NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Asap Pedas

Asap tebal berwarna kelabu pekat terus mengepul dari tumpukan kayu lapuk di dalam perapian batu milik Li Zhen. Kepulan asap aneh itu menggulung liar bagaikan ular piton raksasa yang kelaparan, berputar-putar mencari jalan keluar dari ruangan sempit tersebut.

Bau pedas lada hitam fana yang terbakar habis bercampur dengan aroma gurih dari lelehan lemak spiritual unggas legendaris. Campuran gas yang tidak pernah ada dalam sejarah dunia kultivasi itu langsung menyengat dinding-dinding kayu gubuk yang sudah berlubang.

Atap rumbia yang usang tidak mampu menahan tekanan asap tebal yang terus mendesak naik mencari kebebasan di udara terbuka. Celah-celah kecil di antara anyaman daun kering itu mulai mengeluarkan asap tipis yang menari-nari menembus gelapnya malam.

Li Zhen terus memutar dahan pemanggangnya dengan gerakan lambat yang sangat ritmis dan penuh kehati-hatian. Matanya menyipit karena perih, namun seutas senyum kepuasan tidak pernah lepas dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah.

Tangannya yang kurus sesekali mengibaskan udara di depan wajahnya saat asap lada itu tidak sengaja masuk ke rongga hidungnya. Dia terbatuk pelan beberapa kali, dadanya naik turun merespons rasa gatal yang luar biasa menyiksa di tenggorokannya.

"Jika bukan demi mahakarya kuliner sekelas dewa ini, aku pasti sudah menendang perapian ini hingga hancur," gumamnya dengan suara serak. Dia menggosok matanya yang berair menggunakan punggung lengan jubahnya yang kotor, meninggalkan noda hitam memanjang di tulang pipinya.

Di luar sisa pintu gubuk, Anjing Petir Ekor Tiga sedang mengalami penderitaan malam terburuk sepanjang hidupnya sebagai monster legendaris. Hewan buas itu menenggelamkan moncongnya sedalam mungkin ke dalam tanah merah, mencoba menghindari udara beracun yang mulai keluar dari gubuk.

Kedua telinga besarnya ditutup rapat-rapat menggunakan sepasang kaki depannya yang gemetar hebat menahan perih di area mata. Anjing raksasa itu merengek tertahan, air matanya menetes deras membasahi bulu hitamnya karena indera penciumannya yang tajam tersiksa oleh aroma lada.

Angin gunung Benua Awan Surgawi bertiup dengan kecepatan tinggi, menyambar gumpalan asap tebal yang akhirnya berhasil menjebol atap gubuk. Angin dingin itu membawa badai asap kelabu tersebut terbang melintasi jurang tak berdasar menuju ke area utama sekte.

Pohon-pohon bambu pelangi yang dilewati oleh kabut asap itu seketika merundukkan batang mereka seolah sedang terbatuk-batuk menahan napas. Daun-daun bambu yang biasanya memancarkan cahaya warna-warni kini meredup seketika, tertutup oleh lapisan minyak tipis beraroma bawang putih.

Seekor burung hantu spiritual bermata tiga yang sedang bertengger di dahan pinus tiba-tiba kehilangan keseimbangannya saat menghirup udara pedas tersebut. Burung itu bersin dengan sangat kencang, sayapnya mengepak tidak karuan sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke tanah dengan mata merah berair.

Kabut asap itu terus bergerak seperti pasukan tak kasat mata yang menjajah wilayah Sekte Teratai Angin dalam diam. Hawa pedas itu pertama kali menyentuh kompleks asrama murid luar yang bangunannya terbuat dari susunan batu bata merah sederhana.

Ribuan murid luar sedang tertidur lelap setelah seharian penuh berlatih teknik pedang dasar yang sangat menguras tenaga fisik. Napas mereka yang teratur perlahan mulai berubah menjadi tarikan napas berat dan putus-putus saat asap itu menyusup lewat celah jendela.

Seorang murid di kamar ujung tiba-tiba melompat dari ranjang kayunya sambil mencengkeram tenggorokannya sendiri dengan kedua tangan. Wajah pemuda itu berubah menjadi ungu gelap, matanya membelalak panik seakan ada tangan gaib yang sedang mencekiknya dari dalam.

Dia terbatuk dengan sangat brutal, memuntahkan sedikit darah akibat penolakan keras dari paru-parunya terhadap udara fana tersebut. Tangannya meraba-raba meja di samping ranjang dengan panik, memecahkan kendi air minumnya sendiri hingga berkeping-keping di atas lantai.

Jeritan kepanikan mulai bersahut-sahutan memecah keheningan malam di seluruh kompleks asrama murid luar tersebut. Pintu-pintu kamar didobrak secara paksa dari dalam, menampilkan ribuan murid yang berhamburan keluar dengan wajah penuh teror dan air mata.

Mereka saling bertabrakan di halaman tengah asrama, bergulingan di atas tanah sambil memegangi hidung dan tenggorokan mereka. Beberapa murid bahkan mulai menghunus pedang mereka dan menebas udara kosong karena mengira mereka sedang diserang oleh iblis siluman gas.

"Serangan racun! Sekte Iblis Darah telah meracuni udara kita malam ini!" teriak seorang murid senior dengan urat leher yang menonjol keluar. Tubuhnya langsung limbung setelah berteriak, jatuh berlutut sambil memuntahkan isi perutnya ke atas rumput taman asrama.

Sementara kepanikan melanda separuh sekte, Li Zhen di gubuknya justru sedang menarik panggangan ayam raksasanya menjauhi api petir biru. Matanya berbinar terang melihat kulit ayam spiritual itu kini berubah menjadi warna cokelat keemasan yang sangat merata dan sempurna.

Tetesan lemak terakhir jatuh ke atas bara api, menciptakan suara desisan panjang yang menandakan bahwa hidangan tersebut telah matang sepenuhnya. Li Zhen menjilat bibirnya yang kering, mengabaikan fakta bahwa sistem di kepalanya tiba-tiba mulai berdenting tanpa henti seperti lonceng rusak.

[Ting! Target massal murid luar mengalami serangan kepanikan mental tingkat sedang. Mendapatkan +8.500 Poin Sampah.]

[Ting! Target massal murid luar mengalami paranoid akibat gas lada fana. Mendapatkan +12.000 Poin Sampah.]

Li Zhen mengerutkan keningnya, menatap layar biru neon yang terus memunculkan deretan teks notifikasi dengan kecepatan yang sangat gila. Dia memiringkan kepalanya ke kiri, sama sekali tidak mengerti mengapa dia mendapatkan puluhan ribu poin secara tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Apakah sistem ini sedang mengalami kerusakan perangkat lunak karena terlalu lama berada di dimensi yang kumuh ini?" tanyanya entah pada siapa. Dia mengibaskan tangannya menembus layar hologram biru itu, berusaha mengusir notifikasi yang menutupi pemandangannya terhadap ayam panggang.

"Terserahlah, poin gratis selalu diterima dengan tangan terbuka, asalkan tidak mengganggu waktu makan malamku," gumamnya masa bodoh. Dia meletakkan dahan pinus pemanggang itu di atas lantai tanah yang dialasi oleh daun pisang raksasa yang sudah dia siapkan sebelumnya.

Dengan menggunakan belati karatannya, dia memotong bagian paha unggas legendaris itu dengan satu tebasan yang sangat bertenaga. Kepulan uap panas beraroma gurih seketika membumbung tinggi, memperlihatkan serat daging putih yang sangat berair dan empuk di bagian dalamnya.

Di luar sana, awan asap lada itu tidak berhenti di area murid luar, melainkan terus bergerak naik menuju puncak gunung tempat para elit sekte berada. Formasi perlindungan gaib sekte sama sekali tidak merespons asap tersebut karena tidak mendeteksi adanya energi iblis atau niat membunuh di dalamnya.

Asap tebal itu dengan mulus melewati gerbang giok raksasa, mengalir menuruni anak tangga pualam dan menyebar ke seluruh halaman paviliun para tetua. Bunga-bunga teratai es di kolam utama sekte langsung layu seketika saat kelopaknya tersentuh oleh partikel lada hitam yang sangat panas.

Tetua Lin, yang baru saja berhasil memulihkan ketenangan batinnya setelah dihina habis-habisan siang tadi, sedang bermeditasi di atas ranjang giok es. Alis putihnya berkedut pelan saat ujung hidungnya menangkap aroma aneh yang sangat menusuk dan tidak pernah dia kenal sebelumnya.

Dia menarik napas dalam-dalam untuk menganalisis energi tersebut, sebuah tindakan fatal yang langsung menghancurkan seluruh meditasi malamnya. Udara pedas itu masuk langsung ke paru-parunya, membakar jalur pernapasannya layaknya ada seseorang yang menuangkan lahar mendidih ke tenggorokannya.

Tetua Lin membuka matanya dengan sangat paksa, memuntahkan seteguk udara berbau lada hitam bersamaan dengan batuk yang sangat dahsyat. Dia terlempar dari ranjang gioknya, tubuh tuanya menabrak rak buku kuno hingga puluhan gulungan bambu berjatuhan menimpa kepalanya.

"Uhuk! Uhuk! Racun iblis macam apa yang bisa menembus formasi mutlak sekte ini?" teriak Tetua Lin dengan suara serak yang memprihatinkan. Tangannya meremas dadanya dengan kuat, air mata mengalir deras dari matanya yang kini memerah seperti darah karena iritasi parah.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!