NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Mediterania

Matahari Mediterania menyengat kulit dengan kehangatan yang menipu. Di sebuah vila putih yang bertengger di tebing Amalfi, kehidupan baru yang "tenang" bagi Kenzo dan Aara seharusnya menjadi surga. Namun, bagi dua orang yang seluruh hidupnya dibangun di atas adrenalin dan darah, ketenangan adalah jenis siksaan yang berbeda.

Aara duduk di tepi kolam renang infinity, mengenakan bikini hitam minimalis dan kacamata hitam besar. Ia menyesap jus jeruk segar, namun telinganya tetap tajam menangkap suara langkah kaki di atas ubin marmer.

"Kau terlalu tegang untuk seseorang yang sedang 'mati', Sayang," suara Kenzo terdengar dari belakang. Ia muncul hanya dengan celana pendek linen, memperlihatkan tubuhnya yang penuh karya seni luka yang kini mulai mencokelat terbakar matahari.

Aara menurunkan kacamatanya sedikit, menatap Kenzo dengan kerlingan centil yang menjadi senjatanya. "Aku tidak tegang, Kenzo. Aku hanya sedang menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai seseorang mencoba meledakkan vila indah ini."

Kenzo duduk di kursi santai sebelah Aara, menyalakan cerutu. "FBA menganggap kita abu. Interpol menganggap kita dongeng. Siapa yang kau takutkan?"

"Aku tidak takut pada mereka," Aara berdiri, berjalan mendekati Kenzo dengan gaya gemulai yang membuat pria itu tak bisa mengalihkan pandangan. Ia duduk di pangkuan Kenzo, melingkarkan lengannya yang masih basah ke leher pria itu. "Aku takut pada diriku sendiri. Aku merindukan kekacauan."

Kenzo mencengkeram pinggang Aara, menariknya lebih dekat hingga kulit mereka yang hangat bersentuhan. "Kau merindukan misi, atau kau merindukan perhatian pria-pria bodoh yang bisa kau tipu dengan wajah manismu ini?"

Aara tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat menggoda. "Mungkin keduanya. Tapi yang paling kurindukan adalah melihatmu kehilangan kendali karena cemburu."

Kenzo baru saja hendak membalas dengan ciuman kasar ketika ponsel satelit yang tersembunyi di dalam meja kecil bergetar. Bunyi itu seperti lonceng kematian di tengah pesta.

Kenzo melepaskan Aara dan mengambil ponsel itu. Hanya ada satu baris pesan terenkripsi:

"Vico tidak pernah sampai ke neraka. Dia menjual rahasia 'Project Cherry' ke pihak ketiga. Bersiaplah."

Wajah Kenzo seketika berubah. Dingin yang biasa menghilang, digantikan oleh kemarahan murni yang membuat atmosfer di sekitar kolam renang membeku.

"Ada apa?" tanya Aara, suaranya berubah serius dalam sekejap.

"Vico," jawab Kenzo pendek. "Dia selamat. Dan dia tidak sendirian."

Aara segera berdiri, tidak ada lagi jejak wanita manja yang haus perhatian. Ia berlari masuk ke dalam vila, menuju ruang bawah tanah yang telah mereka ubah menjadi gudang persenjataan darurat. "Siapa pihak ketiganya? Kartel Kolombia? Atau faksi pemberontak FBA?"

"Lebih buruk," Kenzo mengikuti dari belakang. "Organisasi 'The Hive'. Mereka adalah kolektor aset manusia. Jika mereka tahu kau adalah agen elit yang 'berkhianat' dan aku adalah penyelundup nomor satu yang memalsukan kematian... kita bukan lagi target pembunuhan. Kita adalah barang dagangan."

Malam itu, bulan tertutup awan tebal. Vila yang biasanya tenang berubah menjadi benteng kematian. Aara telah memasang sensor gerak di sepanjang tebing, sementara Kenzo memeriksa senapan runduknya dari balkon lantai dua.

"Mereka datang dari arah laut," bisik Aara melalui earpiece. Ia berada di ruang kendali, mengenakan pakaian serba hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna. "Tiga perahu cepat tanpa lampu. Mereka profesional, Kenzo."

"Biarkan mereka mendarat," perintah Kenzo. "Aku ingin melihat siapa yang berani mengusik istirahatku."

Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari ruang tamu. Dua bayangan bergerak cepat masuk. Aara tidak menunggu perintah. Ia keluar dari ruang kendali, melakukan gerakan salto ke belakang sofa, dan melepaskan dua tembakan akurat dari pistol berperedamnya.

Phut! Phut!

Dua pria bertopeng jatuh tanpa suara. Aara berdiri, meniup ujung pistolnya dengan gaya centil yang tak hilang meski di tengah baku tembak. "Ups... kurasa mereka butuh latihan lagi."

Namun, serangan itu hanyalah pengalihan. Dari arah balkon, sebuah granat gas dilemparkan. Asap putih pekat memenuhi ruangan. Kenzo melompat turun dari lantai dua, mendarat tepat di samping Aara.

"Kita harus keluar dari sini! Ini bukan penangkapan, ini pengepungan!" teriak Kenzo sambil menarik tangan Aara.

Mereka berlari menuju garasi rahasia, namun di sana, seorang pria telah menunggu. Tubuhnya besar, mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi, memegang tongkat dengan kepala perak. Di belakangnya, Vico berdiri dengan kaki yang masih pincang dan dendam yang membara di matanya.

"Halo, Tuan Arkana. Senang melihatmu masih bernapas," ucap pria berjas abu-abu itu dengan aksen Inggris yang kental.

"The Collector," desis Kenzo.

"Dan Agen Aara... atau 'Cherry'," pria itu tersenyum tipis. "Pasar gelap sangat merindukan aset sepertimu. Seorang agen yang bisa merayu monster hingga bertekuk lutut... kau akan laku sangat mahal di pelelangan nanti."

Vico melangkah maju, menodongkan pistol ke arah Aara. "Aku akan memastikan dia tidak bisa merayu siapa pun lagi setelah aku menghancurkan wajah cantiknya."

Aara tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru tertawa kecil, suara tawanya bergema di garasi yang sunyi. Ia melangkah maju, dengan sengaja membiarkan bagian atas kemeja hitamnya sedikit terbuka, memperlihatkan kulit lehernya yang mulus.

"Vico sayang... kau masih saja kasar," Aara berjalan mendekat dengan gaya yang sangat provokatif. "Kau ingin menghancurkan wajahku? Kenapa tidak kau coba sentuh saja dulu?"

Vico bimbang sejenak. Kelemahan terbesarnya adalah egonya yang mudah terpancing oleh wanita. Saat Vico lengah selama satu detik, Aara menarik pisau kecil yang disembunyikan di balik rambutnya dan melemparkannya tepat ke arah tangan Vico yang memegang pistol.

Jleb!

"Sekarang, Kenzo!" teriak Aara.

Kenzo melepaskan tembakan beruntun ke arah anak buah The Collector, sementara ia sendiri menerjang pria berjas abu-abu itu. Kekacauan pecah di dalam garasi. Suara tembakan dan benturan fisik memenuhi ruangan.

Aara bertarung dengan Vico dalam pertarungan tangan kosong yang brutal. Meski Vico lebih besar, Aara jauh lebih lincah. Ia menggunakan setiap gerakan akrobatik untuk melumpuhkan lawannya. Dengan satu tendangan berputar ke arah rahang, Vico akhirnya tersungkur jatuh.

"Ini untuk pengkhianatanmu," bisik Aara tepat di telinga Vico sebelum ia menghantamkan gagang pistolnya ke pelipis pria itu hingga pingsan.

Kenzo berhasil memukul mundur The Collector, namun mereka tahu bala bantuan musuh akan segera datang. Mereka melompat ke dalam mobil sports merah yang sudah siap di garasi.

"Kita harus pergi ke bandara pribadi. Sekarang!" perintah Kenzo sambil menginjak pedal gas dalam-dalam.

Mobil itu meluncur keluar dari vila, menuruni jalanan tebing Amalfi yang berkelok-kelok dengan kecepatan tinggi. Di belakang mereka, ledakan besar menghancurkan vila indah yang baru mereka tempati selama beberapa minggu.

"Vila yang bagus," gumam Aara sambil melihat ke spion, melihat api yang membara. "Sayang sekali, aku belum sempat mencoba semua koleksi *lingerie* baruku di sana."

Kenzo meliriknya, meski dalam keadaan genting, ia tidak bisa menahan senyum miringnya. "Kita akan beli vila lain. Dan koleksi yang lebih banyak."

Aara bersandar di kursi mobil, napasnya masih memburu. Ia menatap Kenzo yang fokus menyetir. "Perjalanan kita baru saja dimulai lagi, bukan?"

Kenzo meraih tangan Aara, mencium punggung tangannya dengan lembut namun posesif. "Sampai ke ujung dunia, Aara. Sampai tidak ada lagi orang yang berani menyebut nama kita."

Mobil itu menghilang di balik kegelapan malam, menuju babak baru yang lebih berbahaya, lebih panas, dan lebih mematikan. Di dunia bawah tanah, kematian hanyalah awal dari sebuah legenda yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!