NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13| Salah Paham

Manik mata Aluna terlihat berbinar-binar saat memasuki salah satu toko pakaian terbesar mall di Ibu Kota, beberapa karyawan toko tampak menyapa ramah pria jangkung yang lebih dahulu mengikuti karyawan ke salah satu lift.

"Oi! Lo mau sampek kapan berdiri di sono," tegur Jayden memperhatikan Aluna yang tampak celingak-celinguk memperhatikan etalase serta beberapa pakaian yang dipajang.

Aluna melongok ke arah depan, dan menjawab, "Oh tungguin gue."

Aluna berlarian menuju pria jangkung yang tampak memasuki pintu lift yang terbuka, erangan mengalun di kala dahi Aluna menghantam dada keras Jayden. Jayden melotot ke arah Aluna, gadis berparas ayu itu cengengesan tak lupa tangannya mengusap-usap dada bidang Jayden yang ia tabrak tanpa malu.

"Hehe..., maaf-maaf. Nggak sengaja rem kaki gue blong," celetuk Aluna sebelum disembur makian dari pria di depannya.

"Ceroboh," cibir Jayden dengan intonasi nada rendah.

Jayden memutar kedua bola matanya, pria dewasa di dalam lift menengadah membuang muka berpura-pura tak melihat tingkah kedua remaja di sampingnya. Aluna melangkah berdiri di samping Jayden, bergumam tak jelas sembari mencuri pandang ke arah Jayden yang terlihat sibuk bermain dengan ponselnya.

"Apa? Ngapain lo lihat-lihat gue." Jayden melotot ke arah Aluna.

Ia masih kesal dengan keputusan sepihak kedua orang tuanya, mendadak menjodohkan dirinya dan Aluna. Bahkan tak tanggung-tanggung, Mona—ibunya malah mendesak Jayden membawa Aluna shoping dan jalan-jalan di mall milik keluarganya. Di sinilah mereka berdua berada di toko pakaian milik ibunya, pintu lift terbuka saat suara dentingan mengalun.

Ketiganya keluar dari dalam lift melangkah mendekati pintu tertutup rapat, kartu akses ditempelkan. Pintu terbuka secara otomatis, karyawan pria itu memberikan kode untuk keduanya memasuki ruangan. Lidah Aluna lagi-lagi berdecak kagum saat matanya mengedar, ruangan luas dengan pencahayaan terang. Sofa berukuran besar berada ditengah-tengah ruangan, Jayden merebahkan tubuhnya di sofa. Aluna mengikuti jejak Jayden, matanya masih bergerak liar.

"Woah, benar-benar kayak di drama-drama," monolog Aluna takjub mendapati beberapa karyawan wanita membawa nampan berisikan beberapa minuman serta cemilan di atas meja sebelum beranjak pergi.

Aluna beringsut ke samping mengeliminasi jarak di antara dirinya dan Jayden, mencondongkan wajahnya ke arah Jayden.

"Seberapa besar kekayaan yang Bokap dan Nyokap lo punya?" tanya Aluna spontan, kedua matanya berbinar-binar saat berkedip-kedip kecil.

Ibu jari tangan Jayden mengusap permukaan bibirnya, dahinya berkerut tipis. Aluna tampak antusias menunggu jawaban pria remaja di sampingnya, Jayden menoleh ke samping. Jayden membeku di saat ujung hidungnya membentur ujung hidung Aluna, Aluna tertegun saat sadar posisi ambigu mereka. Degup jantung keduanya berdebar keras, jakun Jayden naik-turun bergulir cengkram jari jemari tanganku pada smartphone mendadak mengerat.

"Tuan mud—ah!" Pria yang baru saja membawa beberapa model dengan berbagai pakaian lelaki serta perempuan terbaru koleksi toko mendadak berhenti dan berbalik bersaman dengan karyawan lainnya.

Aluna lebih dahulu sadar, ia berdehem beringsut memberikan jarak cukup lebar. Pipinya bersemu, Jayden berdehem keras membuang muka yang memerah.

"Si—silakan perlihatkan pakaian koleksi terbarunya," titah Jayden tergagap lalu kembali terbatuk-batuk mengusap daun telinganya yang terasa hangat dan memerah.

Para karyawan kembali membalikkan tubuh secara serentak, berbaris rapi untuk naik ke podium.

"Mau pakaian yang mana dulu Tuan muda?" tanyanya mencari tahu.

"Punya dia dulu," sahut Jayden serak menunjuk Aluna dengan dagunya.

"Oh, baik." Pria berseragam khusus itu memberikan kode, beberapa model perempuan dengan tubuh proporsional maju lebih dahulu.

Penampil di depan mata menyita perhatian Aluna, tidak perlu turun langsung memakai pakaian. Para model memperlihatkan detail model pakaian pada Aluna, berdiri menyamping serta membelakangi keduanya hanya untuk menunjukan model pakaian yang mereka kenakan. Bak model profesional, Aluna mengangguk-anggukkan kepalanya dengan puas sesekali memberikan perintah untuk memperlihatkan bagian yang kurang jelas.

Jayden menguap bosan, ia paling malas duduk di ruangan VIP. Apalagi saat menonton ibunya mengulas serta berkomentar, bagi Jayden menemani kaum hawa berbelanja adalah ujian hidup paling membosankan. Baru lima menit berlangsung, ia menguap bosan. Dari ekor matanya Jayden memperhatikan Aluna, setiap ekspresi yang Aluna tujukan menarik perhatian Jayden. Apalagi saat ia berkomentar, mengulas senyum cerah. Seakan ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya, sesekali sudut bibirnya naik tinggi tanpa Jayden sadari. Suara-suara di ruangan mendadak senyap, aneh tapi nyata rasa kantuk menguap di udara. Ponsel di tangannya sama sekali tidak dilirik, ini jelas bukan kebiasaan Jayden.

"Menurut lo yang mana paling cantik buat gue, Jay?" tanya Aluna, ia menoleh ke samping tertegun mendapati Jayden menatapnya dengan intens. "Jayden!"

"Oh? Ah, apa?" Jayden tersentak saat suara Aluna memanggilnya dengan keras.

Aluna menarik dan mengembuskan napas kasar. "Itu loh, dari sekian model pakaian yang baru aja ditampilin. Yang paling cantik yang mana," ulang Aluna lebih jelas lagi.

Jayden berkedip dua kali, matanya kembali terarah ke depan. Ia mengerutkan dahinya, kapan para model selesai memperlihatkan model pakaian terbaru. Apakah kali ini toko milik ibunya hanya membuat sedikit saja, Jayden melirik ke ke arah para model yang baru saja berganti pakaian. Sementara yang lain mendorong rak besi gantung berisikan pakaian yang sudah ditampilkan, tampak penuh.

Kedua mata Aluna memicing, dan berkata, "Jangan bilang kalo lo malah nggak liatin modelnya diperagain?"

"Gue liat kok," dusta Jayden, ia berdehem dua kali mengalihkan pandangannya matanya dari Aluna.

"Lo yakin?" Aluna menarik sebelah alis matanya ke atas.

Jayden mengangguk patah-patah, dan menjawab, "Iya, lo nggak percaya amat sama gue. Bungkus semua pakaiannya sesuai ukuran dia, Pak Miki."

Bibir Aluna baru saja terbuka siap meledek Jayden, ledekan ditelan kembali mendengar sikap bossy Jayden dengan kagum.

"Baik Tuan muda," sahut pria bernama Miki tersenyum cerah.

"Woah! Lo emang cowok paling gue sukai. Jiwa, 'kuras harta gue sayang, kuras!' nempel kental di lo. Bikin gue makin suka aja sama lo."  Aluna menghambur ke samping tanpa dikomando malah mengecup pipi Jayden membuat Jayden mematung dengan wajah merah padam.

Aluna tak sadar perbuatanya membuat remaja lelaki itu duduk kaku di sofa, ia malah berlarian menuju rak besi menarik beberapa stelan pakaian.

...***...

Senandung bahagia mengalun saat ia turun dari mobil, para maid tampak membatu membawa paper bag dari bagasi mobil Jayden dibawa masuk ke dalam mansion. Senyum cerah di malam yang gelap mengalahkan indahnya gemerlap bintang di langit malam, Jayden ikut turun dari dalam mobil mengikuti Aluna.

Baru dua langkah memasuki teras mansion, dahi Jayden berkerut mendapati eksistensi yang tak asing yang kini duduk di sofa ruangan tamu. Pria yang duduk di sofa pun tak kalah terkejutnya, matanya bergilir melirik Aluna dan Jayden.

"Nah itu Aluna-nya udah balik," celetuk Sonya tersenyum ceria, ia bangkit dari posisi duduknya menyongsong sang putri yang memasuki ruang tamu bersama sosok yang familiar di matanya. "Ah, ini pasti Jayden, udah lama Tante nggak liat kamu. Nggak nyangka udah segede ini aja dan makin kelihatan ganteng aja, kayak papimu," sambung Sonya menebak serta memuji Jayden.

Jayden mengulas senyum sopan, dan menggeleng. "Tante malah nggak berubah, masih sama kayak sepuluh tahun yang lalu. Masih sama cantiknya," sahut Jayden sopan, ia setidaknya ia ingat bagaimana ibunya dan temannya bertemu selalu melemparkan pujian yang membuat Jayden bergidik ngeri.

Sonya menepuk ringan lengan Jayden, Sonya terkekeh malu. "Ayo masuk, itu kayaknya temanmu juga 'kan." Sonya menarik Jayden mendekati sofa.

Aluna memberikan kode lewat mata pada pria berwajah datar yang duduk dengan punggung tegak, Sebastian menggeleng perlahan. Aluna duduk di samping sang ibu, Jayden melirik kembali ke arah Sebastian.

"Ah, iya. Kalian duduk dan ngobrol aja. Tante tinggal ya," kata Sonya beranjak meninggalkan ruang tamu.

"Surprise banget gue ngeliat lo ada di sini Bas," ujar Jayden menyipitkan kedua matanya ke arah Sebastian—sahabatnya.

Sebastian mengangkat dan menurunkan bahunya acuh tak acuh. "Harusnya gue yang ngerasa kek gitu," balas Sebastian santai, ia menghubungi Aluna dari satu jam yang lalu.

Sayangnya baik pesan atau telepon tidak terhubung dengan Aluna, ia memutuskan untuk datang ke mansion Aluna seperti biasanya. Saat sampai hanya ada ibu angkat Aluna yang menyambut kedatangannya, ia baru duduk lima menit sampai deru mesin mobil memasuki pekarangan mansion. Inilah yang terjadi, mereka berdua bertemu dengan pemikiran masing-masing.

Aluna melirik Jayden lalu Sebastian ketika keduanya berbicara, perasan tak nyaman seakan ada yang salah di antara keduanya. Tetapi Aluna tidak paham apa yang aneh dari keduanya. Seakan Jayden dan Sebastian sama-sama kesal satu sama lain, lampu di otak Aluna menyala seketika.

'Oh, jangan bilang sama gue kalo mereka jealous because mikir gue udah jadi orang ketiga di antara mereka berdua. Ya, bisa aja kalo ada plot twist paling di luar nurul. Misalkan kek mereka saling suka contohnya.'  Mata Aluna terbelalak saat pemikiran nyeleneh tercetus di otaknya.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!