembali menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada yang mengenalinya saat itu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” monolognya pada diri sendiri, beruntung tadi dokter maupun perawat tidak bertanya tentang ayah bayi ataupun tentang suaminya.
Karin berjalan menuju parkiran, dia memutuskan untuk kembali pulang keapartemen. Tetap saja dia berjalan sambil lirik kanan kiri, memastikan tidak ada yang mengenalinya.
“Dokter Rhea!”
“Mbak Git-Git,” Rhea melambaikan tangannya pada salah satu rekannya, dia menghampiri perawat yang bernama Gita.
Mendengar nama sang kakak di sebut, Karin langsung mencari keberadaan Rhea. Dokter cantik yang belum lama ini mengubah penampilannya dengan memakai hijab tersebut sedang terlihat berjalan kearah orang yang memanggilnya sambil melampaikan tangan. Melihat itu Karin langsung sembunyi, meskipun tahu karakter sang kakak yang tidak akan kepo terhadap urusan orang lain…tetap saja Karin takut jika kakaknya tahu apa yang sedang terjadi dengannya.
“Shift siang, dok?” tanya Gita di gelengi Rhea. “Serah terima,” jawabnya dengan senyum simpul yang justru membuat Gita menatap sendu kearahnya.
Gita menghela napas. “Rasanya tidak ikhlas, tapi mau bagaimana lagi. Semua demi Rhea,” Gita merangkul salah satu dokter umum terbaik di UGD.
Rhea terkekeh. “Suka-suka mbak Gita saja lah. Kantin dulu yuk, mbak Git-Git. Aku traktir,”
“Gaskeun lah! Dokter cantik ini yang bayarin,” mereka berlalu menuju kantin rumah sakit.
Setelah memastikan Rhea pergi dari sana, barulah Karin keluar dari tempatnya sembunyi. Sampai parkiran dia bergegas masuk ke dalam mobil, Karin melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit.
“Rujak?” monolognya yang langsung mencari tempat berhenti begitu melihat abang-abang penjual rujak. Karin langsung turun dari mobil dan menghampiri penjual rujak.
“Bang rujaknya dua bungkus, banyakin mangga muda sama kedondong ya!” pinta Karin.
“Siap neng,” jawab si penjual.
“Neng geulis lagi ngidam juga ya?” tanya ibu-ibu yang terlihat sedang hamil besar yang juga ikut mengantri membeli rujak.
“Ngidam?” batin Karin yang hanya tersenyum pada si ibu pembeli, reflek Karin mengusap perutnya yang datar. “Seperti ini ternyata rasanya ngidam," gumamnya.
***
Karin sudah tidak sabar menikmati rujak buah yang tadi dia beli di pinggir jalan, kalau mama Nirma tahu dia membeli jajan pinggir jalan pasti dirinya akan mendapat masalah.
Karin langsung menuju dapur mini yang ada diapartemennya, air li urnya bahkan sudah hampir menetes saking dia ingin makan rujak. Dia mengambil mangkok juga sendok, kemudian menuangkan satu bungkus rujak ke dalamnya.
Satu suap, dua suap dia menikmati rujak dominan asam itu masuk ke dalam perutnya. Hingga air matanya menetes dengan sendirinya, dia mulai terisak. Dia mengusap perut datarnya. “Maafkan aku, kak! Bayiku harus punya ayah,” tangisnya pecah.
“Kak Rhea boleh membenciku, setelah dia lahir kakak boleh melakukan apapun padaku. Aku tahu apa yang aku lakukan pasti sangat menyakitimu, kak. Aku salah, tapi aku tidak mungkin menghilangkan dia yang tidak bersalah. Aku siap sekalipun kak Rega nanti akan membenciku saat dia tahu semuanya,” Karin menatap photo dirinya dengan sang kakak yang masih tersimpan di galeri.
Satu tahun terakhir hubungannya dengan Rhea memang tidak terlalu baik, semua itu terjadi saat Karin tahu kalau Rhea bukan kakak kandungnya. Setiap kali dia pulang ke rumah, dia selalu mendengar mama Nirma yang selalu saja bertengkar dengan papa Andi. Selalu yang jadi masalah adalah tentang Rhea, awalnya dia mengira kalau Rhea adalah putri rahasia sang papa dengan wanita lain. Namun belum lama ini akhirnya Karin tahu kalau Rhea bukanlah putri kandung papa Andi dengan mamanya Rhea.
Satu tahun terakhir dia memang berusaha menghancurkan hubungan Rhea dengan tunangannya yang tidak lain adalah Rega, Karin bahkan bekerja menjadi sekertaris tunangan sang kakak. Dia terus mendekati Rega untuk mendapatkan simpatinya, hingga Rega selalu mengutamakannya dari pada mengutamakan Rhea sang tunangan.
Sampai akhirnya Karin tahu semua kebenarannya, bahwa Rhea adalah putri dari mendiang sahabat papa Andi. Namun semuanya sudah terlambat, pertunangan Rhea dan Rega sudah hancur di saat pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari.
Drrtt…Drrtt
Karin
“Iya, ma. Karin diapartemen,”
Mama
“Pulang, Karin! Besok malam Rega dan keluarganya datang makan malam, mama tahu dia dan Rhea sudah memutuskan untuk mengakhiri pertunangan. Ini kesempatanmu untuk menjadi istri Rega,”
Karin menghela napas, dia keluar dari room chat dengan mamanya dan langsung mengunci layar ponsel. Bukankah sudah kepalang tanggung? Dirinya sudah buruk di depan Rhea dan juga keluarga Rega, Karin siap menanggung resiko demi janin tidak berdosa yang ada di dalam perutnya.