NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Sisi Lembut Sang Penguasa

​Hans tidak bersuara. Tangan panjangnya yang kokoh bergerak perlahan, menyelimuti pergelangan kaki Tania yang mulai membengkak. Rasa hangat menjalar dari telapak tangannya, dan tekanan dari ujung jarinya terasa begitu presisi—memijat dengan kekuatan yang pas untuk meredakan rasa nyeri yang menyiksa.

​Tubuh Tania menegang seketika; ia bahkan tidak berani bernapas. Dari posisinya, ia bisa melihat profil wajah pria itu dari samping. Garis rahangnya yang tegas, hidung yang mancung sempurna, dan bibir tipis yang terkatup rapat.

​Namun, tindakannya saat ini sangat kontras dengan aura dingin dan tak tersentuh yang ia pancarkan. Tania terpaku sesaat; apakah pria di hadapannya ini benar-benar "Malaikat Maut" yang kejam, atau justru...

​Tak jauh dari sana, mata Asisten Lian di balik kacamatanya membelalak lebar. Rahangnya hampir jatuh ke lantai. Bertahun-tahun ia mendampingi Tuan Hans dan menangani berbagai masalah pelik, namun belum pernah sekalipun ia melihat tuannya merendahkan diri demi seorang wanita, apalagi memijat kaki seseorang secara langsung!

​Apakah ini benar-benar Tuan Hans? Atau dia sudah ditukar dengan orang lain? batin Lian tak percaya. Teman-teman kepercayaan Hans yang lain pun saling lirik dalam diam, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun karena takut merusak suasana yang ganjil namun harmonis itu.

​Hans seolah tidak peduli dengan keterkejutan orang-orang di ruangan itu. Pandangannya tidak lepas sedetik pun dari Tania, seolah gadis itu adalah satu-satunya permata berharga di dunia yang harus ia lindungi dengan segenap jiwa.

​Kehangatan dari ujung jari Hans meresap melalui kulit tipis Tania, menenangkan pergelangan kakinya sekaligus membuat jantungnya berdesir hebat.

​"Ini terkilir." Hans mendongak menatap Lian. "Ambilkan kotak P3K."

​Lian tertegun sejenak sebelum tersadar dari lamunannya. Ia segera mengangguk patuh dan bergegas keluar.

​Udara di ruangan itu terasa statis karena kehadiran Hans, membuat Tania merasa sulit bernapas. Suara berat pria itu kembali menggema di kesunyian ruangan, membawa sedikit serak yang nyaris tak terdengar namun terasa sangat lembut, seolah ia takut akan mengejutkan Tania.

​"Siapa namamu?"

​Tania menggigit bibir bawahnya. Rasa sakit di kakinya memang sedikit mereda berkat pijatan itu, namun ketegangan di hatinya justru memuncak. Kelembutan pria ini yang tiba-tiba justru membuatnya merasa terombang-ambing.

​Ia memberanikan diri menatap mata gelap Hans yang seolah tanpa dasar. Emosi yang bergolak di sana terlalu kompleks dan intens untuk ia pahami, membuat jantungnya terasa ingin melompat keluar dari tenggorokan.

​"Aku... namaku Tania Santoso." Suaranya lemah, ada getaran halus yang bahkan tidak ia sadari sendiri.

​Begitu nama itu terucap, Hans perlahan mengangkat matanya. Tatapannya terkunci pada wajah Tania, dan sesuatu melintas cepat di matanya yang dalam. Tatapan itu kini menjadi lebih tajam dan fokus, seolah ia ingin mengukir nama "Tania Santoso" beserta sosok pemiliknya ke dalam tulang dan darahnya.

​Bibir tipisnya bergerak sedikit, menggumamkan nama itu tanpa suara, seolah sedang mengecap sesuatu yang sangat lezat.

​Tania merasa jantungnya berpacu liar dan tengkuknya meremang di bawah tatapan itu. Secara insting ia ingin menarik kakinya kembali, namun tangan kokoh Hans memegangnya dengan erat, membuatnya tak berkutik.

​Pria ini begitu perhatian, namun perhatiannya membawa ketegasan yang tak bisa ditolak. Matanya tampak lembut, namun penuh dengan rasa posesif yang menyesakkan. Tania merasakan bahaya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—seperti sedang diincar oleh seekor pemangsa yang siap menerkam, sementara ia hanyalah mangsa kecil yang gemetar tanpa tempat untuk lari.

​Tak lama kemudian, suara langkah kaki terburu-buru terdengar. Lian kembali dengan kotak P3K. Ia meletakkannya di lantai sambil menatap Hans dengan hati-hati, lalu melirik Tania yang tampak pucat di sofa dengan ekspresi yang sulit ditebak.

​"Tuan, ini kotak P3K-nya." Suara Lian memecah keheningan.

​Hans tidak menjawab, hanya mengulurkan tangan. Lian yang sudah sangat paham segera membuka kotak itu dan menyerahkan botol semprot pereda nyeri. Hans mengambil botol itu beserta selembar kain kasa.

​Ia menyemprotkan cairan itu ke pergelangan kaki Tania yang bengkak. Sensasi dingin yang menyentuh kulit memberikan rasa lega seketika.

​Tania terisak kecil, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia menggigit bibir, berusaha keras agar tidak menangis keras. Luka ini sebenarnya tidak seberapa, tapi tatapan dan tindakan pria ini membuatnya merasa sangat bingung dan sesak.

​Gerakan Hans menjadi semakin lembut. Ia menggunakan kain kasa untuk mengusap sisa cairan dengan hati-hati, lalu menyemprotkannya sekali lagi. Aroma obat yang samar bercampur dengan aroma parfum maskulin yang segar dari tubuh Hans memenuhi indra penciuman Tania, membuatnya merasa sedikit pening.

​Yohan ikut mendekat. Ia memperhatikan gerakan Hans lalu menatap kaki Tania. Gurauan yang biasanya ada di matanya kini sirna, digantikan dengan raut khawatir.

​"Dek Tania, kakinya masih sakit? Tenang saja, Kak Hans ini kelihatannya memang dingin, tapi aslinya baik hati kok—cuma bicaranya saja yang agak pedas," ucap Yohan berusaha mencairkan suasana, bahkan sempat mengedipkan mata dengan gaya yang menurutnya lucu.

​Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tatapan tajam dan dingin dari Hans langsung membuatnya membeku.

​"Diam." Suara Hans rendah, mengandung peringatan yang jelas.

​Yohan segera menutup mulutnya dan berdiri di samping dengan patuh, tidak berani bicara lagi. Ia merutuki dirinya sendiri karena kurang peka. Kak Hans sedang merasa sangat iba pada sang jelita; siapa pun yang berani mengganggu berarti sedang mencari mati! Sepertinya Tania Santoso ini bukan gadis sembarangan, atau lebih tepatnya, akan menjadi seseorang yang sangat berarti bagi sang "Malaikat Maut".

​Pipi Tania merona tipis saat Yohan memanggilnya "Dek Tania," dan ia sedikit menyusut karena takut melihat tatapan tajam Hans tadi. Ia merasakan jari-jari panjang Hans kembali memijat lembut pergelangan kakinya. Sentuhan itu mengirimkan riak-riak aneh di hatinya, sebuah sensasi menggelitik yang menyebar dari kaki hingga ke lubuk jiwanya.

​Hans memperhatikan Tania yang menundukkan kepala, bulu matanya yang panjang memberikan bayangan kecil di pipinya yang mulus, tampak seperti sayap kupu-kupu yang akan terbang.

​"Lin, ambilkan kompres es," perintah Hans.

​"Baik, Tuan." Lian segera menyerahkan kompres es.

​Hans mengambilnya dan meletakkannya perlahan di atas bengkak Tania. "Tahan sebentar; ini akan mengurangi rasa sakitnya."

​Sensasi dingin itu membuat saraf Tania yang tegang sedikit rileks. Ia merasa jauh lebih baik.

​Hans menatap alis Tania yang masih sedikit berkerut, lalu suaranya merendah tanpa sadar: "Maafkan aku."

​Begitu kata-kata itu keluar, semua orang di ruangan itu—kecuali Tania—seolah terkena sihir pembeku.

​Yohan hampir saja menyemburkan anggur yang baru diteguknya. Ia terbatuk hebat sampai wajahnya memerah, menatap Hans dengan tatapan tidak percaya. Lian pun tersentak, hampir menjatuhkan barang di tangannya. Bertahun-tahun ia mengabdi, kapan ia pernah mendengar Tuannya meminta maaf lebih dulu kepada orang lain? Apalagi kepada gadis yang baru saja ia temui!

​Tania pun tertegun. Rasa dingin di kakinya membuat kepalanya sedikit lebih jernih. Ia mengusap pergelangan kakinya yang masih terasa baal dan mendongak menatap pria itu dengan bingung.

1
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!