Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Merasa Tidak di Hargai
Restu hanya bicara dalam hati ketika istrinya menyindirnya sambil menyelipkan ancaman pada dirinya
"Tuhan.........sebenarnya apa arti diriku dalam rumah tangga yang ku bangun ini"
Restu mau marah nanti tambah memperbesar masalah tapi kalau diam maka dia akan terus di sindir dan di salahkan oleh istri dan anaknya sedangkan mereka masih butuh aku sebagai orang yang mencari nafkah untuk kehidupan keluarga ini tapi dia merasa sudah tidak di hargai hingga akhirnya dia diam
"Cepatlah pa geraknya!, antar Maya ke sekolah nanti Maya terlambat!"
Gadis kecil ku ini terus merepet sambil menunggu di teras rumah sedangkan aku hanya mengangguk tanpa harus menjawab dengan kata-kata karena tidak ada gunanya sedangkan istri dan anak ku yang besar seperti mengawasi diriku dan beri respon bila aku mungkin membantah atau marah seperti tadi malam.
"Ya sudahlah"
Restu bicara pelan sambil mengeluarkan motor dari garasi rumah dan selanjutnya mengantarkan anaknya pergi kesekolah dengan kecepatan setinggi motor bebek keluaran tahun 2016 hingga akhirnya tiba di sekolah yang kelihatannya banyak orang sudah berlarian karena ketakutan kalau gerbang sekolah sudah di tutup begitu juga Maya yang langsung marah-marah
"Ini karena papa, lambat kali motornya"
"Tidak terlambat nak, lihat ini masih jam 6.50"
Restu menunjukan jam di handphonenya yang menunjukan jam 6.50
"Mana?, itu salah mungkin tapi......iya ya, di handphone Maya juga baru jam 6.50, ada apa ya?"
"Ya sudah cepat masuk"
Terlihat siswa banyak yang berlarian karena gerbang takut di tutup padahal belum jam tujuh pagi namun Restu terkejut karena terlihat Maya jadi dibariskan bersama yang lain
"Ini ada apa?"
Restu langsung memarkirkan motornya karena tidak ingin Maya di hukum oleh sekolah walaupun Maya tidak menghargainya sebagai papanya namun dia juga tidak mau terjadi apa-apa dengan.anaknya ini hingga akhirnya dia sampai di dalam sekolah dan menemui gurun piket penyambut siswa
"Maaf pak, baru masuk jam tujuh pagi, kenapa anak-anak.sudah di hukum baris seperti ini, coba lihatlah!"
Sang guru piket melihat restu dan melihat jam di handphone Restu hingga dia juga melihat jam di handphonenya
"Iya ya tapi jam di sekolah itu sudah jam 7.15"
"Maaf pak, bukankah itu jamnya tidak bergerak dan......."
"Iya ya, berarti kami salah"
Guru piket tersebut langsung menghubungi guru-guru piker yang lain dan memperlihatkan jam di handphonenya hingga mereka semua meminta anak-anaknya yang dibariskan untuk masuk sedangkan Restu sudah berada di luar gerbang sambil tersenyum puas karena anaknya tidak jadi di hukum
"Syukurlah"
Restu meninggalkan sekolah anaknya menuju tempat kerja tapi begitu sampai di kantor tempat dia kerja tiba-tiba saja pimpinannya menjumpai
"Pak Restu, sudah jam berapa ini?"
"Baru jam 7.15 pak dan kita masuk jam 7.30"
"Iya kalau itu saya tahu tapi bapak janji akan menyerahkan bahan presentasi sebelum 7.15 tapi ini sudah jam 7.15"
"Sudah pak"
"Sudah, sudah mana?, bapak saja baru datang"
Terlihat pimpinan tempat Restu ini kerja begitu kesal dan marah hingga dia mengepalkan tangannya
"Sudah saya letakan di meja kerja bapak beserta flask disk untuk presentasinya pak"
"Apa?, di meja kerja saya?"
"Iya pak, saya pikir bapak akan langsung periksa ketika masuk kantor bapak"
"Oh begitu tapi ingat ya, awas kalau tidak ada!"
Sang Pimpinan langsung masuk kantornya sedangkan Restu duduk di bangku kerjanya sambil berpikir dan bicara sendiri
"Ada apa ini?, kenapa aku merasa tidak di hargai?, padahal aku kerja sudah 27 tahun di kantor ini tapi kenapa jadi seperti ini padahal aku sudah lama di sini dan sudah banyak karya walaupun di usia ku sudah tidak energik lagi"
Restu merasa kesal namun dia tidak mau larut dalam hal seperti ini hingga dia berpikir mau buat teh manis namun sebelum dia mau bangkit tiba-tiba seperti ada sesuatu yang di tabrak
"Brak, plang"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi