"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Membangun Kekaisaran Bayangan
Andra melangkah keluar dari dealer Ferrari dengan kunci mobil LaFerrari emas yang terasa berat di genggamannya—berat oleh kekuasaan, bukan hanya logam. Ia berdiri sejenak di selasar lobi yang megah itu, menghirup udara yang kini terasa berbeda di parunya. Ia tidak lagi mencium bau asap knalpot dan debu jalanan; kini, dunianya beraroma parfum mahal dan kemewahan yang murni.
Di telinganya, suara dentingan sistem terus terdengar secara ritmis, seolah menjadi pengingat bahwa setiap detiknya sekarang adalah emas.
[Status Level 3: Aktif] [Pendapatan: Rp 25.000 / Detik] [Saldo Berjalan: Rp 125.450.000... Rp 125.475.000...]
Hanya dalam waktu singkat setelah membeli mobil tadi, saldonya sudah kembali terisi ratusan juta rupiah. Andra tersenyum tipis. Ia melirik ke arah Siska dan Erwin yang masih terduduk lemas di lantai showroom, diabaikan oleh para staf dealer yang kini hanya punya mata untuk melayani Andra. Tanpa sepatah kata pamit pun, Andra masuk ke dalam mobil emasnya. Deru mesin V12 itu menggelegar, memecah kesunyian sore di Pondok Indah, seolah mengumumkan kepada seluruh penjuru kota bahwa sang raja baru telah lahir dari puing-puing kemiskinan.
"Sistem," panggil Andra dalam hati sambil mengemudikan mobilnya dengan santai. "Aku butuh pusat komando. Sebuah tempat di mana aku bisa mengawasi kota ini dari ketinggian. Aku tidak bisa terus-menerus kembali ke kontrakan sempit itu."
[Ding! Menanggapi keinginan Inang. Misi Utama Level 3 Diaktifkan: Akuisisi properti ikonik di jantung ibu kota.] [Hadiah Misi: Akses ke 'Kecerdasan Buatan Manajemen Bisnis' dan Kenaikan Level Pendapatan ke Tahap Menengah.]
Mata Andra berkilat penuh ambisi. Ia segera memutar kemudinya menuju kawasan Sudirman, tepatnya ke arah Menara Kencana. Gedung perkantoran setinggi 60 lantai itu adalah gedung paling prestisius di pusat Jakarta. Gedung itu bukan sekadar bangunan; itu adalah simbol status. Siapa pun yang memiliki kantor di sana dianggap sebagai pemain utama dalam ekonomi negara.
Setibanya di Menara Kencana, kehadiran Ferrari emas milik Andra langsung menyebabkan kegemparan. Petugas keamanan yang biasanya ketat kini membungkuk hormat tanpa berani meminta identitas. Andra melangkah masuk ke lobi yang luasnya hampir seluas lapangan bola, langsung menuju lift khusus menuju kantor pengelola di lantai paling atas.
"Maaf, Pak, apakah Anda sudah memiliki janji temu dengan pemilik gedung?" tanya seorang sekretaris cantik dengan suara yang sedikit bergetar, terpesona oleh aura dominan yang dipancarkan Andra.
"Katakan pada pemilik gedung, saya datang bukan untuk menyewa ruangan atau berdiskusi," jawab Andra sambil duduk di kursi lobi dengan gaya yang sangat santai namun tegas. "Katakan padanya, pria yang baru saja membeli Ferrari LaFerrari emas secara tunai ingin membeli seluruh gedung ini, termasuk tanah yang ia injak sekarang."
Sekretaris itu ternganga, tangannya gemetar saat mencoba menekan tombol telepon internal. Berita tentang "pria misterius di dealer Ferrari" memang sedang viral di media sosial dalam hitungan jam, dan kini pria itu ada di depannya.
Tak butuh waktu lama, sang pemilik gedung, seorang pria tua bermarga Tan, keluar dari ruangannya dengan wajah penuh keringat. Pak Tan sedang berada di ambang kehancuran karena hutang judi di luar negeri yang sangat besar, dan ia butuh keajaiban untuk menyelamatkan nyawanya dari kejaran rentenir internasional.
"Anda... Tuan Andra?" tanya Pak Tan dengan suara yang hampir tidak keluar.
"Dua triliun rupiah," ucap Andra tanpa basa-basi, langsung menusuk ke inti masalah. "Saya bayar tunai sekarang juga ke rekening pribadi Anda. Anda bisa melunasi semua hutang Anda dan hidup tenang di luar negeri, atau Anda bisa menunggu gedung ini disita bank bulan depan."
Pak Tan hampir pingsan mendengar angka itu. Itu adalah nilai yang jauh di atas harga pasar. Namun bagi Andra, dua triliun rupiah hanyalah soal waktu. Dengan sistemnya, angka itu akan kembali padanya dalam waktu yang sangat singkat.
"Setuju! Saya setuju!" pekik Pak Tan. Ia segera memerintahkan staf legalnya untuk menyiapkan dokumen pengalihan aset tercepat dalam sejarah properti Indonesia.
Hanya dalam waktu satu jam, Menara Kencana resmi berpindah tangan. Andra kini berdiri di balkon lantai 60, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala di bawahnya.
"Siska, Erwin... kalian pikir kehilangan kekayaan keluarga adalah akhirnya?" gumam Andra sambil menyesap kopi mahal yang diantarkan sekretaris barunya. "Itu baru bab pembukaan. Sekarang, aku memiliki mata yang mengawasi seluruh kota ini."