Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: BAYANGAN DI BALIK LELAKI PERTAMA
Malam itu, hujan turun rintik-rintik, menciptakan irama monoton yang sering kali memicu ingatan terdalam. Rina duduk di ambang jendela kamar kosnya yang sempit. Di atas meja belajar, buku-buku psikologi dari Aris tersusun rapi, belum dibuka. Di saku celana jeans-nya, ada kunci inggris kecil pemberian Dimas yang selalu ia bawa untuk merasa aman.
Namun, pikiran Rina tidak tertuju pada kemewahan Aris atau keberanian Dimas.
Jantungnya berdegup kencang setiap kali ia teringat dia. Lelaki pertama yang benar-benar menyentuh tangannya saat dunia sedang runtuh. Lelaki yang memeluknya erat saat ibu kandungnya sendiri justru menamparnya.
Aris.
Bukan "Tuan Aris" si miliarder. Bukan "Ustadz Aris" si dai kampung. Tapi Aris manusia biasa yang malam itu di musholla, dengan gamus lusuhnya yang berbau keringat dan debu, rela menjadi tameng hidup bagi seorang gadis asing yang hancur.
Rina menutup matanya. Ingatan itu berputar ulang seperti film lambat.
Flashback:
Malam itu, saat Bu Siti berteriak "Dasar anak jalang!", Rina sudah pasrah menerima kematian. Ia menutup mata, menunggu pukulan berikutnya. Tapi yang datang justru kehangatan.
Tubuh bidang Aris tiba-tiba berada di depannya. Lengan pria itu membentang lebar, mengurung Rina dalam pelukan yang kokoh. Rina bisa mendengar detak jantung Aris yang berpacu cepat, bukan karena takut, tapi karena marah yang tertahan.
"Cukup!" raung Aris saat itu. Suaranya serak, pecah, penuh emosi yang telanjang.
Rina mendongak. Di bawah lampu neon musholla yang berkedip, ia melihat air mata mengalir di pipi Aris. Seorang pria dewasa, pemimpin, menangis karena sakit melihat ketidakadilan.
Saat itulah, di tengah kekacauan, Rina merasakan sesuatu yang aneh. Rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan karena uang Aris, bukan karena statusnya. Tapi karena kehadiran murni seorang laki-laki yang memilih melindungi kehormatannya di atas segalanya.
Sentuhan tangan Aris yang menggiringnya keluar dari kerumunan, tangan yang kasar namun hangat, tangan yang tidak pernah sekali pun melepaskannya meski hanya sedetik... tangan itu telah membakar jejak abadi di jiwa Rina.
"Ya Allah..." bisik Rina, membuka mata yang kini basah. "Kenapa harus dia?"
Ia sadar sekarang. Persaingan antara Dimas dan Aris tadi sore sebenarnya tidak adil. Karena sejak awal, hati Rina sudah terkunci oleh satu peristiwa itu.
Dimas memang hebat. Ia menawarkan masa depan yang nyata, perjuangan bahu-membahu sebagai sesama anak kampung. Dimas adalah pilihan yang logis, pilihan yang "aman" secara sosial. Ibu Rina pasti lebih setuju pada Dimas.
Tapi hati tidak pernah pakai logika.
Hati Rina masih terjebak pada momen ketika Aris menepis amplop uang Hendra ke selokan. Pada momen ketika Aris berkata, "Sedekah Anda haram." Pada momen ketika Aris, dengan segala kekayaan yang ia miliki, memilih hidup sederhana demi umat, dan memilih Rina sebagai prioritas di saat semua orang membuangnya.
"Lelaki pertama yang membelaku..." gumam Rina, memegang dadanya yang sesak. "Bukan yang pertama mencintaiku, tapi yang pertama membuatku merasa layak untuk dicintai."
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Bukan dari Dimas yang biasanya mengirim foto motor atau lagu galau, dan bukan dari Aris yang formal menanyakan kabar kuliah.
Pesan itu dari nomor yang tidak disimpan, tapi Rina hafal di luar kepala. Nomor pribadi Aris yang jarang ia gunakan.
Isinya singkat, hanya satu kalimat:
"Rin, saya baru saja melewati gang tempat kita pertama bertemu. Hujan turun sama deras seperti malam itu. Saya cuma ingin memastikan kamu tidur nyenyak. Jangan lupa kunci pintu. - A"
Tidak ada embel-embel "Tuan", tidak ada tanda tangan resmi. Hanya "A". Singkat, padat, dan menyiratkan bahwa ia juga mengingat malam itu. Bahwa bagi Aris, malam itu juga merupakan titik balik hidupnya.
Air mata Rina menetes lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena realization (kesadaran) yang menyakitkan.
Bagaimana mungkin ia memilih Dimas, jika setiap detak jantungnya masih merespons nama Aris?
Bagaimana mungkin ia menerima cinta Dimas yang tulus, jika jiwanya masih terikat pada penyelamatnya?
Tapi di sisi lain, bagaimana mungkin ia mengejar Aris? Jurang perbedaan mereka begitu nyata. Aris adalah langit, ia hanya bumi. Jika ia memaksakan diri, apakah Aris akan melihatnya sebagai beban? Atau apakah Aris sebenarnya juga menunggu isyarat darinya?
Rina mengetik balasan, jarinya gemetar:
"Aku belum tidur, Kak. Aku juga sedang ingat malam itu. Terima kasih sudah menyelamatkanku waktu itu. Dan terima kasih sudah tetap ada sekarang."
Ia menekan kirim.
Detik-detik menunggu balasan terasa seperti setahun.
Bling.
"Menyelamatkanmu adalah privilege terbesar dalam hidupku, Rin. Bukan beban. Tidurlah. Besok kita bicara soal banyak hal. Mungkin... bukan sebagai penyelamat dan korban, tapi sebagai dua manusia yang saling mengerti
Pesan itu membuat napas Rina tercekat. "Dua manusia yang saling mengerti." Apakah itu kode? Apakah Aris memberi celah?
Di luar, hujan semakin deras. Rina memeluk lututnya, tersenyum di tengah tangisnya. Ia tahu jalan ini akan sulit. Ibu akan bertanya, tetangga akan bergosip, dan Dimas akan terluka.
Tapi ia tidak bisa bohong pada hatinya lagi
Lelaki pertama yang membantunya berdiri saat dunia menginjak-injaknya, adalah lelaki yang kini menguasai seluruh ruang di dadanya.
"Mungkin," bisik Rina pada diri sendiri, menatap hujan yang membasahi kaca. "Takdir tidak pernah salah alamat. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk jatuh cinta pada malaikat yang menyamar sebagai manusia biasa."
Malam itu, Rina memutuskan satu hal. Besok, ia akan menghadapi Dimas dengan jujur. Ia tidak akan mempermainkan perasaan pemuda bengkel itu. Dan besok lusa... ia akan mencari keberanian untuk menghadap Aris, bukan sebagai Rina yang lemah, tapi sebagai Rina yang siap mencintai sang penyelamatnya dengan setara.
Persaingan mungkin sudah usai sebelum dimulai. Karena hati Rina sudah memilih pemenangnya sejak malam berdarah di musholla Tebet itu.
Bersambung...