Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sebuah video menampilkan pada saat Bu Ria menerima tamunya. Seorang laku-laki yang di persilahkan duduk terlebih dulu.
Ezar sudah melebarkan mata kala tahu siapa pria itu. Dan ternyata, pria itu yang ia sambut dalam resto waktu lalu, sama-sama ia ajak mencerca Miranda sebegitu kejinya.
"Brengsek!" umpatan itu mematahkan hati Ezar. Terasa menusuk, tak mengira ia selama ini sudah salah menuduh Miranda.
Pria di dalam rekaman itu sengaja masuk ke dalam kamar Miranda setelah Bu Ria memberikan kunci kamar. Bu Ria juga mengarahkan semuanya, dan menyelimuti keduanya ketika pria tadi berpura-pura tidur.
Hingga kejadian fajar itu saat Miranda di usir.
Pak Baskara menggelengkan kepala lemah. Ia merasa tak tega melihat Miranda di fitnah seperti itu. Apalagi, dulu ia juga sempat begitu saja dan lebih mempercayai Istrinya.
Dewa menutup rekaman tadi. Ia menatap Ezar seakan tengah memojokan sang Adik. "Bagaimana? Kamu sudah puas menghina Miranda?" lalu, Dewa juga menatap Papahnya. "Untuk Papah. Stop mengira aku masih depresi! Aku melihat semua kejadian apapun di rumah ini. Dan satu lagi... Mau sampai kapan Papah tutupi semuanya dari Ezar?"
Di tengah hantaman itu, Ezar menyipitkan mata. "Apa maksudnya? Apa yang Papah tutupi dari Ezar?"
Dewa kemudian bangkit. "Aku sudah sehat! Jadi stop memberiku obat setiap hari!" tekanya. Namun suara Dewa selalu rendah. Barulah ia melajutkan jalanya untuk keluar.
Pak Baskara diam dalam keraguan yang menggantung. Rupanya ia telah jalan begitu sangat jauh. Ada sesuatu yang kembali patah, bahkan kali ini patahnya tidak dapat di sambungkan lagi.
"Pah... Apa yang terjadi? Apa Papah menyimpan sesuatu dari Ezar? Dan... Apa semua ini ada hubunganya dengan sakit Mas Dewa?!" suara Ezar sudah memberat. Napasnya mulai terengah.
Pak Baskara hanya mampu menepuk-nepuk bahu putranya dengan wajah prihatin. Lalu menatap putranya. "Zar... Lebih baik kamu cari Miranda dan meminta maaf lah. Papah juga ingin bertemu denganya. Mamah kamu benar-benar keterlaluan!"
Ezar segera bangkit. "Jika Papah tidak memberitahuku. Maka jangan salahkan aku akan mencari tahu sendiri." Setelah itu ia keluar.
Duduk sendirian sambil merenungi semuanya yang terjadi. Hatinya kembali terusik mendiang Istrinya-Helena. Kematiannya hingga kini masih menjadi tanda tanya besar dalam isi pikiran Baskara.
Helena meninggalkan Ezar pada saat usinya masih 5 bulan. Helena di temukan sudah mengapung dalam kolam renangnya sendiri. Baskara yang pada saat itu tengah perjalanan bisnis ke luar kota terpaksa pulang setelah mendengar kabar memilukan itu.
Akan tetapi, pada saat itu ia selalu mempercayai saja ucapan Ria selaku Iparnya yang juga tinggal dalam rumah Kakaknya, dalih menemani Helena kala Baskara pergi ke luar kota.
Menurut informasi dari mulut Ria, kakaknya itu merasa gerah setelah habis menyusui Putra bungsunya. Dan memang, kebiasaan renang di malam hari tidak menjadi perdebatan. Tapi, ada kejanggalan dalam periksaan Dokter yang menyebutkan, bahwa Helena kelelahan akibat berenang beberpa jam itu. Otot dalam tubuhnya kram, hingga membuatnya kaku tanpa pertolongan siapa pun.
"Kenapa bisa para pelayan dulu nggak ada yang dengar teriakan Helene? Kemana semua pelayan di rumah pada saat itu? Lalu... Ria? Dia bukanya juga ada di dalam pada saat itu?"
Kalimat Pak Baskara bak angin kencang yang meniup asap kecil. Asumsinya lebih besar daripada tindakanya. Sebagai seorang pemimpin, entah mengapa ia selalu kalah dengan Istri barunya. Baskara sangat kecintaan dengan Ria, dan Iparnya itu tidak hanya merebut cinta, tapi juga anak-anak dan kemewahan yang ada.
Sejak saat itu, Ria sudah berambisi untuk menundukan Baskara sampai di bawah kakinya.
*
*
Ria yang masih berdiri cemas di ruang tengah tampak resah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Wajahnya menoleh. Ezar turun dengan tergesa. Sempat berhenti sejenak di ujung tangga. Yang biasanya selalu bersikap hangat kepada sang Mamah, kini pria tampan itu hanya berlalu begitu saja.
Deg!
Apa yang terjadi dengan putranya?
"Ezar....?! Kamu mau kemana?" Bu Ria berjalan tergesa menghampiri putranya.
Ezar berhenti. Tidak menjawab juga menoleh.
Bu ria menelisik wajah Putranya. "Sayang... Kamu kenapa? Di mana Papah, kok nggak kamu ajak makan siang?"
Tangan Ezar terkepal erat. Kilatan mata saat menatap membuat Ria tersentak. Tiba-tiba saja tangan Ezar menyambar sebuah guci di samping tubuhnya.
PYAR!
Gerakan cepat itu membuat Bu Ria memekik, bahkan sampai membekap telinganya.
"Ya Tuhan, Ezar... Apa-apan kamu ini?"
"EZAR SUDAH TAHU SEMUA KELAKUAN BUSUK MAMAH! MAMAH TEGA MEMFITNAH MIRANDA SUPAYA EZAR JUGA IKUT MEMBENCINYA. KENAPA MAMAH JAHAT SEPERTI ITU?!"
Suara bentakan Ezar menggema ruah. Setiap katanya menekan, percikannya sampai mengejutkan seisi rumah.
Bu Ria tercekat. Ia tersudutkan, menelan ludah saja rasanya sulit. "Ezar... Apa maksud kamu? Kamu pikir Mamah memfitnah gadis murahan itu-"
"STOP BILANG MIRANDA WANITA MURAHAN!" Sambarnya. Napas Ezar terengah, bahkan wajahnya kini sampai merah padam.
Para pelayan di dalam sampai keluar, melihat perseteruan Ibu dan Anak itu yang mustahil terjadi waktu-waktu dulu. Sementara Dewa, pria itu turun dengan tergesa. Pak Baskara juga segera keluar dari ruangan kerjanya.
"Ezar... Kamu salah paham sama Mamah, Nak! Mamah melakukan semua ini karena Mamah nggak ingin kamu dapat seorang pembantu!" Bu Ria berusaha menggapai lengan putranya.
Ezar mundur. Tanganya ia tarik dengan tatapan kuat. "Ezar kecewa berat sama Mamah! Ezar benci sama Mamah!"
Melihat Ezar sudah melenggang keluar, Pak Baskara menghampiri Istrinya. Wajah tua itu menyimpan luka sekaligus kecewa yang tak mampu tersampaikan sebelum-sebelumnya.
"Aku nggak nyangka kamu berbuat keji seperti itu, Ria! Dulu aku begitu mempercayaimu atas kematian Helena! Tapi, semakin kesini... Aku seolah melihat wajah asli kamu seperti apa. Demi Tuhan... Aku menyesal menikahimu!"
Dewa masih terdiam di ujung tangga. Tak ada pergerakan apapun. Wajahnya kaku menatap depan, seolah dirinya saat ini tengah melihat tontotan special drama yang begitu asik.
"Mas... Kamu itu salah paham! Aku nggak jebak Miranda. Dia sendiri yang datang membawa pria lain masuk ke rumah!" Ria masih berusaha melindungi dirinya sendiri.
Pak Baskara tersenyum getir. "Kamu pikir aku nggak tahu semua kebusukan kamu, Ria! Mungkin jika tidak adiknya Helena... Dari dulu aku sudah mengusirmu!"
Deg!
Ria tercekat. Ia tak berkutik mendapat balasan telak seperti itu. Lalu, tatapanya lurus, dan menangkap sosok Dewa yang begitu santai menatap ke arahnya.
"Mas... Kamu jangan pernah dengarkan siapa pun! Termasuk putramu, Dewa! Dia itu hanya ganguan, Mas! Bagaimana bisa kalian percaya sama orang gila-"
Pak Baskara tak terima. Ia maju lebih dekat, menajamkan matanya sambil menunjuk wajah Ria. "Jaga bicara kamu, Ria! Putraku tidak gila! Kamu itu yang gila!"
Merasa terpojok. Ide cemerlang tiba-tiba melintas. Ria berpura-pura lemas, hingga tubuhnya perlahan luruh di samping sofa.
"Bu Ria...." Aini memekik. Pembantu itu segera menghampiri Majikannya hendak membantu.