Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-28
Sedangkan di lantai bawah, tepatnya tempat Amira berada, para karyawan langsung mengajak Amira berkenalan. Mereka penasaran dengan sosok Amira yang terasa familiar, namun tak ada satu pun yang benar-benar mengenal atau ingat dari mana wajah itu pernah mereka lihat.
"Wah selamat datang ya Mbak Amira! Senang banget ada anggota baru," sapa salah satu staf dengan ramah.
"Makasih banyak, semoga bisa akrab terus ya," jawab Amira tersenyum manis, sangat luwes dan mudah bergaul.
Amira tampak sangat tenang dan profesional. Ia menjawab semua pertanyaan dengan santai, bercerita sedikit tentang latar belakangnya, dan terlihat sangat cepat beradaptasi. Tidak ada suasana tegang atau mencurigakan sama sekali.
Bagi karyawan lain, mereka hanya menganggap Amira wanita cantik yang kebetulan mirip dengan seseorang yang pernah mereka lihat, mungkin artis atau model, sehingga terasa seperti déjà vu saja.
"Eh iya Amira, kamu tinggal di mana? Kok tadi aku lihat bareng Bu Nara?" tanya salah satu teman sekantornya penasaran.
"Oh aku tinggal di perumahan sebelah sini, kebetulan tetanggaan sama Bu Nara lho! Kebetulan banget kan," cerita Amira ceria.
"Wah mantap! Berarti bisa satu mobil terus dong tiap hari!"
"Iya nih, untung Bu Nara baik banget," sahut Amira sopan.
Suasana di sana terlihat sangat cair dan akrab. Amira seolah benar-benar datang sebagai teman baru yang membawa suasana segar. Tidak ada tatapan sinis, tidak ada niat jahat yang terlihat dari luar. Semuanya terlihat... aman-aman saja.
Seolah-olah kedatangannya murni hanya kebetulan takdir yang indah.
Bersamaan dengan itu, Arkan baru saja tiba di depan gedung kantor. Ia baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya yang melelahkan.
Mobil mewahnya berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Pintu mobil terbuka, dan Arkan turun dengan penampilan yang sangat sempurna. Jas hitam yang rapi, kemeja putih yang disesuaikan, dan rambut yang disisir rapi ke belakang menampilkan aura kepemimpinan yang sangat kuat.
Wajahnya datar, tatapan matanya tajam dan dingin, seolah-olah tidak ada beban di pundaknya meski baru saja menempuh perjalanan jauh. Itulah Arkan Delvin—sang CEO yang selalu tampil memukau dan berwibawa di mana pun ia berada.
"Siapkan laporan pertemuan hari ini, Arjun. Saya ingin semuanya tersusun rapi di meja saya dalam 15 menit," perintah Arkan singkat dan tegas tanpa menoleh, langkah kakinya panjang dan cepat menuju pintu otomatis gedung.
"Siap, Tuan," jawab Arjun sigap di belakangnya.
Sepanjang berjalan menuju lift, semua karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat dengan napas tertahan. Aura 'Bos Besar' yang dipancarkan Arkan saat ini benar-benar terasa sangat jauh dan tak tersentuh. Tidak ada senyum manis atau candaan, hanya fokus dan keseriusan total.
Arkan menekan tombol lift menuju lantai teratas, saat ini pikirannya penuh dengan strategi bisnis, target perusahaan dan Nara, Ia sama sekali belum tahu bahwa di gedung yang sama ini, ada sosok lain yang sudah ia lupakan kini justru duduk tenang hanya beberapa meter darinya.
Pintu lift tertutup, membawa pria itu naik ke lantai atas, meninggalkan suasana hening dan penuh hormat di lantai dasar...
_______
Tiba di lantai atas, yang pertama kali ia cari adalah sosok Nara,wanita yang sudah ia rindukan setengah mati..
Begitu pintu lift terbuka, aura dingin dan serius yang tadi ia bawa seketika luntur begitu saja. Tatapan matanya yang tadinya tajam, kini langsung melembut mencari-cari keberadaan wanita yang paling ia rindukan.
Dan benar saja, Nara sedang duduk manis di mejanya sambil mengetik dengan fokus.
Tanpa mempedulikan orang lain atau tatapan asistennya, Arkan langsung berjalan cepat mendekati meja Nara.
"Sayangkuuuu..." serunya dengan nada suara yang berubah total, jauh lebih lembut dan terdengar sangat rindu.
Nara yang sedang sibuk langsung mendongak kaget, lalu tersenyum lebar melihat kekasihnya sudah berdiri di hadapannya.
"Eh? Kamu udah balik? Cepet banget!" seru Nara senang.
Belum sempat Nara berdiri, Arkan sudah langsung mendekat, lalu dengan santai memutar kursi Nara dan langsung duduk di tepi meja, lalu memeluk pinggang wanita itu erat-erat, menyandarkan wajahnya di ceruk leher Nara seperti anak kucing yang baru pulang bermain.
"Hhh... akhirnya ketemu juga. Kangen banget tau gak? Rasanya pengen bawa kamu masuk ke dalem kantor terus gak keluarin lagi," rengek Arkan manja, tangannya mengusap perut dan punggung Nara dengan sayang.
Nara tertawa kecil sambil mengelus rambut hitam milik pria itu. "Iya iya... kangen juga. Tapi kan lagi jam kerja, Kan. Mode CEO-nya mana? Jangan manja dong."
"Gak peduli mode apa! Di depan orang lain aku Bos, tapi di depan kamu aku cuma pacar kamu yang lagi kangen parah," jawab Arkan tanpa rasa malu sedikitpun. Ia lalu mendongak menatap wajah Nara lekat-lekat.
"Kamu makin cantik aja sih tiap hari. Apa karena gak ada aku jadi rajin skincare ya?" godanya, lalu mencuri kecupan cepat di bibir Nara.
"Nah gitu dong... ciuman dulu buat penyemangat," senyum Arkan puas.
Suasana di sekitar mereka seakan berubah jadi warna pink. Siapa sangka pria yang ditakuti seluruh perusahaan itu bisa selembut dan semanja ini saat sudah di dekat kekasihnya.
BERSAMBUNG...