Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Jurus Manja "Entet", Rayuan Maut, dan Satu Episode YouTube Kids
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang menerobos masuk melalui celah gorden ruang tamu. Angin berhembus pelan, membawa udara sejuk yang biasanya membuat siapa pun ingin merebahkan diri. Aku sedang duduk di sofa, laptop terbuka di pangkuan, jari-jariku menari di atas keyboard menyelesaikan beberapa pekerjaan administratif yang tertunda. Suasana hening, hanya terdengar suara ketikan halus dan desau angin dari kipas angin yang berputar malas.
Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama.
Aku merasakan ada sepasang mata yang menatapku intens. Bukan tatapan biasa, melainkan tatapan yang penuh strategi, perhitungan, dan sedikit unsur "bahaya" yang justru menggemaskan. Aku menoleh perlahan. Di sana, duduk bersila di ujung sofa, adalah Balqis. Dia tidak bergerak, tidak bermain dengan boneka kelincinya seperti biasa. Dia hanya menatapku. Bibirnya ditekuk sedikit, matanya dibulatkan maksimal hingga terlihat seperti dua kancing hitam yang berbinar-binar.
“Ayah…” panggilnya pelan. Suaranya dibuat selembut kapas, serendah mungkin, seolah-olah dia sedang membisikan rahasia negara.
Aku mencoba menahan senyum, pura-pura tidak tahu arah angin. “Iya, Dek? Kenapa diam-diam begitu? Ada apa?” tanya aku, kembali memalingkan wajah ke layar laptop, meski sebenarnya fokusku sudah 100% padanya.
Balqis tidak menjawab segera. Dia merayap pelan mendekatiku, gerakan lambat seperti kucing yang mengintai mangsa. Begitu sampai di sampingku, dia langsung memanjat pangkuanku dengan sigap. Tubuhnya yang mungil dan hangat langsung menempel erat. Kedua tangannya melingkar di leherku, memelukku dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran anak seumurannya. Dia menempelkan pipinya yang halus dan agak lembap ke pipiku, lalu menggosok-gosokkannya manja.
“Entet…” bisiknya lagi, kali ini lebih dekat ke telingaku.
Aku tertawa kecil. “Entet kenapa, Nak? Mau makan entet? Mau tidur entet? Atau mau main entet?”
Balqis menggeleng kuat-kuat, rambut halusnya yang wangi sampo bayi mengusik hidungku. “Bukan itu, Yah,” jawabnya sambil menarik wajahnya sedikit agar bisa menatap mataku lekat-lekat. “Mau… pinjem HP Ayah. Nonton YouTube Kids. Lagu ‘Baby Shark’ sama ‘Cocomelon’. Yang ada dansa-dansanya itu, Yah. Please?”
Ah, ternyata itu tujuannya. Target utama telah teridentifikasi: Gadget Ayah.
Aku menghela napas panjang, sengaja dilebih-lebihkan dramatisnya. Lalu aku memasang wajah serius, wajah seorang ayah yang sedang sibuk bekerja demi masa depan keluarga. “Waduh, sayang. HP Ayah lagi sibuk nih. Lagi kerja penting banget. Kalau diganggu, nanti Ayahnya dimarahi bos. Nanti nggak bisa beli es krim buat Balqis lho. Nanti saja ya, Dek? Tunggu malam?”
Balqis tidak langsung menyerah. Justru, mendengar penolakan itu, matanya semakin berbinar. Ini adalah tanda bahwa dia sedang menyiapkan amunisi berat. Dia tahu betul titik lemah ayahnya.
Dia mulai menggoyang-goyangkan tubuhku pelan, kiri-kanan, kiri-kanan, seperti goyangan kapal di ombak kecil. “Ayahhh… pleaseee…” rengeknya, suaranya mulai naik satu oktaf, memasuki wilayah nada yang sulit ditolak. “Cuma sebentar kok, Yah. Entet aja. Lima menit. Abis itu Balqis balik main boneka. Promise! Balqis anak baik kan, Yah? Anak baik itu dituruti permintaannya sama Ayah yang ganteng.”
Aku masih berusaha bertahan, meski sudut bibirku sudah mulai berkedut menahan tawa. “Tadi kan sudah nonton pagi? Pas habis sarapan. Ingat nggak? Kata Ayah, nontonnya cuma sekali sehari.”
Balqis mengernyitkan dahinya, berpikir keras. Lalu, dengan logika seorang anak tiga tahun yang tak terbantahkan, dia menjawab, “Itu tadi pagi, Yah. Matahari masih di atas kepala. Sekarang matahari sudah mau tidur. Berarti ini hari baru! Beda waktu, beda aturan. Jadi boleh nonton lagi dong?”
Aku ternganga. Logikanya luar biasa. Sulit untuk membantah alasan pergeseran matahari tersebut.
Melihat aku mulai goyah, Balqis langsung meluncurkan serangan pamungkas. Jurus andalan yang belum pernah gagal sepanjang sejarah peradaban rumah tangga kami. Dia mengangkat kedua tangan mungilnya, lalu mencium pipiku berkali-kali dengan suara nyaring dan basah. *Cup! Cup! Cup! Cup!* Setiap ciuman disertai dengan kata-kata pujian yang dialunkan seperti mantra suci.
“Ayah paling bagus sedunia…” *cup!*
“Ayah paling ganteng kayak pangeran…” *cup!*
“Ayah paling kuat, bisa angkat Balqis tinggi-tinggi…” *cup!*
“Ayah paling sayang sama Balqis kan? Iya kan, Yah? Sayang banget kan?”
Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca palsu, bibirnya ditekuk sedih, siap mengeluarkan air mata kapan saja jika diperlukan. “Kalau nggak boleh nonton, Balqis sedih nanti. Nanti nangis lho. Hiks… hiks… matanya jadi bengkak, nanti nggak cantik lagi. Kasihan kan sama Balqis?”
Hancur. Runtuh. Bertebaran menjadi debu pertahanan diriku.
Siapa yang bisa menolak kombinasi pelukan hangat, ciuman bertubi-tubi, pujian setinggi langit, dan ancaman tangisan palsu dari Balqis? Tidak ada manusia di bumi ini yang mampu. Mustahil. Bahkan batu karang pun akan luluh.
Aku menutup laptopku pelan, menandakan menyerah total. “Ya sudah, ya. Kalah sama kamu. Dasar tukang rayu. Siapa yang ajarin gitu?” tanyaku sambil tersenyum kalah.
Balqis langsung berubah wujud. Wajah sedihnya hilang seketika, berganti dengan senyum lebar yang menunjukkan deretan gigi kecilnya yang rapi. Matanya berbinar seperti lampu disco. “Yeyyy! Makasih, Ayah! Makasih, Ayah terbaik sedunia! Makasih, Ayah paling ganteng!” teriaknya girang.
Dengan kecepatan kilat, dia melompat dari pangkuanku, lari kecil menuju meja samping, dan mengambil HP-ku dengan hati-hati menggunakan kedua tangan. Dia kembali ke sofa, duduk manis di sampingku, dan dengan jari-jemari mungilnya yang mahir, dia membuka aplikasi YouTube Kids.
“Mau yang mana, Dek?” tanyaku.
“Yang ini, Yah! Jojo Si Super Circus!” pintanya antusias.
Begitu video dimulai, dunia Balqis seolah berubah. Wajahnya yang tadi penuh ekspresi rayuan, kini berubah menjadi sangat serius dan fokus. Matanya terpaku pada layar, mengikuti setiap gerakan karakter kartun di sana. Kadang dia tertawa terbahak-bahak saat si Jojo jatuh terpeleset, sampai-sampai tubuhnya berguncang. Kadang dia berbisik sendiri, “Hati-hati, Jojo! Awas ada lubang!” atau “Wah, warnanya merah! Seperti apel!”
Tangannya kadang ikut bergoyang mengikuti irama lagu, kakinya menendang-nendang kecil di udara. Dia benar-benar tenggelam dalam dunianya. Aku memperhatikannya dari samping, menikmati setiap ekspresi di wajahnya. Ada kebahagiaan murni yang terpancar darinya, kebahagiaan sederhana yang didapat hanya dari sebuah lagu dan gambar bergerak di layar kaca.
Sesekali, dia menoleh ke arahku, memastikan aku masih ada di sampingnya. “Ayah, liat! Jojo terbang!” serunya bangga, seolah-olah dialah yang mengajarkan Jojo terbang.
“Iya, Dek. Hebat ya Jojo,” jawabku sambil mengelus kepalanya.
“Balqis juga bisa terbang nggak, Yah?” tanyanya polos.
“Balqis sudah terbang tiap hari di hati Ayah,” jawabku, mencoba sedikit puitis.
Balqis tertawa renyah, lalu kembali fokus menonton.
Sekitar lima belas menit kemudian, lagu terakhir selesai. Sesuai janji awalnya—dan surprisingly, Balqis adalah anak yang cukup menepati janji jika diingatkan dengan baik—dia langsung menekan tombol pause, mematikan layar, dan menyerahkan HP kembali kepadaku dengan wajah bangga.
“Sudah, Yah. Selesai. Satu episode. Balqis janji kan?” katanya sambil menyodorkan HP itu dengan dua tangan, sikap sopan yang jarang-jarang muncul di saat lain.
Aku menerima HP itu, merasa sedikit lega namun juga sedikit sedih karena momen nonton barengnya sudah usai. “Iya, pintar. Balqis anak hebat yang menepati janji. Ayah bangga punya anak sejujur Balqis,” pujiiku tulus sambil mencium keningnya.
Balqis tersenyum puas, pipinya merona merah. “Sekarang Balqis main sama Kelinci. Ayah kerja lagi ya. Jangan lupa nanti malam bacain cerita sebelum tidur!”
“Iya, siap Laksamana!” jawabku sambil memberi hormat main-main.
Balqis tertawa, lalu mengambil boneka kelincinya dan mulai berimajinasi lagi di sudut sofa.
Aku menatap layar laptop yang tadi kututup, tapi belum segera membukanya. Aku malah menatap Balqis yang sedang asyik berbicara dengan bonekanya. Terkadang, aku bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang sedang memanipulasi siapa dalam hubungan ini? Apakah Balqis yang pandai merayuku untuk mendapatkan apa yang dia mau? Atau justru akulah yang sebenarnya sengaja kalah, pura-pura tidak tahan dengan rayuannya, hanya untuk melihat senyum lebarnya?
Mungkin keduanya. Mungkin inilah permainan cinta antara ayah dan anak.
Karena jujur saja, melihat senyum kepuasan di wajahnya saat lagu favoritnya berputar, rasanya semua rayuan manja, semua drama “entet”, dan semua ciuman basahnya itu adalah harga yang sangat murah untuk dibayar. Bahkan, itu adalah hadiah termahal yang bisa aku minta.
Aku sebenarnya menikmati momen itu. Momen saat dia butuh sesuatu dariku, lalu datang merayu dengan segala cara licik nan imut, dan akhirnya kita berdua menang: dia dapat hiburan yang dia inginkan, dan aku dapat validasi bahwa aku adalah ayah yang dicintai, dibutuhkan, dan tentu saja, dianggap paling ganteng sedunia.
Itulah caranya Balqis berkata, “Aku sayang Ayah,” tanpa perlu mengucapkan kata-kata itu secara formal.
Melalui rayuan, melalui kedipan mata, melalui tawar-menawar soal waktu nonton, dan melalui janji “entet” yang selalu berhasil meluluhkan hatiku yang keras.
Hari ini, aku belajar satu hal lagi: Mengalah pada anak bukan berarti lemah. Itu adalah bentuk cinta. Karena suatu hari nanti, ketika dia sudah besar dan tidak lagi merayuku untuk meminjam HP, aku akan merindukan suara “Ayahhh… pleaseee…” itu. Aku akan merindukan momen di mana aku adalah pahlawan super baginya yang bisa mengabulkan permintaan kecilnya.
Jadi, untuk hari ini, biarkanlah dia menang. Biarkan dia nonton satu episode lagi besok, jika dia bisa merayuku dengan cukup manis. Karena waktu berjalan terlalu cepat, dan masa-masa manja ini tidak akan pernah bisa diulang.
— Ayah Balqis
P.S.: Siapa di sini yang anaknya juga punya jurus rayuan maut kalau mau pinjem HP? Atau punya kode rahasia sendiri seperti “entet”? Coba cerita di komentar, biar aku tahu aku nggak sendirian menghadapi si ahli negosiasi cilik ini! 😄📱👶