NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:104.5k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Pertama Gao Rui

Beberapa tamu undangan saling berbisik pelan.

“Bukankah itu bocah yang datang bersama Nyonya Lan Suya tadi…?”

“Iya… aku melihatnya duduk di sampingnya sejak awal.”

 “Tapi… siapa dia sebenarnya? Murid? Kerabat?”

Tak ada yang benar-benar tahu. Kehadirannya jelas. Ia datang bersama Lan Suya, itu tidak bisa dipungkiri. Namun hubungan di antara keduanya masih menjadi teka-teki.

Di depan, pembawa acara terlihat sedikit kebingungan. Ia menatap Gao Rui dari ujung kepala hingga kaki. Dari wajah dan penampilannya jelas itu hanyalah seorang anak di awal usia belasan tahun.

Namun entah kenapa, ia tidak bisa menganggapnya remeh. Ada sesuatu yang berbeda. Aura yang dibawa bocah itu tidak seperti anak-anak seusianya. Tatapannya tenang. Cara berdirinya stabil. Bahkan di bawah puluhan pasang mata yang menekan, ia tidak menunjukkan tanda-tanda takut.

Pembawa acara itu menelan ludah pelan.

“Ini… aneh,” pikirnya. “Biasanya… tidak ada anak muda yang maju untuk memberikan hadiah.”

Memang begitulah kenyataannya. Dalam acara seperti ini, hadiah bukan sekadar simbol perhatian. Nilainya juga menjadi penilaian status. Anak muda jarang ikut serta, bukan karena tidak ingin, melainkan karena apa yang mereka miliki hampir pasti tidak sebanding dengan para tetua dan kepala keluarga yang hadir. Dan bocah ini, bahkan lebih muda dari kebanyakan “anak muda” yang dimaksud.

Di sisi lain panggung, Shou Dong sedikit memiringkan kepalanya. Ia melirik ke arah istrinya, An Ran, lalu berbisik pelan.

“Bocah itu… siapa?”

An Ran mengamati sejenak, alisnya sedikit berkerut.

“Aku juga tidak tahu,” jawabnya lirih. “Namun… dia datang bersama Lan Suya.”

“Lan Suya…?” ulang Shou Dong pelan. Matanya sedikit menyipit, seolah mencoba menghubungkan sesuatu.

Sementara itu, Gao Rui sudah mulai berjalan. Langkahnya tidak cepat, tidak pula lambat. Setiap pijakannya mantap, seolah panggung itu memang tempatnya berdiri. Bisikan di aula semakin pelan lalu perlahan menghilang. Semua orang memperhatikannya. Ia berhenti tepat di depan panggung.

Pembawa acara akhirnya tersadar. Ia segera memasang senyum profesional, meski kebingungan masih tersisa di wajahnya.

“Tuan muda,” ucapnya sopan, “bolehkah kami mengetahui identitasmu terlebih dahulu?”

Gao Rui terdiam sejenak.

Satu detik.

Dua detik.

Seolah ia mempertimbangkan sesuatu atau mungkin hanya memberi jeda yang cukup untuk membuat semua orang semakin fokus padanya.

Lalu ia tersenyum. Senyum yang ringan. Tenang. Namun entah kenapa… membuat beberapa orang tanpa sadar menegakkan punggung mereka.

“Namaku Gao Rui,” ucapnya jelas.

Suasana hening. Ia melanjutkan, dengan nada yang tetap datar namun tegas.

“Aku berasal dari Sekte Bukit Bintang.”

“…!”

Seolah sebuah batu dilempar ke permukaan danau yang tenang, riak langsung menyebar ke seluruh aula.

“Sekte… Bukit Bintang?”

“Salah satu sekte terkuat di kekaisaran ini...”

“Jadi mereka juga diundang juga di cara ini.”

Beberapa orang mulai berbisik. Ada yang mengernyit, mencoba mengingat. Ada pula yang menggeleng pelan saat mendengar nama itu.

Namun di antara semua itu… Cao Ren menyipitkan matanya sedikit.

“Murid sekte… ya?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Senyumnya perlahan kembali muncul.

Di meja, Lan Suya tidak berkata apa-apa. Namun tatapannya kini tertuju lurus ke punggung Gao Rui. Ada sedikit perubahan di matanya.

Bukan marah. Bukan juga terkejut sepenuhnya. Lebih seperti… menanti kejutan apa yang akan diberikan bocah itu.

Di atas panggung, Shou Dong mengamati dengan seksama. Nama Sekte Bukit Bintang memang cukup besar untuk mengguncang aula… Namun setahunya ia tidak mengundang perwakilan sekte itu..

Shou Dong kembali melirik ke arah istrinya, kali ini dengan tatapan yang lebih dalam. Suaranya ditahan rendah, namun jelas terdengar di antara keduanya.

“Ran’er… apa kau mengundang Sekte Bukit Bintang untuk acara ini?”

Nada suaranya tenang, tapi ada sedikit ketidaksenangan tersembunyi di dalamnya. Dalam benaknya, jika memang sekte sebesar itu diundang, maka mengirim hanya seorang murid, apalagi yang tampak begitu muda, jelas merupakan tindakan yang bisa dianggap meremehkan.

Namun saat ia menoleh penuh, tubuhnya sedikit menegang. Wajah An Ran… memucat.

Shou Dong langsung mengernyit. Ia jarang melihat istrinya menunjukkan ekspresi seperti itu.

“Ran’er, apa yang terjadi?” tanyanya pelan namun tegas. “Apa kau yang mengundang Sekte Bukit Bintang?”

An Ran menatap suaminya sejenak lalu perlahan menggeleng. Gerakan kecil itu justru membuat suasana di antara mereka menjadi semakin berat.

Shou Dong kembali mengalihkan pandangannya ke arah Gao Rui yang berdiri di bawah panggung. Matanya sedikit menyipit.

“Kalau kita tidak mengundang…” gumamnya pelan, cukup untuk didengar An Ran, “lalu mengapa Sekte Bukit Bintang mengirim perwakilan ke sini? Bahkan… hanya seorang murid…”

Nada suaranya berubah dingin.

“Ini jelas-jelas penghinaan.”

Namun tiba-tiba, An Ran meraih lengan suaminya. Cengkeramannya tidak kuat, tapi cukup untuk menghentikan kalimat berikutnya yang hampir keluar dari mulut Shou Dong.

“Jangan… usir dia,” ucapnya cepat, suaranya lebih rendah dari biasanya.

Shou Dong menoleh, sedikit terkejut.

“Kenapa?” tanyanya.

Tatapan An Ran beralih kembali ke arah Gao Rui. Ada sesuatu dalam matanya, bukan sekadar keterkejutan. Lebih seperti kewaspadaan… bahkan sedikit ketakutan yang disembunyikan.

“Kau… tidak mengenalnya?” tanyanya pelan.

Shou Dong menggeleng.

An Ran menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara yang hampir seperti bisikan...

“Gao Rui… adalah pendekar muda dari Sekte Bukit Bintang… yang baru saja memenangkan kompetisi bela diri antar sekte di Kekaisaran Zhou.”

“…!”

Tubuh Shou Dong sedikit tersentak. Ia memang pernah mendengar kabar itu. Berita yang sempat mengguncang dunia persilatan beberapa waktu lalu… namun ia tidak langsung mengingatnya. Dan kini, istrinya baru saja menghubungkan semuanya.

“Dia… juara termuda sekaligus terkuat sepanjang sejarah,” lanjut An Ran. “Dan bukan hanya itu… kekuatannya dikatakan sudah mencapai ranah pendekar raja.”

Mata Shou Dong sedikit melebar. Ranah itu… bukan sesuatu yang bisa disentuh sembarang orang, apalagi oleh seseorang di usia semuda itu.

“Bahkan…” suara An Ran semakin pelan, “Pendekar terkuat Kekaisaran Zhou, Yan Luo… dikabarkan memberi perhatian khusus padanya.”

Hening. Untuk sesaat, Shou Dong tidak berkata apa-apa.

Namun di dalam benaknya, berbagai informasi itu mulai tersusun dengan cepat. Nama Gao Rui… Sekte Bukit Bintang… kompetisi antar sekte… dan sosok Yan Luo. Semuanya saling terhubung.

Di sisi lain aula, beberapa tamu undangan juga mulai menyadari hal yang sama.

“Gao Rui…? Tunggu… itu bukan nama yang...”

“Pendekar muda itu?!”

“Yang memenangkan kompetisi antar sekte itu?!”

Bisikan mulai menyebar, kali ini bukan lagi sekadar penasaran… melainkan keterkejutan yang nyata.

Tatapan yang sebelumnya meremehkan kini berubah. Beberapa orang bahkan tanpa sadar duduk lebih tegak. Seorang jenius muda… yang bahkan sudah menyentuh ranah pendekar raja. Kehadirannya di sini… bukan sekadar aneh. Itu luar biasa.

Di atas panggung, pembawa acara jelas merasakan perubahan suasana. Udara terasa berbeda. Tekanan yang tak terlihat seolah muncul dari segala arah. Namun nyatanya, ia masih belum menyadari siapa Gao Rui sesungguhnya.

Ia menelan ludah, lalu melirik ke arah Shou Dong dengan hati-hati.

“Tuan Dong…” ucapnya ragu, “apakah… Tuan Muda Rui diperbolehkan untuk memberikan hadiah?”

Semua mata kembali tertuju pada satu orang. Shou Dong.

Beberapa detik berlalu. Lalu Shou Dong berdiri. Gerakannya mantap. Wajahnya kembali tenang, bahkan sebuah senyum perlahan muncul di bibirnya.

Ia menangkupkan kedua tangannya sedikit ke arah Gao Rui, sikap yang jelas menunjukkan penghormatan.

“Tentu saja,” ucapnya lantang.

Suara itu menggema ringan di aula.

“Sebuah kehormatan bagi Keluarga Shou… mendapatkan kunjungan dari Tuan Muda Gao Rui.”

Shou Dong bukanlah orang bodoh yang mudah tersulut emosi. Sebagai patriak keluarga besar, ia terbiasa melihat jauh melampaui apa yang tampak di permukaan. Dalam sekejap, seluruh potongan informasi yang ia dengar dari An Ran tersusun rapi di benaknya.

Gao Rui. Seorang jenius yang belum pernah muncul dalam ratusan tahun terakhir. Seseorang yang di usia semuda itu sudah menyentuh ranah pendekar raja. Dan lebih dari itu… seseorang yang diperhatikan langsung oleh sosok seperti Yan Luo.

Tatapan Shou Dong terhadap bocah di depannya perlahan berubah. Bukan lagi sekadar rasa ingin tahu… melainkan penilaian.

“Anak ini…” pikirnya dalam hati, “…masa depannya tidak terbatas.”

Jika tidak terjadi hal yang tidak terduga, maka di masa depan, nama Gao Rui hampir pasti akan mengguncang seluruh Kekaisaran Zhou. Bahkan… bukan tidak mungkin ia akan berdiri di puncak sebagai pendekar terkuat. Dan bagi seorang seperti Shou Dong, kesempatan seperti ini tidak akan ia sia-siakan.

Menjalin hubungan baik sejak sekarang, jauh sebelum dunia benar-benar menyadari nilai bocah ini… adalah investasi terbaik yang bisa ia lakukan untuk keluarga Shou. Senyum di wajahnya menjadi lebih tulus.

Di sampingnya, An Ran juga sudah menenangkan diri. Meski sisa keterkejutan masih ada, ia tetap maju setengah langkah, menyambut Gao Rui dengan senyum terbaik yang bisa ia tunjukkan sebagai nyonya rumah.

Di bawah panggung, Gao Rui membalas dengan senyum ringan. Lalu ia melangkah naik. Setiap langkahnya tetap tenang, seolah tekanan dari ratusan pasang mata tidak berarti apa-apa baginya.

Ia berhenti di hadapan Shou Dong dan An Ran, lalu menangkupkan kedua tangannya dengan sopan.

“Tuan Shou Dong,” ucapnya tenang, “selamat atas perayaan ulang tahun Nyonya An Ran.”

Nada suaranya tidak berlebihan. Tidak menjilat. Namun justru karena itu… terasa lebih tulus.

Ia lalu melanjutkan, sedikit menundukkan kepala.

“Maaf… jika hadiah yang kubawa mungkin tidak semewah atau sebaik milik para tamu lainnya.”

Beberapa orang di aula langsung saling pandang. Ucapan itu terdengar rendah hati… namun entah kenapa, dari mulut Gao Rui, justru terasa seperti pernyataan yang memiliki bobot tersendiri.

Shou Dong tertawa kecil.

“Hahaha… Tuan Muda Rui merendah,” katanya dengan suara hangat. “Kehadiranmu saja di pesta ulang tahun istriku sudah merupakan kehormatan besar bagi keluarga Shou.”

Ia benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dan Gao Rui… tidak membantah.

Gao Rui kemudian tersenyum tipis. Lalu tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya. Cahaya redup berkilat dari cincin ruang di jarinya.

Beberapa orang langsung menahan napas. Dan sesaat kemudian… sebuah benda muncul di telapak tangan Gao Rui. Sebuah batu.

Bentuknya persegi, dipotong dengan sangat rapi dan presisi. Permukaannya halus, nyaris tanpa cacat. Warnanya… hitam pekat, seperti menelan cahaya di sekitarnya.

Sunyi. Untuk sesaat… tidak ada yang berbicara. Lalu bisikan mulai muncul.

“Itu… batu?”

“Dia… hanya memberikan batu?”

“Ini… lelucon?”

Beberapa orang bahkan tidak berusaha menyembunyikan kebingungan mereka. Di mata orang awam, itu memang tidak lebih dari sekadar batu hitam biasa. Namun di atas panggung… saat Shou Dong menerima batu itu… tangannya sedikit berhenti.

Napasnya… berubah. Naik turun. Matanya yang tajam menatap benda di tangannya seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dipahami orang lain.

“Ini…”

Jari-jarinya sedikit menegang. Ia bisa merasakan teksturnya. Kepadatannya. Dan yang paling penting… energi halus yang terkandung di dalamnya.

Sebagai seseorang yang hidup di dunia senjata, Shou Dong langsung menyadari satu hal. Batu ini… bukan batu biasa. Ini adalah batu asah.

Namun bukan sembarang batu asah. Kualitasnya… jauh melampaui apa pun yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.

Bahkan batu asah terbaik yang digunakan keluarga Shou untuk mengasah senjata tingkat tinggi terbaik mereka… terasa seperti sampah jika dibandingkan dengan yang satu ini.

“Tidak mungkin…” gumamnya dalam hati.

Batu seperti ini… seharusnya tidak muncul di tempat seperti ini. Nilainya… tidak bisa diukur dengan emas atau perak. Bagi keluarga Shou yang hidup dari pembuatan senjata… ini adalah harta yang bisa mengangkat kualitas seluruh produksi mereka ke tingkat yang sama sekali berbeda.

Di bawah panggung, beberapa tetua mulai menyadari perubahan ekspresi Shou Dong. Alis mereka berkerut.

“Apa… ada yang aneh dengan batu itu?”

Namun belum ada yang benar-benar mengerti. Gao Rui memperhatikan reaksi itu dengan tenang. Lalu ia tersenyum sedikit lebih lebar.

“Batu itu,” ucapnya santai, namun jelas terdengar ke seluruh aula, “adalah batu asah.”

Ia berhenti sejenak. Memberi jeda. Membiarkan semua orang menahan napas tanpa sadar. Lalu ia melanjutkan...

“Namanya… Batu Asah Naga Baja.”

1
tariii
mantapppppp, Ruiiii....👍👍👍😍😍😍
tariii
wkwkwkw... bola2 dagingnya takut nanti lama2 menggelinding..🤭😂😂😂
tariii
bagusssss, Ruiiiii...👍👍😍😍😍
y@y@
👍🏿💥👍🏻💥👍🏿
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
⭐👍🏻💥👍🏻⭐
y@y@
👍🏿🌟👍🏼🌟👍🏿
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹 lagi
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤣🤣🤣🤭
Jojo Shua
🔥
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂☕☕☕☕🍩🍩🍩
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂💪💪💪💪berhati hati
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂💪💪💪👍👍👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Aep saepullah
mantaaaap
obeng min
mantap 👍👍👍👍👍👍👍
Nanik S
Gaaaaas Pooooool
Nanik S
Rui ...jadi pusat perhatian dan Pastinya banyak yang mau menjadikan menantu🤣🤣🤣 jangan dekati wanita Rui jadilah kuat kayak Gurumu
Nanik S
Keren dan keren Tor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!