NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama keluarga Mettond terasa menyilaukan, namun tidak sepedih kenyataan yang harus dihadapi Catherina. Ia berdiri di depan lemari besar, jemarinya bergetar saat menyusun kemeja kerja Adrian. Di telinganya, suara suaminya terdengar begitu jernih, tanpa saringan, tanpa rasa bersalah.

Adrian sedang bersandar di bingkai pintu balkon, ponsel menempel di telinga.

"Sabar, Sayang... sebentar lagi kita akan bertemu di kantor," ucap Adrian dengan nada rendah yang serak, nada yang dulu pernah membuat Catherina merasa dicintai, namun kini membuatnya mual. "Aku rindu aromamu. Aku pastikan akan merobek pakaian dalammu begitu pintu ruangan terkunci."

Suara tawa manja Julie terdengar samar dari seberang telepon. Mereka melakukannya terang-terangan sekarang. Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi di balik alasan "lembur" atau "rapat mendadak." Pengkhianatan itu dipamerkan tepat di depan wajah Catherina.

Catherina menutup pintu lemari dengan dentuman keras. "Kau menjijikkan, Adrian," desisnya tanpa menoleh.

Adrian mematikan sambungan teleponnya perlahan, lalu menatap punggung istri sahnya dengan tatapan meremehkan. "Menjijikkan? Kurasa yang lebih menjijikkan adalah tubuhmu, Cathe. Tubuh yang sudah berkali-kali dijamah oleh 'Mantan Pangeran' kampusmu itu sebelum aku sempat menyentuhnya. Bukankah kau sendiri yang berkata dengan Bangga kau tidak lagi murni?"

Deg.

Darah Catherina mendidih. Rasa sakit yang ia pendam selama berbulan-bulan, sejak malam pertama yang dingin hingga proses persalinan yang sepi, meledak seketika. Ia berbalik, matanya memerah karena amarah yang tak terbendung.

"KAU BERJANJI AKAN MENERIMAKU, ADRIAN!" Teriak Catherina. Ini adalah teriakan pertamanya dalam pernikahan mereka. Suaranya melengking, memecah keheningan rumah mewah yang selama ini terasa seperti makam. "Kau bilang di depan altar bahwa kau mencintaiku apa adanya! Kau brengsek!"

Adrian tidak bergeming. Ia justru melangkah mendekat, auranya gelap dan menindas. "Aku memang menerimamu sebagai istriku, Catherina. Tapi aku tidak pernah berjanji untuk menerima anakmu."

"ITU ANAKMU!" Catherina berteriak tepat di depan wajah Adrian, air mata mulai jatuh membasahi pipinya. "Aku hanya tidur denganmu setelah kita menikah! Bagaimana mungkin aku hamil anak Everest sementara dia sudah menghilang selama setahun dan tidak menyentuhku sama sekali? Apa kau sudah gila? Apa kau tidak bisa menghitung kalender?"

Adrian memutar bola matanya, tampak sangat bosan. "Aku muak membahas anakmu itu, Cathe. Kau dengar itu?"

Dari arah kamar bayi, suara tangisan Liam kembali terdengar. Melengking, menuntut perhatian.

"Dia menangis lagi... benar-benar menyebalkan," gerutu Adrian sambil menutup telinganya. "Entah gaya apa yang mantan brengsekmu itu lakukan padamu sampai-sampai anak itu rewel seperti itu setiap pagi. Dia sama sekali tidak memiliki ketenangan keluarga Mettond."

Deg.

Hati Catherina hancur berkeping-keping. Liam adalah bayi yang tidak berdosa, namun ayahnya—atau pria yang seharusnya menjadi ayahnya—menggunakannya sebagai alat untuk menghina masa lalu ibunya.

"Pernikahan ini sudah tidak lagi sehat, Adrian," ujar Catherina, suaranya kini mendalam dan dingin. "Aku bersumpah, kau akan menyesal melakukan ini padaku. Kau menuduhku hamil anak pria lain padahal dia anakmu, dan sekarang kau terang-terangan berselingkuh dengan Julie seolah aku tidak ada. Jika kau sudah tidak membutuhkan kami, maka ceraikan aku sekarang juga!"

Adrian tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang merendahkan. "Menceraikanmu? Jangan mimpi. Aku tidak akan menceraikan kamu, Catherina."

"Kenapa? Kau mencintaiku? Tidak, kan?"

"Tentu saja bukan karena cinta," jawab Adrian sinis. "Kau mau kemana jika aku menceraikanmu, hah? Kau hanya anak yatim piatu yang tidak terurus, tidak punya keluarga, tidak punya tempat kembali. Selain itu, aku akan terlihat jahat di mata Julie kalau aku menceraikanmu saat ini. Aku tidak mau reputasiku rusak hanya karena mengusir seorang ibu baru."

Catherina menatap Adrian dengan pandangan ngeri. Pria ini benar-benar tidak memiliki hati nurani. "Sejak kapan... sejak kapan kau dan Julie bersama?"

Adrian mengangkat bahu, menjawab dengan kejujuran yang mematikan. "Sejak aku mencobamu untuk pertama kali. Malam pertama kita."

Catherina terpaku. "Apa?"

"Kira-kira seperti apa rasanya sang 'Gadis Populer' yang sempurna," lanjut Adrian, melangkah mengitari Catherina seperti predator. "Kukira kau akan sangat jago di ranjang karena kau mantan Everest Cavanaught. Ternyata? Kau benar-benar rusak. Kau membosankan dengan keluhan sakit perut dan tangisanmu sepanjang malam pertama. Kau hanya barang bekas yang sudah kehilangan kilaunya. Jadi, malam itu juga, aku menelepon Julie. Dia jauh lebih mengerti cara melayaniku daripada dirimu yang penuh drama."

Plak!

Tamparan Catherina mendarat lebih keras daripada tamparan pada Everest semalam. Napas Catherina memburu, tangannya panas, dan hatinya sudah membatu.

"Tunggu aku di pengadilan, brengsek," ujar Catherina dengan nada rendah yang mengandung ancaman nyata. "Kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah sekali-kali kau menghina harga diriku sebagai ibu dari anakmu. Aku akan pergi, dan jangan pernah berharap kau bisa melihat Liam lagi."

Catherina berbalik, melangkah menuju kamar bayi tanpa menoleh lagi. Ia tidak peduli jika ia yatim piatu, ia tidak peduli jika ia tidak punya tempat kembali. Ia lebih baik hidup dalam kemiskinan daripada terus bernapas di bawah atap yang sama dengan pria yang menganggap keberadaannya dan anaknya sebagai sebuah kesalahan fatal.

Di belakangnya, Adrian hanya mendengus, merapikan dasinya yang sedikit miring akibat tamparan tadi. Ia tidak percaya Catherina berani meninggalkannya. Baginya, Catherina adalah burung dalam sangkar emas yang sayapnya sudah patah. Namun Adrian lupa, burung yang paling terluka sekalipun akan tetap mencoba terbang saat nyawa anaknya terancam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!